Penataan Area Bawah Jembatan Layang Kemayoran, Komitmen PPK Kemayoran dalam Edukasi lingkungan Hidup

 
bagikan berita ke :

Jumat, 05 Juni 2020
Di baca 956 kali

Jakarta memiliki jumlah jembatan layang terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 101 jembatan layang berlokasi di Provinsi DKI Jakarta. Tiga di antaranya berada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

 

Jembatan layang berperan dalam mengurangi kemacetan lalu lintas perkotaan yang padat. Jembatan layang juga berkontribusi untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi lalu lintas. Namun, pembangunan jembatan layang membuat area di bawahnya menjadi area bayangan. Area ini minim cahaya matahari dan menjadi gelap. Kurangnya pencahayaan tersebut berpotensi menjadikan area ini sebagai titik terjadinya tindakan kriminalitas yang membahayakan keamanan para pelintas. Selain itu, pengelolaan area bawah jembatan layang yang kurang baik dapat membuat kelompok masyarakat tertentu memanfaatkan area bawah layang.

 

Pemanfaatan area bawah layang oleh kelompok masyarakat didorong oleh faktor keterbatasan lahan di ibu kota. Masyarakat sulit mendapatkan lahan yang luas dan strategis di Jakarta. Oleh karena itu, area ini sering kali digunakan sebagai tempat tinggal pemulung dan tunawisma ataupun sebagai tempat berjualan para pedagang kaki lima. Tentu saja, pemanfaatan area seperti ini akan memberikan kesan kumuh bagi penataan ibu kota.

 

Pemandangan seperti ini juga pernah terjadi pada area bawah jembatan layang di Kemayoran. Lahan bawah jembatan Kemayoran tak lepas dari penilaian kelompok marginal di Jakarta. Lokasinya yang strategis dapat digunakan sebagai tempat berbagai aktivitas tinggal ataupun aktivitas ekonomi. Tidak tepatnya pemanfaatan bawah jembatan tersebut menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran.

 

Persoalan tata Kawasan seluas 454 hektar termasuk berbagai fasilitas yang ada di dalamnya menjadi tanggung jawab PPK Kemayoran. Untuk mentransformasi kawasan bekas Bandara Internasional menjadi kawasan smart city, PPK Kemayoran memanfaatkan lahan bawah jembatan untuk mengatasi persoalan fundamental terkait tata Kawasan. PPK Kemayoran menyulap ruang bawah jembatan layang sebagai ruang publik yang bermanfaat dan difokuskan pada bidang edukasi lingkungan hidup.

 

Edukasi lingkungan dilakukan dengan memanfaatkan keterampilan para pekerja kebersihan dan tata hijau yang merupakan warga Kemayoran sendiri. Tujuannya, untuk menanamkan rasa tanggung jawab warga atas lingkungannya sendiri dalam menyulap area yang kumuh menjadi area hijau.

 

PPK Kemayoran memfasilitasi kebutuhan edukasi dan mentoring kepada para pekerja dengan tiga kegiatan utama, yakni Budidaya Tanaman, Pengolahan Sampah Organik dan Daur Ulang Sampah Anorganik. Mereka yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keilmuan di bidang pertanian dan penataan taman justru berkontribusi penuh dalam menciptakan ruang edukasi publik di bidang lingkungan hidup. Tim kebersihan dan tata hijau dari PPK Kemayoran kemudian mengubah ketiga area bawah jembatan layang menjadi area One-Stop Gardening Service.

 

Kegiatan budidaya tanaman di area bawah jembatan layang sedikit berbeda dengan budidaya pada umumnya. Tanaman yang dipilih merupakan jenis tanaman yang tidak banyak membutuhkan sinar matahari. Tanaman jenis ini di antaranya Hanjuang (Cordyline sp.), Bakung (Heliconiaspeciosa), dan Ruelia (Ruelliamalacosperma).

 

Selain edukasi dalam mendiferensiasi jenis tanaman, para pekerja juga diajarkan untuk melakukan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos ini kemudian diaplikasikan di area bawah jembatan layang, jalur hijau serta fasilitas taman yang ada di sekitar Kemayoran. Edukasi ini untuk meningkatkan kemandirian para pekerja dalam menyiapkan kebutuhan pupuknya.

 

Kondisi lahan bawah jembatan layang di Kemayoran kini semakin menarik. Sebelumnya tidak tertata kini menjadi salah satu taman penyumbang oksigen di tengah sulitnya ruang terbuka hijau ibu kota. Edukasi yang diberikan kepada para pekerja dalam mendaur ulang sampah anorganik menjadi daya tarik tersendiri bagi area tersebut. Dengan kreasi para pekerja, sampah ban mobil yang tidak berguna diubah menjadi pot dan tempat duduk yang berwarna-warni. Kini, tak tampak lagi gerobak pemulung. Sebaliknya, area bawah jembatan layang menjadi lebih menarik karena dihiasi oleh berbagai jenis tanaman hias dan fasilitas dari pengolahan daur ulang sampah.

 

Pengelolaan taman bawah jembatan Kemayoran tentu menjawab persoalan tata kawasan yang bersih dan tertata rapi. Namun, lebih dari itu keberadaan taman bawah jembatan menjadi sarana edukasi di bidang lingkungan hidup. PPK Kemayoran memfungsikan area hijau baru tersebut sebagai ruang belajar tentang pemanfaatan lahan, pengelolaan taman, pembuatan pupuk, dan daur ulang sampah bagi masyarakat maupun pelajar. Kehadiran taman edukasi ini pun menjadi salah satu solusi dalam menjawab persoalan polusi ibu kota.

 

Ke depan, PPK Kemayoran terus berkomitmen untuk berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup. Salah satunya, dengan menyediakan papan informasi terkait pengelolaan taman secara tertulis sebagai media edukasi pasif bagi pengunjung. Masyarakat dan pelajar diharapkan dapat lebih memahami dan peduli terhadap kelestarian dan kebersihan lingkungan. (Div. MPL – Humas PPK Kemayoran_Humas Kemensetneg)

 

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
6           1           1           0           0