Pembelajaran (Seharusnya) Menyenangkan

 
bagikan berita ke :

Jumat, 09 Maret 2018
Di baca 67 kali

 

oleh: R.H. Bambang B. Nugroho

(Widyaiswara pada Pusdiklat Kemensetneg)

 

Lebih dari tiga dekade lampau, Malcolm Knowles, seorang peneliti dan praktisi pendidikan psikologi klinis, mempublikasikan sebuah buku di ranah pendidikan orang dewasa yang disruptif pada masanya. Knowles berteori bahwa pembelajaran bagi sekelompok orang dewasa akan cenderung lebih berhasil bila mereka: (i) memahami alasan perlunya mempelajari sesuatu, (ii) mendasarkan proses pembelajaran pada pengalaman; (iii) memiliki otonomi untuk terlibat dalam proses pembelajaran, (iv) menyadari relevansi materi pembelajaran, (v) berorientasi lebih pada problem-solving, dan (vi) termotivasi dari dalam dirinya sendiri. Knowles menyebut enam asumsi di atas sebagai prinsip pembelajaran orang dewasa, atau bahasa kerennya andragogy (Knowles, 1980).

 

Beberapa dekade kemudian, jika kita cermati kebanyakan kurikulum hingga silabus pelatihan jaman now telah mengadopsi prinsip-prinsip pembelajaran Knowles tersebut. Bahkan, beberapa regulasi teknis di Republik kita ini justru mengesahkan penerapannya pada pendidikan dan pelatihan di sektor publik. Sebagai contoh, Peraturan Kepala LAN Nomor 17 hingga 20 Tahun 2015 yang masing-masing memberikan pedoman tentang Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat I hingga IV, secara gamblang mengedepankan pentingnya aplikasi metode-metode andragogi pada hampir setiap tahapan pembelajaran.

 

Sebagai rujukan motivasional dalam proses pembelajaran, menurut Wlodkowski (2010) bahwa proses pembelajaran itu seharusnya menyenangkan, dan motivasi internal pembelajar dewasa dapat dibangkitkan dengan beberapa strategi, diantaranya yang dianggap relatif ampuh adalah dengan strategi kompetisi dan pemberian penghargaan. Merujuk Wlodkowski, strategi kompetisi telah diterapkan dalam sebuah sesi pembelajaran Diklatpim Tingkat IV di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat), sementara strategi iming-iming penghargaan diaplikasikan dalam sebuah sesi onboarding Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) di lokus Perpustakaan.

 

Pada minggu kedua Maret tahun ini, dalam sesi pembelajaran Diklatpim Tingkat IV di Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), para peserta yang berjumlah 32 orang, merupakan pejabat eselon IV di lingkungan Kemensetneg, diposisikan sebagai aktor pembelajar dalam Mata Diklat Koordinasi dan Kolaborasi. Pada sesi awal pembelajaran, para peserta diberi otonomi secukupnya dan berdasarkan pengalaman profesionalnya diajak untuk melakukan diskusi dan game dalam format kelompok guna menemukenali dan mengatasi isu-isu krusial terkait koordinasi dan kolaborasi.

 

Para peserta Diklatpim Tingkat IV dihadapkan pada sebuah paradoks. Pada satu sisi mereka diharapkan dapat mencari tahu dan melakukan koordinasi-kolaborasi, sementara di sisi lain mereka sangat besemangat untuk berkompetisi dalam game the balloon production. Kelas dibagi dalam dua kelompok besar, dan masing-masing dipecah lagi dalam tiga peran yaitu Tim Klien, Produsen, dan Delivery. Setiap pemeran beradu kinerja.

 

Pada tahap pertama kompetisi hanya menghasilkan balon dalam kuantitas dan kualitas sangat minim. Setelah dilakukan koordinasi menyeluruh pada tahap kedua, aksi kolaboratif menghasilkan balon dalam jumlah berganda dan dengan fitur yang relatif sangat memuaskan. Pada akhir sesi pembelajaran mereka menyadari bahwa aksi-aksi koordinatif dan kolaboratif dimotivasi oleh kompetisi untuk memenuhi target ketika dihadapkan dengan keterbatasan waktu, sarana-prasarana, dan harapan para penerima layanan, dan bukan dimotivasi oleh kompetisi antar kelompok mereka sendiri.

 

Sementara itu, motivasi belajar para peserta onboarding 89 orang CPNS yang bertindak aktif dan didasari pemikiran kreatif, dipicu oleh penerapan metode pemberian penghargaan atas capaian mereka. Pada sesi onboarding di Perpustakaan Kemensetneg, para CPNS diberi keleluasaan penuh untuk berpartisipasi dalam games biblio battle dan book hunt, serta kuis yang masing-masing menawarkan hadiah-hadiah menarik. Game dan kuis dimaksud dilaksanakan setelah para peserta memperoleh penjelasan komprehensif mengenai layanan dan koleksi perpustakaan, serta kesempatan mempraktikkan pencarian koleksi menggunakan e-catalogue. Sekali lagi, waktu menjadi faktor utama dan lawan utama dalam berkompetisi. Pada sesi onboarding di Perpustakaan ini, pengetahuan dan keterampilan peserta diuji melalui metode penguatan motivasional berupa penghargaan atas aksi kreatif dan semangat mereka dengan hadiah-hadiah utama berupa pemberian buku-buku best-sellers.

 

Pada kedua lokus pembelajaran, baik mata diklat Kooordinasi dan Kolaborasi Diklatpim Tingkat IV maupun lokus Perpustakaan untuk onboarding CPNS, penerapan pola pembelajaran andragogi Knowles menjadi semakin ampuh ketika strategi motivasi belajar orang dewasa Wlodkowski juga diaplikasikan. Peserta yang berbeda usia dan tingkatan karirnya tersebut ternyata berkecenderungan termotivasi untuk learning to know dan learning to do mengenai substansi pembelajarannya masing-masing.

 

Mencermati kedua proses pembelajaran yang menyenangkan tersebut, kita sepatutnya berbesar hati bahwa dalam waktu dekat kita akan melihat para pembelajar dimaksud akan menerapkan pengalamannya untuk selalu learning to be menjadi koordinator dan kolaborator yang handal di unit kerjanya masing-masing.

 

Bacaan lebih lanjut:

Knowles, M.S. (1980). The Modern Practice of Adult Education: From Pedagogy to Andragogy. Chichago: Follet.

Wlodkowski, R.J. (2010). Enhancing Adult Motivation to Learn: A Comprehensive Guide for Teaching All Adults (3rd ed.). San Francisco: Jossey Bass.

 

Keterangan foto: Merumuskan new ways dalam berkoordinasi dan berkolaborasi untuk memenangi kompetisi dalam Diklatpim Tingkat IV

 

Keterangan foto: Game book hunt, berburu koleksi buku langka dan menarik di Perpustakaan dalam onboarding CPNS

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
4           0           0           0           0