Capaian Asta Cita Pembangunan SDM Era Presiden Prabowo - Wapres Gibran: Fondasi Menuju Indonesia Maju
oleh:
Eddy Cahyono Sugiarto
Deputi Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan SDM, Setwapres – Kemensetneg
“Yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusia. Kita memulai dari hal yang paling dasar, yaitu gizi.”
(Presiden Prabowo Subianto, Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026)
Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi inti dari Asta Cita keempat Prabowo–Gibran sebagai strategi pilihan kebijakan melalui upaya memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Arah tersebut telah diterjemahkan menjadi Prioritas Nasional Keempat dalam RPJMN 2025–2029.
Bila kita elaborasi secara lebih mendetail turunan Pembangunan SDM antara lain tercermin dari pembangunan gizi dan kesehatan, melalui pemenuhan gizi sejak ibu hamil dan anak, percepatan penurunan stunting, Makan Bergizi Gratis, pemeriksaan kesehatan, penguatan JKN, puskesmas, rumah sakit, dan tenaga kesehatan. Pendidikan bermutu, melalui pemerataan akses pendidikan, perbaikan sekolah, digitalisasi pembelajaran, peningkatan literasi-numerasi, serta penguatan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Disisi lain juga dilakukan melalui pendekatan pengembangan sains dan teknologi, meliputi penguatan pendidikan STEM, riset, inovasi, pendidikan tinggi, talenta digital, dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung transformasi ekonomi serta pengembangan keterampilan dan pekerjaan. Melalui penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja, kewirausahaan, dan kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
Dalam implementasinya, agenda pembangunan SDM tersebut diturunkan menjadi program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, Cek Kesehatan Gratis, beasiswa, pendidikan vokasi, dan penguatan riset. Pemerintah juga mengarahkan perguruan tinggi agar menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industrialisasi nasional.
Dari beberapa program di atas, jelas terlihat komitmen yang tinggi dari Presiden Prabowo akan pentingnya mempersiapkan SDM sebagai pilar utama menggapai Indonesia maju, dan sekaligus menunjukkan bahwa sejatinya pembangunan SDM dalam Asta Cita menggunakan pendekatan siklus hidup, memastikan manusia Indonesia bergizi dan sehat sejak dini, memperoleh pendidikan bermutu, memiliki keterampilan yang relevan, mendapatkan pekerjaan produktif, serta memiliki kesempatan yang setara. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan produktivitas, memutus kemiskinan antargenerasi, dan menyiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Dari ilustrasi di atas, menjadi jelas lah bahwa pembangunan sumber daya manusia bukan sekadar urusan pendidikan dan kesehatan. Ia merupakan investasi jangka panjang yang menentukan produktivitas ekonomi, kemampuan berinovasi, kualitas demokrasi, dan daya saing suatu bangsa. Kekayaan alam dapat habis, tetapi pengetahuan, keterampilan, kesehatan, dan karakter manusia dapat terus menghasilkan nilai tambah.
Dalam kerangka Asta Cita, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan penguatan SDM sebagai salah satu agenda utama. Orientasinya mulai bergerak dari sekadar memperluas akses, menuju pembangunan manusia yang lebih terpadu menghubungkan gizi, kesehatan, pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kerja.
Theoretical framework Pembangunan SDM
Secara akademis para ilmuwan telah lama membahas mengenai pentingnya pembangunan SDM, yang secara historis dapat dicermati dari perkembangannya, mulai dari Teori Modal Manusia atau Human Capital Theory yang dikembangkan Theodore Schultz dan Gary Becker, yang intinya memandang pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, dan pelatihan sebagai investasi. Manusia yang lebih sehat dan terampil mempunyai produktivitas serta penghasilan lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya, Amartya Sen menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan pendapatan. Hakikat pembangunan adalah memperluas kemampuan manusia untuk hidup sehat, berpendidikan, bekerja secara produktif, dan menentukan masa depannya. Karena itu, keberhasilan pembangunan SDM harus dilihat tidak hanya dari jumlah sekolah atau fasilitas kesehatan, tetapi juga dari peningkatan kemampuan nyata masyarakat.
Teori pertumbuhan endogen dari Paul Romer menjelaskan bahwa pengetahuan, inovasi, dan teknologi merupakan sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Investasi pada pendidikan sains, teknologi, rekayasa, matematika, kecerdasan artifisial, dan riset akan meningkatkan kapasitas bangsa menciptakan produk bernilai tambah tinggi.
Sementara Bank Dunia mendefinisikan modal manusia sebagai kesehatan, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang menjadi fondasi pertumbuhan serta pengurangan kemiskinan. Laporan Bank Dunia 2026 bahkan memperkirakan negara berpendapatan rendah dan menengah dapat kehilangan sekitar 51 persen potensi penghasilan masa depan akibat kekurangan pada aspek gizi, pembelajaran, dan pekerjaan. Artinya, pembangunan SDM bukan pelengkap pembangunan ekonomi, melainkan prasyarat utamanya.

Indikator Pembangunan Manusia di Era Prabowo Gibran mulai menunjukan capaian menggembirakan
Kita patut bersyukur jelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, fondasi awal menyongsong Indonesia maju semakin kokoh terbagun. Salah satu indikator awal adalah kenaikan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia. BPS mencatat IPM 2025 mencapai 75,90, naik 0,88 poin dibandingkan 75,02 pada 2024. Seluruh komponennya mengalami perbaikan. Umur Harapan Hidup meningkat menjadi 74,47 tahun; Harapan Lama Sekolah mencapai 13,30 tahun; Rata-rata Lama Sekolah naik menjadi 9,07 tahun; dan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan mencapai Rp12,802 juta per tahun.
Investasi gizi melalui Makan Bergizi Gratis terus menerus dipastikan perbaikan tata kelolanya, mengingat melalui Program Makan Bergizi Gratis yang merupakan intervensi SDM paling menonjol pada pemerintahan Prabowo. Dalam perspektif life-cycle approach, investasi SDM harus dimulai sejak masa kehamilan dan usia dini karena kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan otak, kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitas ketika dewasa.
Total penerima program ini telah menjangkau hingga 62 juta orang yang mencakup anak-anak, ibu hamil, hingga lanjut usia. Khusus layanan MBG 3B: Layanan untuk ibu hamil, menyusui, dan balita telah mencapai 10,8 juta penerima manfaat hingga Agustus 2026, dengan target nasional 21 juta penerima, terdiri atas 964 ribu ibu hamil, 2,4 juta ibu menyusui, serta 7,4 juta balita non-PAUD guna terus memperbaiki tata kelolanya pemerintah terus mengevaluasi dan menyelesaikan berbagai tantangan serta kekurangan dalam pelaksanaan di lapangan.
Dalam hal perluasan layanan kesehatan preventif, Pemerintahan Prabowo juga memperkuat pendekatan promotif dan preventif melalui program Cek Kesehatan Gratis. Hingga pertengahan 2026, Kementerian Kesehatan melaporkan program tersebut telah menjangkau sekitar 73,8 juta peserta. Capaian ini penting karena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker sering ditemukan ketika kondisinya sudah berat. Deteksi dini dapat mengurangi biaya pengobatan, mencegah kehilangan produktivitas, dan memperpanjang usia hidup sehat.
Revitalisasi dan digitalisasi pendidikan terus dioptimalkan implementasinya. Pemerintah telah memperbaiki lingkungan belajar melalui revitalisasi satuan pendidikan. Pada 2025 program dengan anggaran Rp16,9 triliun menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui target awal 10.440 sekolah. Untuk 2026, pemerintah menyiapkan perluasan sasaran.
Pemerintah juga memperluas digitalisasi pembelajaran melalui distribusi papan interaktif digital, laptop, konten pembelajaran, internet, dan dukungan listrik. Pada jenjang SMA, data per 17 Februari 2026 menunjukkan seluruh alokasi 14.829 papan interaktif telah tiba di sekolah. Dari 14.660 laptop dan media penyimpanan yang dialokasikan, sebanyak 14.578 unit atau 99,44 persen telah diterima sekolah.
Penguatan guru sebagai kunci mutu dilakukan pemerintah Prabowo melalui memperkuat kompetensi dan kesejahteraan guru. Sepanjang 2025, Pendidikan Profesi Guru dilaksanakan bagi 804.157 guru ASN dan non-ASN. Bantuan peningkatan kualifikasi S1/D4 diberikan kepada 12.500 guru, sedangkan pelatihan pembelajaran mendalam menjangkau lebih dari 52 ribu kepala sekolah dan 186 ribu pendidik.
Mulai 2026, tunjangan profesi guru non-ASN dinaikkan dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, sedangkan insentif guru non-ASN dinaikkan menjadi Rp400 ribu per bulan. Bantuan subsidi upah juga disalurkan kepada lebih dari 253 ribu guru non-ASN pada pendidikan anak usia dini nonformal.
Pembangunan SDM pada akhirnya harus menghasilkan pekerjaan produktif. Pada Februari 2026, Data BPS menunjukkan jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, bertambah sekitar 1,90 juta dibandingkan Februari 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka turun tipis dari sekitar 4,76 persen menjadi 4,68 persen, sedangkan rata-rata upah buruh mencapai Rp3,29 juta per bulan.
Kemiskinan juga menurun. Pada September 2025, tingkat kemiskinan tercatat 8,25 persen atau 23,36 juta orang, turun 0,32 poin persentase atau sekitar 700 ribu orang dibandingkan September 2024. Akan tetapi, kemiskinan perdesaan masih mencapai 10,72 persen, jauh lebih tinggi daripada perkotaan yang sebesar 6,60 persen.
Lesson Learned Pembangunan SDM dari beberapa Negara Maju
Korea Selatan memberikan ilustrasi kuat mengenai hubungan antara SDM dan kemajuan bangsa. Setelah perang, Korea merupakan negara miskin dan penerima bantuan. Melalui investasi berkelanjutan pada pendidikan dasar, pendidikan teknik, riset, infrastruktur, dan industrialisasi, Korea bertransformasi menjadi negara berpendapatan tinggi berbasis inovasi. Bank Dunia mencatat pendapatan nasional bruto per kapitanya meningkat dari sekitar 67 dolar AS pada awal 1950-an menjadi 36.624 dolar AS pada 2024.
Singapura menerapkan pembangunan SDM yang erat dengan kebutuhan ekonominya. Pendidikan, pelatihan guru, kesehatan dasar, perumahan, dan pengembangan keterampilan dirancang sebagai satu ekosistem. Kurikulum dan pelatihan tenaga kerja terus disesuaikan dengan transformasi ekonomi, dari perdagangan dan manufaktur menuju jasa keuangan, teknologi, dan inovasi.
Finlandia menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas tidak semata-mata dibangun melalui ujian dan kompetisi. Negara tersebut menekankan pemerataan mutu sekolah, profesionalisme guru, kepercayaan, layanan kesehatan, serta dukungan sosial bagi keluarga. Pelajar memperoleh kesempatan belajar bermutu tanpa terlalu ditentukan oleh latar belakang ekonomi orang tuanya.
Dari lesson learned yang ada, pelajaran utamanya adalah pentingnya membangun konsistensi. Negara maju mengelola pembangunan manusia sebagai agenda lintas generasi, bukan sekadar program lima tahunan. Mereka menghubungkan pendidikan dengan kesehatan, industri, riset, pasar kerja, dan perlindungan sosial.

Mengawal Perluasan Program Menuju Peningkatan Mutu
Kita patut bersyukur secara umum, pembangunan SDM era Presiden Prabowo telah memperlihatkan skala intervensi yang besar dengan pendekatan network governance kerja keras seluruh komponen bangsa dengan semangat gotong royong yang terbukti membawa manfaat yang konkret bagi masyarakat sasaran. MBG telah menjangkau puluhan juta penerima, pemeriksaan kesehatan diperluas, ribuan sekolah direvitalisasi, perangkat pembelajaran digital didistribusikan, dan kompetensi serta kesejahteraan guru mulai diperkuat. IPM, kesempatan kerja, dan tingkat kemiskinan juga bergerak ke arah positif.
Karena itu, pembangunan SDM ke depan perlu terus dikawal pada tataran implementasinya sehingga dapat semakin fokus dengan semakin mengoptimalkan pendekatan network governance, utamanya dengan memastikan lima prioritas dalam memperkuat intervensi sejak kehamilan dan usia dini, memulihkan literasi dan numerasi, meningkatkan mutu serta pemerataan guru, menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan industri dan pekerjaan masa depan, serta membangun sistem data lintas sektor yang terintegrasi serta mengukur hasil dan kemanfaatan konkret kepada masyarakat sasaran dan bukan hanya sekedar serapan anggaran.
Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya dengan membangun lebih banyak jalan, gedung, kawasan industri, atau pusat ekonomi. Infrastruktur fisik memang penting, tetapi manusia yang sehat, cerdas, terampil, berkarakter, dan inovatif lah yang akan mengubah seluruh infrastruktur tersebut menjadi kemajuan.
Oleh karena itu, peran serta seluruh komponen bangsa seyogyanya terus bersinergi melalui peran sertanya masing-masing untuk terus mendukung penuh capaian awal era Presiden Prabowo, mari terus dikawal secara kolektif implementasinya pada tataran praksis, untuk itu mari kita bersama-sama mengambil peran mendukung pembangunan SDM Indonesia demi melahirkan generasi inovatif, adaptif, dan berdaya saing global. Pembangunan SDM adalah tugas kolektif. Satu tindakan nyata kita hari ini menentukan lompatan besar bangsa di tahun 2045. Semoga.