Pengantar Presiden RI pada Sidang Kabinet Terbatas Bidang Perekonomian, Bogor, 24 Agustus 2012

 
bagikan berita ke :

Jumat, 24 Agustus 2012
Di baca 1274 kali

PENGANTAR

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PADA ACARA
SIDANG KABINET TERBATAS

MENGELOLA PEREKONOMIAN NASIONAL TAHUN 2013-2014
DI ISTANA BOGOR, JAWA BARAT
PADA TANGGAL 24 AGUSTUS 2012

 

 

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

 

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Salam sejahtera untuk kita semua,

 

Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden dan para Peserta Sidang Kabinet Terbatas yang saya cintai,

 

Alhamdulillah, kita dapat kembali melaksanakan pertemuan kita di Istana Bogor ini untuk melanjutkan tugas kita bersama ke depan ini. Meskipun suasana di Jakarta masih sangat dipengaruhi oleh liburan Idul Fitri, tetapi tentu tidak mengurangi semangat kita untuk melakukan apa saja bagi negara kita, bagi kepentingan rakyat kita.

 

Sebelum saya menyampaikan hal-hal penting yang menjadi tema dari pertemuan kita atau retreat kita hari ini, yaitu mengelola perekonomian nasional dua tahun mendatang, 2013 dan 2014. Di tengah perkembangan dunia yang belum menggembirakan seperti ini, saya ingin menyampaikan dua kabar baik.

 

Yang pertama, benar-benar telah dibebaskan Saudara Glen, Warga Negara Indonesia yang sejak beberapa saat yang lalu disandera di Nigeria. Menlu dalam komunikasi dengan saya, satu jam yang lalu, bahkan sudah bisa berkomunikasi dengan Saudara Glen.

 

Sebagaimana kita ketahui, banyak warga negara Indonesia yang bekerja di Nigeria. Mereka utamanya bekerja di maskapai perminyakan, dan sering pula ada penyanderaan di wilayah kerja seperti itu. Kita terus berupaya secara diam-diam dan alhamdulillah, ini telah bisa dibebaskan meskipun kondisinya masih dalam keadaan shock berat, tetapi telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan pada saatnya nanti bisa kembali ke tanah air.

 

Good news yang kedua, sebagian dari Saudara sudah mengikuti bahwa UNESCO telah memberikan penghargaan kepada Indonesia atas capaian kita di bidang literacy. Di sini dikatakan bahwa program ini oleh Indonesia dilakukan secara berhasil untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi atau eradicating illiteracy melalui membaca, pendekatan budaya, pelatihan-pelatihan dan bahkan entrepreneurship, mencakup tiga juta dan kaum perempuan menjadi prioritas.

 

Menurut penilaian UNESCO, tahun 2009 saja, literacy rate kita sudah mencapai 93%. Dan ini setara atau on par dengan tetangga kita Malaysia yang sama 93% dan Singapura 95%. Dengan capaian ini, dinilai oleh UNESCO bahwa Indonesia siap untuk berkompetisi secara global maupun regional. Achievement ini penting, karena jangka panjang pembangunan kita ini, termasuk ekonomi kita ini, akan bisa ditingkatkan di tangan-tangan putra-putri bangsa yang makin maju dan unggul.

 

Dengan makin kuatnya literacy rate ini, maka intellectual gap di negeri kita ini yang sering menjadikan masalah sosial, juga masalah politik dan ekonomi, tentu bisa kita kurangi. Dan insya Allah, tentu akan lebih bagus keseluruhan struktur kependudukan di Indonesia ini dalam arti yang luas, sebagai sumber daya manusia, sebagai human capital, maupun social capital. Ini dua kabar gembira yang ingin saya sampaikan.

 

Saudara-saudara,

 

Pertemuan hari ini dalam bentuk retreat, ya, kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama pagi ini sampai sebelum kita melaksanakan sholat Jumat. Kemudian nanti kita lanjutkan sore hari. Harapan kita jam 16.30 sudah selesai. Saya tahu ada yang punya rencana lain, bisa melaksanakannya.

 

Pengantar saya, kita bisa menyimpulkan dari apa yang terjadi pada saat ini, baik pada tingkat global maupun regional, bahwa dunia kembali berada dalam resesi. Sebetulnya yang lebih tepat Eropa. Tetapi mengingat ada kaitannya dengan perekonomian negara-negara lain, maka bukan hanya slow down, tetapi memang ada resesi baru.

 

Nah, biasanya dalam keadaan resesi, para ekonom sering mengatakan, kita menjadi Keynesian semua, artinya tidak hanya menyerahkan kepada mekanisme pasar, tetapi ada peran pemerintah secara terukur, proporsional, dan konstrukitf yang perlu dijalankan agar ekonomi sebuah bangsa, ekonomi suatu negara itu bisa dikelola. Paling tidak bisa meminimalkan dampak dari resesi di bagian penting di dunia kita ini, syukur-syukur bisa menjaga pertumbuhannya.

 

Ekonomi tahun depan dan tahun depannya lagi, oleh karena itu, harus kita kelola secara penuh, secara intensif. Jangan merasa ekonomi kita alhamdulillah, sudah tumbuh di atas 6% dan kita memiliki momentum yang baik, dengan sendirinya ke depan juga akan baik-baik saja. Saya mengajak untuk tidak seperti itu. Karena kalau kita berpikir seperti itu, kita bisa lengah dan lalai. Kalau sudah lalai, lengah, underestimate, segala sesuatunya bisa terjadi. Oleh karena itulah, mari justru di tengah situasi global seperti ini, kita lakukan pengelolaan penuh perekonomian kita 2013, 2014.

 

Saya ingin menggarisbawahi, di samping banyaknya sasaran yang hendak kita capai, saya ingin kita memprioritaskan pada enam sasaran utama. Yang pertama, pertumbuhan jelas. Yang kedua, penciptaan lapangan pekerjaan, job. Yang ketiga, stabilitas harga, saya ulangi lagi, stabilitas harga, urusan inflasi. Yang keempat, tetap pada upaya terus-menerus untuk mengurangi kemiskinan. Sedangkan yang kelima dan keenam, ini menyangkut pangan dan energi. Pangan, apa pun yang terjadi di dunia dengan perubahan iklim, kasus-kasus gagal panen, dan penurunan produksi, pangan di negeri kita ini harus ada. Berarti supply-nya ada, harganya terjangkau. Demikian juga energi, supply-nya ada, harganya pun juga terjangkau. Nah, enam sasaran utama inilah yang tetap menjadi fokus dan prioritas kita untuk dua tahun mendatang.

 

Saya sudah berbicara dengan Wapres empat bulan ini, sambil menyukseskan RKP dan APBNP 2012. Harus kita pastikan yang menjadi prasyarat untuk pertumbuhan ekonomi kita di tahun depan, tahun yang berat dan tahun depannya lagi, kita usahakan, kita beresi semua, apakah kebijakan, regulasi, iklim, kita usahakan sekuat tenaga, kita beresin. Dengan demikian, 2013-2014 kita siap menghadapi perkembangan global apa pun, seraya tetap fokus pada enam sasaran yang telah saya sampaikan tadi.

 

Itulah yang ingin saya sampaikan sebagai pengantar. Dan nanti, setelah break singkat ini akan saya lanjutkan hal-hal yang perlu saya sampaikan kepada Saudara, untuk kemudian kita pikirkan bersama melalui pertemuan ini, apa saja yang harus kita lakukan dua tahun mendatang.

 

Demikian pengantar saya.

 

Terima kasih.

 

 

Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,

Kementerian Sekretariat Negara RI