Indonesia Bantu Pemerintah Fiji untuk Penguatan Pengarusutamaan Gender

 
bagikan berita ke :

Selasa, 14 November 2017
Di baca 176 kali

 

Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) bekerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID) Indonesia mengadakan ‘Training of Trainer of Gender Responsive Planning and Budgeting for Fiji Development Officials’, yang dibuka hari ini di Yogyakarta, Senin (13/11).

Program yang merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU), antara Kemenppa Indonesia dengan Kementerian Perempuan, Anak-Anak dan Pengentasan Kemiskinan (KPAPK) Republik Fiji yang ditandatangani pada tanggal 18 Desember 2013 di Jakarta ini akan dikuti oleh 13 peserta asal Republik Fiji dan akan berlangsung selama 7 hari dari tanggal 13 s.d 19 November 2017 di Yogyakarta.

Poin penting yang tercantum dalam MoU tersebut yaitu penguatan kapasitas dan produktifitas perempuan di bidang mata pencaharian dan ekonomi, peningkatan perlindungan dan pencegahan kekerasan perempuan dan anak-anak, penguatan kapasitas di bidang pengarusutamaan gender, dan pengintegrasian penguatan hak anak dalam pembangunan.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Seskemensetneg) yang diwakili Staf Ahli Mensesneg Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan, Gogor Oko Nurharyoko, dalam sambutan tertulisnya menyatakan bahwa program yang dilaksanakan bersama Kemenppa ini, merupakan salah satu komitmen Pemerintah Republik Indonesia untuk melaksanakan Kerjasama Teknik antar Negara Berkembang dengan berbagi pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan praktik-praktik terbaik (best practices).

“Apresiasi juga kami tujukan kepada USAID Indonesia atas dukungan dan kontribusinya dan terus berupaya memperkuat kegiatan Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular di Indonesia, khususnya di bidang kesetaraan gender, pengarusutamaan gender, hak perempuan, dan perlindungan anak”, ujar Gogor Oko Nurharyoko.

Tingkat kesetaraan gender, pengarusutamaan gender, hak perempuan dan perlindungan anak di negara berkembang di seluruh dunia sudah berkembang cukup pesat, tetapi tidak semua perkembangan setiap negara sama, karena terdapat perbedaan antara kondisi satu negara dengan negara lainnya.

“dalam program ini, para peserta akan belajar bagaimana merumuskan kebijakan perencanaan dan penganggaran responsif gender serta implementasinya”, tambahnya

Program ini merupakan bagian dari komitmen yang diimplementasikan dalam kerangka Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular, yang dikoordinasikan oleh Kementerian Sekretariat Negara sebagai National Focal Point, bekerja sama dengan USAID Indonesia melalui US-Indonesia Partnership for South-South and Triangular Cooperation Component 1 (USIP-1).

Melalui program tersebut, Kemensetneg mengharapkan agar seluruh peserta mendapat pengalaman yang luar biasa untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, khususnya dalam hal ini mengenai kesetaraan gender, pengarusutamaan gender, hak perempuan, dan perlindungan anak. “Dengan meningkatkan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan, serta percepatan pengarusutamaan gender di negara baik pada tingkat pusat dan daerah, yaitu melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender”, tambahnya.

Pada kesempatan kali ini, Yogyakarta dipilih karena selain kota ini dikenal sebagai “kota pelajar” yang sangat representatif dalam hal proses pembelajaran, namun juga karena Yogyakarta telah menerapkan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) dengan sangat baik.

“para peserta akan berkesempatan mengunjungi Sleman dan para peserta akan belajar banyak hal, karena Sleman telah sukses menerapkan perencanaan dan penganggaran responsif gender melalui diskusi interaktif dengan pemangku kepentingan terkait serta kunjungan lapangan ke beberapa lokasi yang dinilai responsif gender”, ujar Gogor.

Melalui program ini, para peserta diharapkan dapat menjadi trainer bagi rekan-rekan lainnya di Fiji dalam hal penerapan PPRG. Melalui proses ini diharapkan para peserta dapat menjadi agen-agen penguatan pengarusutamaan gender di negaranya dengan mengadopsi komponen-komponen PPRG kedalam sistem perencanaan dan penganggaran Pemerintah Fiji.

Di sela kunjungan para peserta akan menjelajahi keindahan Yogyakarta melalui budaya dan keramahan masyarakatnya. “dengan kunjungan ini, para peserta diharapkan akan mengetahui bahwa Indonesia memiliki ragam Budaya, tidak hanya Yogyakarta tetapi ada banyak tempat lain di Indonesia yang akan bisa dijelajahi nantinya”, tutup Gogor.

Turut hadir dalam acara tersebut, Asisten I Gubernur Prov DIY bidang Pemerintahan dan Kesra, Sulistyo, Chargé D'Affaires of Fiji Embassy for Indonesia and Singapore, Mereseini Waibuta, dan Acting Program Office Director, USAID, Sharon Nwankwo. Program kemudian dibuka secara resmi dengan pukulan tiga kali gong oleh Sri Danti Anwar, Plt. Deputi Kesetaraan Gender , KemenPPPA. (ABS-Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0