Sambutan Presiden pada Peresmian dan Groundbreaking 1.179 SPPG serta Peresmian 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri

 
bagikan berita ke :

Jumat, 13 Februari 2026
Di baca 646 kali

Di SPPG Polri Palmerah, DKI Jakarta


 

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo buddhaya,
Salam kebajikan. 

Yang saya hormati dan yang saya banggakan, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai penyelenggara, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, beserta seluruh jajaran pejabat utama Markas Besar Polri yang saya hormati dan yang saya banggakan;
Menteri Koordinator Pangan Kabinet Merah Putih, Saudara Zulkifli Hasan yang saya hormati dan yang saya banggakan;
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago;
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Prof. Dr. Dadan Hindayana;
Para Menteri Kabinet Merah Putih, para Wakil Menteri, Panglima TNI, para Kepala Badan, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir: Menteri Perdagangan Saudara Budi Santoso, Menteri Kebudayaan Prof. Dr. Fadli Zon yang saya hormati, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Letnan Kolonel Infanteri Teddy Indra Wijaya, Kepala Staf Kepresidenan Saudara Muhammad Qodari yang saya hormati, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. Taruna Ikrar, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Saudara Ahmad Haikal Hassan, Wakil Menteri Dalam Negeri Komisaris Jenderal Polisi Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Kesehatan Saudara Benyamin Paulus, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Sony Sanjaya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Saudari Nanik Sudaryati Deyang;
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, para Kapolda seluruh Indonesia, Wakil Ketua Komisi I sekaligus Ketua Umum Karang Taruna Nasional Saudara Budi Djiwandono, Wakil Gubernur DKI Jakarta Saudara Rano Karno, Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Asep Edi Suheri, Kepala Satgas MBG Polri Irjen Polisi Nurworo Danang;
Para tokoh masyarakat, Karang Taruna, Komunitas UMKM;
Para Kepala Sekolah penerima manfaat SPPG Polda Metro Jaya;
Seluruh hadirin undangan, serta rekan pers dan media yang saya hormati dan saya banggakan. 

Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur, ke hadirat Tuhan Mahakuasa, Tuhan Maha Besar, bagi umat Islam Allah Swt. yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala kebaikan, kedamaian yang diberikan kepada bangsa dan negara kita, kesehatan yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul pada pagi hari ini untuk melaksanakan suatu acara Peresmian dan Groundbreaking 1.179 SPPG dan Peresmian 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri. 

Kita juga selalu berdoa kepada Yang Mahakuasa agar saudara-saudara kita yang telah mengalami suatu musibah, bencana di berbagai tempat wilayah tanah air kita selalu diberi kekuatan, ketegaran, dan kondisinya segera dapat dipulihkan.

Pada kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih atas kehormatan yang besar diberikan kepada saya untuk bisa hadir dalam acara yang istimewa ini.

Saya hari ini sungguh-sungguh merasa bahagia, saya merasa gembira, saya merasa puas hati, karena saya melihat salah satu institusi yang sangat penting bagi negara dan bangsa kita, yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah mengambil inisiatif, mungkin di suatu bidang yang seolah-olah tidak merupakan tugas pokoknya, tetapi pimpinan Kepolisian Negara telah menangkap masalah yang krusial bagi keselamatan suatu bangsa.

Sebagai pemimpin saya sangat menghargai, tadi, inisiatif kesadaran pimpinan Polri, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo beserta jajarannya beserta pimpinannya, telah melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, seorang panglima. Beliau dengan jajarannya telah menganalisa tugas pokok yang diajarkan kepada kita sewaktu kita masih sangat muda, bahwa seorang pemimpin itu harus mencari tugas yang terkandung. Tugas pokok, iya, memimpin Kepolisian sebagai penegak hukum, sebagai pelaku utama menjaga keamanan ketertiban masyarakat, iya.

Tetapi paham yang lebih besar adalah keamanan ketertiban masyarakat yang sesungguhnya adalah manakala masyarakat, rakyat merasa aman, merasa bahagia, merasa punya harapan. Dan manusia dimanapun, apapun agamanya, apapun rasnya, apapun kelompok etnisnya, manusia manapun, seorang bapak dan seorang ibu, yang utama pemikirannya, yang utama perhatiannya adalah keamanan dan kesejahteraan keluarganya, anak-anaknya. Dan keamanan yang pertama adalah aman dari lapar.

Saudara-saudara,
program semacam ini sesungguhnya bukan pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Sudah puluhan negara lain melaksanakan, puluhan negara lain. Dan negara-negara yang maju, negara-negara yang demokratis, pasti punya program makan bergizi gratis untuk rakyatnya.

Makan bergizi gratis mungkin tidak penting untuk orang-orang yang cukup berada. Mungkin tidak penting bagi mereka yang di atas. Tapi di seluruh dunia, yang saya pelajari, makan bergizi gratis adalah sangat-sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat.

Waktu saya melancarkan program ini, saya diejek, saya dijelek-jelekin, saya dituduh macam-macam. Saya juga tidak mengerti, bahkan yang banyak mengejek adalah orang-orang yang terdidik, profesor-profesor terkenal, mengejek dan menghina saya. Dan mereka meramalkan proyek ini pasti gagal. Program ini menghambur-hamburkan uang. Operasi ini, kampanye ini, menjelek-jelekin presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.

Mungkin sebagai ungkapan dendam dan dengki, mungkin adalah biasa. Tapi sesuatu yang menyerang hal yang sangat diperlukan oleh orang-orang yang belum kuat ekonominya, sungguh menyedihkan bagi saya. Tapi saya yakin, waktu itu saya berada di atas jalan yang benar. Saya yakin bahwa tujuan kita benar dan baik.

Terlalu banyak anak-anak Indonesia mengalami stunting. Stunting itu adalah kurang gizi. Kurang gizi ini mengakibatkan sel-sel kita tidak bisa berkembang dengan baik. Sel otak tidak bisa berkembang dengan baik. Sel tulang tidak bisa berkembang dengan baik. Sel otot tidak bisa berkembang dengan baik. Jadi stunting akibat juga dari proses pemiskinan, proyek pemiskinan rakyat Indonesia. Stunting waktu itu 25 persen dari anak-anak kita.

Kita tidak bisa dengan teori, tidak bisa dengan hanya dengan kata-kata, hanya dengan program-program indah. Akhirnya saya belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain, bahwa memang satu-satunya jalan adalah intervensi langsung dari pemerintah, langsung kepada anak-anak, ibu-ibu hamil, dan orang tua yang tidak berdaya, orang tua lansia.

Ini sudah dilaksanakan oleh lebih dari 77 negara, saya ulangi mungkin lebih dari 75. Kita mungkin negara yang ke-76 atau ke-77. Dan saya lihat waktu itu negara-negara yang persis seperti kita, yang per kapita PDB adalah bahkan lebih rendah dari kita, setengah dari Indonesia. India itu adalah setengah produk domestik brutonya, setengah per kapita dari kita, berani memberi makan gratis untuk 800 juta rakyat mereka dan sudah berjalan 10 tahun lebih. Bahkan kalau tidak salah, sudah menjadi undang-undang, dan kalau tidak salah mohon dicek, sudah dimasukkan di amandemen konstitusi mereka. Karena itu kita laksanakan program ini.

Ya, kita hadapi kampanye luar biasa, menjelek-jelekan mengatakan bahwa saya menghambur-hamburkan uang. Padahal, Saudara-saudara, uang ini adalah hasil penghematan, hasil efisiensi dari anggaran yang saya dan tim saya yakin, kalau tidak kita hemat, uang ini akan dimakan oleh korupsi, akan dihabis-habiskan untuk memperkaya oknum-oknum pribadi-pribadi.

Budaya menghabiskan anggaran, budaya menggelembungkan anggaran, budaya melaksanakan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif, tidak ada manfaat bagi bangsa negara dan rakyat, itu terus dilaksanakan. Rapat-rapat di hotel-hotel di luar kota, seminar-seminar, konferensi-konferensi, kunjungan- kunjungan yang tidak bermanfaat, rakyat ditipu, rakyat dibohongi. Ini yang kita hemat, uang ini yang kita alihkan untuk hal-hal seperti ini.

Saudara-saudara,
APBN kita tidak keluar dari parameter yang kita tetapkan, defisit kita masih di bawah batas yang kita tetapkan sendiri, 3 persen defisit kita, Saudara-saudara sekalian, 3 persen dari PDB. Dan saya bertekad kita akan berusaha sekeras mungkin untuk kita kurangi dari situ. Bahkan cita-cita kita adalah harus kita punya cita-cita, harus kita punya target. Walaupun target itu sulit dikendalikan atau sulit dicapai, kita harus berani, kita harus menjadi bangsa yang berani, bukan bangsa yang menyerah, bukan bangsa yang kalah sebelum perjuangan.

Saya telah mempelajari setelah saya menjabat, masih terlalu banyak kebocoran, masih terlalu banyak penghamburan, saya ingin tertibkan birokrasi kita, saya ingin menyelamatkan kekayaan negara, saya ingin menyelamatkan aset-aset negara. Ini terus kita kerjakan, terus kita kerjakan.

MBG ternyata setelah kita terus kita kerjakan, hari ini kita sudah mencapai, laporan dari Kepala BGN, 60.200.000 penerima manfaat, diantaranya peran dari Polri.

Saudara-saudara,
kita telah memberi makan tiap hari, tadi 60 juta lebih, kita sudah berhasil memiliki 22.275 SPPG, sudah sampai 23.000 SPPG, yaitu dapur di 38 provinsi seluruh Indonesia. Jumlah ini kira-kira setara dengan memberi makan seluruh penduduk Afrika Selatan tiap hari, atau sama dengan 10 kali Singapura, tiap hari, atau dua kali Malaysia, tiap hari.

Bagi mereka yang waktu kita baru mulai satu bulan saja, dua bulan saja, kita sudah dihina, sudah diramalkan, pasti gagal. Pak Qodari tolong dikumpulin ya, video klip-video klip yang meramalkan kita pasti gagal. Yang mengatakan saya menghina bangsa Indonesia. MBG ini penghinaan kepada bangsa Indonesia. Kita mau menyelamatkan anak-anak, kita dibilang menghina. Ini harus ada rekam digital ya, direkam semua. Insyaallah kita mencapai 80 sekian juta. Aku minta biar saya bisa tiap malam saya lihat-lihat. Enggak apa-apa. Jadi saya bilang, aduh apa iya ya, apa iya saya menghina bangsa Indonesia. Dari umur muda, Letnan Dua, tidak punya apa-apa, saya siap mati untuk Republik. Kok saya sampai hati mau menghina? Tidak, saya, sisa hidup saya hanya untuk menyelamatkan membangun Republik Indonesia.

Saya ingin mati di atas jalan kebenaran. Saya ingin mati membela kebenaran, keadilan, dan keselamatan rakyat saya. Ini kehormatan, kehormatan bagi seorang prajurit, mati untuk rakyatnya. Masa saya mau menghina? Tapi sudahlah, sekarang kita buktikan bersama.

Jadi saya terima kasih Kepolisian Republik Indonesia.

Sebagaimana saya selalu ingatkan, polisi Indonesia itu punya kepribadian yang lain dari polisi negara-negara lain. Tiap negara punya sejarah dan tradisinya masing-masing, kita tidak mempersoalkan. You punya sejarah, bangga dengan sejarahmu. Kita punya sejarah. polisi kita lahir dalam kancah perang kemerdekaan. Polisi kita, ya perang untuk kemerdekaan. Polisi kita angkat senjata.

Jadi, sebagaimana tentara Indonesia lahir dari rakyat, jadi harus selalu menjadi tentara rakyat. Polisi kita lahir dari rakyat, harus selalu menjadi polisi rakyat. Itu yang saya selalu anjurkan dan sekarang pimpinan-pimpinan Polri menghayati itu, Saudara-saudara.

Keselamatan suatu bangsa, keamanan suatu bangsa, letak dalam cintanya rakyat terhadap bangsanya. Rakyat cinta kepada bangsa, negara kuat. Dan polisi dan tentara adalah wujud dari suatu bangsa. Yang pertama dilihat oleh rakyat di tempat terpencil, polisi dan tentara. Kehadiran negara diwujudkan oleh tentara dan polisi.

Karena itu, kalau tentara dan polisi menghayati perannya, menghayati sumpahnya, menghayati beban yang diberi di pundaknya, tentara polisi akan menjaga, menjaga dirinya di hadapan rakyat. Selalu memberi yang terbaik untuk rakyat. Saya terima kasih TNI dan Polri. Sungguh, saya terima kasih. Saya bangga.

Saudara-saudara,
bencana kemarin itu adalah musibah bagi kita. Tapi bencana kemarin, rakyat bisa melihat, TNI dan Polri habis-habisan terjun untuk membantu mengatasi kesulitan rakyat di tempat-tempat bencana. Saya lihat sendiri, saya keliling, saya melihat TNI, saya melihat Polri dan juga K/L-K/L lain. Dan saya tanya, berapa lama kau di sini? “Sudah 20 hari, Pak.” Sudah tiga minggu, ada yang sudah satu bulan. Ini membuktikan kembali bahwa negara hadir.

Pertama, orang-orang politik tertentu seolah girang dengan bencana. Oh, dengan bencana kita bisa bikin suatu suasana ketidakpercayaan kepada pemerintah, ketidakpercayaan kepada Republik Indonesia. Memang ada kelompok-kelompok tertentu, tetapi saya terima kasih, dalam beberapa minggu kita kerahkan kekuatan kita, semuanya bahu-membahu kita atasi sampai sekarang.

Ketua Satgas [Percepatan] Rekonstruksi dan Rehabilitasi yang kita bentuk, yaitu seorang alumni kepolisian, mantan kapolri, Menteri Dalam Negeri kita, Jenderal Polisi (Purn) Tito Karnavian adalah Ketua Satgas yang saya tunjuk. Beliau lapor ke saya, kalau tidak salah, “Pak, dari 52 titik ya, 52 titik yang terkena, tertimpa, tinggal 10 kabupaten yang masih belum normal.” Tapi beliau laporan, perkiraan beliau dalam dua bulan sisanya akan normal.

Saudara-saudara,
ini suatu bukti, kembali lagi, bahwa dua tonggak penting, dua tonggak penting dari negara, dari NKRI, TNI dan Polri telah menunjukkan prestasinya, pengabdiannya di lapangan, dengan pengorbanan, ada yang gugur melaksanakan tugas.

Hari ini, Polri telah menunjukkan perannya yang sangat penting…

Saya diingatkan waktu ya, jam berapa sekarang? Setengah sebelas? Saya kalau sudah semangat, saya ingin menyampaikan pikiran-pikiran saya. Kadang-kadang seolah-olah membosankan, tapi itu tugasnya, tugasnya pemimpin. Pemimpin itu adalah juga guru, kita diajarkan seorang komandan adalah kawan seperjuangan. Tapi juga guru, juga bapak. Kita harus bicara, yang baik-baik, yang tidak baik kita harus kasih tau. Jangan kalau yang baik tidak dihormati, tidak dihargai.

Karena itu, tadi kita beri penghargaan, Kapolri belum, karena beliau nanti harus dapat penghargaan yang lebih tinggi lagi. Saya kira mungkin Mahaputera itu pantas untuk beliau, saya tanya. Tadi saya tanya, Anda sudah dapat Mahaputera? “Belum?” Belum? Ya, saya yang beri Mahaputera untuk beliau. Ini kehormatan bagi seorang pemimpin, ini kebahagiaan seorang bapak bisa mengucapkan terima kasih kepada anaknya, kebanggaan.

Saya tahu, Saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran, itu risiko. TNI juga dulu jadi sasaran, ya kan? Jenderal-Jenderal kita yang paling hebat, paling jago, ya kan? Dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM. Rasanya TNI enggak pernah ngebom rumah sakit selama sejarahnya TNI. Rasanya TNI enggak pernah bom panti asuhan. Rasanya TNI enggak pernah bom sekolah. Rasanya TNI enggak pernah bom gereja atau masjid. Negara-negara barat yang ngajarin HAM kepada kita, ya kan? Saya enggak mau banyak komentar lagi lah. Anda tahu maksud saya, ya?

Jadi, banyak kalau istilah dulu kita njarkoni, iso ngajar ora iso ngelakoni. Mereka ngajarin kita semua, ya kan? Dulu TNI yang selalu diserang bulan-bulanan, ya polisi ya tabahlah kau juga jadi sasaran bulan-bulanan. Itu risiko, benar enggak? Yang penting niat baik, pengorbanan untuk bangsa dan negara.

Kalau ada, dalam institusi ratusan ribu orang, kalau ada yang enggak bener ya tindak. Saya ibaratkan kalau ada sekolah, murid-muridnya ada yang brengsek, ada yang tawur-tawuran, ada yang kurang ajar, ada yang ini. Muridnya, bukan kepala sekolahnya yang dicopot. Keliru itu, terbalik. Bukan sekolahnya ditutup.

Tapi enggak apa-apa, ini adalah risiko seorang pemimpin. Kau itu dikasih bintang di sini, itu untuk tahan. Tahan banting, tahan maki-maki, tahan serangan, ya kan? Apalagi serangannya di sosmed, ya kan? Di sosmed itu banyak buzzer, ya kan? Jadi kita harus tegar, yang jelas kita buktikan kepada rakyat.

Hari ini, saya harus mengatakan bahwa saya bangga dan puas dengan prestasi ini.

Saudara-saudara,
menghasilkan pangan, menghasilkan makanan, itu adalah melanjutkan peradaban. Tidak ada peradaban, tidak ada bangsa Indonesia tanpa pangan. Tiap hari pangan itu dibutuhkan tiap hari, untuk kelangsungan hidup rakyat kita. Dan inisiatif Saudara dengan menggunakan teknologi yang terbaik, teknologi terbaik tapi tercapai, terjangkau oleh kemampuan uang kita.

Tadi saya lihat alat-alat yang digunakan, dirintis oleh kepolisian. Saya lihat ada filter air, ada ultraviolet untuk membunuh bakteri di tray makanan, ada food security test, food safety test yang diproduksi di dalam negeri yang tidak kalah dengan kualitas dunia.

Ini sesuatu yang berprestasi, ini sesuatu yang membanggakan. Rakyat harus tahu. Kita sudah menghasilkan sampai hari ini 4,5 miliar porsi makanan, 4,5 miliar porsi. Dan kita masih ada kekurangan.

Saya dapat laporan sampai hari ini sudah kurang lebih 28 ribu penerima manfaat yang mengalami gangguan, dikatakan keracunan, sakit perut, dan sebagainya. Dua puluh delapan ribu dari 4,5 miliar. Kalau tidak salah itu adalah 0,0006 (persen). Artinya 99,994 (persen). Itu kalau statistik ya, itu kan dibulatkan ke atas. Berarti apa? 99,999 (persen) itu berhasil itu. Di mana ada usaha manusia yang 100 persen? Ada, tapi tidak gampang dicapai kita.

Saya dapat laporan kemarin, ini tolong diverifikasi, tapi saya dapat laporan bahwa kita punya statistik sampai hari ini, insyaallah kita pertahankan, kalau bisa kita kurangi lagi, tapi kita punya statistik itu lebih baik dari Jepang dan lebih baik dari Eropa. Ini saya baru dapat laporan dua hari yang lalu. Kalau demikian ya kita tidak boleh terlalu kecil hati. Jangan kita sombong, jangan kita petantang-petenteng ya.

Kesombongan adalah awal dari kehancuran, ingat itu. Semakin berisi, semakin menunduk, itu adalah ilmu padi nenek moyang kita. Itu adalah ilmu pendekar, pendekar yang benar. Semakin kuat, semakin rendah hati. Semakin dihujat, semakin difitnah, tegar, senyum.

Saudara-saudara,
kalau kau diserang, kau difitnah, berarti kau diperhitungkan. Itu ilmu sejarah yang saya dapat. Orang yang enggak diserang, orang yang enggak dihujat, orang yang enggak difitnah, memang dia enggak diperhitungkan. Euweuh pangaruhna. Jadi Pak Dadan tegar, terima kasih. Ini Pak Dadan ini ilmunya kuat juga, saya heran juga.

Tapi pendekatan kita rasional, logika, ilmiah, saintifik, dan hati bersih, niat baik. Kita niat baik, kita ingin menghilangkan kemiskinan, kita ingin menghilangkan kelaparan.

Saudara-saudara,
saya dapat laporan, baru beberapa hari juga dari beberapa kabupaten, beberapa kepala daerah, mereka katakan, mereka sekarang yakin manfaat dari MBG. Karena apa? Mengurangi kesenjangan. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin itu diukur oleh gini rasio. Mereka liat gini rasionya berkurang. Lapangan kerja dibentuk, satu dapur, satu SPPG, 50 orang bekerja. Yang tadinya tidak punya penghasilan, mereka bekerja. Mereka bisa membantu suami, mereka bisa membantu anaknya.

Saya ketemu pengusaha-pengusaha Apindo, mereka lapor ke saya, “Pak, belum pernah, Pak, sudah lama sekali belum pernah. Bulan Januari konsumsi rumah tangga di Indonesia naik sangat tinggi.” Dan ini, menurut mereka, ini karena MBG.

Dan kita lihat, tiap hari satu SPPG butuh sayur, butuh telur, butuh ayam, butuh daging, dan sebagainya. Ini menghidupkan petani-petani kecil, mereka sekarang yakin punya penghasilan. Dulu mereka panen tidak tahu siapa yang beli. Sekarang dijamin produksi mereka diserap.

Bahkan saya dapat laporan, sekarang saingan. Produksi sayur sekarang, petani sayur enggak usah susah-susah. Kadang-kadang di ladangnya sudah dibeli, Saudara-saudara. Kita sudah lihat sekarang, awal dari kebangkitan kita.

Kita berada di jalan yang benar. Ekonomi kita adalah ekonomi pendiri-pendiri bangsa kita. Ekonomi kita adalah ekonomi Undang-Undang Dasar 1945. Kita berada di jalan yang benar, dan kita akan mencapai keberhasilan, dan kita akan bikin kejutan, dan kita akan mengecewakan semua orang yang ingin Indonesia tetap miskin.

Saya tidak pernah mau ajak Saudara untuk benci orang asing, atau takut, atau curiga. Kita harus belajar dari kekuatan asing, tapi kita jangan lugu, jangan naif. Tidak ada bangsa lain yang senang atau yang suka kalau kita maju.

Saudara-saudara sekalian,
inisiatif prestasi kepolisian membangun gudang, gudang bagian daripada ekosistem ketahanan pangan. Dengan gudang, kita bisa amankan kita punya hasil produksi. Di saat yang kita butuh, cadangan ada di tempat yang aman. Jadi gudang strategis. Sekali lagi, terima kasih atas peranan Saudara-saudara.

TNI, Polri terjun. Memang ada yang kritik di media-media asing. Ini Presiden Prabowo menggunakan tentara dan polisi untuk meningkatkan produksi pangan. Menurut mereka ini tidak sesuai dengan paham pasar bebas mereka. Memangnya ada pasar bebas? Dikritik.

Ya memang ini tentara rakyat, ini polisi rakyat, Saudara-saudara. Penderitaan rakyat adalah penderitaan tentara. Penderitaan rakyat adalah penderitaan polisi. Karena tentara dan polisi, awaknya, anggotanya adalah anak-anak rakyat. Iya kan? Kalau orang kaya mana mau masuk tentara? Mana mau jadi polisi? Suruh aja dia berdiri, enggak usah lama-lama, berdiri satu jam saja di panas matahari sana. Apa itu? Karbon monoksida. Mungkin kalau polisi-polisi dicek paru-parunya, sudah hitam semua itu. Bener enggak? Sebetulnya gue kasihan juga sama lo polisi-polisi ini. Coba dicek. Saya enggak berani tanya Menteri Kesehatan, persentase polisi yang masalah paru-paru gitu. Tapi mereka tidak mengeluh.

Saudara-saudara,
saya tidak akan panjang lebar lagi. Terima kasih. Kita sudah buktikan kepada bangsa, rakyat, dan dunia. Kita sudah mencapai swasembada beras, sebentar lagi swasembada jagung, sebentar lagi yang lain-lain. Kita benar-benar akan berdiri di atas kaki kita sendiri. Indonesia akan menjadi negara yang kuat, Saudara-saudara sekalian.

Kuat, tapi tidak boleh jadi negara yang sombong. Kita akan hormati semua negara. Sekali lagi, kita diganggu, kita tahu kita diganggu, jangan dikira kita enggak tahu. Benar enggak? We are not stupid. Ini gue bicara sama mereka-mereka itu. Please, dear friends, Indonesia, Indonesians are not stupid. We know what's happening. Kita tahu, kita tahu siapa yang biayai gerakan-gerakan yang menjelek-jelekan bangsa Indonesia. Karena mereka takut kita kuat, mereka takut kita sejahtera. 

Kita tidak mau mengganggu bangsa lain. Kita hanya ingin rakyat kita hidup dengan baik. Hanya itu yang kita inginkan. Dan kita akan buktikan, ekonomi kita akan bangkit. Mereka, enggak tahu ini ada ahli-ahli ekonomi enggak jelas dari mana itu, selalu menurunkan moral. Saya mau tanya, kamu itu warga negara mana? Kita kalau main bola, tim kita main, ayo, ayo, ayo, kita suporter ya. Mereka enggak. Mereka selalu jelek-jelekan prestasi kita sendiri. 

Konsumsi rumah tangga tertinggi, enggak ada yang komentar baik. Penerimaan pajak bulan ini, konon kabarnya naik, tertinggi selama berapa tahun. Tapi kita tidak ada masalah. Kita bekerja dan kita buktikan kepada rakyat, Saudara-saudara sekalian.

Kita diambang kebangkitan. BUMN yang selama sekian tahun tidak pernah untung. Dalam satu tahun pemerintahan kita, hasil BUMN naik empat kali lipat, dari Rp89 triliun tahun 2024, naik empat kali. Dan ini akan naik terus, Saudara-saudara. Hanya dengan manajemen yang baik. Hanya dengan kepemimpinan yang baik. Hanya dengan semangat tidak mau mencuri dari rakyat dan bangsa Indonesia.

Dan saya ingatkan siapapun, di lembaga manapun, terutamanya mengelola kekayaan rakyat, Saudara-saudara, jagalah kehormatan, jagalah kepentingan dan keselamatan rakyat Indonesia. Kalau kau meneruskan praktik-praktik yang merugikan bangsa dan rakyat, pemerintah akan menggunakan segala kekuatan yang ada pada pemerintah, tanpa pandang bulu.

Sekali lagi, selamat. Terima kasih pimpinan Polri. Terima kasih atas prestasimu, pengabdianmu. Teruskan ini, semakin Saudara dekat sama rakyat, semakin rakyat cinta sama Saudara, semakin negara kita aman, tertib dan kuat.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo buddhaya,
Salam kebajikan,
Terima kasih.

Selamat bekerja, selamat berjuang.
Merdeka!

 

Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, pada pagi hari ini, Jumat, 13 Februari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini saya resmikan 1.072 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan 18 Gudang Ketahanan Pangan, serta dimulainya pembangunan 107 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Polri di seluruh Indonesia. Terima kasih.