Sambutan Pengantar Presiden RI pada Rapat Kabinet Terbatas Bidang Kesra, Jakarta, 29 Mei 2012
SAMBUTAN PENGANTAR
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
RAPAT KABINET TERBATAS BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
DI KANTOR PRESIDEN, JAKARTA
PADA TANGGAL 29 MEI 2012
Â
Â
Â
Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Â
Saudara Wakil Presiden dan para peserta Rapat Kabinet Terbatas sekalian,
Â
Agenda pertemuan kita sore hari ini adalah untuk melakukan evaluasi atau review program-program penanggulan kemiskinan yang kita laksanakan dewasa ini. Ada dua alasan mengapa pembahasan sore hari ini menjadi penting. Pertama, beberapa hari yang lalu ketika saya beserta rombongan berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, saya menggunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan, baik Gubernur DIY maupun Gubernur Jateng dalam sebuah rapat terbatas di gedung negara, Yogyakarta, yang topiknya adalah apa yang dilakukan oleh kedua provinsi itu dalam menanggulangi kemiskinan dan sekaligus dalam meningkatkan ketahanan pangan.
Â
Ada sejumlah hal yang menarik, paling tidak dua hal yang ingin saya angkat dan saya bawa di hadapan pertemuan sore hari ini. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan bahwa mengingat kerentanan terhadap sebuah masalah ekonomi itu dihadapi oleh saudara-saudara kita yang tergolong miskin, apalagi sangat miskin, dan bahkan saudara-saudara kita yang berkategori hampir miskin ataupun diatasnya sedikit, sebagai contoh Jamkesmas itu mencakup bukan hanya yang tergolong miskin tapi juga hampir miskin, begitu. Tapi yang di atas hampir miskin ini sebenarnya belumlah dikatakan sebagai rumah tangga yang betul-betul mampu mengatasi segala persoalan sehingga kalau ada posisi yang sudah di atas hampir miskin tetapi kena musibah, masuk rumah sakit, ataupun ada masalah-masalah lain dan tidak dijangkau oleh Jamkesmas kita, tentu mereka menghadapi persoalan. Dalam konteks itulah, DIY mengembangkan model dan policy tertentu apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kasus-kasus seperti itu. Poin saya adalah dalam rangka Jamkesmas, dalam rangka sistem jaminan sosial nasional dalam rangka membangun model dan policy di masa mendatang, seperti apa yang paling tepat atau paling cocok untuk negeri kita. Satu hal yang perlu saya angkat.
Â
Dari apa yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Pak Bibit mengatakan dan ditunjukkan dengan angka dan fakta banyak sekali yang sudah dicapai sebenarnya di Jawa Tengah menyangkut kecukupan pangan, pendidikan, kesehatan, berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah karena KUR, dan lain-lain, tetapi mengapa, kata Pak Gubernur Jawa Tengah, kok kemiskinan nggak turun-turun? Ataupun turunnya lambat, begitu. Apa yang sebenarnya itu? Sampai beliau menanyakan bagaimana sih, Pak, cara negara mengukur angka kemiskinan. Seperti itu. Tentu saja saya berikan jawaban-jawaban bahwa ada parameter, ada ukuran yang ditetapkan dan secara konsisten dari tahun ke tahun itulah yang dijalankan oleh Badan Pusat Statisitk kita.
Â
Artinya apa, Saudara-saudara? Kita harus selalu melakukan review, evaluasi, dan pengembangan berbagai policy, program aksi, dan tindakan nyata untuk lebih efektifnya kita mengurangi kemiskinan di negeri ini. Yang kedua, di luar itu semua, saya ingin mengaitkan apa yang sedang dihadapi oleh negeri kita, oleh dunia, utamanya berkaitan dengan gejolak perekonomian global yang terjadi lagi saat ini, termasuk meroketnya harga minyak bumi dan BBM tentunya yang memukul banyak perekonomian di dunia. Yang ingin saya sampaikan adalah kita sekarang ini terus berupaya untuk mengelola anggaran kita, mengelola fiskal kita, melakukan optimasi penggunaan anggaran, melakukan efisiensi atas pembelanjaan yang bisa kita hemat, seraya meningkatkan pendapatan atau penerimaan negara.
Â
Dalam konteks itu, Saudara sudah tahu bahwa kebijakan penganggaran kita memiliki elemen-elemen yang kita anggap pokok. Satu, bagaimanapun ekonomi harus tumbuh dan anggaran untuk menstimulasi pertumbuhan harus dilakukan, misalnya membangun berbagai infrastruktur. Nah, yang kedua, yang juga tidak kalah pentingnya, kita memastikan ada sejumlah anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi kemiskinan, mengurangi kemiskinan. Kemudian tentu ada komponen lain untuk memastikan jalannya pemerintahan umum, pelayanan publik, keamanan masyarakat dan sebagainya juga mendapatkan alokasi anggaran yang cukup.
Â
Nah, kembali kepada alokasi anggaran untuk penanggulangan kemiskinan jumlahnya tidak sedikit, yang terus terang, ada yang sudah kita arahkan dalam bentuk program empat cluster, kita sudah tahu semuanya, dan juga ada yang kita alokasikan ke kementerian dan ke daerah yang semuanya mestinya harus punya kontribusi untuk penurunan kemiskinan. Nah, di situ memang kita perlu menata kembali dengan seksama agar semua sumber daya termasuk anggaran itu memang efektif, cespleng, untuk makin mengurangi kemiskinan di negeri ini. Oleh karena itulah, review atau evaluasi penanggulangan kemiskinan sore hari ini tidak kita maksudkan untuk Saudara menjelaskan lagi program-program yang kita lakukan, kita sudah tahu semua, dan sudah kita jalankan, sedang kita jalankan, termasuk cluster-cluster itu.
Â
Tapi mari kita berpikir dengan apa yang telah kita lakukan ini hasilnya konkrit sebenarnya? Semua daerah mengatakan kemiskinan menurun tapi kita sendiri kan belum puas, ingin lebih cepat lagi, ingin lebih sustained, berkelanjutan, apa yang dilakukan oleh kita semua. Oleh karena itu, mari kita lihat bersama-sama nanti barangkali ada hal-hal yang sifatnya fundamental yang mesti kita perhatkan agar, sekali lagi, upaya penurunan kemiskinan, jauh lebih efektif. Kita juga ingin memberikan kesempatan kepada Kepala BPS untuk mempresentasikan kepada kita semua seperti apa Saudara mengukur kemiskinan ini. Dengan demikian, dengan menjelaskan kepada para Gubernur, sebagai contoh kemarin ketika saya ditanyakan di Jawa Tengah, silakan jelaskan dengan gamblang, dengan demikian semua paham.
Â
Demikian pengantar saya, Saudara-saudara, dan nanti setelah pengantar ini saya berikan kesempatan kepada kedua Menko dulu, tetapi tidak perlu detail atau deskriptif. Yang menonjol saja, sesuai dengan tema ataupun tujuan dari pertemuan sore hari ini. Terima kasih, Saudara-saudara.
Â
Â
Â
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,
Kementerian Sekretariat Negara RI