Menenun Diiringi Alunan Musik Sasando di Pavillion Indonesia IMF-WBG Annual Meetings 2018

 
bagikan berita ke :

Kamis, 11 Oktober 2018
Di baca 101 kali

 

Ada hal unik dalam perhelatan International Monetary Fund-World Bank Group Annual Meetings 2018 (IMF-WBG AM 2018). Terdapat sebuah ekshibisi yang bernama Pavillion Indonesia yang terletak di The Westin Resort, Nusa Dua Bali, Indonesia, Selasa (9/10).

 

Pavilion Indonesia adalah satu dari sekian hospitality programme yang disiapkan pemerintah Indonesia. Melalui acara pendukung ini, pemerintah berharap setiap peserta Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali dapat merasakan menjelajah Indonesia.

 

Sahala Lumban Gaol, Staf Khusus I Menteri BUMN dan Judith Dipodiputro, Staf Khusus II Menteri BUMN menyampaikan bahwa Pavilion Indonesia mengangkat tema “Rediscover Indonesia”. Dengan mengunjungi Pavilion Indonesia yang mengadopsi konsep seamless galeri/mall, peserta dapat mengenal kembali Indonesia melalui suguhan kebudayaan Indonesia dan dinamika perkembangan dan capaian pembangunan Indonesia.

 

Ada 89 jenis kesenian dan kerajinan tangan khas Indonesia yang ditampilkan di Pavillion Indonesia. Salah satunya Rusvita, seorang perajin tenun yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur.

“Saya diajak oleh Bank Mandiri untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini,” ujar Rusvita saat kami menyambangi stand menenunnya. Rusvita merupakan satu dari 89 pengrajin seni Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang hadir meramaikan Indonesia Pavillion.

 

Rusvita menyampaikan untuk menenun satu kain dibutuhkan waktu tujuh hari dalam pengerjaannya. “Sekarang saya sedang menenun satu buah kain, untuk pemilihan benangnya saya lakukan sebelum ke sini, jadi di sini saya tinggal mengerjakan, butuh waktu tujuh hari untuk merampungkan kain ini,” jelasnya.

 

Tak hanya menenun, Rusvita juga memamerkan beberapa hasil karya lainnya untuk dijual seperti ikat pinggang, gelang, dompet hingga ikat kepala. “Kami bekerja sama dengan salah satu pemilik usaha di Jakarta. Kami khusus bagian bahan tenunnya, sisanya dari Jakarta,” katanya.

 

Selain Rusvita, rekan satu provinsinya, Hadiknas Ivan Pah turut serta dalam ekshibisi ini. Selama tiga hari ini, Ivan akan bermain alat musik Sasando. Sasando adalah alat musik tradisional Pulau Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terbuat dari daun lontar dan bambu. Selain daun lontar, beberapa bagian dari Sasando juga terbuat dari kayu jati. “Bagian atas dari kayu jati, bagian tengah dari bambu, dan bagian bawah dari kayu jati”, kata Ivan.

 

Alat musik petik ini ada yang memiliki 24 atau 32 senar. “Bagi pemula, kami gunakan 24 senar, sedangkan ini pakai 32 senar,” jelasnya. Dari 32 senar, 15 di antaranya melodi dan 17 lainnya untuk ritme dan bass.

 

Ivan sendiri berasal dari keluarga pemain Sasando. Ayah dan saudaranya sudah lama bermain alat musik ini. “Dari kelas lima sekolah dasar Bapak maksa kita untuk belajar Sasando, jadi sekarang Bapak istirahat, kita lima bersaudara, jadi Bapak yang ngajarin, sekarang kita juga buka kursus bermain Sasando dan suka dipanggil sekolah-sekolah untuk mengajarkan juga,” ujarnya.

 

Pavillion Indonesia akan diselenggarakan selama tujuh hari dimulai dari tanggal 8 Oktober sampai dengan 14 Oktober 2018. (WKA, ART - Humas Kemensetneg)

 

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0