Sambutan Presiden RI - Peringatan Hari Ibu ke-88, Banten, 22 Desember 2016

 
bagikan berita ke :

Kamis, 22 Desember 2016
Di baca 428 kali

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERINGATAN HARI IBU KE-88

SERANG, BANTEN

22 DESEMBER 2016




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Selamat pagi,

Salam sejahtera bagi kita semuanya,


Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga Negara,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,

Yang saya hormati Gubernur Banten beserta seluruh Gubernur dan Wali Kota/Bupati yang hadir,

Yang Mulia para Duta Besar,

Hadirin dan Tamu Undangan yang berbahagia, khususnya Pimpinan Organisasi Perempuan dan Tokoh Perempuan Indonesia,


Indonesia yang kita kenal, Indonesia yang kita cintai bisa menjadi seperti sekarang karena adanya peran ibu, peran perempuan selama ini. Semua putera/puteri terbaik yang membesarkan bangsa dan negara Indonesia pada awalnya adalah anak ibunya, dirawat dan dibimbing oleh ibu-ibunya. Mulai dari para pejuang dan pendiri bangsa yang memerdekakan kita, sampai generasi sekarang yang terus membangun Indonesia, semuanya tumbuh dewasa dalam bimbingan ibunya.


Maka, sungguh peran ibu, peran perempuan sangatlah besar agar manusia Indonesia dapat mencapai potensi maksimalnya.


Tadi sudah disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa Indonesia memiliki menteri perempuan sebanyak sembilan. Ini adalah kabinet dengan menteri perempuan terbanyak.


Kalau dibandingkan, menteri perempuan Indonesia adalah yang terbanyak dibandingkan negara-negara yang lain. Nomor 2 adalah Uni Emirat Arab. Menteri perempuannya delapan. Yang lain biasanya hanya sangat sedikit. Indonesia memiliki sembilan.


Dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Prof. Dr. Yohana Yembise, adalah profesor perempuan pertama dari tanah Papua. Kenapa dulu saya pilih? Karena itu.


Ada juga alasan-alasan yang lain. Tapi, yang pertama adalah karena Ibu Prof. Dr. Yohana Yembise adalah profesor pertama dari tanah Papua.


Saya ingat waktu penandatanganan MoU di Rusia. Saat itu, Presiden Vladimir Putin bertanya kepada saya, karena saat itu dipanggil ke depan yang datang adalah Menteri Luar Negeri, Bu Retno, perempuan.


Dipanggil lagi yang kedua, Menteri BUMN yang datang, yang tanda tangan perempuan. Yang di sana laki-laki terus, dari Rusia. Kita perempuan.


Terakhir, yang dipanggil adalah Menteri Kelautan dan Perikanan, Bu Susi, juga perempuan lagi.


Dari Rusia, yang hadir ke depan laki-laki, laki-laki, laki-laki. Kita dipanggil tiga kali, perempuan, perempuan, perempuan.


Presiden Putin bertanya ke saya, bisik-bisik, “Presiden Jokowi, kenapa Presiden Jokowi menterinya banyak yang perempuan?”


Saya sampaikan karena saya suka perempuan, karena perempuan—ini ada lanjutannya—karena perempuan jeli dan teliti melihat masalah-masalah, jeli dan teliti melihat masalah-masalah yang ada. Laki-laki ndak.


Perempuan juga tahan uji. Jangan dipikir perempuan tidak tahan uji. Perempuan lebih tahan uji.


Yang ketiga, tidak pernah mengeluh. Menteri-menteri saya yang perempuan tidak pernah mengeluh ke saya, enggak pernah. Itu yang saya alami. Ini pendapat saya.


Jadi, kepada Presiden Putin, juga saya sampaikan seperti itu. Ya, saya suka memilih menteri saya perempuan karena tadi: jeli, teliti, tahan uji, dan tidak pernah mengeluh.


Yang kedua—juga perlu saya sampaikan—di Banten ini ada delapan bupati dan wali Kota. Empatnya adalah perempuan. Jadi, Hari Ibu di sini enggak keliru.


Pertama, Ibu Bupati Lebak, Bu Iti Octavia. Ada enggak? Ada.


Yang kedua, Bupati Pandeglang, Bu Irna. Ada enggak? Absen.


Yang ketiga, Bupati Serang, Bu Tatu. Ada enggak? Bu Tatu ada.


Yang keempat, Wali Kota Tangerang Selatan, Bu Airin. Ada? Ada. Ini di Banten.


Di Indonesia—ini perlu juga saya sampaikan—di Indonesia, bupati-wakil bupati/wali kota-wakil wali kota ada 77 perempuan semuanya. Ini angka yang tidak sedikit, 77, angka yang banyak.




Hadirin sekalian yang saya hormati,

Saya lupa tadi. Saya ini kan bicara sendiri saja. Biar ditemani tadi ibu-ibu. Ini Hari Ibu. Masak saya di depan laki-laki sendiri?


Agak dekat, Bu. Sini, Bu, kanan-kiri.


Mohon maaf, Bu Jokowi. Saya ditemani oleh ibu-ibu dan perempuan-perempuan yang cantik di sini.


Hadirin sekalian yang saya hormati,

Kita lihat di masa sekarang, peran seorang ibu seringkali tidak terbatas hanya di rumah saja. Sudah banyak sekali ibu-ibu yang turut bekerja dan menjalankan usaha.


Apa pun peran seorang ibu di masa modern ini, semuanya sangat mulia dan harus didukung.


Hebatnya ibu-ibu, tidak hanya berhasil di kantor atau di bisnis, tapi urusan rumah tangga juga tetap beres. Ibaratnya, Gatotkaca kalah hebat oleh ibu-ibu sekarang.


Jadi, jangan pernah kita meremehkan kehebatan dan kehandalan, kemampuan para ibu karena, begitu mereka benar-benar turun tangan, bisa selesai semua masalah kita.


Hadirin yang saya hormati,

Di era persaingan global yang semakin sengit dan perkembangan teknologi yang sangat pesat, peran ibu dalam membimbing generasi masa depan kita menjadi semakin penting.


Kita ingat bahwa 80% penduduk Indonesia terdiri dari perempuan dan anak-anak. Ini modal kebangsaan kita untuk menjadi negara maju.


Untuk itu, Indonesia membutuhkan para ibu untuk menjaga integritas keluarga, menanamkan etiket, sopan santun, kejujuran, semangat kerja keras, semangat inovasi, semangat gigih bersaing di jiwa setiap anak Indonesia sejak dini.


Indonesia membutuhkan para ibu untuk makin melek teknologi, supaya bisa membimbing anak-anaknya agar produktif menggunakan teknologi, dan tidak ikut-ikutan menyebarkan fitnah, menyebarkan celaan, menyebarkan cacian di media sosial.


Indonesia butuh para perempuan, butuh para ibu untuk menanamkan benih kuat nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika, nilai-nilai toleransi, nilai-nilai persatuan bangsa di pikiran, di hati, dan di jiwa anak-anak di Indonesia, nilai-nilai bahwa kita semuanya bergotong royong membangun Indonesia menjadi negara yang maju, adil, dan makmur.


Maka, jangan ada lagi diskriminasi gender terhadap perempuan dan para ibu. Janganlah lagi para ibu dihalang-halangi untuk berkarya, untuk berkembang bila kita ingin Indonesia mencapai potensi maksimalnya.


Terakhir, saya ucapkan selamat Hari Ibu kepada para ibu di seluruh Indonesia. Teruslah membimbing kami, anak-anakmu. Teruslah menjadi ibu-ibu yang hebat agar Indonesia semakin hebat. Terima kasih.


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers, Media dan Informasi

Sekretariat Presiden