Sambutan Presiden pada Pertemuan dengan 150 Periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

 
bagikan berita ke :

Kamis, 06 Agustus 2026
Di baca 337 kali

di Istana Kepresidenan Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang terhormat Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Profesor Arif Satria; Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Profesor Amarulla Octavian beserta seluruh jajaran BRIN yang hadir di sini.

Pertama-tama, tentunya kita selalu bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Mahabesar, Yang Mahakuasa, atas segala karunia dan berkah yang diberikan kepada kita, atas kesehatan, napas yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul di sore hari ini dalam keadaan yang baik.

Saudara-saudara sekalian,
Saya sengaja mengundang ke Istana karena saya ingin melihat, mungkin pertama kali tidak terlalu detail dan tidak terlalu komprehensif, tapi untuk mendapatkan gambaran hasil-hasil yang Saudara-saudara telah capai di BRIN. Terima kasih Saudara datang ke Istana dan saya berharap mungkin saya juga bisa datang menengok kampus-kampus Saudara. Saya pernah datang pada saat dulu, ada kampus LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) kalau tidak salah, ya, di Cibinong kalau tidak salah, ya, dan di beberapa tempat.

Memang, Saudara-saudara, kita mengerti semua bahwa pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu mampu menguasai sains dan teknologi atau tidak. Jadi, bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi, bangsa itu akan maju dengan pesat. Kuncinya adalah sains dan teknologi. Ini adalah fakta dan kenyataan. Dari penguasaan sains dan teknologi, tentunya masalah pendidikan itu adalah fondasi landasan yang paling, paling-paling kritikal, paling kritis.

Dan, marilah kita, saya terutama mengajak tim saya dan Saudara-saudara sekalian kalau saya memimpin, saya sukanya itu memimpin dengan fakta, facts, realita, dengan keadaan yang sebenarnya. Kadang-kadang fakta itu, ya, tidak enak. Kadang-kadang melihat realita itu tidak enak, terus terang saja, ya.

Contoh yang kecil saja, kita negara jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. 300, ya, hampir 300 juta, ya, 287 juta [penduduk]. Tapi saya sangat sedih, terus terang saja, ya, kan, masalah sepak bola saja, kita tidak mampu masuk Piala Dunia. Ini fakta yang tidak, tidak enak, ya.

Masa negara kecil seperti Cape Verde, ya. Cape Verde masuk, saya enggak tahu itu, mungkin jumlah penduduknya dengan Kabupaten Sumedang, mungkin lebih banyak Sumedang, mungkin. Ya, Cape Verde, apa lagi, ya? Banyak negara-negara kecil yang masuk ke situ. Ini harus kita introspeksi, kita harus lihat, and, tidak gunanya kita mengeluh, menurut saya.

Ini saya ambil contoh sepak bola, tapi nanti saya bisa ambil contoh banyak sekali, ya, kan. Tapi ini contoh sepak bola saja. Kalau sepak bola, enggak ada yang tersinggung di antara kalian, ya, kan? Benar enggak? Ya, kan? Mungkin yang tersinggung Menpora, mungkin. Tapi, beliau juga baru Menpora-nya. Atau enggak, beliau kan sudah PSSI juga lumayan, tapi beliau sudah berjuang luar biasa. Dan, kita hampir masuk kemarin, ya, hampir masuk. Mungkin strateginya harus lebih pintar kita.

Maksud saya begini. Lihat fakta itu. Negara sebesar kita, ya, tidak bisa ikut Piala Dunia. Satu, yang saya bilang, jangan mengeluh. Jangan mencari kambing hitam. Jangan, karena itu tidak akan membantu. Nah, sekarang belajar. Bagaimana? Kenapa, kok, bisa negara itu masuk, umpamanya, ya, kan. Kenapa? Apa yang dilakukan? Pelatihnya dari mana? Guru-gurunya dari mana? Jadi, 500 ribu [penduduk Cape Verde], ya, benar, Sumedang lebih banyak. Bogor apa lagi? Oh, oh enggak. Ya, Sumedang lebih banyak dari Cape Verde. Jadi, kita cari penyebabnya apa, baru kita harus berani berbuat. Sains dan teknologi.

Kita butuh orang-orang pintar. Banyak orang pintar. Saya ingat, Profesor Habibie mengatakan, “Oke, kita enggak usah takut. Satu persen saja orang pintar di Indonesia, ya, satu persen saja, itu hampir tiga juta orang, ya.” Jadi, kita sebetulnya bahan bakunya banyak sekali. Tapi, ya, apapun yang kita punya, harus, Saudara-saudara saintis, kan, harus dicari, dibina, diberi kesempatan, dibesarkan, didukung melalui suatu proses.

Jadi, pendekatan kita terhadap kebangkitan suatu bangsa, ya, kebangkitan suatu bangsa. Kita cita-cita semua, pendiri bangsa kita, termasuk cita-cita kita semua, bagaimana suatu negara di mana tidak ada kemiskinan. Bagaimana suatu negara tidak ada ketidakadilan. Nah, kalau kita mendekati dengan cara saintifik, cara rasional, jangan dengan cara lain daripada rasional, ya, nanti kita akan keliru. Rasional, sains, mathematics, reality. Reality is science. Reality is mathematics. Ya, kalau kita mendekati dengan pola lain, itu sudah masuk ke ranah lain. Fakta.

Nah, jadi, kadang-kadang fakta menyakitkan. Katanya sekarang ada suatu survei, survei namanya PISA, P-I-S-A, (Programme for International Student Assessment), di mana membandingkan kualitas pendidikan berbagai negara. Kita termasuk tidak terlalu bagus, ya. Jadi, Skor PISA Membaca. Skor kita, tadi kalau Anda lihat di situ, hanya sedikit di atas Filipina. Kita masih di bawah Thailand, di bawah Malaysia, di bawah Belanda, di bawah Vietnam, di bawah rata-rata OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), di bawah Jepang, di bawah Singapura. 

Kalau Singapura saya enggak terlalu, enggak usah kita terlalu khawatir, kok. Hanya negara lima juta [penduduk], kok, satu kota. Kalau Menteri Pendidikan Singapura itu, sebetulnya enggak bisa dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia, ya. Indonesia punya 388 ribu sekolah, kalau tidak salah, nanti dicek. Ada di tengah gunung, ada di pulau terluar, ada. Jadi, bagaimana memberi pendidikan yang terbaik untuk Indonesia? Jangankan Indonesia, mungkin Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara atau Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, bagaimana dia harus mengecek sekolah-sekolah di Miangas, di pulau-pulau terpencil, ya. Jadi, kalau saya, Singapura oke, dia berhasil, dia satu kota. Menteri Pendidikan tinggal keliling seluruh Singapura, mungkin dua jam dia bisa cek hampir semua sekolah di situ, ya, kan, terjangkau dari kantor dia. It’s a reality. It’s a reality. Dia berhasil.

Tapi, kesulitan kita sangat besar. Ini tidak boleh alasan bahwa kita menilai, bahwa kita tidak perlu kejar ketertinggalan. Ini, saya sampaikan ini, yang saya katakan, realita. Ini orang luar lihat kita. Ya, kita boleh kita terima, tapi kita jangan terlalu juga, terlalu takut. Dia hanya lihat gambar dari luar. Dia enggak lihat kesulitan-kesulitan yang kita hadapi sebagai negara yang sangat besar, ya. Jadi, ini yang saya maksud. Sudah, kita terima ini sebagai katakanlah peringatan, koreksi, dan kita cari bagaimana kita akan atasi. Kita pernah, 2003-2006 cukup tinggi, habis itu kita merosot. Ini menurut pandangan mereka, ya, dalam [Skor] Membaca, dalam [Skor] Matematika, dan sebagainya. Baik, jadi ini hanya sebagai gambaran. 

Di sinilah, Saudara-saudara, maksud saya, untuk mencapai tingkat inovasi, untuk mencapai tingkat terobosan, untuk mencapai tingkat penemuan-penemuan, ya, paten-paten, dan sebagainya. Itu dasarnya pendidikan. Dan, inilah saya ingin investasi cukup besar di bidang pendidikan untuk generasi penerus kita. 

Saya ingin perbaiki semua sekolah dari fisik. Kita juga membangun sekolah-sekolah unggulan untuk anak-anak terpintar, bisa kita seleksi, nanti dia kejar universitas-universitas terbaik di dunia. Di sekolah unggulan ini, kita pakai kurikulum International Baccalaureate (IB). Dia harus dengan standar yang sama dengan yang terpintar di dunia, yang terhebat di dunia, sama. Dan, kita harapkan dia diterima dan dia lolos di universitas terbaik di dunia. Itu satu cara. Cara kedua, kita kerja sama, kita undang universitas-universitas terbaik di dunia, kerja sama dengan universitas kita di sini. Entah joint, entah KSO (Kerja Sama Operasional), entah. Jadi, kita ada dua cara. Tapi, ini investasi jangka panjang. 

Kita koreksi diri kita sebagai bangsa. Investasi kita di bidang research dan development sangat sedikit. Jauh dari yang seharusnya, ini koreksi kita, ya. Dan juga, ke depan kita akan berusaha memperbaiki itu.

Untuk itu, tentunya kita perlu dana. Dana itu kita cari. Dana itu dari mana? Dari penghematan, hal-hal korup, praktik-praktik koruptif, praktik-praktik penipuan, fraud, under-invoicing, mismanagement.