Arahan Presiden RI pada Mengenai Antisipasi Pengendalian Kebakaran Hutan, Kalbar tgl. 20 Jan 2015
ARAHAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI ANTISIPASI PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN
DI KANTOR DAOPS MANGGALA AGNI, RASAU JAYA,
KABUPATEN KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT
TANGGAL 20 JANUARI 2015
Â
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore, salam sejahtera untuk kita semuanya,
Yang saya hormati seluruh menteri yang hadir, khususnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Yang saya hormati Wantimpres, Pak Gubernur, serta seluruh Bupati/Walikota yang hadir pada kesempatan sore hari ini,
Seluruh perusahaan, dunia usaha, masyarakat, serta forum koordinasi pimpinan daerah Provinsi Kalimantan Barat,
Hadirin yang berbahagia, dan juga khususnya Manggala Agni, polisi hutan, dan Hadirin yang berbahagia,
Waktu di Riau, setelah saya melihat hutan gambut, dan melihat di lapangannya seperti apa sebetulnya posisi-posisi kebakaran itu terjadi, saya hanya, hanya menyampaikan satu saat itu. Saudara-saudara bekerja atau tidak? Siapa yang saya maksud dengan saudara-saudara? Saat itu hadir Pangdam, Kapolda, Gubernur, Bupati, Walikota, dari Kehutanan, Kabareskrim. Semua ada.
Pertanyaan saya, begitu banyaknya organisasi yang terlibat untuk mengatasi yang namanya api saja, sudah berpuluh-puluh tahun tidak bisa dilakukan. Apa yang saya sampaikan saat itu? Monitoring sistemnya kan ada. Titik api di mana juga jelas ada. Persoalannya saat itu saya sampaikan, kita ini mau atau tidak mau menyelesaikan ini. Kita ingin atau tidak ingin menyelesaikan ini. Kuncinya hanya di situ, mau atau tidak mau.
Masa organisasi sebesar itu menyelesaikan yang namanya api tidak rampung-rampung, dan berpuluh-puluh tahun dibiarkan terus? Kalau saya, hati-hati bekerja dengan saya. Kalau saya, sama, waktu ada hampir 5000-7000 kapal ikan asing masuk ke perairan kita. Monitoringnya ada, monitoring sistem di Kementerian Kelautan ada, dibiarkan juga.
Kalau saya, maaf, bekerja dengan saya tidak seperti itu. Perintah saya saat itu juga, tangkap atau tenggelamkan. Hanya itu saja, tidak yang lain. Dan sekarang setelah ditenggelamkan-tenggelamkan, sudah berapa? Sebelas kapal ditenggelamkan. Sudah, kapalnya sudah ndak berani masuk ke perairan kita.
Sama juga dengan ini. Sekali lagi, semua organisasi di sini ada semuanya, dari Gubernur, Pangdam, berarti membawahi TNI, Polda membawahi Polres dan sampai ke bawah, di Polsek. Kalau di Pangdam sampai di Koramil. Organisasinya ada. Gubernur juga ada Walikota/Bupati, camat, sampai ke Kepala Desa. Lurah. Ada semuanya. Ditambah yang namanya Manggala Agni, ada polisi hutan. Organisasi sebesar ini tidak bisa menyelesaikan api, dan sudah berpuluh-puluh tahun. Ada yang salah ndak? Ada yang salah ndak? Ada kemauan tidak? Dijawab saja, ada kemauan tidak? Itu saja kuncinya, mau atau tidak mau menyelesaikan masalah ini. Gampang, nanti saya lihat.
Saya kemarin sudah wanti-wanti di Riau, hati-hati bekerja dengan saya. Bekerja itu ada targetnya. Apa gunanya dibikin organisasi yang namanya Manggala Agni? Harus jelas, gunanya harus jelas. Sebelum dibuat ada berapa titik api, setelah dibuat ini menjadi turun berapa titik api. Kalau nggak ada turunnya ya untuk apa? Organisasi ini ada semuanya. Bahaya lho. Namanya entah karena land clearing, membuat ladang atau kebun, entah karena kebakaran hutan. Hati-hati, ini tahunan dan rutin kita pelihara. Bukan kita selesaikan, tetapi kita pelihara terus acara-acara seperti ini.
Dan malu kita kepada warga dunia yang lain gara-gara ini. Kita sendiri juga sering lapangan terbang tidak bisa dipakai untuk turun maupun naik gara-gara asap. Negara yang lain juga kita asapi. Gas emisi juga menjadi kalkulasi dunia. Ada semuanya catatannya, ada semuanya. Waktu di ASEAN Summit dipaparkan, waktu di APEC dipaparkan, waktu di G-20 juga disampaikan. Lha kalau setiap tahun saya disuruh nerima malu seperti itu nggak mau kalau saya. Harus ada yang bertanggungjawab. Bekerja itu jelas, ada yang harus bertanggungjawab. Ya tadi saya sampaikan, organisasi-organisasi tadi yang saya sampaikan.
Waktu di Riau langsung saya telepon, Pangdam-Kapolda. Saya telepon langsung, "Bapak yang bertanggungjawab, ini selesaikan. Saya akan cek titik api turun atau tidak." Ya nyatanya juga turun gitu lho, langsung anjlok. Tapi apa saya harus lakukan itu setiap tahun, tiap bulan saya telponin? Kan nggak mungkin. Organisasinya sudah ada, alatnya ada semua.
Yang paling penting apa? Api jangan dibiarkan sampai besar. Begitu ada titik langsung kejar. Saya bekerja mengurusi api juga tidak sehari dua hari, dan di hutan pinus. Lebih sulit. Sebab itu saya mengerti. Saya berani ngomong karena saya mengerti.
Ini hanya masalah apa sih? Sekali lagi, mau atau tidak mau. Hanya itu saja, nggak ada yang lain. Tidak ada harus mengorganisasi kayak misalnya kecelakaan Airasia, mengorganisasi ini, saya telepon sana, telepon sini, saya organisasi supaya padu. Ndak ini, ndak. Ini hanya masalah mau atau tidak mau.
Saya tadi dibuatkan tulisan segini banyaknya, nggak saya baca. Karena hanya rutinitas nanti juga, ngomongnya hanya ini, ini, ini terus. Saya omongin tiap tahun kayak gini itu nggak ada artinya. Sehingga saya nggak saya baca. Ini hanya, sekali lagi, mau atau tidak mau. Hanya itu saja. Wong lapangannya ngerti semuanya kok, setiap hari di lapangan. Kita ngerti semuanya. Pendekatannya seperti apa ngerti semuanya. Kita ngerti semuanya. Masyarakat juga pasti menginfo, perusahaan pasti juga tahu. Perusahaan mana, ngerti semuanya. Jadi nggak, nggak perlu saya beri tahu gimana cara memadamkan api.
Bapak-ibu semuanya, Saudara-saudara semuanya, sudah tahu jurusnya seperti apa, kungfunya seperti apa. Tahu semuanya. Jadi ini hanya masalah kemauan. Dan saya minta, begitu hujan ini sudah mulai hilang, masuk ke kemarau, itu akan saya lihat hariannya. Yang saya lihat memang di Kalimantan Barat, di Riau, di Jambi, di Sumatera Selatan. Karena yang ada di kantongan saya baru itu, yang selalu mengkhawatirkan.
Dan sekali lagi, saya minta tahun ini kita tidak ulang lagi. Karena kebakaran yang menyebabkan persepsi, image masyarakat publik dunia, tetangga kita, menjadi masalah gara-gara ini.
Saya hanya ingin catat saja. 2013 ada berapa, 2014 ada berapa, 2015 turun drastis atau tidak, hilang atau tidak, saya tinggal catat. Dan yang bertanggung jawab tadi yang sudah saya sebut. Yang di lapangan juga sudah kelihatan siapa. Itu namanya bekerja. Saya tidak usah ngomong caranya nyemprot, kan nggak bisa. Ini sudah bisa semuanya. Yang disemprot apanya juga sudah tahu semuanya. Gimana caranya membuat sekat api juga ngerti semuanya, ngapain saya harus cerita-cerita seperti itu.
Saya hanya minta tadi, kita punya kemauan bersama menyelesaikan masalah ini karena memang masalah ini saya yakin bisa diselesaikan karena nampak di depan mata, nampak oleh mata kita. Bukan sesuatu yang rumit dan sulit untuk dicari.
Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan sebelum mengakhiri sambutan saya, saya minta satu orang dari yang seragam. Ayo maju satu. Maju sini aja. Saya kan belum, jadi saya nggak akan marahlah wong saya belum lihat 2015 ini seperti apa. Nanti kalau 2015, yak an, tidak turun titik apinya, baru saya akan marah. Kalau dengan badan sebesar ini... Nama dululah nama.
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Nama saya Hajimhan, Pak. Hajimhan.
Presiden:
Hajimhan?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya. Kebetulan dari Daops Singkawang, Pak.
Presiden:
Dari Singkawang?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya.
Presiden:
Sudah berapa tahun?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Saya udah masuk tahun ketujuh, Pak.
Presiden:
Tahun?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Tahun ketujuh.
Presiden:
Tahun ketujuh?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya.
Presiden:
Boleh cerita mengenai api, atau titik api, atau sulitnya madamin api?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya, Pak. Kebetulan wilayah kerja saya adalah di Singkawang, Sambas, dan Bengkayang, Pak.
Presiden:
Iya
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Nah kebetulan yang kami, wilayah kerja yang biasa terjadi kebakaran itu di lahan gambut, Pak.
Presiden:
Terus.
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Nah untuk kesusahan di lahan gambut itu, kalau terbakarnya sudah agak lama, dia akan masuk ke bawah, Pak. Apinya masuk ke bawah. Kemudian, kesusahannya tuh kadang karena kebakaran itu terjadi di musim kemarau, biasanya kita itu kesusahannya sumber airnya, Pak. Nah, kemudian jangakauannya, Pak. Jangkauan ke titik api itu sulit untuk dicapai, Pak. Nah, sementara itu untuk titik-titik apinya, Pak.
Kemudian, sedikit berbicara tentang lokasi...
Presiden:
Sebentar, saya tanya. Mestinya dapat info kan, "Oh, di sana ada kebakaran,"
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya, Pak.
Presiden:
Pas baru apa, biasanya?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Ulangi, Pak?
Presiden:
Enggak, kalau pas dapat info ini, pas baru apa? Di sini atau di sana, atau di mana lah gitu? Pas baru apa? Pas baru duduk atau pas baru tidur atau pas?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Itu ndak, ndak tentu, Pak. Biasanya kita lagi tidur, Pak.
Presiden:
Pas tidur?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya.
Presiden:
Terus denger ada api?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya, Pak.
Presiden:
Ngapain?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Langsung kita turun, Pak.
Presiden:
Bener?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Biasanya kita bergabung... Iya Pak.
Presiden:
Bener?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya Pak, Siap Pak, iya.
Presiden:
Malem-malem?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya, Pak.
Presiden:
Langsung ke tempat api?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya, Pak.
Presiden:
Bener?
Anggota Daops Manggala Agni, Hajimhan:
Iya, Pak.
Presiden:
Percaya. Biasanya kalau saya kejar itu masih ya, ya, ya. Nggak, wajahnya saya lihat nggak takut itu bener. Kalau sudah grogi itu oo ini nggak bener ini. Orang itu bisa dilihat dari wajah, kok.
Gini, saya cerita ya. Di Riau ya. Yang di Riau, sebetulnya kan ada yang tetep ada parit, ya. Yang itu entah seberapa banyak, air itu masih, tetep masih ada. Yang di sana itu dibuat bendungan dari kayu sagu, ditutup itu. Artinya air itu diatur. Sehingga yang namanya kesulitan air seperti tadi disampaikan itu tidak terjadi. Karena memang problem gambut itu hanya problem kebasahan atau tidak, kering atau kebasahan. Kalau kering, tidak diberi air, tidak basah, ya gampang sekali seperti tadi diceritakan.
Nah, itu yang kerja siapa? Mestinya, ini preventif. Sebelum itu kejadian, masyarakat diajak, diarahkan untuk bersama-sama membuat itu, di tempat-tempat yang kemungkinan besar, tempat-tempatnya segitu-gitu aja kok. Nggak mungkin ini tempatnya terus meloncat ke tempat, ya di situ-situ aja. Tempatnya nggak akan jauh-jauh amat. Buat bendungan kecil pakai kayu. Ada stok air ya itu yang digunakan untuk membasahi gambut. Kalau lapangan yang kita lihat ya sebetulnya seperti itu.
Sekali lagi, ini hanya masalah niat kita menyelesaikan ini atau tidak. Saya tahu, problem ini bukan problem yang besar. Tetapi karena tidak kita selesaikan dengan sungguh-sungguh ya akan seperti ini terus tiap tahun. Akan seperti ini terus tiap tahun kalau kita cara-cara kita menyelesaikan ya rutinitas, monoton, seperti ini terus, nggak akan selesai. Percaya, sampai kapan pun nggak akan selesai.
Problem-problem di negara kita ini kalau kita menyelesaikannya tidak berani melakukan terobosan, kemauan yang amat sangat, biasa, ya nggak akan selesai, nggak akan selesai. Narkoba, sudah. Rutinitas kita selesaikan, rutinitas. Selesai? Ndak. Harus ada kemauan ekstra untuk menyelesaikan itu. Harus ada. Kalau hanya rutinitas sudah, yakin sudah, pasti akan tambah besar, tambah besar, tambah besar. Dalam persoalan apa pun, narkoba kita biarkan seperti rutinitas seperti biasanya, ya sudah, berbahaya sekali negara kita ini. Bisa mafioso-mafioso menjadi, mencengkeram kita semuanya karena mereka semuanya punya stok uang yang sangat besar sekali. Dan membawa barang-barang itu tidak hanya ber-gram atau ber-kilo, tetapi sudah ber-ton. Akhirnya nanti akan menjadi negara-negara di Amerika Latin. Penyelesaiannya kalau saya sudah, seperti kemarin sudah dilakukan, eksekusi sudah. Kalau saya dimintai grasi seperti itu ndak, balik, tolak. Mengajukan lagi, balik, tolak, mengajukan lagi, balik, tolak. Sudah, kemarin dieksekusi dor, dor, dor, dor, dor, enam.
Yang mengajukan 64. Sudah lebih dari 10 tahun, 64. Ya saya nggak mau cerita juga yang selanjutnya seperti apa. Tapi yang jelas kalau mengajukan grasi ke saya untuk narkoba, tidak ada pengampunan, pasti saya tolak. Sudah, buat saya simple seperti itu kalau kita mau menyelesaikan. Orang nggak takut, sudah masuk di dalam sel saja masih mengelola, masih bisa mengedarkan sebegitu banyaknya. Apa mau diterus-teruskan? Bapak-Ibu mau kita teruskan? Ya iya, api ini juga jangan diteruskan. Udah, balik. Terima kasih. Mic-nya jangan dibawa.
Persoalannya sebetulnya ya tidak ruwet-ruwet amat lah kalau yang ini, tidak seruwet narkoba lah. Bisa kita selesaikan. Saudara-saudara sanggup? Saya hitung lho ya ini nanti, tahun 2015 turun berapa persen atau hilang berapa persen atau hilang sama sekali. Dan ini harus ada yang bertanggung jawab, dan yang harus bertanggung jawab itu juga harus mempertanggungjawabkannya. Kalau saya, saya, kalau jadi menteri saya juga saya beri target. Kalau targetnya nggak kecapai, ya maaf, saya berpikirnya simple, sederhana. Target dua tahun - tiga tahun misalnya harus swasembada, Menteri Pertanian, nggak bisa swasembada, ya maaf, yang ngantri pengen jadi menteri banyak. Begitu juga ini, masalah api. Yang pengen jadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga banyak. Banyak lho, Bu.
Ya blak-blakan aja kalau saya. Gampang. Nggak usah dibuat ruwet-ruwet. Bekerja dengan saya itu yang simple-simple seperti itu. Nggak usah berteori tinggi-tinggi, nggak usah bermimpinya juga tinggi-tinggi. Ya ada masalah api ya selesaikan. Misalnya tahun ini, tahun 2014 ada 200, 2015 jadi berapa? Kalau masih 200 ya berarti nggak kerja. Gitu aja kan? Kalau jadi 50, oo ya ini sudah bekerja. Kalau ya bisa hilang, ah ini betul-betul bekerja. Mesti juga ada reward-nya dari saya. Kalau bekerja dengan saya mesti ada punishment-nya, ada reward-nya. Aman to? Ya seperti itu kalau bekerja dengan saya. Saya tunggu, nanti saya hitung 2015.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Â
Â
Â
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,
Kementerian Sekretariat Negara RI