Puasa dari Kesalehan Individual Menjadi Kesalehan Sosial

 
bagikan berita ke :

Selasa, 24 Februari 2026
Di baca 11 kali

Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Biro Sumber Daya Manusia Kemensetneg menyelenggarakan Ceramah Keagamaan Ramadan pada Senin (23/02/2026) secara hybrid melalui Mushola Al Ikhlas. Menghadirkan Kiai Haji Ngatawi Al Zastrouw, ceramah ini mengangkat tema “Puasa dari Kesalehan Individual Menjadi Kesalehan Sosial”. 

Kepala Biro SDM, Muharromi, menyampaikan dalam sambutannya, ceramah ini akan diadakan sebanyak tiga kali selama bulan suci Ramadan dengan tujuan memberikan tambahan pemahaman siraman rohani serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan pegawai Kementerian Sekretariat Negara di bulan Ramadan. 

Memulai ceramah, Ngatawi Al Zastrouw, menjelaskan bahwa pemaknaan kesolehan yang semula dipahami sebagai kesolehan individual kemudian berkembang menjadi kesolehan sosial bukanlah perubahan yang bersifat transformatif, melainkan akumulatif. Menurutnya, hal tersebut berangkat dari kecenderungan masyarakat yang masih melihat dan mengukur kesolehan sebagai tanggung jawab individu semata, padahal kesolehan sosial sejatinya tidak dapat dipisahkan dari kesolehan individual karena keduanya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. 



Ngatawi Al Zastrouw menjelaskan kewajiban berpuasa yang dijelaskan dalam salah satu ayat,  “Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kalian semua menjadi orang yang bertakwa.” jelas Ngatawi.

Takwa yang dimaksud berarti taat kepada Allah SWT. karena adanya kesadaran dan keikhlasan untuk menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Beliau juga menjelaskan perihal indikator orang yang bertakwa. Yang pertama, beriman kepada yang gaib. Yang kedua, menjalankan perintah Allah SWT, yaitu salat, puasa, dan zakat. Yang ketiga, mau berbagi atas rezeki yang sudah diperoleh. Indikator orang bertakwa yang menjadi tujuan orang berpuasa yaitu kumulatif dari tiga aspek tersebut, yaitu aspek batiniah, aspek af’aliyah atau perilaku dan tindakan, dan aspek sosial dimana kita harus berbagi dengan sesamanya atas rezeki yang diperoleh. 



Di akhir ceramah, Ngatawi Al Zastrouw  menegaskan kembali, “Kesalehan individual dan kesalehan sosial bukan harus dipisahkan dan ditransformasikan, tetapi di kolaborasikan secara kolektif. Karena kesalehan individual tanpa kesalehan sosial juga bukan menjadi kesalehan yang kafah (cukup menyeluruh).” tutup Ngatawi.

Kegiatan ceramah ini diawali dengan salat Dzuhur berjamaah dan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara interaktif, baik dari peserta yang hadir secara langsung maupun melalui daring. (RTP/ART- Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0