Belajar Memetakan Potensi Emas Anak Bersama Ayah Edy

 
bagikan berita ke :

Senin, 30 Oktober 2017
Di baca 1845 kali

 

Setiap orang, setiap anak, lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing. Ada anak yang memiliki bibit dokter. Maka bila dirawat dengan tepat, kelak ia akan tumbuh menjadi ‘pohon dokter’. Ada pula anak yang menyimpan bibit penyanyi. Jika dibesarkan dengan baik, kelak ia akan menjadi ‘pohon penyanyi’, begitu pula dengan bibit-bibit lainnya. -Ayah Edy-    

 

Ayah Edy, itulah panggilan akrab pria berkeluarga yang bernama lengkap Edy Wiyono. Ayah dari dua orang anak tersebut adalah seorang pakar dalam bidang parenting. Beliau telah berhasil menyalurkan potensi emas banyak anak Indonesia yang dianggap bermasalah oleh orang tuanya sendiri. Beliau juga berhasil membuka mata para orang tua yang hanya menginginkan anaknya sukses dalam bidang akademik dengan nilai rapor yang tinggi tanpa memikirkan apa potensi anak mereka yang sesungguhnya.   

 Hadir dalam Seminar Parenting “How to See Gold in Our Child” yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara RI di Aula Serbaguna Gedung 3 Kemensetneg RI pada Rabu (25/10/2017), Ayah Edy berbagi pengalamannya tentang bagaimana menggali dan memetakan potensi emas dalam diri anak kita. Dengan gaya penyampaiannya yang luwes, Ayah Edy sukses membuat para orang tua dan calon orang tua yang hadir dalam seminar tersebut sangat antusias mendengarkan pemaparannya.

Seperti yang dikatakan Ayah Edy bahwa setiap anak lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing. Itu artinya setiap anak memiliki potensi emasnya masing-masing. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak berpotensi karena sejatinya Tuhan menciptakan tiap-tiap manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya.

“Karena ternyata setiap anak itu membawa tanda-tanda takdir dalam dirinya. Tanda-tanda profesi dalam dirinya. Tanda-tanda pertama yang Tuhan berikan ada di sekujur tubuhnya,” ujar Ayah Edy. 

Tuhan memberikan tanda-tanda pada setiap anak yang dilahirkan. Tanda-tanda yang merupakan petunjuk akan menjadi apakah anak ini saat ia besar nanti. Tujuannya adalah agar orang tua mampu membaca dan mengenali tanda-tanda tersebut sehingga pada akhirnya mereka mampu mengarahkan potensi yang dimiliki buah hati mereka. 

Misalnya, anak dengan potensi pelukis mungkin sejak kecil sering mencorat-coret dinding atau kertas dengan pensil warna. Lalu, anak dengan potensi model mungkin sejak kecil suka berpose di depan kamera tanpa harus diatur.   

Itulah tanda-tanda sederhana yang nyata terlihat. Namun, kerap kali orang tua kurang peka bahkan mengabaikan tanda-tanda tersebut, sehingga banyak kejadian dimana orang tua memaksakan anak untuk menekuni profesi tertentu yang bukan merupakan potensi dari anak tersebut.

“Permasalahannya adalah setiap orang tua menginginkan anaknya jadi orang sukses. Namun, seringkali kita sebagai orang tua tidak tahu caranya,” Ayah Edy menegaskan.

Mengenali potensi anak merupakan kewajiban setiap orang tua. Orang tua wajib mengarahkan bukan menyalahkan. Sehingga tidak terjadi lagi orang tua memaksakan anak yang berpotensi menjadi penari hebat untuk meraih nilai yang tinggi dalam mata pelajaran di sekolah karena sampai kapan pun nilai tinggi tersebut tidak akan pernah tercapai karena memang bakat anak tersebut adalah menari, bukan dalam bidang akademis.

“Mungkin anak Anda tidak berpotensi di bidang akademis, dan 20% anak Indonesia ada disana,” kata Ayah Edy.

Setiap potensi itu memiliki kesempatan sukses yang sama baik bidang akademis maupun non akademis. Sehingga tidak ada lagi anggapan bahwa menjadi penari atau pelukis tidak mempunyai masa depan yang cerah. Dunia akan menghargai setiap potensi baik yang berbau akademis maupun non akademis.       

Orang tua tidak boleh sekalipun membuat anak merasa minder dengan passion-nya. Setiap anak membutuhkan dukungan untuk mengerjakan apa yang disukainya, bukan pemaksaan yang disertai kemarahan.   

“Jadi kalau anak Bapak Ibu malas belajar, jangan ditekan! Dia itu belum menemukan apa mimpinya,” tegas Ayah Edy.

Bantulah anak-anak kita menemukan passion-nya karena apa yang mereka kerjakan sesuai dengan passion-nya, maka mereka akan melakukan pekerjaan itu dengan sepenuh hati, dan pada akhirnya akan melahirkan anak-anak yang berbakat dan ahli dalam bidangnya.  

 

Memetakan Potensi Emas Anak Untuk Mencapai Profesi Terbaiknya

Memetakan potensi emas anak sejak dini adalah kewajiban setiap orang tua karena anak-anak membutuhkan bimbingan dalam menentukan jalan hidupnya. Usia ideal pemetaan potensi emas anak yaitu pada saat anak menginjak bangku SMP.

“Usia SMP ke atas lah idealnya, kita mulai petakan,” kata Ayah Edy.

Pengalaman Ayah Edy ini dapat diterapkan baik oleh orang tua maupun calon orang tua dalam memetakan potensi emas anak agar anak kita dapat meraih profesi terbaiknya.

Pertama, membaca petunjuk tubuh. Tuhan sudah memberikan tanda-tanda pada setiap anak yang dilahirkan mulai dari postur tubuh, tatapan mata, bentuk hidung, rambut, suara, cara berjalan, dan tanda-tanda fisik lainnya. Untuk membaca petunjuk tubuh ini, kita bisa dibantu oleh pakar bidang parenting.  

Kedua, membaca petunjuk watak dasar. Setelah kita mengetahui tanda-tanda fisiknya, kita cocokkan dengan watak dasar atau sifat bawaan. Ada 4 jenis sifat bawaan yaitu Promotor/Sanguinis (pink),Controler/Koleris (kuning), Analitical/ Melankolis (hijau), dan Facilitator/Flegmatis (biru). Sanguinis dan Flegmatis berorientasi pada hubungan pribadi dimana Sanguinis kebutuhan dasarnya adalah pengakuan pribadi dan Flegmatis kebutuhan dasarnya adalah diterima oleh orang lain.

Selanjutnya, Koleris dan Melankolis berorientasi pada pekerjaan dimana Koleris kebutuhan dasarnya adalah hasil dan prestasi sedangkan Melankolis kebutuhan dasarnya adalah kesempurnaan dan keakuratan. Sanguinis dan Koleris merupakan orang-orang yang cepat bertindak. Flegmatis dan Melankolis adalah orang-orang yang lambat bertindak. Setiap orang bisa saja memiliki lebih dari satu jenis sifat bawaan, namun tetap ada satu sifat bawaan yang mendominasi sifat bawaan lainnya.

Jadi tidak ada yang salah jika seseorang memiliki sifat bawaan tertentu, karena setiap sifat bawaan tersebut memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing.    

Ketiga, berusaha menggali 10 minat terbesar anak. Disini dibutuhkan kemampuan orang tua dalam mengulik pertanyaan kepada anak sehingga orang tua dapat mengerucutkan minat terbesar anak.

Keempat, menetapkan profesi terbaik anak. Setelah minat anak mengerucut pada satu bidang disitulah orang tua menetapkan bahwa anak mereka akan diarahkan untuk mencapai suatu profesi tertentu.

Terakhir, menentukan sekolah atau kursus yang terbaik untuk anak. Setelah menemukan potensi emas anak, orang tua wajib mencarikan sekolah atau kursus yang terbaik dimanapun sepanjang sekolah atau kursus tersebut mampu mengembangkan potensi emas anak dengan tenaga-tenaga ahli yang mereka miliki.    

Karena anak yang berhasil mencapai profesi terbaiknya adalah mereka yang mencintai apa yang mereka lakukan, mereka yang diajar dan dilatih mengembangkan potensinya oleh tenaga ahli dalam bidangnya, dan mereka yang dalam 5.000 jam mampu melakukan satu pekerjaan yang sama.

Seperti program yang diluncurkan Ayah Edy “Indonesian Strong From Home”, para orang tua diajak untuk bersama-sama membangun generasi yang kuat yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga dengan cara mendidik anak-anak secara tepat, mengedepankan karakter dan akhlak yang baik, dan tidak mengejar angka-angka di rapor semata. (RVS-Humas Kemensetneg)   

 

 

    

 

 

Kategori :
Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
13           2           0           0           0