Pengantar Presiden pada Pertemuan dengan Kepala Daerah se-Papua serta Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua

 
bagikan berita ke :

Selasa, 16 Desember 2025
Di baca 945 kali

di Istana Negara, Jakarta


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve, 
Om swastiastu, 
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan. 

Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Para Menteri, Kepala Badan, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, para Wakil Menteri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir, yang tidak saya sebut namanya satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat saya;

Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, Saudara Velix Vernando Wanggai, beserta para anggota komite, Saudara John Wempi Wetipo, Saudara Ignatius Yogo Triyono, Saudara Paulus Waterpaw, Saudari Ribka Haluk, Saudara Ali Hamdan Bogra, Saudara Josaphat Jobel Mambrazar, Saudari Yanni, Saudara John Gluba Gebze, Saudara Juharson Estrella Sihasale;

Para gubernur dari provinsi di Papua, yang saya hormati, Gubernur Provinsi Papua Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Mathius Fakhiri, Gubernur Provinsi Papua Barat Saudara Dominggus Mandacan, Gubernur Provinsi Papua Barat Daya Saudara Elisa Kambu, Gubernur Provinsi Papua Tengah Saudara Meki Frits Nawipa, Gubernur Provinsi Papua Pegunungan Saudara John Tabo, Gubernur Provinsi Papua Selatan Saudara Apolo Safanpo;

Yang saya hormati, para bupati dan para wali kota dari seluruh provinsi di Papua yang tadi sudah saya jumpa langsung satu per satu. 

Saudara-saudara sekalian, 
Pertama-tama sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa yang memiliki sekalian alam, hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, kesehatan, dan kedamaian yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul bersama dengan seluruh gubernur, bupati dan wali kota dari Papua sore hari ini untuk membahas percepatan pembangunan otonomi khusus Papua. 

Kita selalu ingat saudara-saudara kita yang mengalami musibah bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dan juga di tempat-tempat lain yang beberapa saat juga mengalami musibah. Kita berdoa mereka diberi kekuatan dan kita semua diberi petunjuk, sehingga kita semua bahu-membahu secara gotong-royong bisa bersatu untuk segera mempercepat pemulihan keadaan di daerah-daerah tersebut. Tapi yang terutama adalah juga proses pembangunan, proses transformasi bangsa tidak boleh terhenti, tidak boleh terpengaruh. Di tengah cobaan, di tengah rintangan, di tengah hambatan, kita harus lebih keras lagi bekerja, lebih kuat usaha kita untuk meneruskan proses transformasi bangsa kita. 

Saya ingatkan kita semua bahwa bangsa kita harus transformasi menjadi negara yang modern, negara yang maju, negara yang makmur. Tidak ada, tidak boleh ada bagian dari negara kita yang tertinggal. Setiap daerah, setiap provinsi, setiap kabupaten, setiap kota, harus kita bangun dan kita berikan segala yang diperlukan untuk transformasi bangsa kita. Dalam keadaan negara yang modern, yang kita cita-citakan dan yang mampu kita capai bersama, tentunya negara kita harus menghilangkan kemiskinan dan ketertinggalan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa masih ada rakyat kita yang hidup dalam keadaan kesulitan, kekurangan, apalagi kelaparan. Kita sebagai bangsa, hari ini, ekonomi kita diakui ke-8 terbesar di dunia. Diperkirakan dalam waktu 15-20 tahun lagi, kita bisa mencapai negara ke-5, bahkan ke-4 terbesar di dunia, ekonomi kita.

Masalahnya adalah pemerataan. Masalahnya adalah pemerintahan kita, pengelolaan kita, manajemen kita sebagai bangsa. Bahwa kita harus me-manage, mengelola kekayaan kita dengan searif-arifnya, sepandai-pandainya, dan sejujur-jujurnya, sehingga sumber daya kita yang sangat besar, bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Saya mengajak semua pihak, semua unsur pimpinan, para gubernur, para wakil gubernur, para bupati-wakil bupati, wali kota-wakil wali kota, para menteri, para pejabat semuanya, Komite Percepatan, mari kita bersama-sama menjalankan tugas dan tanggung jawab yang besar ini, yang ada di pundak kita masing-masing. 

Saudara-saudara, 
Kita semakin hari semakin tahu betapa potensi, betapa kenyataan kekayaan kita. Tetapi kita juga harus mengakui bahwa kita masih belum andal dan belum cakap untuk menjaga dan mengelola kekayaan kita masing-masing. Untuk itu, pemerintah pusat sedang bekerja keras untuk membenahi diri kita di tingkat pusat. Kita harus mengakui, tidak bisa kita tutupi, tidak bisa kita sembunyikan, tidak baik untuk kita tidak hadapi, kekurangan-kekurangan kita. Saya selalu mengajak, bukan untuk menurunkan semangat kita, tapi untuk justru membangkitkan semangat kita.

Korupsi, penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, mencari keuntungan pribadi/kelompok dari kekayaan negara, membiarkan kekayaan negara dicuri, diselundupkan, ini di ujungnya adalah akan memperberat kehidupan rakyat kita semua. Karena itu pemerintah pusat bekerja keras, kita terus melakukan upaya-upaya menegakkan hukum, mengusut segala penyelewengan, dan kita tidak akan ragu-ragu mencopot, memecat pejabat-pejabat yang tidak mampu. Tanpa memandang bulu, tanpa melihat partai mana, asal-usul, suku mana, agama mana, ras mana. Siapa yang tidak bisa setia menjalankan tugas rakyat, kita persilakan untuk berhenti dari jabatan-jabatan pengabdian kepada negara dan rakyat. 

Saudara-saudara, 
Saya sebagai presiden dibantu oleh menteri-menteri, kita terus bekerja sekarang untuk mengamankan kekayaan negara. Kita mencari aset-aset, kita meneliti peraturan-peraturan, dan kita tidak segan-segan untuk melakukan apa yang diperlukan sehingga semua kekayaan negara bisa kita amankan dan kita gunakan untuk kepentingan rakyat kita.

Saudara-saudara sekalian, 
Kita pelajari terus sistem yang tidak sesuai dengan rancang bangun pendiri-pendiri bangsa kita, kita harus berani memperbaiki. Khusus untuk Papua, kita harus percepat pembangunan di Papua, di semua bidang. Tapi sekali lagi, sebagaimana saya sudah bertahun-tahun menggarisbawahi bahwa dasar dari semua kehidupan bangsa adalah kemampuan bangsa itu untuk menjamin makanan untuk rakyatnya.

Karena itu, masalah pangan itu sangat utama. Karena itu, swasembada pangan menjadi dasar dari transformasi bangsa kita. Terus terang saja, ya, saya kembalikan semuanya atas keyakinan paling mendasar ini. Semua kehidupan manusia, semua peradaban manusia, semua negara yang berdiri ribuan tahun sampai sekarang bisa berdiri, bisa bertahan, karena dia aman pangannya. Untuk kita aman pangan, kita harus swasembada pangan, kita harus menjamin produksi pangan kita sendiri. Dan ini tidak hanya pangan secara nasional, kita harus swasembada pangan secara provinsi, bahkan bila perlu secara kabupaten. 

Bencana yang kita lihat sekarang di Sumatera Utara, Aceh, dan di Sumatera Barat memberi pelajaran lagi kepada kita. Dan, saya yakin saudara-saudara di Papua juga mengalami itu, bahwa kalau terjadi sesuatu, di mana komunikasi putus, desa itu harus bisa bertahan, kecamatan itu harus bisa bertahan, kabupaten itu harus bisa bertahan. Dan, ini adalah pelajaran nenek moyang kita. Tanyalah kepada kakek-kakek kita, ya, dulu ada lumbung desa. Kita harus ada lumbung desa sekarang, harus ada lumbung kecamatan, harus ada lumbung kabupaten, harus ada lumbung provinsi, dan harus ada lumbung-lumbung nasional. Kita akan lakukan itu, kita akan membantu Saudara-saudara, supaya setiap kabupaten bisa swasembada pangan. 

Menteri Pertanian sudah melakukan langkah-langkah, kita akan buka sumber-sumber pangan di semua kabupaten. Masalahnya adalah, karena negara kita begitu besar, tidak bisa satu pulau tergantung pulau lain. Satu ongkos logistik itu terlalu besar, sehingga beras yang mungkin produksinya di satu daerah mungkin hanya Rp8.000 atau Rp9.000, di satu provinsi bisa Rp25.000, karena faktor komunikasi, karena faktor logistik. Jadi kita dipaksa oleh alam kita untuk masing-masing mengejar swasembada pangan di mana saudara bisa punya sawah-sawah untuk beras, mari kita lakukan, atau kebun-kebun jagung, atau sagu, atau singkong. Ingat, ini adalah kunci survival kita sebagai bangsa, ini pelajaran ribuan tahun. 

Jadi, kita tidak usah terlalu pintar, belajar saja dari nenek moyang kita, ya. Kenapa dulu ada lumbung desa? Kita harus siap untuk kemungkinan yang paling jelek. Itu pelajaran saya kira, pelajaran nenek moyang kita, saya kira ada di buku-buku agama, ya. Tujuh tahun baik dan tujuh tahun paceklik, ya, tujuh tahun yang tidak baik. Pada saat tujuh tahun baik, kita persiapan, nanti ada tujuh tahun yang tidak baik, kita siap. Alam juga harus kita hadapi dengan baik. 

Saudara-saudara, 
Di bagian dunia tertentu, air sangat susah. Air sangat susah. Negara-negara banyak yang hancur karena enggak ada air. Kita, air berlimpah, bahkan kadang-kadang menjadi musibah bagi kita. Jadi ini adalah hal-hal yang saya minta, Saudara-saudara, ya, menggunakan sebagai dasar. Basic asas yang paling penting adalah jamin makan. Kita bersyukur, begitu di tengah badai, di tengah bencana, sumber makan kita, pangan kita, cukup. Bahkan Menteri Pertanian laporan kepada saya, untuk daerah-daerah terdampak bencana, kita mampu dari pemerintah pusat mengirim tiga kali kebutuhan. Jadi tidak ada alasan, di daerah terdampak kesulitan pangan, ya. Tidak ada alasan untuk khawatir, karena kenyataannya kita mampu.

Memang dilaporkan, kalau tidak salah ada berapa puluh ribu sawah yang rusak? Tujuh puluh ribu [hektare sawah], ya? Semuanya di tiga provinsi, 70 ribu [hektare sawah]? Tiga provinsi 70 ribu hektare [sawah] yang rusak. Kita akan kembalikan segera, tapi kita sudah punya antisipasi. Kita sudah siapkan sawah-sawah baru yang cukup besar. Mungkin tahun ini, Menteri Pertanian, kita siapkan sawah baru 220 ribu hektare, dan terus kita akan siapkan tahun-tahun yang akan datang. Tetapi, strategi kita sekarang adalah tiap kabupaten harus swasembada pangan. Kabupaten yang paling sulit medannya pun, kita harus cari benih yang cocok, ya. Mungkin di pegunungan itu mungkin perlu perhatian yang khusus, ya, untuk sumber karbohidrat dan sumber protein.

Jadi, maksud dan tujuan kita bentuk komite ini untuk membantu. Membantu semua gubernur dan semua bupati, ya, untuk mempercepat pembangunan, supaya anggaran bisa langsung terwujud, harus terwujud untuk kepentingan rakyat. Program-program penting pemerintah untuk membantu percepatan pembangunan Papua juga adalah sama dengan untuk daerah-daerah lain. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah sampai ke Papua. Mungkin masih ada beberapa yang belum sampai, daerah-daerah terpencil, tapi kita akan tuntaskan. 

Sekolah Rakyat juga harus juga dinikmati sampai di tiap kabupaten. Kampung nelayan, tentunya di daerah pesisir. Pembangunan fasilitas umum, ketahanan pangan, food estate, ini menjadi prioritas. Jalan Trans Papua juga harus kita tuntaskan, supaya akses ke semua bagian dari Papua lebih baik, membuka daerah-daerah yang terisolasi, juga agar harga logistik bisa kita potong, kita kurangi. 

Selain swasembada pangan, juga swasembada energi. Jadi, kita berharap tiap daerah juga nanti swasembada energi. Saya kira Papua punya sumber energi yang sangat baik, dan Menteri ESDM juga sudah merancang bahwa daerah-daerah Papua harus menikmati hasil daripada energi yang diproduksi di Papua. Di samping itu, kita ujungnya nanti, daerah-daerah yang sulit, kita harus dengan menggunakan tenaga surya atau tenaga air. Teknologi tenaga surya sekarang sudah semakin murah dan ini bisa untuk mencapai daerah-daerah yang terpencil. Juga, tenaga hidro juga sekarang ada hidro-hidro yang mini, yang bisa juga dipakai di daerah-daerah yang terpencil. Ini semua adalah supaya ada kemandirian tiap daerah. Kalau ada tenaga surya dan tenaga air, tidak perlu kirim-kirim BBM mahal-mahal dari daerah-daerah lain. 

Dan, juga nanti kita berharap, di daerah Papua pun, harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit. Juga, tebu menghasilkan etanol. Singkong, kasava, juga untuk menghasilkan etanol. Sehingga, kita rencanakan dalam lima tahun, semua daerah bisa berdiri di atas kakinya sendiri, swasembada pangan dan swasembada energi. Dengan demikian, kita akan menghemat ratusan triliun untuk subsidi, ratusan triliun untuk impor BBM dari luar negeri. Tahun ini, tiap tahun, kita mengeluarkan ratusan triliun untuk impor BBM. Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam tebu, pakai tenaga surya dan tenaga air, bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun. 

Menteri ESDM, berapa impor kita BBM dari luar? Rp520 triliun. Bayangkan, kalau kita bisa potong setengah, berarti ada Rp250 triliun. Apalagi kita bisa potong Rp500 triliun, Rp500 triliun itu berarti tiap kabupaten bisa punya, kemungkinan bisa punya Rp1 triliun tiap kabupaten. Bagaimana membangunnya kita, coba? Bayangkan kita bikin negara kayak apa. Ini bisa kita lakukan. Potensinya ada, rencananya ada, dan kita akan buktikan. Kita akan buktikan bahwa kita menuju ke situ, ya. Tidak bisa seketika, tapi kita sudah mulai ke arah situ. Mulai tahun depan, Menteri ESDM melaporkan ke saya, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri. Mulai tahun depan. Kita harapkan dalam empat tahun, kita juga bisa tidak impor bensin dari luar.

Saudara-saudara,
Yang saya minta, para bupati, para gubernur, koordinasi yang sangat dekat sama komite dan sama pihak pusat dari Bappenas, ya, dan menteri-menteri terkait, sehingga bagi kita jelas prioritas Saudara-saudara apa. Silakan Saudara-saudara merancang, para bupati sama gubernur, apa yang menjadi perhatian utama Saudara-saudara. Kesulitan utama Saudara-saudara. Prioritas Saudara-saudara, ya. Tidak mungkin kita bisa selesaikan semua seketika. Tapi kalau kita punya prioritas Saudara-saudara, kita akan cocokkan dengan kemampuan yang bisa kita lakukan sekarang. Yang jelas, dana otonomi khusus, ya, yang tahun ini belum dicairkan, ya, Menteri Keuangan?

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa: 
Dana otonomi khusus, Pak, sudah dicairkan, Pak, semuanya untuk tahun ini, Rp12,696 triliun, Pak.  

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Tahun ini? Ini akan dijadikan status tahun depan. Tahun depan berapa dana otonomi khusus? 

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa: 
Dana otonomi khusus tahun depan agak turun, Pak. Di anggaran tahun 2026 itu sebesar Rp10 triliun. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Jadi, tahun depan kita akan punya Rp12 [triliun] tambah Rp10 [triliun]? Yang tahun ini, kan, akan dijadikan satu sama tahun depan.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa: 
Sudah, di catatan kami sudah dicairkan, Pak, yang tahun ini, Rp12 triliun lebih tadi. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Sudah dicairkan? 

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa: 
Sudah, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ke daerah-daerah? 

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa: 
Sudah, ke daerah-daerah semua, Pak.  

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Sudah, ya? Para gubernur, sudah? Sudah? Oke, tahun depan kita coba kalau ada penghematan di bidang lain, kita samakan kembali, ya, ya. Tapi saya minta benar-benar, para gubernur, bupati, bertanggung jawab, ya. Bupati dan gubernur jangan banyak jalan-jalan ke luar negeri, ya, menggunakan dana otsus, bisa? Kok, jawabannya kurang. Bisa? Bisa, ya. Ini, sekarang ini, rakyatmu itu sudah pintar-pintar. Semua punya gadget, ya. Nanti Mendagri, ya, awasi, ya. Jangan, jangan bupati terlalu lama ada di Jakarta, ya. 

Saudara bertanggung jawab kepada rakyatmu, ya. Komite membantu, para menteri siap, program-program pusat pun akan kita turunkan ke Saudara-saudara. Sebagai contoh, MBG mungkin untuk satu provinsi, ujungnya juga sangat besar itu. Karena MBG itu akan memberi makan ke semua anak, dari mulai usia dini sampai kurang-lebih umur 18 tahun, oh, ya, lulusan SMA, termasuk ibu-ibu hamil. Hari ini, Kepala BGN sudah berapa? Seratus tujuh puluh sembilan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang sudah berdiri, dari target berapa? Jadi, di Papua saja itu? Di Papua saja, berarti, totalnya nanti harus berapa? 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Total itu 1.100 [SPPG] kemudian daerah terpencil 1.400, kurang lebih menjadi sekitar 2.500 SPPG di seluruh Papua, Pak. Dengan total penerima manfaat kurang-lebih 750 ribu penerima manfaat dengan dana yang akan turun ke sana, kan, tiga kali lipat dari yang di Jawa, Pak. Jadi kalau 750 ribu itu kalau di Jawa, kan, Rp7,5 triliun. Jadi, untuk di Papua ada kemungkinan akan mencapai sekitar Rp25 triliun, Pak, uang Badan Gizi akan turun ke Papua tahun depan. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Karena…karena….

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Harga Kemahalan, Pak, Indeks Kemahalan. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Indeks Kemahalan. Tapi berarti sekarang, yang sudah ada baru 100 [SPPG]? 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Seratus tujuh puluh sembilan, Pak, ada 65 di Papua, 42 di Papua Barat, kemudian 8 di Papua Selatan, 30 di Papua Tengah, 5 di Papua Pegunungan, dan 28 di Papua Barat Daya. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Jadi mencapai 2.500, Anda perkirakan sampai? 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Insyaallah, Pak, bulan Maret [2026] total semuanya sudah selesai, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Untuk Papua? 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Untuk Papua, iya. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Untuk Papua, 2.500? 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Iya, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Bulan Maret? 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Maret, Pak, iya. Karena sekarang sudah ada investor yang bersedia membangun di Papua. Yang mendaftar di Pemda itu ada 275 investor, kemudian totalnya itu akan ada kurang-lebih yang membangun di sana, di Papua itu kurang lebih sekitar 300-an investor, Pak, yang akan membangun di sana. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke, Anda mengatakan Maret, tapi kita mengerti, kondisi fisik tidak mudah, jadi bekerja dengan target itu, tapi kita siap kalau ada kemunduran, saya kira, yang jelas kita berharap, Agustus, kita berharap 17 Agustus 2026, untuk Papua, semua 2.500 SPPG sudah berfungsi, ya. You, Anda, Kepala BGN punya rencana Maret sangat bagus, tapi kita berharap 17 Agustus semua SPPG untuk Papua harus sudah bekerja dan sudah berproduksi. 

Kepala Badan Gizi Nasional RI Dadan Hindayana: 
Siap, Bapak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ya, baik. Saya kira, Saudara-saudara, secara garis besar, itu, ya, Saudara-saudara sekalian. Saya paham provinsi Saudara medannya ada sebagian yang sangat sulit, tapi Saudara-saudara juga, daerah Saudara sebetulnya sangat potensial dan sangat indah. Sekarang pun, saya kira banyak tokoh-tokoh dunia mengerti dan mau berwisata di Papua. Raja Ampat, saya kira sudah jadi sangat terkenal di dunia. Mana, Bupati Raja Ampat? Tapi kita harus jaga, ya, Raja Ampat, dan semua, semua kawasan jangan sampai dirusak oleh wisatawan-wisatawan datang dengan kapal mereka dan kadang-kadang juga meninggalkan sampah, kotoran, dan sebagainya. 

Saya kira Saudara-saudara, itu pengarahan saya kepada komite ini, dan sekarang saya persilakan Mendagri dan Ketua Komite Percepatan menyampaikan paparannya atau bagaimana. Saya persilakan, Mendagri.