Semburan Lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di lokasi ± 150 m dari Sumur Banjar Panji #1 telah berdampak pada kerugian rusaknya lahan pertanian, tambak, pemukiman dan industri serta terganggunya kegiatan ekonomi penduduk desa sekitar, serta terganggunya transportasi barang dan jasa.

"> Semburan Lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di lokasi ± 150 m dari Sumur Banjar Panji #1 telah berdampak pada kerugian rusaknya lahan pertanian, tambak, pemukiman dan industri serta terganggunya kegiatan ekonomi penduduk desa sekitar, serta terganggunya transportasi barang dan jasa.

"> Semburan Lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di lokasi ± 150 m dari Sumur Banjar Panji #1 telah berdampak pada kerugian rusaknya lahan pertanian, tambak, pemukiman dan industri serta terganggunya kegiatan ekonomi penduduk desa sekitar, serta terganggunya transportasi barang dan jasa.

">

Semburan Lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di lokasi

 
bagikan berita ke :

Rabu, 27 Desember 2006
Di baca 1323 kali

Semburan Lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di lokasi ± 150 m dari Sumur Banjar Panji #1 telah berdampak pada kerugian rusaknya lahan pertanian, tambak, pemukiman dan industri serta terganggunya kegiatan ekonomi penduduk desa sekitar, serta terganggunya transportasi barang dan jasa.
APMI sebagai Asosiasi Perusahaan Pemboran Migas Nasional telah mengadakan diskusi di Auditorium Gedung ESDM yang diikuti oleh praktisi pemboran, geo scientist, ahli perminyakan, akademisi dan penjabat pemerintah yang terkait. Diskusi yang memfokuskan pada masalah teknis pelaksanaan pemboran relief wells menghasilkan beberapa kesimpulan untuk menanggulangi semburan lumpur di sumur BJP#1 yang dikelola oleh PT Lapindo Brantas .

Usaha mematikan semburan lumpur panas di Sidoarjo yang debitnya mencapai ± 50.000 m3 /hari dengan temperatur 70-85o C dengan relief wells perlu mendapat dukungan semua pihak, termasuk peralatan, material, tenaga ahli dan suasana operasi yang kondusif dan dukungan dari pemerintah. Dalam persiapan pelaksanaan pemboran relief wells perlu memperhatikan akibat lumpur yang besar, temperatur yang tinggi serta kondisi formasi yang tidak stabil dengan memasukkan safety factor yang memadai. Selain itu pemilihan perusahaan pemboran relief wells dan penunjangnya termasuk tenaga kerja pemboran perlu dilakukan secara professional dan accountable.

Jika Emergency plan dalam relief wells gagal mematikan semburan Lumpur, maka perlu dipastikan lumpur tersebut bukan merupakan limbah berbahaya dan yang memastikan haruslah dari lembaga yang kompeten dan secara bersama-sama menganalisa serta menyimpulkan hasil-hasil penelitiaanya. Alternatif yang direkomendasikan dengan mengalirkan lumpur melalui pipa ke laut adalah hal yang logis mengingat lumpur tersebut berasal dari alam sendiri jutaan tahun yang lalu.
Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0