Pengalaman Sophie Vavita Memberi ASI

 
bagikan berita ke :

Senin, 27 Agustus 2007
Di baca 456 kali

Menurut Sophie, perasaan dirinya yang tidak bisa digambarkan dalam bentuk kata-kata saat melahirkan anak keduanya, yang langsung direbahkan di atas dadanya."Ketika baru lahir dan bayi saya dipotong tali pusarnya, langsung direbahkan di dada saya, dan si anak walau baru berusia nol hari, tapi instingnya berusaha mencari apa yang dibutuhkannya. Saat direbahkan dia mulai merayap pelan-pelan dan mencari susu yang dibutuhkannya. Awalnya ke kiri, lalu memutar kepalanya ke kanan. Kalau saya mengandaikan, seperti menonton sepak bola, pas si bayi mendapatkan sasarannya, langsung gol, langsung dihisap, " kata Sophie disambut gerr undangan.

Sementara Pongki sebagai suami, awalnya mengaku bingung memilih peran apa yang harus dilakukannya saat istrinya baru melahirkan. "Sewaktu diberitahu, ASI eksklusif 6 bulan , dan inisiasi menyusu dini, kebetulan saya senang baca, dan jadi membaca beberapa buku soal ASI, akhirnya saya mengerti sedikit demi sedikit. Dan saya berusaha menjadi fasilitator yang baik buat istri, dalam artian, ketika saya di rumah, saya berusaha tidak memikirkan lagi pekerjaan. Saya tanya kebutuhan istri saya apa, kebetulan kadang-kadang istri saya ini tidak perlu dibelikan apa-apa. Hanya mau didengarkan kalau lagi ngomong. Yah sudah, saya dengarkan saja. Atau sering juga minta di pijat, jadi saya pijat pundak atau telapak kakinya. Ternyata menurut dokter Utami Rusli, pijatan itu sangat berarti buat istri saya, karena membuat produksi ASI lebih lancar," jelas Pongki. Walaupun peran saya sesimpel itu, lanjut Pongki, tapi efeknya besar.

Ibu Negara juga membagi pengalamannya ketika melahirkan. "Saya memberikan ASI eksklusif selama 4 bulan kepada kedua anak saya. Hasilnya tidak mengecewakan, mereka sekarang tumbuh dengan sangat baik . Empat bulan saja mereka dapat tumbuh dengan baik, apalagi diberi ASI 6 bulan . Itu harus dicatat," kata Ibu Negara. Malah saat melahirkan anak pertama, lanjut Ibu Ani, Presiden menunggui saya terus di ruang melahirkan, dan saat anaknya sudah dilahirkan, SBY terus mengikuti anaknya, kemudian di adzani di telinganya. Justru lebih duluan Bapak yang pegang anaknya," lanjut Ibu Ani. Namun pada kelahiran anak kedua, SBY tidak berada di sampingnya. "Kebetulan Bapak lagi dinas latihan keluar. Namanya juga tentara, " kata Ibu Ani. Oleh karena itu, tambah Ibu Negara, "Marilah kita terus menerus mengumandangkan dan menyampaikan program ini secara luas, agar makin lama, masyarakat makin tahu," tambah Ibu Ani.

 

Sumber:
http://www.presidensby.info/ibunegara/index.php/fokus/2007/08/27/294.html

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0