Sambutan dan Dialog Presiden - Penyerahan Sertifikat Tanah Strategis, Pontianak, 21 Desember 2016

 
bagikan berita ke :

Rabu, 21 Desember 2016
Di baca 482 kali

SAMBUTAN DAN DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PENYERAHAN SERTIFIKAT TANAH PROGRAM STRATEGIS TAHUN 2016

KUBU RAYA, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT

21 DESEMBER 2016




Presiden:

Supaya tidak sendiri, tadi saya bisik-bisik untuk ditemani sama penari. Biar di panggung, yang dilihat bukan saya. Tariannya kan bagus tadi.


Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Selamat sore,

Salam sejahtera bagi kita semuanya,


Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata. Auuukk ya.


Tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri bahwa hari ini dibagikan 2.080 sertifikat. Coba diperlihatkan lagi, diangkat tinggi-tinggi.


Jangan turun dulu. Mau saya hitung. Jangan turun dulu. Mau saya hitung. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 2.080 udah benar.


Kalau tidak dihitung, nanti yang dapat hanya yang simbolis, itu bagaimana? Harus pasti. Sekarang diangkat dan benar-benar sudah dapat semuanya.


Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,

Setelah mendapatkan sertifikat ini, tolong dipelihara, dimasukkan ke plastik. Kalau nanti kena air, gentengnya bocor, sertifikatnya tidak rusak.


Yang kedua, diingat-ingat betul, sertifikat itu yang dimiliki Bapak dan Ibu meter perseginya berapa. Harus hafal semuanya.


Tadi saya tanya yang di mana Sanggau, di Entikong tadi. Saya suruh maju, saya tanya, “Sertifikat luas lahan tanahnya berapa, Pak?” “200 meter persegi, Pak.” “Benar?” “Benar, Pak.”


Saya lihat sertifikatnya 20 ribu meter persegi coba. Keliru kok nolnya banyak banget. 200 sama 20 ribu itu bedanya gede banget itu.


Jadi, harus mengerti bahwa ini adalah hak hukum yang sudah diberikan pada lahan tanah yang dimiliki Bapak-Ibu semuanya.


Kalau, tadi Pak Menteri sudah sampaikan, kalau ini mau dipakai untuk collateral, untuk agunan, untuk jaminan ke bank, silakan.


Tetapi ingat—saya titip—kalau mau pinjam ke bank, itu dihitung betul, dikalkulasi yang benar: bisa mengembalikan tidak, bisa mengangsur dan mencicil setiap bulan tidak. Dihitung betul. Kalau bisa, silakan.


Yang kedua, kalau sudah dapat uang dari bank, saya titip jangan sekali-kali untuk beli barang-barang konsumtif. Wah, udah dapat dari bank, 200 juta, beli TV, beli sepeda motor, beli mobil. Habis, tidak bisa mengembalikan. Hati-hati. Hati-hati.


Kalau pinjam uang di bank, cari yang bunganya paling murah. Sekarang ini KUR, karena KUR itu disubsidi pemerintah, sekarang hanya 9%. Nanti tahun 2017 insya Allah sudah kurang lebih 7%. Dulu 23%, dulu 23%. Sekarang sudah bisa 9% sampai 7%.


Cari betul yang bunganya murah. Itu per tahun, bukan per bulan lo ya. 9%, 7% itu per tahun. Jadi, kecil sekali.


Saya titip itu saja. Jadi, jangan sampai nanti penggunaan, nanti sudah dapat sertifikat, diagunkan di bank, dapat uang, keliru penggunaan, malah sertifikatnya hilang disita bank. Jadi, hati-hati.


Coba saya minta ini yang petani tunjuk tangan, petani, petani. Coba itu yang belakang maju, ya maju sini. Petani.


Sertifikat dibawa. Satu orang saja. Sini maju. Cepat. Sudah. Satu saja. Jangan banyak-banyak. Mau maju semua? Satu saja, iya. Sini, sini. Sini, Pak. Tidak usah takut.


Dikenalkan dulu namanya.


Darius Hurisa:

Baik, nama saya Darius.


Presiden:

Iya. Pak Darius dari mana?


Darius Hurisa:

Dari Kabupaten Landak.


Presiden:

Oh Kabupaten Landak, iya Kabupaten Landak.


Lahan tanahnya ini berapa meter persegi?


Darius Hurisa:

1.328.


Presiden:

1-3-2-8. 1.328. Saya cek dulu.


Pak Darius Hurisa. 1.328. Betul, sudah. Terima kasih.


Berarti benar. Berarti apa yang sudah dipegang ini betul-betul hafal di luar kepala. Itu yang benar seperti itu. Jangan kayak tadi. 200 meter persegi, saya 20 ribu meter persegi. Waduh.


Oke sekarang, Pak Darius, pertanyaannya adalah—saya suruh maju, pasti saya beri pertanyaan.


Darius Hurisa:

Baik, saya tidak mengerti pada pertanyaan.


Presiden:

Sebentar, jangan pidato. Saya mau bertanya kok. Sebentar.


Pak Darius, saya harapkan hafal Pancasila. Hafal Pancasila?


Darius Hurisa:

Hafal, Pak.


Presiden:

Oke, Pancasila coba.


Darius Hurisa:

Pancasila:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

  3. Persatuan Indonesia.

  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.



Presiden:

Sudah, sepedanya diambil.


Milih sepeda kok bingung? Diberi hadiah sepeda kok.


Ada lagi. Sebentar, maju satu lagi, yang ibu-ibu, yang petani ada tidak? Ibu-ibu coba, sini coba. Boleh. Apa itu kok balik lagi?


Kenalkan, Bu, kenalkan dulu dari mana. Nama? Dari mana?


Munasih:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Presiden:

Waalaikumsalam.


Munasih:

Nama saya Ibu Munasih dari Kabupaten Kubu Raya.


Presiden:

Munasih, dari Kabupaten Kubu Raya.


Sertifikatnya berapa meter persegi, Bu?


Munasih:

19.220.


Presiden:

Wah gede banget. Coba saya cek.


19.220 meter persegi. Benar. Silakan dibawa.


Kenapa Ibu terharu? Kenapa?


Munasih:

Bangga, Pak, bisa bertemu dengan Bapak di sini.


Presiden:

Sekarang pertanyaannya—sudah terharunya, sudah—sekarang pertanyaannya, negara kita ini memiliki 34 provinsi. Sebutkan—tidak saya suruh sebutkan 34, tidak—sebutkan 4 saja provinsi yang ada di negara kita, Indonesia.


Satu.


Munasih:

Kalimantan Barat.


Presiden:

Kalimantan Barat, betul. Pak Gubernur ada di sini.


Terus, dua.


Munasih:

Kalimantan Selatan.


Presiden:

Kalimantan Selatan.


Tiga.


Munasih:

Kalimantan Timur.


Presiden:

Kalimantan Timur.


Jangan Kalimantan terus.


Munasih:

Jawa Barat.


Presiden:

Iya, Jawa Barat, empat.


Terus.


Munasih:

Kan Bapak minta empat.


Presiden:

Oh ya sudah, sepedanya diambil. Terima kasih.


Ibu pintar. Tadi yang di Entikong, saya suruh empat, malah sebelas tadi. Saya “Terus, terus, terus,” sampai sebelas.


Tadi petani. Ada yang UMKM tidak? Ada. Sebentar. Mana? Tunjuk jari semuanya dulu. Ada tidak yang UMKM, usaha kecil-menengah yang memiliki sertifikat tadi? Mana? Sebentar.


Kok hanya dua? Masak hanya dua? Mana lagi? Sebentar.


Oh itu yang belakang, iya boleh, yang paling belakang itu, belakang, belakang, sini maju. Satu orang saja. Silakan sini.


Kenalkan dulu nama dan dari kabupaten mana.


M. Jayadi:

M. Jayadi, dari Kabupaten Kubu Raya.


Presiden:

Kabupaten Kubu Raya. Namanya siapa tadi? M. Jayadi.


Pak Jayadi, sertifikat ada berapa meter persegi?


M. Jayadi:

410 kalau tidak salah, Pak.


Presiden:

Kok “Kalau tidak salah,” bagaimana? Kalau salah, bagaimana? Kok “Kalau tidak salah.” Harus yakin.


Nah keliru kan “Kalau tidak salah.” 412. Keliru sedikit, tidak apa-apa.


412, diingat-ingat. Nanti keliru lagi. Ya sudah.


Tanya apa lagi? Yang bingung yang bertanya.


M. Jayadi:

Serasa mimpi, bisa bertemu Bapak. Orang se-Indonesia, kok saya pernah ketemu di sini kan? Seperti mimpi, orang ketemu sama Bapak.


Presiden:

Ya pertanyaannya sekarang, di Indonesia ini ada 516 kabupaten dan kota. Sebutkan berapa? 100 hafal tidak? 50? 10? Ya 5 saja sudah, 5 kabupaten/kota. Sebutkan 5 saja. Dari 516, hanya suruh menyebutkan 5 saja sudah.


Satu—kabupaten/kota tidak apa-apa—mana?


M. Jayadi:

Satu, Kabupaten Kubu Raya.



Presiden:

Ya boleh, Kabupaten Kubu Raya enggak apa-apa, satu.


Dua.


M. Jayadi:

Kabupaten Landak.


Presiden:

Kabupaten Landak, dua.


Tiga.


M. Jayadi:

Kabupaten Indramayu.


Presiden:

Indramayu, tiga, boleh.


Empat.


M. Jayadi:

Sanggau, Pak.


Presiden:

Sanggau, empat, boleh.


Lima.


M. Jayadi:

Ketapang.



Presiden:

Ketapang.


Di sini semua. Sebentar, tambah satu coba yang di Jawa, yang di Sumatera. Masak di Kalimantan Barat terus.


M. Jayadi:

Ponorogo.


Presiden:

Kabupaten Ponorogo ya.


Yang Sumatera, tambah satu lagi yang Sumatera.


M. Jayadi:

Riau.


Presiden:

Riau itu provinsi.


Yang di Sumatera satu saja, mana?


M. Jayadi:

Kota Palembang.


Presiden:

Kota Palembang.


Ya sudah, silakan ambil sepedanya. Ya sana.


Ya saya kira itu titipan yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.


Pemerintah akan terus membagikan sertifikat sebanyak-banyaknya. Tahun ini mungkin berapa Pak Menteri? Tahun ini hanya 1 juta. Tahun depan target kita 5 juta sertifikat kita bagikan. Tahun depannya lagi 7 juta sertifikat yang mau kita bagikan. Tahun depannya lagi 9 juta. Ini target.


Tidak boleh ditawar-tawar karena kita ingin semua yang memiliki lahan, memiliki tanah itu punya pegangan hak hukumnya, yaitu sertifikat. Kalau kita lihat kayak di Jakarta, itu ada yang satu bidang, sertifikatnya 3. Ada yang 2. Tumpang tindih. Tidak boleh.


Oleh sebab itu, semuanya akan dibenahi oleh Pak Menteri BPN. Dan kita harapkan target yang tadi saya sampaikan betul-betul harus tercapai. 5 juta sertifikat tahun depan, 7 juta sertifikat tahun depannya lagi, 9 juta pada tahun depannya lagi, sehingga semua yang memiliki lahan dan tanah itu punya pegangan semuanya.


Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan sore hari ini. Terima kasih atas kehadirannya. Saya tutup.


Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

*****

Biro Pers, Media dan Informasi

Sekretariat Presiden