SEMINAR NASIONAL “SISTEM PERTAHANAN NEGARA RI ABAD 21â€, DI BANDUNG, 19 SEPTEMBER 2008
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SEMINAR NASIONAL “SISTEM PERTAHANAN NEGARA RI ABAD 21â€
DI BANDUNG
TANGGAL 19 SEPTEMBER 2008
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia,
Saudara Panglima TNI, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Komandan Seskoad dan para Perwira jajaran TNI, Saudara Gubernur Jawa Barat,
Yang saya cintai para Sesepuh, para Panelis, para Peserta Seminar,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan, insya Allah, penuh berkah ini kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan karya, tugas, dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Saya juga mengucapkan selamat kepada TNI Angkatan Darat khususnya Seskoad atas terselenggaranya seminar yang berjudul “Sistem Pertahanan Negara Republik Indonesia Abad 21â€. Seminar ini penting menandai sepuluh tahun reformasi TNI. Seminar ini penting menandai perubahan baik pada tingkat global, regional, maupun nasional. Sebagaimana yang saya amanatkan pada tanggal 5 Oktober tahun 2007 yang lalu dalam rangka peringatan Hari TNI, saya meminta agar TNI melaporkan kepada rakyat, menyampaikan pertanggungjawaban kepada rakyat atas reformasi yang telah dilaksanakan selama sepuluh tahun ini atau sepuluh tahun pertama ini. Kita sama-sama menyaksikan setelah pada tahun 1996 yang lalu kita melakukan latihan gabungan dalam skala besar kembali tahun ini TNI melakukan latihan gabungan dalam skala yang besar, lebih besar dibandingkan latgab tahun 1996, dan insya Allah, bulan depan kembali TNI akan melaksanakan kembali Hari TNI dengan postur dan tampilan yang merupakan hasil atau capaian dari reformasi TNI selama satu dasawarsa ini.
Seminar yang kita selenggarakan hari ini, saya harapkan juga menjadi bagian dari laporan TNI kepada bangsa dan negara. Judul seminar ini memang luas. Kalau kita ingin membahas perihal pertahanan negara, lingkupnya banyak sekali, perspektifnya, sudut pandangnya, paradigmanya juga banyak. Oleh karena itu, pada tingkat saya, dalam pidato kunci ini, saya akan melihat dari perspektif yang lebih bersifat makro. Kemudian akan mengedepankan sejumlah isu yang harapan saya bisa dibahas dalam seminar ini sebagai pemahaman kita terhadap isu-isu strategis yang berkaitan dengan pertahanan negara. Mau tidak mau seminar ini tentu akan berbicara sistem, berbicara kebijakan dan strategi pertahanan, berbicara postur pertahanan dan kesiagaannya, bahkan juga akan berbicara aturan konstitusional penggunaan sebuah kekuatan militer. Semua itu menjadi penting dan saya persilakan untuk membahasnya secara seksama dan mudah-mudahan dia akhir seminar dapat dirumuskan satu konstruksi yang tepat zaman menyangkut pertahanan negara kita di abad 21 ini.
Saudara-saudara,
Dengan pengantar itu, saya mengajak Saudara untuk sama-sama memahami dinamika dan perkembangan dunia abad ke 21. Dalam teori hubungan internasional ada dua mazhab, dua aliran pemikiran yang disebut kaum idealis dan kaum realis. Tidak hendak memilih mana yang benar, mana yang salah, tapi memahami cara pandang dari kedua aliran ini amat penting untuk kita bisa mengidentifikasi apa saja yang telah, sedang, dan akan terus berubah dalam dinamika hubungan internasioanl. Bagi kaum idealis abad 21 dianggap abad yang menjanjikan karena akan lahir the new civilization, peradaban global yang baru, yang konon semuanya akan memiliki kesadaran yang tinggi untuk menyelamatkan buminya, to save our planet. Mengapa bumi harus diselamatkan? Konon bumi itu sekarang ini bukan hanya bertambah panas tapi juga makin penuh sesak dan selalu menghadirkan kompleksitas yang baru.
Kaum idealis juga merasa dengan berakhirnya perang dingin, tanda-tandanya sudah mengemuka, bahwa masyarakat dunia akan mudah bekerja sama membangun kemitraan. Kemudian cara-cara menyelesaikan sengketa yang ada di dunia karena konflik kepentingan itu dipercayai akan lebih democratic, akan lebih peaceful. Dengan demikian, tidak akan memicu terjadinya peperangan. Mereka juga menganggap saatnyalah kita menggunakan soft power dan bukan hard power karena dianggap itu merupakan pendekatan yang baik dan lagi-lagi kaum idealis percaya bahwa pada abad ini, pada dasawarsa-dasawarsa awal abad ini, resources dunia akan digunakan untuk memecahkan berbagai krisis yang fundamental yang suatu saat bisa menjadi bom waktu, misalnya bagaimana kita mengatasi krisis lingkungan, climate change, global warming, bagaimana kita bisa mengelola, mengatasi krisis energi atau energy security, dan juga demikian permasalahan kecukupan pangan pada tingkat dunia. Itu sejumlah elemen yang ada dalam pikiran kaum idealis.Â
Sebaliknya kaum realis mengatakan bahwa meskipun dengan berakhirnya perang dingin seolah-olah dunia akan menjadi lebih damai, tetapi kenyataannya politik kekuatan masih menjadi realitas. Power politics masih menjadi andalan terutama bagi negara-negara kuat. Memang ada penggunaan soft power tapi dalam banyak hal hard power juga tidak ditinggalkan. Memang betul inter state conflict itu menyusut paling tidak pada tahun 2003 sampai 2007, dan yang ada adalah intra state conflict. Tapi peristiwa dua tiga minggu yang lalu di Eropa menyiratkan yang lain. Barangkali kita masih dihantui oleh inter state conflict sebagaimana yang terjadi di Georgia. Kaum realis mengatakan anggaran militer tetap tinggi bahkan per tahun diperkirakan sekitar US$ 1,2 trilyun. Kalau kita tidak menyukai perang mana mungkin masih terjadi pengembangan kekuatan senjata yang begitu besar. Clash of civilization ada dalam percaturan global dewasa ini.
Kemudian minggu-minggu terakhir ini dengan serangan Rusia terhadap Georgia menyangkut dua provinsi, Provinsi Obista Selatan dan Abkhazia. Dua provinsi yang sebelumnya dipicu oleh Kosovo. Kalau Kosovo negara barat, Amerika mendukung kemerdekaan Kosovo, tentu Rusia dan Serbia tidak. Sebaliknya pada peristiwa di Georgia, Rusia mendukung bebasnya kedua provinsi itu, Amerika dan barat tidak. Tetapi ini mencemaskan, jangan-jangan tidak sadar kita kembali kepada era perang dingin, ‘head-to-head’ antara negara barat dengan Rusia, atau antar Amerika dan Rusia.
Minggu lalu saya menulis di sebuah koran International Herald Tribune yang berjudul The Chill That The World Cannot Afford. Saya mengingatkan sebetulnya para pemimpin dunia janganlah trend yang makin baik kita menjauh dari bayang-bayang perang dunia, perang dingin, perang terbuka, tiba-tiba harus mundur kembali. Dan kaum realis mengatakan sumber perang sangat gamblang. Perang berkaitan dengan sumber daya alam, energi, pangan, dan lain-lain. Saya persilakan Saudara-saudara membaca dua buku yang baru saja terbit belum lama. Pertama adalah bukunya Thomas Freedman yang berjudul “Hard, Flat, and Crowdedâ€, menggambarkan bumi yang perlu kita kelola dengan baik agar tidak terjadi “kiamatâ€. Yang kedua bukunya Jeffrey Sach yang berjudul “Commonwealthâ€. Pesannya hampir sama. Kebetulan saya pernah bertemu dan berdiskusi dengan dua-duanya yang bagus, dan kalau kita ingin mengenali realitas kecenderungan pada tingkat dunia sekarang ini.
Itulah pandangan kaum idealis dan kaum realis, dunia kita, dunia abad 21. Sekarang saya ingin mengajak untuk melihat negeri kita sendiri, tanah air kita sendiri, juga di awal abad 21 ini.
Saudara-saudara,
Kita tahu Indonesia sekarang ini adalah Indonesia pasca krisis. Kita sedang melakukan transformasi besar bukan hanya sekedar reformasi, bukan hanya sekedar demokratisasi, bukan hanya sekedar pembangunan kembali ekonomi pasca krisis, tapi kita sesungguhnya menjalankan great transformation. Bangsa yang menjalani perubahan yang besar pasti menghadapi ujian, tantangan, persoalan, dan dalam bahasa agama cobaan.
Kita lihat negeri kita ini sebagai buah dari reformasi. Muncul banyak sekali kebebasan. Kebebasan itu sendiri adalah roh demokrasi berkaitan erat dengan hak asasi manusia, tetapi yang menarik adalah bagaimana kita semua menggunakan kebebasan itu, how to excersise the freedom, yang klop dengan tujuan dari kehidupan bernegara kita. Kita juga menyaksikan sejalan dengan era desentralisasi dan otonomi daerah. Kebebasan pada tingkat-tingkat daerah, ini juga menghasilkan kompleksitas tertentu, yang dulu kita cemaskan apabila mengurangi persatuan kita, kohesi kita, integrasi kita sebagai bangsa. Lantas kita sendiri merasakan tahun-tahun terakhir ini bahwa kemungkinan konflik atau dispute dengan negara-negara lain selalu ada manakala kita berhadapan dengan manakala kepentingan kita berhadapan dengan kepentingan negara-negara lain tersebut.
Saya harus mengatakan bahwa di tengah kita melakukan transformasi besar, di tengah kita ingin membangun kembali ekonomi kita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tapi potret kita secara menyeluruh adalah seperti itu. Masih ada faktor-faktor yang mesti terus kita cermati agar kita selalu bersiap menghadapi apa pun di negeri tercinta ini.
Saudra-saudara,
Dengan gambaran tentang dunia dan negara kita di abad 21 ini, kalau saya ingin masuk kepada lingkup yang lebih sempit sebagai pilihan saya terhadap judul yang luas itu, untuk saya kedepankan di forum seminar ini adalah lantas jika dikaitkan dengan pertahanan negara, skenario-skenario apa saja yang bisa terjadi. Saudara ingat dalam UUD 1945 pasal 30 sangat gamblang kalau untuk mempertahankan negara kita, pertahanan dan keamanan negara, TNI dan Polri sebagai kekuatan utama, rakyat sebagai kekuatan pendukung. TNI sendiri yang terdiri dari AD, AL, AU bertugas untuk mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara. Saya ingin lebih masuk ke wilayah itu dengan mengedepankan sejumlah skenario untuk menjadi bahan renungan kita kalau-kalau skenario itu menjadi kenyataan di masa depan, yang mungkin menjadi ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan negara kita adalah dikaitkan dengan geopolitik, geoekonomi adalah tiba-tiba kekuatan asing involved dalam sebuah gerakan separatisme di negeri ini. Tiba-tiba, tentu relatif, tetapi urusan dalam negeri kita, ada keterlibatan asing yang tiba-tiba ingin ikut mencampurinya, satu skenario. Skenario yang lain, ada sengketa teritorial di negeri kita ini yang connected to, yang berkaitan dengan permasalahan sumber daya alam, energi misalnya. Itu skenario yang lain.
Ada juga skenario yang perlu kita pikirkan. Ada tekanan asing yang disertai kehadiran kekuatan militer mereka, untuk memaksakan kehendaknya yang berkaitan dengan sumber daya alam. Kalau tadi sengketa teritorial, dan teritori itu ada sumber alamnya. Kalau ini kepentingan atau kehausan akan energi bisa saja menimbulkan benturan kepentingan dengan negara kita. Tentu saja skenario ini bisa kita perbanyak, bisa kita tambah. Yang ingin saya kedepankan adalah menghadapi skenario seperti itu apa respons strategis kita, aksi-aksi kita sebagai negara untuk sekali lagi mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Indonesia.
Pertama-tama, kita tentu harus memilih opsi ketika ancaman itu datang, ketika sengketa itu terjadi. Opsi yang tersedia pada prinsipnya ada dua. Apakah kita untuk mencapai tujuan, memilih cara-cara politik, cara diplomasi, atau kita memilih instrumen militer sebagai cara untuk mencapai tujuan alias kita melakukan perang. Itu adalah opsi yang ada pada kita. Tentu, pertimbangannya mesti lengkap untuk memilih opsi mana yang dipilih oleh sebuah negara. Saudara bisa menjabarkan sendiri nanti.
Yang kedua, masih berkaitan dengan opsi. Tidak bisa serta-merta seorang Panglima TNI mengatakan, “Ya, kita perang saja.†Saya pun sebagai Presiden ada mekanismenya. Presiden bila menyatakan perang mesti mendapatkan persetujuan DPR. Presiden dalam menggunakan kekuatan militer mesti mendapatkan persetujuan DPR. Ada satu political circumstances yang mesti dicermati. Ada judgement, ada rational yang dimiliki seorang Presiden, mana yang dipilih untuk yang paling baik mencapai tujuan atau kepentingan kita.
Yang ketiga, untuk diingat. Sekali kita memilih opsi perang misalnya, harus dimengerti anggaran dan logistik perang yang diperlukan. Tersediakah di negeri tercinta ini anggaran yang tidak sedikit termasuk logistiknya untuk membiayai peperangan itu, pertempuran, prajurit-prajurit kita, dan satuan-satuan yang maju ke medan laga? Bagaimana kaitannya dengan prioritas yang lain untuk kesejahteraan rakyat, untuk pendidikan, kesehatan, dan sebagainya? Mana yang kita pilih?
Lantas untuk diketahui,sekali perang dilakukan maka mesin perang harus terus bekerja. Logistik harus tersedia untuk membiayai peperangan itu, entah sebulan, entah setahun, entah dua tahun, tiga tahun, dan sebagainya. Ada satu buku yang menarik yang ditulis oleh oleh Stiglitz. Stiglitz sendiri sebetulnya seorang ekonom yang menulis buku yang laku yaitu “Globalization and Its Content†dan yang terakhir, setelah itu menulis buku “How To Make Globalization Workâ€. Itu disukai buku itu karena Stiglitz tidak percaya seratus persen pada mekanisme pasar. Stiglitz menganjurkan, terutama negara-negara berkembang, agar peran pemerintah jangan ditinggalkan meskipun urusan ekonomi. Tetapi yang ditulis buku yang terbaru barangkali, the latest book berjudul “The Three Trillion Dollar Warâ€. Konon menurut Stiglitz, biaya/ongkos perang di Irak dengan segala macamnya, di Amerika, di Irak sendiri dan lain-lain itu ongkosnya US$ 3 trilyun. Kalau dirupiahkan berapa itu. Hampir Rp. 30 ribu trilyun. Berarti 27 kali APBN kita dengan harga yang konstan sekarang ini. Besar sekali. Kita masih ingat ketika kita beroperasi di Aceh, di Maluku, Maluku Utara, Poso, berapa uang negara meskipun tidak sebesar ini. Tapi kalau peperangan bisa dibayangkan, kalau artileri kita menembak satu jam berapa pucuk, berapa truk, berapa ton air force kita, kapal-kapal perang kita, bahan bakar kita, ransum tempur, dan sebagainya. Ini juga salah satu pertimbangan apakah kita dalam memilih opsi yang tadi .
Yang keempat pertimbangan kita, bagaimana dengan TNI kita, dengan kekuatan pertahanan kita, betul-betul siapkah untuk mengemban tugas itu? Adakah kita sudah memiliki contingensi yang berkaitan dengan skenario tadi? Siapa yang kita hadapi? Seperti apa imbangan atau rasio kekuatan perangnya, imbangan daya tempurnya, generasi sistem persenjataannya, dukungan ekonominya, dan sebagainya? Dan tidak kalah penting dalam satu strategic analysis kita juga harus tahu resiko dan berapa besar peluang berhasil dalam peperangan itu. Jangan miscalculate. Banyak sekali peperangan akhir-akhir ini yang boleh dikatakan miskalkulasi. Kadang-kadang salah tujuan, salah sarana, salah menilai yang disebut dengan center of gravity, dan sebagainya. Ada faktor lain ketika kita memilih bagaimana dukungan rakyat. Rakyat yang tentunya menjadi pilar dari yang setiap yang dilakukan di negara ini. Emosi mereka, rasio mereka, dan siapkah sebuah bangsa untuk berperang? Amerika kalah di Vietnam bukan karena kalah bertempurnya, kekuatan dan persenjataannya, prajuritnya, tapi antara lain karena akhir-akhir dari peperangan itu rakyat tidak lagi mendukung sehingga terjadi penurunan yang tajam dan akhirnya meskipun Amerika banyak menang pertempuran, dia kalah dalam peperangan di Vietnam.
Kita lihat bagaimana dinamika di Irak, di Afghanistan, dan tempat-tempat yang lain. Dukungan rakyat adalah kunci dalam konteks ini. Lantas masih ada elemen yang lain, yang keenam. Bagaimana dunia sendiri melihat konflik itu. Jangan-jangan kita ada treaty menyangkut tentang perdamaian dengan negara yang kita anggap lawan itu. Jangan-jangan ada resolusi konflik yang sudah kita perjanjikan untuk tidak buru-buru menggunakan kekuatan senjata dan sebagainya.
Saudara-saudara,
Karena pengambilan keputusan itu harus sistemik meskipun ada judgement, selalu ada resiko dalam pengambilan keputusan, tetapi proses berpikir itu harus dilewati sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Sekali kita pilih, kita jalankan, ya, itu yang terbaik. Kita yakini untuk mencapai tujuan dan sasaran.
Saudara-saudara,
Silakan dalam seminar ini kalau masuk dalam wilayah itu dipertimbangkan, dibahas dengan baik. Dengan demikian, makin melebar, makin meluas pemahaman kita tentang segi-segi pengambilan keputusan yang dilanjutkan dengan pemilihan strategi, kebijakan, dan tentunya rencana-rencana dan aksi dari peperangan itu.
Hadirin yang saya hormati,
Dari skenario yang bisa terjadi dan bagaimana kita merespons atas semuanya itu, maka bagian akhir dari pidato kunci saya adalah bagaimaan kita melihat ke depan. Lebih sekedar mengidentifikasi sejumlah skenario, lebih sekedar apa respons kita terhadap skenario-skenario tadi. Tetapi bagi para pengambil keputusan, para perumus kebijakan, para perencana, para Jenderal, para Marsekal, para Laksamana haruslah paham betul tentang semua sisi dari pertahanan negara kita. Dan terutama di abad 21 ini, yang saya anjurkan kepada Saudara semua, pertama-tama, ketika kita melihat masa depan hendaklah kita mengikuti terus-menerus kecenderungan dan perkembangan dunia untuk juga mengikuti tentang kemungkinan terjadinya konflik di abad 21 ini. Kita sering melakukan perkiraan ancaman, trap assessment, silakan dilakukan. Hanya saya ingatkan jangan kita keliru menggunakan mindset, menganalisis, mengasumsikan ancaman masa kini abad 21, cara pandang kita, mindset kita tidak boleh bertumpu pada situasi perang dingin, keliru. Pada masa empat tahun ini saja ketika saya sedang mengemban amanah memimpin bangsa dan negara. Kita telah melakukan berbagai perubahan berkaitan dengan kemitraan dan kerja sama kita dengan negara-negara lain. Paling tidak pada era saya yang dulunya tidak dekat, pernah kita memiliki tensi dengan negara-negara itu, sekarang kita telah membangun dengan yang disebut kemitraan strategis, strategic partnership, misalnya Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok, Indonesia dengan Rusia, Indonesia dengan Jepang, Indonesia dengan Korea Selatan, Indonesia dengan Australia, Indonesia dengan Brazil. Itu yang berupa strategic partnership, belum yang comprehensive partnership karena kita menganut all direction foreign policy tetap bertumpu pada politik bebas aktif. Tetapi meskipun kawan kita banyak hampir semua kawan kita selalu ada. Kemungkinan benturan kepentingan di antara kita dengan mereka sebagaimana yang saya gambarkan realitas dan kecenderungan dunia abad 21 ini. Mari kita ikuti trend dan perkembangan ini.
Yang kedua, saya ingin kita, mulai dari Menteri Pertahanan, Panglima TNI, BIN, dan semua jajaran untuk terus memutakhirkan, melakukan updating terhadap kebijakan dan strategi pertahanan. Contingency plan yang selalu kita miliki, doktrin, dan lain-lain. Jangan kita keliru menggunakan doktrin, manual, juklak, dan sebagainya karena corak peperangan pertempuran terus berubah dari masa ke masa.
Yang ketiga, saya juga menganjurkan memelihara kesiagaan militer kita, military readiness. Training, exercise menjadi sangat penting, pengerahan cepat, rapid deployment, menjadi sangat penting kemana pun, kapan pun. TNI harus siap diterjunkan. Diterjunkan dalam arti dikerahkan ke medan tugas. Bukan hanya PPRJ tetapi juga satuan-satuan yang lain.
Yang keempat, kita ikuti perang menjadi kompleks. Lihat itu Irak, Afghanistan. Kita harus siap, tidak lagi perang selalu simetris, tidak lagi perang selalu konvensional, dengan cara-cara yang reguler. Justru itulah makna keamanan dan pertahanan rakyat semesta dengan mengambil pelajaran dari apa yang banyak terjadi di belahan dunia ini, dan ingat teknologi selalu ada limitnya, batasnya. Memang kalau kita mendalami revolution in military affairs, RNA, yang dikembangkan lima belas tahun terakhir ini biasanya kita mengembangkan doktrin, strategi, taktik, untuk sebuah peperangan modern yang driven by technology. Itu RNA, termasuk information and communication technology. Yang terjadi di Irak dan Afghanistan beyond RNA. Bom bunuh diri bisa memporak-porandakan, men-disrupt, bisa melakukan disorganisasi terhadap perencanaan, terhadap aktivitas peperangan ataupun pertempuran. Kita harus siap untuk masuk ke wilayah itu.
Yang kelima, kembali pada level politik karena pengambilan keputusan politik untuk perang berada pada level politik, domain politik. Siapa? Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat. Di situ inti dari Konstitusi kita meskipun dalam praktek TNI, dalam hal ini Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, KSAD, KSAL, KSAU, tentu kita libatkan. Kalau seorang Presiden menyatakan perang, hampir pasti Pejabat-pejabat teras ini berada di situ. Tetapi Konstitusi mengatakan bahwa Presiden menyatakan perang, Dewan Perwakilan Rakyat harus memberikan persetujuan terhadap perang itu. Bagi kita untuk diingat perang itu mahal. Artinya kalau kita memilih, bangsa ini memilih, pilihan kita untuk keutuhan dan kedaulatan negara perang, ya, kita harus tahu tentu ada pergeseran, alokasi anggaran untuk kepentingan yang lain. Itu cara berpikir yang rasional. Dan oleh karena itu, kalkulasinya harus betul-betul tepat.
Yang lain yang ingin saya serukan adalah kita semua tahu bangsa Indonesia cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan. Kita semua tahu perang itu kelanjutan dari politik dengan cara lain. Kita semua tahu perang itu jalan terakhir jika tidak ada cara yang lain. Kita semua tahu. Tetapi bagaimana secara sistemik kita bisa mencegah. Tidak bisa begitu saja negara kita dikerjai oleh siapapun. Oleh karena itu, kita harus memiliki standing arm forces yang cukup, kita harus punya minimum essential force yang cukup. Dan untuk memelihara itu kita harus memiliki minimum essential fund yang cukup yang ada dalam anggaran pertahanan kita. Paling tidak kalau kita memiliki kekuatan seperti itu dengan sistem kita bisa melakukan mobillisasi dalam waktu yang tidak terlalu lama dan kita memiliki satu contingency, lantas memiliki kesiagaan, kapabilitas yang tinggi, maka menjadi bermakna kekuatan pangkal yang kita bangun dan kita pelihara itu.
Yang ketujuh, kita pikirkan juga, kita juga mesti memiliki kemandirian atas apa yang bisa kita sediakan sendiri. Kita tidak ingin dan tidak boleh terjadi. Indoneisa masih mengimpor entah amunisi, entah persenjataan, entah peralatan, entah perlengkapan yang bisa kita bikin sendiri. Bukan hanya memalukan tetapi juga dangerous. Oleh karena itulah, industri-industri pertahanan kita harus terus kita tingkatkan, darat, laut, udara. Tidak cukup hanya dengan pendekatan bisnis semata tapi juga dengan investasi jangka panjang. Di situlah yang harus kita olah untuk memenuhi kepentingan dua-duanya. Kalau kita harus terpaksa membeli sistem persenjataan dari negara lain, pesawat tempur, kapal tempur, ran tempur untuk AD. Pastikan ada scheme lain, misalkan ada transfer of technology, ada joint production, no coditionalities, tidak ada persyaratan-persyaratan politik sebagaimana yang kita alami dulu ketika kita mengalami embargo yang panjang yang, alhamdulillah, tahun 2005 bisa kita lepaskan embargo itu. Tapi sengsara betul. Kita menangani tsunami, the biggest military operation more than war, operasi militer selain perang. Terbesar itu di Aceh. Negara lain tidak pernah sebesar itu. Kita susah karena embargo spare parts dan lain-lain. Disitulah kita fight dan akhirnya dengan kerja sama kita, kita sekarang bisa bebas mengadakan senjata dari mana pun senjata itu untuk keseimbangan sambil mendorong kemajuan industri-industri nasional kita.
Dan yang terakhir yang saya anjurkan, saya mintakan kepada jajaran perancang pertahanan, perumus kebijakan, dan jajaran TNI adalah agar Saudara memiliki kemampuan untuk melakukan strategic analysis, melakukan olah yudha. Agar bisa melakukan strategic analysis, ya, mengerti what’s going on di dunia ini, di kawasan ini. Dengan demikian , perkiraan Saudara, analisis Saudara akan terus tepat.
Inilah isu-isu utama yang berkaitan dengan pertahanan negara Republik Indonesia abad 21 terutama yang berlingkup pada menghadapi ancaman dengan pilihan instrumen militer sebagai sarana untuk mencapai tujuan dengan sejumlah isu, proses, mekanisme, faktor yang telah saya sampaikan tadi.
Saudara-saudara,
Peserta seminar yang saya hormati,
Saya berharap dengan apa yang saya sampaikan tadi meskipun sangat singkat dalam arti hanya garis-garis besarnya tapi saya yakin dengan pengetahuan, dengan pengalaman, dengan wawasan yang Saudara miliki bisa dikembangkan lagi sehingga di akhir seminar meskipun seminar ini supercepat. Mestinya tiga hari seminar dengan lingkup pertahanan negara Republik Indonesia ini. Ini kalau satu hari memang bisa dibayangkan tantangannya. Tapi mudah-mudahan dengan hikmah Ramadhan bisa mendapatkan barokah, pencerahan, menjadi terang jiwa kita, menjadi positif pikiran kita, menjadi optimis sikap kita.
Itulah, Saudara-saudara. Saya mengucapkan selamat berseminar. Saya berharap seminar ini bisa membuahkan hasil yang baik untuk ditindaklanjuti nantinya. Apapun yang dihasilkan seminar, tolong saya diberi tahu agar jajaran pemerintah bisa menindaklanjutinya, dan yang non pemerintah bersama-sama mengelola masalah yang sangat penting ini, pertahanan negara kita di abad 21 ini.
Sekian, Saudara-saudara.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Biro Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Mensesneg Bidang Dukungan Kebijakan,
Sekretariat Negara RI