Pengalaman Belajar Mediasi di Negeri Van Oranje

 
bagikan berita ke :

Rabu, 04 Januari 2017
Di baca 125 kali

 

Mediasi adalah sebuah seni dan profesi. Walau terlihat mudah, tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Pengalaman belajar mediasi di Belanda, menunjukkan bahwa sosok mediator harus menguasai proses dan ketrampilan bermediasi serta memiliki mentalitas sebagai mediator.

Pendahuluan

Berawal dari inisiasi pegawai di Bidang Hubungan LSM Pemberdayaan, Asisten Deputi Hubungan Ormas dan LSM (sekarang bernomenklatur Asisten Deputi Hubungan Ormas dan Orpol) dan didukung penuh oleh Bapak Setio Sapto Nugroho,  Asisten Deputi Hubungan Ormas dan LSM, terwujudlah penyelenggaraan Tailor Made Training Conflict Resolution and Mediation (TMT CRM) selama tiga minggu di Belanda dengan beasiswa StuNed (Studeren in Nederland). TMT CRM ini merupakan bentuk inovasi pengembangan SDM yang disesuaikan dengan kebutuhan unit organisasi, melalui penyusunan proposal TMT kepada lembaga penyedia beasiswa, pengusulan calon peserta, pemilihan instansi pemberi pelatihan, dan diskusi pemilihan substansi materi yang akan diajarkan. TMT ini juga melibatkan beberapa kementerian dan instansi di luar Kementerian Sekretariat Negara untuk mengikuti TMT CRM. Tulisan berikut ini memaparkan pengalaman penulis sebagai salah satu peserta TMT yang terpilih mewakili Asisten Deputi Bidang Hukum.

Haarlem, Den Haag, dan Amsterdam: Kota Tempat Belajar Mediasi

Suhu udara menunjukkan angka 8-9 derajat celcius saat kami menginjakkan kaki di bandar udara Schipol, Amsterdam. Cukup dingin bagi kami, para peserta TMT CRM berjumlah 20 orang yang berasal dari berbagai instansi, yakni Kementerian Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, Kementerian Dalam Negeri, Kemenko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, dan Ombudsman Republik Indonesia. Di bandara Schipol, kami disambut koordinator pelatihan yaitu Ms. Marise van Amersfoort dari Vrije Universiteit, Amsterdam. Selanjutnya kami diantar dengan bus dan supir yang ramah bernama Paul, menuju Haarlem, tempat kami menginap dan tinggal sementara.

Haarlem, sebuah kota yang tidak jauh dari Amsterdam, merupakan kota “cantik”, ibukota Noord-Holland, dan dijuluki sebagai “Bloemenstad” (kota bunga) karena dikenal sebagai tempat pembibitan “tulip” bunga khas Negeri van Orange. Dihiasi bangunan-bangunan tua dengan arsitektur indah yang terdiri atas museum dan gereja, juga kanal-kanal panjang berair jernih, menambah semarak romantisme kota Haarlem. Meskipun merupakan salah satu destinasi turis, kota Haarlem tidaklah seramai kota-kota wisata lain di Belanda. Kami menghabiskan waktu selama dua minggu di kota ini untuk belajar tentang mediasi di Centrum voor Conflicthantering (CVC).

Berlokasi tepat dipinggir kanal, CvC yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari penginapan, menawarkan pemandangan kanal yang indah dan menyejukkan mata yang langsung terlihat dari ruang tempat kami belajar. CvC kepanjangan dari Centrum voor Conflicthantering atau Pusat Penyelesaian Konflik, merupakan lembaga non pemerintah yang didirikan tahun 1993, memberikan pendidikan mediasi dan melakukan kegiatan mediasi. Dalam kurun waktu tersebut CvC telah berhasil mentraining para calon mediator sebanyak 2000 orang lebih, yang terdiri atas para hakim, pegawai negeri dan pebisnis. Para pengajarnya pun berasal dari beragam latar belakang profesi dan disiplin ilmu antara lain, pengacara, akademisi, hakim dan psikolog.

Adalah Linda Reijerkerk sebagai direktur CvC yang merupakan salah seorang pengajar kami yang menjelaskan alasan mengenai kenapa orang perlu mempelajari mediasi. “Mediation is an art and a profession. Though it looks easy, it is not. Mediators need to learn about process, skills and most important the attitude of the mediator,” kata Linda melalui surat elektronik yang dikirimkan ke kami (22/6). Bahkan Linda menambahkan bahwa “attitude is the DNA of mediator.” Dengan kata lain profesi seorang mediator adalah profesi berat yang harus diemban seseorang dalam penyelesaian sengketa, karena selain harus memiliki pengetahuan di bidang sengketa yang dipermasalahkan, seorang mediator juga harus memiliki etika untuk tetap netral, memiliki kepedulian dan empati yang tinggi, dan tak kalah penting adalah seni menggali informasi. Mediasi sendiri menurut CvC diartikan sebagai bentuk negosiasi dimana para pihak berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mereka melalui pendekatan kolaboratif, dan dialog. Pendekatan kolaboratif ini yang tidak kita dapatkan di pengadilan. Di CvC kami diajarkan bahwa penyelesaian konflik dengan mediasi tidak semata-mata mengenai bagaimana para pihak dapat menuntut haknya, tapi lebih jauh dari itu, CvC menyampaikan bahwa dengan teknik mediasi kita dapat menyelami pikiran dan perasaan pihak yang berkonflik. Terkadang penyelesaian konflik akan berakhir ketika semua emosi dari para pihak berhasil dikeluarkan, karena ternyata keluhan para pihak berkonflik sebenarnya adalah kebutuhan dasar manusia, yaitu sekedar ingin didengar dan diperhatikan.

Studi Visit ke Den Haag

Pada minggu pertama belajar mediasi, kami berkesempatan mengunjungi lembaga dan instansi yang menggunakan teknik-teknik mediasi dalam melakukan kegiatan mereka sehari-hari, yaitu ke Ombudsman Belanda; Prodemos (lembaga nir laba yang berfungsi sebagai pengawas kebijakan Pemerintah dan memberikan pelatihan dan pendidikan mengenai demokrasi), Kementerian Dalam Negeri Belanda yang menerapkan procedural justice (bentuk penyelesaian mengenai kepuasan publik terhadap pelayanan dan kebijakan pemerintah), dan ke Kantor Pemerintahan Daerah Belanda Municipality of Amsterdam untuk belajar mengenai penanganan demonstrasi.

Hal menarik dalam penanganan demonstrasi adalah menggunakan prinsip dasar mediasi dalam menghadapi demonstrasi. Misalnya untuk  polisi/aparat keamanan yang berhadapan langsung dengan para demonstran adalah melakukan pendekatan yang baik; tidak memperlakukan mereka sebagai orang yang salah; melatih, dan memilih staf keamanan dan di kepolisian khusus menangani masalah demonstrasi adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan (polisi khusus ini tidak dibebani tugas lain seperti menangkap pencuri atau memburu teroris, tugasnya hanya mengawal demonstran). Selain itu merekrut pihak keamanan/kepolisian dari berbagai latar belakang sosial kesukuan sangat penting, karena ini akan memudahkan mereka melakukan pendekatan terhadap para demonstran, tujuannya hanyalah agar para demonstran dapat menyalurkan hak demokrasinya, dan masyarakat lain dapat beraktifitas dengan aman, serta meminimalisir kerusakan dan munculnya konflik.

Belajar Etika dan Integritas dalam Mediasi di Vrije Universiteit Amsterdam

Belajar mediasi kemudian berlanjut selama satu minggu di Vrije Universiteit  (VU) Amsterdam, sebuah universitas yang didirikan pada tahun 1880.  Di kampus ini kami mendapatkan materi pembuatan course reference atau modul yang merupakan proyek akhir TMT, materi tentang bagaimana pengertian tentang etika dan integritas. Etika adalah studi dan evaluasi tentang perilaku manusia, prinsip-prinsip moral, filosofi moral, refleksi sistematis tentang moralitas yaitu bahwa dalam etika kita juga menilai mana yang benar dan salah, dan berharap agar kita bertindak yang benar sesuai norma.

Mediasi dalam Praktek

Setelah proses pembelajaran selama 3 minggu di Belanda, kami kembali ke Indonesia untuk menerapkan ilmu mediasi. Sejatinya menguasai teknik mediasi adalah hanya 10% teori yang perlu anda kuasai, sisanya sebanyak 90% ilmu mediasi didapatkan dengan cara berpraktek, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kami berkomitmen untuk mencetuskan berbagai inovasi dalam mendukung peningkatan kualitas penanganan unjuk rasa yang ditujukan kepada Presiden, penanganan pengaduan masyarakat, analisis aspirasi kekecewaan dan permasalahan baik dari institusi maupun individu yang ditujukan kepada Presiden serta fasilitasi pertemuan antara pihak yang bermasalah. (Rengga Damayanti, Asisten Deputi Bidang Hukum)

 

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           1