Jakarta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Selasa (6/2) menerima kunjungan Takashi Shiraishi pakar sejarah dan pemerintahan Asia Timur dari Jepang. Kedatangan Shiraishi atas undangan Presiden saat keduanya bertemu di Jepang, November tahun lalu.

"> Jakarta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Selasa (6/2) menerima kunjungan Takashi Shiraishi pakar sejarah dan pemerintahan Asia Timur dari Jepang. Kedatangan Shiraishi atas undangan Presiden saat keduanya bertemu di Jepang, November tahun lalu.

"> Jakarta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Selasa (6/2) menerima kunjungan Takashi Shiraishi pakar sejarah dan pemerintahan Asia Timur dari Jepang. Kedatangan Shiraishi atas undangan Presiden saat keduanya bertemu di Jepang, November tahun lalu.

">

SBY Menerima Takashi Shiraishi

 
bagikan berita ke :

Rabu, 07 Februari 2007
Di baca 1608 kali

“Presiden SBY sangat menyadari penting dan strategisnya hubungan Indonesia dan Jepang,� kata Takashi Shiraishi kepada wartawan usai bertemu Presiden SBY. Shiraishi mengatakan, kunjungan ini bersifat kunjungan kehormatan dan tidak ada hal khusus yang dibicarakan. “ Saya bertemu dengan Presiden SBY pada saat Presiden berkunjung ke Jepang bulan November tahun lalu, dan Presiden kemudian mengundang saya untuk datang ke Indonesia, karena itu saya ada di sini, saat ini, “ katanya.

“ Ini adalah kunjungan kehormatan, tidak ada hal khusus. Hanya Presiden menggarisbawahi beberapa strategi penting antara Jepang dan Indonesia. Bukan hanya militer, tetapi juga stabilitas dan kemakmuran di wilayah ini. Itulah yang membuat hubungan antara Jepang dan Indonesia menjadi strategis, “ kata Shiraishi lagi.

Takashi Shiraishi adalah Professor dari Southeast Asian Studies dari Centre for Southeast Asian Studies Universitas Kyoto Jepang. Shiraishi juga seorang peneliti tamu pada Yomiuri Research Institute. Bidang keahliannya adalah pemerintahan dan politik di Asia Timur. Gelar Ph.D nya diraih dari Universitas Cornell Amerika Serikat.

Shiraishi juga sudah menerbitkan beberapa buku mengenai Asia, antara lain berjudul Network Power : Japan and Asia dan An Age in Motion yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Jawa, 1912 – 1926. Buku ini menggambarkan runtuhnya transformasi budaya tentang tradisi sastra kapujanggan karena semakin hegemoniknya kekuasaan pemerintah kolonial.

 

http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2007/02/06/1551.html

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0