Mata Pelajaran Muatan Lokal di Sekolah Membantu Pelestarian Budaya di Indonesia?

 
bagikan berita ke :

Senin, 19 Februari 2024
Di baca 698 kali

Foto Cover: BPMI Setpres


 

Pendidikan di Indonesia telah mengalami transformasi yang signifikan dengan perubahan kurikulum dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka. Tujuan utama dari perubahan ini adalah untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan mempersiapkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi di tingkat global (Sari, Sunendar, dan Anshori, 2023). Perubahan tersebut menjadi sorotan dalam dunia pendidikan Tanah Air dan memunculkan sejumlah aspek yang diarahkan untuk mengatasi tantangan masa depan.

Dalam konteks ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengakui bahwa perubahan kurikulum tersebut membawa dampak positif terhadap pengembangan pendidikan nasional. Pengenalan Kurikulum Merdeka menjadi langkah signifikan dengan adopsi pendekatan holistik dan adaptif untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam menghadapi dinamika global (Salim, 2023).

Salah satu aspek yang menonjol dalam perubahan ini adalah dukungan terhadap pengembangan mata pelajaran muatan lokal. Kurikulum Merdeka memberikan ruang lebih besar bagi keberagaman budaya dan potensi lokal di setiap daerah (Ali dan Mulasi, 2023). Langkah ini, menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, bertujuan untuk memperkuat identitas budaya dan nilai-nilai lokal dalam konteks pembelajaran.

 


Foto: BPMI Setpres

 

Peran sekolah dalam pengembangan mata pelajaran muatan lokal menjadi sangat sentral dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Sekolah diharapkan menjadi pusat penyelenggaraan pendidikan yang mampu menggali serta mengembangkan potensi lokal siswa (Nurasiah, dkk., 2022). Buku Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka menjadi pedoman utama bagi lembaga pendidikan untuk mengoptimalkan perubahan ini.

Pengembangan muatan lokal bukan sekadar langkah formal dalam kurikulum, melainkan suatu inisiatif yang mencakup penentuan jenis-jenis muatan lokal untuk mendukung pelestarian budaya di Indonesia (Amaliah, 2016). Direktorat Pembinaan Kebudayaan dan Peningkatan Mutu Sekolah, sebagai lembaga yang berperan aktif dalam mengawal implementasi Kurikulum Merdeka, telah melakukan identifikasi menyeluruh terhadap berbagai jenis muatan lokal. Dalam kajian mereka, muatan lokal tidak hanya dibatasi pada aspek seni dan budaya, tetapi juga mencakup dimensi kearifan lokal (Marfai, 2019).

Berbagai jenis muatan lokal ini disusun dengan teliti, mencakup muatan lokal berbasis seni dan budaya yang menggali potensi kreativitas siswa dalam berbagai ekspresi artistik. Sementara itu, muatan lokal yang fokus pada kearifan lokal memberikan penekanan pada pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai, tradisi, dan kearifan yang melekat pada budaya Indonesia (Musfiqon, 2016).

Penting untuk dicatat bahwa pengembangan muatan lokal tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah. Guru, orangtua siswa, dan stakeholder pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting untuk menjadikan muatan lokal efektif dalam konteks pembelajaran. Keterlibatan aktif mereka, sebagaimana diungkapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, bukan hanya sebatas dukungan, melainkan menjadi faktor kunci keberhasilan.

 


Foto: BPMI Setpres

 

Partisipasi guru dalam proses pengajaran muatan lokal menjadi pendorong utama dalam mengeksplorasi dan mengembangkan potensi siswa dalam memahami dan menghayati nilai-nilai budaya (Saputra, dkk., 2023). Orangtua siswa berperan sebagai mitra dalam mendukung proses pembelajaran di rumah, menjembatani antara lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari siswa (Megiati, 2016). Sementara itu, stakeholder pendidikan, seperti masyarakat lokal dan pihak terkait lainnya, memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memperkaya muatan lokal (Rohani, 2021).

Melalui serangkaian perubahan dan kolaborasi ini, diharapkan pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi wahana transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi medium yang memperkaya dan memelihara kekayaan budaya bangsa. Dengan terus menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, pendidikan Indonesia diharapkan dapat terus melangkah maju, memastikan bahwa setiap generasi siswa tidak hanya terampil secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman pengertian terhadap identitas dan warisan budaya bangsa, sesuai dengan tuntutan global yang semakin kompleks.

 

Sumber Referensi:

Ali, R., & Mulasi, S. (2023). Transformasi Kurikulum Merdeka: Pengembangan Muatan Lokal untuk Meningkatkan Identitas Budaya. ISTIFHAM: Journal Of Islamic Studies, 219-231.

Amaliah, D. (2016). Pengembangan Muatan Lokal Sebagai Salah Satu Strategi Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (Mea). Jurnal Pendidikan Ekonomi Indonesia, 1, 419-613.

Marfai, M. A. (2019). Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal. UGM PRESS.

Megiati, Y. E. (2016). Pemberdayaan Komite Sekolah: Kajian Konsep dan Implementasinya. SAP (Susunan Artikel Pendidikan), 1(2).

Musfiqon, H. M. (2016). Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Kurikulum 2013. Nizamia Learning Center.

Nurasiah, I., Marini, A., Nafiah, M., & Rachmawati, N. (2022). Nilai Kearifan Lokal: Projek Paradigma Baru Program Sekolah Penggerak Untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Jurnal Basicedu, 6(3), 3639-3648.

Rohani, I. (2021). Peran Humas dan Partisipasi Masyarakat dalam Meningkatkan Mutu Lembaga Pendidikan. An-Nafah: Jurnal Pendidikan dan Keislaman, 1(1), 12-20.

Salim, N. A. (2023). Revolusi Pendidikan: Menavigasi Era Baru Dengan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Academy of Education Journal, 14(1), 171-179.

Saputra, A. M. A., Tawil, M. R., Hartutik, H., Nazmi, R., La Abute, E., Husnita, L., & Haluti, F. (2023). Pendidikan Karakter Di Era Milenial: Membangun Generasai Unggul Dengan Nilai-Nilai Positif. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.

Sari, F. I., Sunendar, D., & Anshori, D. (2023). Analisis Perbedaan Kurikulum 2013 Dan Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 5(1), 146-151.


 

IDENTITAS PENULIS

Penulis  : Ruzaini

Profesi  : Guru

Instansi : SDS Aisyiyah Bengkalis

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
42           0           0           0           0