Dialog Presiden - Groundbreaking Pembangunan PLTU Lontar Unit IV dan..., Tangerang, 10 Juni 2016

 
bagikan berita ke :

Jumat, 10 Juni 2016
Di baca 1200 kali

DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

GROUNDBREAKING PEMBANGUNAN PLTU LONTAR UNIT IV

DAN PERESMIAN GARDU LISTRIK SERTA TRANSMISI

UNTUK WILAYAH JAKARTA DAN BANTEN

TANGERANG, BANTEN

10 JUNI 2016




Presiden:

Bapak-Ibu di sini, ada yang rumahnya belum ada listriknya enggak? Tunjuk jari. Ada enggak? Udah ada semuanya? Alhamdulillah. Benar, betul semua terlistriki, semuanya? Kalau belum, tunjuk jari.


Sini maju, yang belum. Yang belum, maju. Mana? Sini maju. Saya mau lihat ada berapa. Tadi diam saja. Sekarang ada. Coba sini. Benar belum ada?

Lo kok maju semuanya jadinya? Yang belum tadi sini. Udah maju. Yang belum maju sini. Yang belum maju.


Lo kok banyak sekali? Tadi enggak mau, enggak ada yang mau tunjuk jari. Sekarang suruh maju, maju semua. Benar? Ke sini aja.


Waduh, waduh, waduh, waduh, tambah terus ini. Panggungnya enggak kuat nanti. Benar?


Ibu di desa mana?


Warga:

Kampung Selatip.


Presiden:

Apa?

Warga:

Kampung Selatip.


Presiden:

Kampung Selatip?


Warga:

Kecamatan Lontar.


Presiden:

Di Desa Lontar.


Warga:

Ini Kampung Selatip, ini.


Presiden:

Oh Kampung Selatip di sini.


Warga:

Iya.


Presiden:

Benar belum punya listrik?


Warga:

Iya betul itu, betul itu. Kampung Selatip.


Presiden:

Belum ada?


Warga:

Belum ada. Cuma nyalur sama tetangga.


Presiden:

Terus, di rumah listriknya pakai apa?


Warga:

Nyalur sama tetangga.


Presiden:

Ya berarti ada?


Warga:

Ya ada, tapi kan enggak ada kilowatt meternya, enggak ada kilowatt meternya.

Presiden:

Enggak ada kilowatt meternya, tapi listriknya ada?


Warga:

Ada.

Presiden:

Lah ya udah ada dong?


Warga:

Tapi kan bukan kilowatt meternya sendiri.


Presiden:

Yang saya tanyakan itu rumahnya yang masih padam, belum ada listrik.


Ada ndak? Siapa? Tunjuk jari.


Warga:

Enggak ada, enggak ada, Pak.


Presiden:

Ini sudah ada semuanya kan? Listriknya ada? Lampunya ada? Tapi belum ada kilowatt meternya?


Warga:

Ya.


Presiden:

Oh yang dimaksud belum ada kilowatt meter. Pertanyaan saya tadi, rumah yang belum ada listriknya kok.


Warga:

Ya ada.


Presiden:

Ada? Berapa lampu, berapa watt yang nyalur itu?


Warga:

Dua.


Presiden:

Dua lampu?


Warga:

Iya, dalam sama luar.


Presiden:

Dalam sama luar.


Yang dalam dipakai untuk apa, untuk belajar anak?


Warga:

Ya.


Presiden:

Belajar anak?


Warga:

Iya.


Kalau di luar kan, biar terang jalanan.


Presiden:

Kalau di luar biar terang?


Warga:

Iya.


Presiden:

Oh ingin punya kilowatt meter sendiri?


Warga:

Ya.


Presiden:

Nanti bayarnya bisa?


Warga:

Ya bisa aja kalau ada rezeki.


Presiden:

Kalau ada rezeki, bisa?


Warga:

Iya.


Presiden:

Kalau enggak ada rezeki?


Warga:

Ya dari mana, Pak? Kalau ada sedikit-sedikit, kan cuma cukup buat makan.


Presiden:

Itu satu listrik berapa sih, Pak? Bayarnya berapa sih satu kilowatt meter itu? Berapa sih? Berapa bayarnya? Tahu enggak, Ibu-ibu? Kalau di sini, 1 juta untuk pasangnya?

Warga:

Ya.


Presiden:

Ada tetangganya.


Terus bayarnya per bulan berapa biasanya?


Warga:

Ya kadang-kadang pulsa kan.


Presiden:

Apa?



Warga:

Sekarang “makan” pulsa.


Presiden:

Oh pakai pulsa?


Warga:

Berapa kita punya duitnya. Kalau duitnya rada banyak, ya banyak beli pulsanya. Kalau sedikit, ya sedikit.


Presiden:

Ini ada berapa, ini? 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18.


Pak Dirut, bagaimana?


Dirut PLN:

Baik, Bapak, kami jelaskan. Untuk 450W, itu sekitar 300 ribu.


Tapi, kalau masuk dalam kriteria miskin, mungkin bisa diberikan gratis melalui Wisdes. Nanti kerja samanya dengan pemerintah daerah, Pak. Biasanya begitu.


Presiden:

Ini yang tadi berapa? Saya hitung lagi berarti. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19.


Warga:

Ya.


Presiden:

19 KK ini saya minta minggu ini dipasang, udah.



Dirut PLN:

Baik, Pak.


Presiden:

Yang bayar Pak Dirut apa saya?


Dirut PLN:

Pak Dirut saja, Pak. Dirut saja, Pak.


Presiden:

Ya, Pak Dirut, sudah.


Ada yang mau ngomong lagi? Apa? Tuh mau dipasang sama Pak Dirut PLN.


Warga:

Maaf, Pak. Kalau misalkan minta pekerjaan, bisa enggak, Pak?


Presiden:

Apa?


Warga:

Nganggur.


Presiden:

Bagaimana?


Warga:

Di kampungku itu banyak yang nganggur.


Presiden:

Banyak yang nganggur?


Warga:

Ibu-Ibunya gitu, pada nganggur.


Presiden:

Ya apa? Pekerjaan apa?


Warga:

Ya apa saja. Yang penting bisa menghasilkan uanglah. Biar buat bantu suami gitu, Pak. Kan kerjaan nelayan itu kadang dapat, kadang enggak gitu.


Presiden:

Iya. Apa? Pekerjaannya apa?


Warga:

Ya apa saja gitu.


Presiden:

Kerjaan apa saja?


Warga:

Semacam pabrik coklat atau bagaimana.


Presiden:

Ya nanti biar diurus Pak Bupati.


Dirut PLN:

Pak Presiden, kalau boleh saya bantu, sebentar lagi kan ada proyek besar di sini. Ada 3.000 orang yang kerja.


Mungkin bisa dibantu untuk buka warung. Ada kredit KUR, Pak. Bisa nanti bangun warung kecil-kecil di sekitar sini untuk para pekerja yang membangun di sini.


Presiden:

Nanti manajernya diperintah.


Dirut PLN:

Baik, Bapak.


Presiden:

Ini dicatat, Ibu. Ini yang nanti warungnya diberi prioritas. Dicatat ini.


Sudah. Ibu-ibu kembali. Silakan.


Warga:

Terima kasih, Pak.


Presiden:

Ya sudah. Sama-sama ya.


Itu dikumpulin dulu, dicatat. Yang lain, yang enggak maju, jangan ikut maju.

*****

Biro Pers, Media dan Informasi

Sekretariat Presiden