DIALOG
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
PETANI DAN WARGA
DI SENTRA PADI DESA PUJOKERTO, TRIMURJO, LAMPUNG TENGAH
TANGGAL 25 NOVEMBER 2014
Â
Â
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Â
Ini saya mau, saya mau bertanya, di lapangan ada masalah apa?
Â
Warga:
Pupuk, Pak. Masalah pupuk, Pak.
Â
Presiden:
Mana yang ngomong ini? Dari mana?
Â
Warga:
Saya, Pak.
Â
Presiden:
Masalah pupuk. Yang lain ada masalah ndak? Masalah apa?
Â
Warga:
Jaringan irigasi.
Â
Presiden:
Kenapa jaringan irigasinya?
Â
Warga:
Kurang sempurna.
Â
Presiden:
Kurang sempurna, berarti rusak? Ada lagi?
Warga:
Jalan, Pak.
Â
Presiden:
Jalan, irigasi diapain? Ha, diperbesar?
Ya, nanti gini, pertama yang mana tadi? Yang irigasinya yang rusak, insya Allah nanti bulan depan dimulai kira-kira 35 ribu hektar di sini aja. Terus traktor berapa di sini? Total di Lampung 570 traktor diberikan. Terus tadi sebentar, pupuknya gimana? Pupuknya ada 570 ton diberikan juga gratis. Ini saya yang bisiki Pak Menteri Pertanian. Jadi pasti bener, gitu lho. Tapi kita minta nanti produksinya juga harus meningkat. Targetnya 1 juta ton. Saya kira Lampung bisa. Tahun depan akan dibuat bendungan dan waduk dua. Dua lagi dibangun di Lampung. Letaknya di mana? Di Sukoharjo, di atas... bener? Ya, mungkin ininya kan keliru. Ya, jadi masalah-masalah itu, apa, yang terutama berkaitan dengan produksi pertanian memang akan kita konsentrasi di situ. Entah yang namanya benih, entah yang namanya pupuk, entah yang namanya irigasi, entah yang namanya waduk, entah yang namanya bendungan, selama lima tahun ini target kita ada 30 bendungan minimal di seluruh Tanah Air. Di sini kebagian dua. Dua itu, dua itu banyak lho. Memang iya. Banyak. Kita punya 34 provinsi, iya kan? Hanya 30 bendungan, di sini dapat 2, banyak ndak? Ya, nanti pas nggak ada hujan berarti pengairan tetap masih bisa berjalan, insya Allah. Itu yang kita harapkan.
Â
Masih ada lagi, apa yang ingin di.., ayo.
Â
Warga:
P3A yang ngurusi air, Pak, sama ili-ili, Pak. Ili-ili yang bagi air tiap hari, itu kan tidak ada honor ataupun upah, dia hanya ada janggolan, Pak.
Â
Presiden:
Janggolan itu apa?
Â
Warga:
Iuran, Pak. Iuran petani. Itu kerjanya siang malam, Pak. Satu musim dapatnya hanya 1 juta - 1,5 juta. Nah, mohon karena Pak RT itu dapat bantuan di setiap triwulan, ini mohon kita dapat bantuan operasional, Pak. Karena ili-ili juga menentukan keberhasilan panen padi sawah, Pak. Terima kasih, Pak.
Â
Presiden:
Ya ini nanti untuk ili-ili urusannya Pak Gubernur janji bantu. Saksinya saya. Jadi, saksinya Presiden. Terus yang khusus saprodi itu urusannya Pak Menteri Pertanian, sudah. Kalau kompak seperti ini, kita kerja kompak semuanya, Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, dengan Pemerintah Kabupaten, semuanya kompak, insya Allah nanti produksi itu akan naik. Ada lagi?
Â
Warga:
Pak, Jalan Usaha Tani, Pak. Jalan Usaha Tani, JUT.
Â
Presiden:
Oke, saya dibisiki ini. Yang bisiki yang jagonya buat jalan, Pak Menteri PU. Sudah bisiki saya, nanti bagian saya, Pak itu. Sudah. Tapi gini, jangan minta terus lho. Jadi jalan, jalan apa? Jalan Usaha Tani sudah dijanjikan Pak Menteri PU, nanti kalau belum mulai-mulai, nanti saya diberitahu, SMS ke saya. Tahu nomernya ndak? Lha kok jawab iya. Nanti nanya ke ajudan nomer saya, di-SMS, "Pak, ini belum mulai ini Jalan Usaha Tani-nya." Yak, jadi kalau ada hal-hal yang belum, tolong disampaikan ke saya.
Ada lagi?
Â
Warga:
Pak, Tenaga penyuluh, Pak, penyuluh, THL. Jadi tenaga harian lepas ini kan belum negeri, Pak. Jadi, tenaga THL namanya. Ini mohon...
Â
Presiden:
Ini yang ngurusi apa ini?
Warga:
Penyuluh, Pak. Tenaga penyuluh, tapi itu kan petani yang belum negeri, Pak. Tenaga Harian Lepas.
Â
Presiden:
Yang PPL itu ya?
Â
Warga:
Iya Pak. Ini mohon diperhatikan nasibnya. Ada 80 orang di Lampung Tengah khususnya ini nasibnya belum jelas. 80 orang di Lampung Tengah khususnya. Kemudian ada PPL Swakarsa. Itu gajinya hanya tergantung dengan daerah, dan kerjanya sama dengan PNS. Tetapi gajinya dan perhatiannya masih kurang, Pak. Ini tolong diperhatikan.
Â
Presiden:
Sebentar, sebentar. Tadi yang PPL Honorer dengan PPL Swakarsa itu beda?
Â
Warga:
Beda, Pak, cuma sama-sama untuk bina desa.
Â
Presiden:
Yang PPL yang honor tadi berapa jumlahnya?
Â
Warga:
80 di Lampung Tengah, Pak.
Â
Presiden:
Swakarsanya?
Â
Warga:
Ada 30 Pak.
Â
Presiden:
30, 110
Â
Warga:
Hanya Lampung Tengah itu, Pak. Belum se-Lampung, Pak.
Â
Presiden:
Oke. Intinya banyak banget yang harus diurus. Urusan saya kan bukan hanya Lampung Tengah saja. Urusan saya itu 504 kabupaten/kota. Jadi, ntar yang itu biar dicatet. Saya belum bisa jawab. Kalau saya belum bisa jawab, saya ngomong apa adanya belum bisa jawab. Tapi sudah tercatat. Ada lagi, apa? Sudah, ini terakhir ini. Nanti banyak sekali soalnya nanti. Silakan.
Â
Warga:
Saya mewakili dari pengusaha kecil, Pak. Karena saya pernah dipenjara gara-gara BBM, Pak.
Â
Presiden:
Gara-gara apa?
Â
Warga:
BBM, Pak. Solar, solar.
Â
Presiden:
Iya, kenapa?
Â
Warga:
Saya kan waktu itu beli solar, tapi dipenjara selama 3 bulan Pak.
Â
Presiden:
Kenapa?
Â
Warga:
Ya, katanya nggak boleh pakai minyak subsidi, Pak.
Â
Presiden:
Nggak, dipakai untuk apa? BBM-nya, solarnya dipakai untuk?
Â
Warga:
Penggilingan padi, Pak.
Â
Presiden:
Untuk penggilingan padi? Sebentar, ini urusan hukum ini saya jawab nanti kalau keliru. Gimana, Pak Kapolda ini? Ini, Pak Kapolda, ini. Kalau sama yang kecil-kecil, apalagi untuk produksi ya janganlah. Tapi nggak tahu, ini masalah hukum ini. Jawabannya harus sesuai dengan undang-undang dan konstitusi. Yang jawabnya biar Pak Kapolda saja. Bagaimana, Pak?
Â
Kapolda Lampung:
Baik, Bapak. Jadi kalau untuk produksi itu kan ada izin penggunaan BBM subsidinya Bapak. Kalau ada yang mengeluarkan izin itulah yang menjadi patokan kita untuk penggunaan BBM itu, Bapak.
Â
Presiden:
Ya, jadi gini. Jadi, jadi, apa, memang aturannya kalau membeli BBM subsidi untuk itu memang harus ada izin dari Dinas Perindustrian di sini. Tetapi, mestinya kalau yang kecil-kecil ini, kalau memang itu untuk produksi Pak Kapolda, saya titip, ndak perlu di-ini lah. Kalau untuk produksi bener. Pak Bupati, kalau diberi SIUP gratis ini bisa ndak?
Â
Bupati:
Bisa, Pak. 50 juta ke bawah nggak perlu bayar, Pak.
Â
Presiden:
Sudah, minta, minta SIUP saja di Dinas di Kabupaten. Sudah, langsung sudah. Nggak mbayar, ini sudah janji nggak mbayar ini Pak Bupati.
Â
Bupati:
Itu memang ada Perpresnya, Pak Presiden. Ada Perpresnya, mereka tidak boleh pakai yang subsidi, harus pakai non.
Â
Presiden:
Ada Perpresnya? Ya sudah, nanti tak ganti Perpresnya, tapi sudah. Karena ada aturan, jadi seperti itu ada aturan. Kalau hanya Perpes, izinnya sudah, nanti Perpresnya saya ceknya lagi nanti. Pokoknya yang memang untuk urusan produksi dan untuk urusan kebaikan, saya sudah minta ke Pak Kapolda untuk tidak di, untuk tidak dipenjara, gitu aja intinya. Nanti Perpresnya juga saya kaji. Iya, ngerti ini tadi sudah gitu kok. Nanti juga Perpresnya saya cek, nanti lapangannya saya lihat lagi.
Â
Sudah, sudah saya kira cukup, udah mau magrib ini. Saya mau, ini saya mau meluncur lagi ke Bengkulu. Ya, saya kira cukup. Sudah, yang paling penting begini, untuk seluruh petani ya, yang bergerak di bidang pertanian, kita ingin negara kita ini tidak impor lagi, tidak impor, beras tidak impor, jagung juga tidak impor, gula juga tidak impor, cabai juga tidak impor, apa lagi? Kedelai juga tidak impor. Itu targetnya 3-4 tahun harus sudah stop nggak ada impor lagi. Oleh sebab itu, saya mengajak kepada seluruh petani, untuk bekerja keras, berproduksi.
Â
Kalau ada masalah tolong disampaikan ke Pak Bupati, ke Pak Gubernur, atau sampaikan ke Menteri Pertanian, masih mentok lagi belum selesai, sampaikan ke Presiden, ya. Tapi kita ingin dalam 3-4 tahun ini sudah tidak ada lagi impor beras, terutama beras. Ya. Targetnya itu, jangan sampai masih ada impar-impor, impar-impor. Nanti yang terkena imbasnya itu harga di petani. Ini yang kita targetkan. Kita ingin negara kita Indonesia ini punya kedaulatan pangan, punya ketahanan pangan, punya swasembada pangan. Ya, targetnya tadi. Jadi semuanya, tapi nanti persiapan, akan saya cek setiap provinsi sudah naik berapa produksinya, yang belum harus disuntik dengan apa, nanti akan terus kita apa, ikuti, kita pantau, dan mudah-mudahan target yang tadi sudah saya sampaikan betul-betul nanti tercapai semuanya.
Saya kira itu yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.
Â
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Â
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,
Kementerian Sekretariat Negara RI