Pengajian Bulanan dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lingkungan Sekretariat Negara

 
bagikan berita ke :

Rabu, 02 April 2008
Di baca 1525 kali

   
Dalam pengajian yang dibuka oleh Bambang Prajitno, S.H., M.M., Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia ini, Azyumardi Azra mengutip surat Al Ashr,  “Bahwa sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal saleh serta saling berpesan/berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.”

   
“Beriman itu percaya kepada rukun iman, melakukan amal saleh dan beribadah. Sedangkan beribadah tidak hanya solat, berpuasa atau haji saja, menuntut ilmu pun adalah ibadah,” paparnya. “Dan orang yang menuntut ilmu, dia melakukan jihad fisabilillah, jihad dengan sungguh-sungguh.”

   
Papar Azyumardi, orang yang menuntut ilmu adalah perbuatan jihad oleh karena itu dia berhak mendapatkan zakat. Dan apabila meninggal dalam menuntut ilmu maka orang tersebut disebut mati syahid. Selain orang yang menuntut ilmu, menurutnya ibu-ibu yang mencari nafkah, yang membantu perekonomian keluarga juga disebut perbuatan jihad.

   
Sedangkan, bagi orang yang mengeluarkan pendapat dengan bersungguh-sungguh dalam membuat produk hukum, orang tersebut juga dikatakan berjihad. “Di dalam lingkungan Sekretariat Negara banyak sekali yang berjihad, karena Sekretariat Negara banyak mujtahid atau orang-orang yang bersungguh-sungguh mengeluarkan pendapat hukum dalam bentuk Keppres atau Undang-undang,” terangnya.

   
Jika ada beberapa orang yang mengartikan jihad sebagai perang, itu tidak sesuai dengan cara-cara yang digariskan Islam dalam menegakkan kebajikan. Sedangkan perang merupakan bagian kecil dari konsep jihad. Menurut Azyumardi, ada tiga prinsip dalam menyerukan kebajikan. Pertama adalah harus sabar dalam menyebarkan kebaikan. Kedua adalah memberikan contoh yang baik. Dan ketiga adalah mendekati dengan diskusi secara terus menerus.

   
Prinsip pertama adalah kesabaran kita sebagai manusia yang menyebarkan kebajikan tidak boleh menggunakan kekerasan. Apapun alasannya, kekerasan bukanlah jalan menempuh kebenaran. Dalam Islam sendiri terdapat aturan dalam perang. Yakni tidak boleh melakukan kekerasan terhadap wanita, anak-anak, merusak fasilitas publik apalagi jika melukai pihak yang tidak berhubungan dengan tujuan perang tersebut. Begitu juga dengan bom bunuh diri. Bom bunuh diri selain tidak percaya terhadap Allah SWT juga berarti membunuh orang lain.

   
Maka dari itu kesabaran dalam hal kebaikan harus terus menerus dilakukan. Begitu juga pada saat ini, dimana banyak bermunculan gejala sosial yang menuju kea rah negative. Seperti munculnya kasus bunuh diri seorang ibu dan anak-anaknya, atau penyerbuan terhadap kelompok yang dianggap menodai keislaman. Gejala sosial atau social distrubtion/disorientasi social ini harus dihadapi dengan kesabaran bukan kekerasan.


Prinsip kedua dalam menghadapi kemungkaran adalah  memberikan contoh yang baik.Seperti halnya Nabi Muhammad SAW dulu, yang mendoakan orang kafir yang melukai diri Nabi Muhammad SAW agar sadar dan kembali kepada jalan yang benar. Nabi Muhammad SAW selain memberikan contoh dalam lingkungan sosial, beliau juga memberikan contoh ketika menjadi kepala negara. Ketika Nabi Muhammad SAW menjadi kepala negara di madinah, beliau mengeluarkan Piagam Madinah atau Madina Constitution yang mengatur tata pemerintahan dan hubungan antar warga negara dan umat beragama.


Piagam Madinah sendiri, saat ini menurut Azyumardi Piagam Madinah ini menjadi dasar dari prinsip-prinsip yang diadopsi oleh Declaration of Human Rights. Yaitu dalam hal protective to live atau perlindungan terhadap kehidupan, bahwa setiap orang wajib dijaga jiwanya . Kemudian protection to property atau perlindungan terhadap kepemilikan serta protection to convience atau freedom of believe atau mengatur masalah agama. Sebagai contoh dahulu Nabi Muhammad SAW mengeluarkan peraturan dalam melindungi agama lain yaitu Yahudi. Di Indonesia hal ini diatur dalam Pancasila.


Maka menurut Azyumardi, dengan ketiga prinsip tadi, maka diharapkan agama Islam mampu menghadapi permasalahan yang akan selalu ada. Baik dri lingkungan luar maupun dari dalam umat Islam sendiri. Acara ini ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh penceramah. (REDAKSI)


Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0