Presiden : Empat Pilar untuk Membangun Indonesia

 
bagikan berita ke :

Selasa, 27 Maret 2007
Di baca 1119 kali

Acara itu dihadiri pula oleh Ketua Kadin Mohamad S. Hidayat, Menko Perekonomian Boediono, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Gubernur BI Burhanudin Abdullah, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkeu Sri Mulyani, Mendag Mari E. Pangestu, Menteri Pariwisata Jero Wacik, Perwakilan Duta Besar Negara-negara sahabat dan peserta Rapimnas dari seluruh Indonesia.

“Saya diingatkan oleh Mohamad Hidayat tentang demokrasi yang diilhami Prof. Dr. Boediono, bahwa untuk melewati batas aman ekonomi, tingkat ekonomi rakyat Indonesia harus pada titik tertentu, sehingga bila mengalami dinamika, ingar-bingar dan hiruk-pikuk demokrasi dan kebebasan akan tetap kokoh, stabil, dan kondusif untuk melanjutkan ekonomi kita,� kata Presiden SBY.

Di masa Orde Baru, lanjut Presiden, Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi 6-8 persen. “Pertumbuhan yang tinggi itu ternyata disumbang dan dikontribusikan oleh elemen-elemen pertumbuhan yang tinggi,� ujar Presiden. “Contohnya, konsumsi rumah tangga besarnya 7-9 persen, investasi 10-15 persen dan ekspor 10-14 persen. Lalu kita mengalami krisis. Jatuh hingga minus 13 persen. Ini adalah satu kontraksi yang luar biasa,� kata Presiden.

“Tahun demi tahun kita merangkak dan bertahan mengatasi prahara. Alhamdulillah, dua tahun terakhir kita sudah mencapai 5,6 persen. Angka ini masih rendah, meskipun sudah mengalami kemajuan. Rendahnya angka itu juga tercermin dari kontributornya. Konsumsi misalnya, hanya 3,1 persen, investasi 3,5-4 persen, ekspor 9 persen. Tentu saja akhirnya pertumbuhan kita belum mengalami kemajuan seperti waktu orde baru. Solusinya, berdasarkan pengalaman dan teori ekonomi yang kita kuasai, semua elemen harus kita tumbuhkan. Konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor dan belanja pemerintah yang akhirnya kalau semuanya meningkat, maka tahun 2007 dan tahun-tahun mendatang, total output kita juga kan meningkat,� Presiden menegaskan.

Presiden berpendapat, untuk mencapai pertumbuhan 6-8 persen, diperlukan kerjasama dan sinergi antara pemerintah dan swasta. “Bisakah kita kembali mencapai pertumbuhan 6-7 persen seperti jaman orde baru? Insya Allah bisa, “ jawan Presiden disambut tepuk tangan hadirin. “Mari kita berbagi tugas dan tanggung jawab,� tambahnya.

Presiden menjelaskan bahwa ada tujuh hal yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk menumbuhkan investasi di Indonesia. Tujuh hal tersebut adalah suku bunga BI yang terjangkau, perpajakan, proses perijinan, kepastian hukum, keamanan publik, stabilitas politik, dan peraturan daerah yang mendukung.

Sambil berseloroh Presiden SBY mengatakan mendukung 200 persen usaha Kadin untuk menumbuhkan sumber ekonomi baru yaitu kekayaan warisan budaya. “Terus terang, kalau industri kita bersaing dengan negara-negara di bidang IT, elektronik, dan otomotif, luas biasa banyak kompetitornya. Tetapi kalau ekonomi kita bersumber pada kekayaan budaya Indonesia, keunggulannya sangat dapat diandalkan. Buktinya di negara-negara tetangga kita, kerajinan tangan Indonesia terjual dengan transaksi yang luat biasa. Mari kita jemput ekonomi seperti ini,� ujar SBY.

 

http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2007/03/26/1673.html

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0