Belajar Manajemen Krisis Melalui Kopi Darat PR Rembuk #6

 
bagikan berita ke :

Kamis, 06 Februari 2020
Di baca 131 kali

“Dibandingkan virusnya, lebih berbahaya informasinya, terutama yang hoaks yang banyak beredar,” ucap Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Widyawati mengutip pesan Menteri Kesehatan pada acara Kopi Darat PR (Public Relations) Rembuk #6. Acara yang dihadiri praktisi PR dari berbagai kementerian/lembaga ini, diselenggarakan Asisten Deputi Hubungan Masyarakat (Asdep Humas) Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) di Aula Serbaguna Gedung III Kemensetneg, Kamis (6/2). Kopi Darat PR Rembuk #6 mengangkat tema “Strategi Komunikasi dalam Manajemen Krisis”.

Sesuai arahan Presiden RI, Humas  Kementerian dan  Nonkementerian agar terus meningkatkan kapabilitasnya guna memiliki kecepatan dan kepekaan dalam merespon dan memberikan informasi kepada publik.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan (Dephublemmas) Kemensetneg, Dadan Wildan  mengatakan bahwa Kopi Darat PR Rembuk #6 relevan terhadap isu strategis yang tengah dihadapi, yakni corona virus.

“Saya berharap pertemuan ini dapat membawa manfaat praktis dalam meningkatkan kapabilitas pengelola komunikasi publik dan menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk terus meningkatkan efektifitas komunikasi publik,” kata Dadan.

Sebagai salah satu narasumber Kopi Darat PR Rembuk, Pakar PR, adalah Maria Wongsonagoro menyampaikan bahwa pertemuan rutin ini beranggotakan para praktisi PR Indonesia. Selain itu, kopi darat juga  menjadi ajang berbagi pengalaman untuk praktisi PR dalam menghadapi isu-isu hangat terkait dunia ke-PR-an.

Dalam diskusi yang dipandu Asdep Humas Kemensetneg, Eddy Cahyono Sugiarto, Widyawati memaparkan tentang pengelolaan manajemen krisis terkait isu Virus Corona yang dilakukan oleh Kemenkes. Mulai dari perkembangan berita di berbagai media massa sampai berita hoaks yang muncul dan cara penanganan isu tersebut.

“Jadi kami pelajari dulu analisis situasinya, penyebarannya gimana, tujuannya buat apa. Corona virus itu apa, dia siapa sih? Dia gimana sih? Kemudian kami cari audiensnya yang primer yaitu masyarakat yang baru berpergian. Kemudian yang sekunder yaitu WNI dan petugas yang terlibat, lalu yang tersier, lintas program yaitu beberapa kementerian dan lembaga yang kami gandeng erat supaya kami keluar dengan sumber yang benar,” kata wanita yang akrab disapa Wiwid. Wiwid juga mengingatkan pesan Menkes sebagaimana telah dikutip di atas bahwa dibanding virusnya, lebih berbahaya informasinya, terutama hoaks yang banyak beredar tentang Corona.

Sejalan dengan Widyawati, Plt. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah menyampaikan untuk selalu memantau isu-isu yang berkembang, menginformasikan isu dengan baik, dan selalu membangun jaringan dengan baik melalui media. “Berdasarkan pengalaman dalam menjalankan fungsi kejubiran, kriteria yang diperlukan adalah kita harus selalu well informed, dan konektif. Kita sensitif terhadap perkembangan isu, membangun jaringan yang baik dengan media dan rekan kerja serta menggunakan media komunikasi yang sangat dinamis saat sekarang,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Faiz ini juga memaparkan kesulitannya menangani isu di tengah pesatnya media-media dalam menyampaikan informasi. “Cepatnya pemanfaatan media sosial menyebabkan kita juga kejar-kejaran dengan informasi. Di situlah fungsi kita untuk meluruskan berita yang terkadang tidak proporsional atau tidak tepat atau bersifat sensasional, yang sangat mudah dilemparkan melalui media sosial ke publik,” pungkas Faiz.

Sebagai  founder dari PR Rembuk sekaligus Konsultan PR, Maria Wongsonagoro. menjelaskan bahwa penanganan krisis secara efektif memiliki syarat 3 in 1. “Persyaratan penanganan krisis itu ada 3, 3 in 1. Pertama adalah strong leadership, kepemimpinan itu harus kuat, kalau tidak akan lemah sekali komunikasinya. Kemudian The right governance structure, maksudnya panduan komunikasinya, tata caranya harus ada. Begitu krisis terjadi harus ada panduan dan dari hari ke hari itu diperbarui dengan perkembangan krisis itu. Kemudian, yang ketiga adalah competent team, tim yang kompetensinya cukup untuk menangani krisis. Kalau salah satu tidak ada, penanganan krisis akan lemah,” ucap Maria.

Usai acara berakhir, salah satu peserta mengungkapkan bahwa acara Kopi Darat PR Rembuk #6 ini acara yang bagus. “Acara Rembuk Nasional ini sudah bagus sekali, karena kita sebagai pihak yang diberikan tanggung jawab untuk memberikan komunikasi pada publik, mendapatkan pengetahuan yang terkini terkait isu-isu nasional,” tutur Masluhin Hajaz. (TIA/11-Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
1           0           0           0           0