Sambutan Presiden RI pd Penganugerahan Pemenang Wira Usaha Muda Mandiri, di JCC, tgl 12 Mar 2015

 
bagikan berita ke :

Kamis, 12 Maret 2015
Di baca 1208 kali

SAMBUTAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PADA

PENGANUGERAHAN PEMENANG WIRA USAHA MUDA MANDIRI

DI JAKARTA CONVENTION CENTER

TANGGAL 12 MARET 2015

 

 

Bismillahirrahmaanirrahiim,

 

Assalamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh,

Selamat Pagi, Salam Sejahtera bagi kita semuanya,

Om swastiastu,

 

Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Kerja, Ketua OJK, Direktur Utama Bank Mandiri, Wakil Gubernur DKI, Wakapolri, seluruh Tamu Undangan, serta seluruh Mahasiswa yang pada pagi hari ini hadir.

Saya sangat senang sekali tadi melihat entrepreneur-entrepreneur muda yang telah terpilih, dan saya optimis negara ini akan besar, kalau ekonominya akan besar kalau entrepreneur-entrepreneur seperti yang tadi berdiri di atas panggung ini diberikan peluang yang seluas-luasnya untuk mengembangkan usahanya.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian,

Negara kita ini negara besar, pasar yang sangat besar, peluangnya juga sangat besar. Orang luar melihat kita ini sebagai sebuah pasar yang harus diserang dan diduduki, tapi kita yang berada di ruangan ini, saya sampaikan jangan mau pasar kita diduduki oleh entrepreneur-entrepreneur dari negara yang lain. Oleh sebab itu, kuasailah terlebih dahulu.

Saya sangat senang sekali, bahwa yang muda-muda ini sudah pandai membaca peluang. Ada peluang, langsung bisa masuk. Kemudian juga inovasinya juga, tidak seperti zaman saya. Usaha-usaha yang ada juga hanya usaha-usaha yang itu-itu saja. Saya melihat sekarang ini anak-anak muda sudah mengembangkan usaha games, saya lihat, ada animasi, ada membuka online store, portal, tadi saya melihat di luar, juga pembangkit listrik tenaga ombak. Ini kan hal-hal yang diluar pikiran kita, orang-orang jadul kayak saya.

Tetapi saya titip, saya titip, kalau masuk ke sebuah usaha itu memang nggak usah, jangan banyak mikir.  Jadi yang mahasiswa, yang belum yang masuk, yang ingin masuk ke dunia usaha, sudah, masuklah dulu, masuklah dahulu. "Bapak nanti kalau jatuh gimana?" Ya jatuh, nanti bangkit lagi. Nggak usah berpikir takut-takut, jangan ada rasa takut untuk masuk ke sebuah usaha. Tetapi, kalau sudah masuk, tolong segera berhitung, resiko-resiko yang akan dihadapi, dan itu harus dikendalikan. Itulah yang namanya usaha. Jangan hanya nabrak-nabrak, nanti betul-betul jatuh dan sulit untuk bangkit lagi. Kemudian, harus berani keluar dari zona yang nyaman. Ya ini biasanya yang sudah terlalu lama nyaman itu biasanya takut mengambil resiko. 

Waktu saya bertemu dengan pemilik Facebook, Mark Zuckerberg, saya kaget sekali ternyata umurnya masih muda sekali, masih muda sekali, masih muda sekali, dan asetnya sudah puluhan triliun.

Memang usaha-usaha seperti itulah ke depan yang sangat, yang sangat menjanjikan. Di kita sebetulnya banyak; ada Toko Bagus, ada Kaskus. Kalau di luar, kita lihat ada Ibe, ada Alibaba, yang coba dibuka, untungnya 40 triliun, 80 triliun, setiap tahunnya. Ini besar sekali, dan usaha-usaha ke depan saya kira memang hal-hal yang seperti saya sebutkan tadilah yang, yang memang terbuka untuk anak-anak muda. Anak saya, saya suruh pegang pabrik mebel sudah nggak mau, karena mempunyai keinginan yang lain. Yang saya melihat juga senangnya di animasi, game. Dan memang ekonomi kreatif seperti itu, ke depan sangat menjanjikan sekali.

Siang hari ini, saya tadi mendengar tadi dari Pak Direktur Bank Mandiri, ada nama-nama yang sangat menarik saya. Yang pertama, Hendy Setiono, bisnisnya kebab, namanya Baba Rafi. Umurnya, saya dengar baru kurang lebih 28 tahun, omzetnya, ini saya hanya dengar-dengar, kemudian  kalau keliru nanti tolong diralat, omzetnya sudah lebih dari 100 miliar, 28 tahun.

Yang kedua, tadi disebutkan Elang Gumilang, bisnisnya property. Umurnya saya nggak tahu, saya tadi dengar-dengar katanya 25-26 tahun tapi nanti mau saya tanya sendiri umurnya berapa. Omzetnya sudah triliun, umurnya baru 25-26, tapi omzetnya triliun.

Yang ketiga, tadi disebut juga Pak Budi, Mita, tadi ada ketemu di depan, ini pembangkit listrik tenaga ombak, juga omzetnya miliar.

Coba, saya mau ketemu yang Hendy, "Sini Hen". "Elang ada ndak?" "Elang datang nggak?" "Elang, sini Lang". "Mita?", "Mita ada?" "Sini Mit", biar memberikan motivasi kepada seluruh mahasiswa yang hadir, kepada calon-calon wirausahawan yang hadir, bahwa yang muda-muda ini bisa melebihi yang jadul-jadul kayak saya. "Kalah saya dengan apa ... Elang, jauh saya tu dengan Elang". Dengan Hendy, "kalah saya dengan Hendy, kekayaan juga jauh dengan Hendy".

Presiden:

Hendy umur berapa sih sekarang?

 

Hendy:

Sekarang umur 31 Pak.

 

Presiden:

Tadi saya denger 28, ditambah tiga tahun, nggak apa-apa, juga masih sangat muda sekali, 31 tahun itu masih sangat muda sekali, dengan omzet yang sudah miliaran, sangat muda sekali. Ke depan, saya kira, masih terbuka sekali, dan usahanya yang saya seneng, tidak hanya di Indonesia, sudah buka di Malaysia, sudah buka di India. Sudah buka di mana lagi coba cerita?

 

Hendy:

Buka lagi di delapan negara sekarang.

 

Presiden:

Sudah masuk di delapan negara. Sekali lagi, umur 31 tahun, umur 31 tahun. Saya nggak tahu nanti umur-umur 50 sudah jadi konglomerat tingkat mana, saya nggak ngerti, tetapi pasti jadi, saya pastikan insya Allah jadi, jadi orang, ya maksudnya orang besar. Hen, usahamu itu apa sih?

 

Hendy:

Ya, saya jualan makanan Kebab, Pak. Alhamdulillah 12 tahun lalu pada saat disertasi kuliah di ITS Surabaya, usia 19 tahun, dan alhamdulillah sekarang berkembang 1000 lebih outlet.

 

Presiden:

1000 lebih outlet, dimulai waktu masih mahasiswa. Ini yang mahasiswa-mahasiswa mulai sekarang, jangan nunggu-nunggu lulus, nggak usah, sambil kuliah sambil kerja, telat waktunya nanti kalau nunggu lulus. Sudah berapa? 12 tahun?

 

Hendy:

12 tahun.

 

Presiden:

Cepat sekali. Kenapa bisa cepat? Bisa melihat peluang, pandai melihat peluang, dan cepet memanfaatkan peluang, begitu buka satu, untung, langsung buka, berapa? Seribu? Langsung seribu, buka. Ya jelas untung kok, kalkulasinya hitungannya untung kok, langsung buka. Kalau telat orang lain bisa masuk menjadi kompetitor kita. Inilah saya kira wirausahawan, entrepreneur-entrepreneur yang perlu dicontoh. Sudah, nggak usah cari contoh, apa ..., pemilik Facebook atau pemilik Alibaba, atau pemilik Twitter, udah ada di sini.

 

Presiden:

Elang umur berapa?

 

Elang:

Untuk klarifikasi ya Pak ya, ini usia saya bukan 25 tahun, tapi sudah 29 tahun sekarang Pak.

 

Presiden:

Ini tambah empat. Saya kan hanya diberitahu, itu kurang lebih gitu. Belum 30 tahun, omzetnya sudah triliun, sudah "T".

 

Elang:

Klarifikasi juga boleh Pak, boleh Pak?

 

Presiden:

Boleh.

 

Elang:

Itu bukan omzet Pak, itu nilai proyek Pak.

 

Presiden:

Ya sama saja. Ya artinya, artinya sudah memegang proyek yang bukan hanya juta atau miliar, tetapi sudah triliun, gitu lho. Bisnis property. Memang property peluang ke depan sangat-sangat bagus, terutama di kota-kota besar. Dan, yang saya seneng dengan Elang ini yang dikerjakan adalah rumah-rumah murah, betul? Yang saya seneng, artinya masuk ke yang betul-betul kerakyatan. Ini yang saya seneng.

Untungnya setahun berapa sih? Kalau rahasia nggak apa-apa. Rahasia aja lah, saya tahu kalau ditanya untung pasti gak mau.

Yang ketiga, Mita. Mita umur berapa? Saya denger 20 tahun De?

Mita:

Belum, jadi waktu pernah umur 24-25, sekarang 29.

 

Presiden:

Oh, sekarang dah 29? Ok, tetapi juga masih sangat muda sekali, 29 sudah menciptakan pembangkit listrik tenaga ombak, betul?

 

Mita:

Arus Laut.

 

Presiden:

Oh tenaga Arus Laut. Ya masih mirip, apa itu? Jadi, cerita sedikit mengenai pembangkit listrik, apa, tenaga arus laut.

 

Mita:

Jadi tingkat dua, waktu saya kuliah di ITB, waktu semua masih sibuk demo BBM, Jadi saya pikir dengan tim untuk bikin tugas akhir bersama, ini tugas akhir sebelum lulus, yuk kita bikin suatu solusi buat negara. Kita negara kelautan, kita bikin turbin listrik dari arus laut, saya jurusan oceanografi, temen-temen saya mesin, elektro (teamwork). Lalu, alhamdulillah, sebelum Wirausaha Mandiri menang, saya dapat Award dari Jepang. Terus, begitu ada Wirausaha Mandiri Technopreneur saya pingin banget karena saya pingin diakuin sebagai ilmuwan Indonesia bahwa Indonesia tu bisa, terutama, terutama sebagai negara kelautan.

Memang pada dasarnya energi alternatif ini memang alternatif, bukan pengganti waduk atau batubara sebagai pembangkit listrik perintis untuk pulau-pulau terpencil sehingga jika ekonominya meningkat, mereka bisa sanggup punya listrik dari PLN.

Presiden RI:

Kamu jual berapa sih ini satu pembangkit itu.

 

Mita:

Ya, jadi satu kw-nya sama dengan satu solar cell, solar cell itu per kw US$4.000, jadi kalau kita jual per kubik 4-10 kw jadi US$ 40.000.

 

Presiden:

Omzetmu sudah berapa setahun sekarang? Miliar betul ya?

 

Mita:

Iya.

 

Presiden:

Miliar ya?

 

Mita:

Iya, tetapi tidak kaya senior ini triliun, saya masih miliar. Insya Allah, mudah-mudahan jika dikasih kesempatan seluas-luasnya, kita bisa pasang di seluruh pulau terpencil, terutama di daerah perbatasan zona ZEE, kalau boleh Bapak Jokowi dan Kabinet.

 

Presiden RI:

Ini, Mita ini pandai memanfaatkan peluang, kenapa dia cepet, ya karena itu pandai memanfaatkan peluang, baru ada dapat peluang seperti ini, langsung minta proyek.

Terima kasih, terima kasih. Salaman dulu. Saya kan pengen salaman sama yang sukses-sukses seperti ini.

Yah, saya nggak, saya nggak, saya kira saya nggak perlu berbicara banyak, contoh-contohnya sudah ada, saya kira seluruh mahasiswa yang hadir kalau ingin bertanya, ya tanyalah yang sudah menjalankan, tanyalah yang menurut saya sudah sukses seperti itu, tetapi jangan berhenti, nanti kalau saya ngomong sukses, dia berhenti berinovasi, berhenti bergerak juga berbahaya. Tanyalah kepada yang bertiga tadi, yang, dan yang tadi berdiri di sini. Sudah, nggak usah tanya yang jauh-jauh, karena ini masih seumuran mahasiswa-mahasiswa yang hadir.

Dan terkahir, tadi saya minta ke juri, ke panitia, untuk yang tadi berdiri di sini, saya pilihkan, tolong dipilihkan lima orang saja, lima orang saja, nanti akan saya berikan tambahan capital untuk mereka, tapi hanya lima, jangan semua. Akan saya berikan tambahan Rp.100 juta per orang. Dipilihkan yang, dipilihkan yang unik, yang menyentuh kepada masyarakat, itu aja.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

 

 

Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,

Kementerian Sekretariat Negara RI