Pemerintah mendorong ekosistem riset dan inovasi nasional yang terintegrasi guna mendukung agenda pembangunan yang dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sinkronisasi tersebut mencakup perencanaan pembangunan nasional yang dirumuskan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pelaksanaan riset yang dikoordinasikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta pengembangan sumber daya manusia dan pelaksanaan riset di perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam keterangan pers usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Sinergi dan Optimalisasi Pemanfaatan Riset dan Inovasi, di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta, Kamis (05/02/2026).
“Intinya adalah kita menghendaki segala sesuatu yang berkenaan dengan penelitian, dengan riset, dengan inovasi ini menjadi satu ekosistem yang terintegrasi dengan seluruh stakeholder (pemangku kepentingan), mulai dari Bappenas, yang merumuskan RPJPN, RPJMN, kemudian RKP yang harus dilaksanakan oleh setiap kementerian maupun lembaga, ini harus sinkron dengan proses penelitian, proses inovasi,” ujar Mensesneg.
Keberadaan ekosistem terintegrasi ini diharapkan dapat menghasilkan produk-produk yang dapat memberikan nilai tambah sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita berharap yang dihasilkan betul-betul produk-produk yang bisa memberikan nilai tambah kepada program hilirisasi, program industrialisasi, menambah growth ekonomi kita,” ujar Mensesneg.
Tak hanya berorientasi jangka panjang, penguatan riset dan inovasi juga diarahkan untuk menghasilkan solusi yang cepat dan aplikatif untuk menjawab permasalahan nyata yang ada di tengah masyarakat.
“Petunjuk dari Bapak Presiden untuk kita menajamkan penelitian-penelitian yang untuk bisa secepatnya membantu problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat. Salah satunya misalnya mengenai penanganan sampah rumah tangga, sampah lingkungan,” kata Mensesneg.
Mensesneg menekankan, penanganan persoalan ini dilakukan secara berjenjang mulai dari skala rumah tangga, lingkungan, hingga kawasan perkotaan dengan volume besar, termasuk melalui pengembangan program waste to energy.
“Supaya bisa diolah menjadi energi, harus dipilah antara sampah yang organik, sampah anorganik, dan seterusnya. Ini edukasinya juga penting, jadi penyelesaian sampah tidak sekadar bentuk kita membangun inseneratornya, tapi edukasinya juga menjadi salah satu kunci,” tandas Mensesneg.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan bahwa inovasi dan penguasaan teknologi merupakan fondasi utama untuk meningkatkan daya saing sebuah bangsa serta menjadi negara maju. Oleh karena itu, strategi pembangunan ke depan perlu memastikan kesinambungan antara perencanaan jangka panjang, kebijakan, dan implementasi di lapangan.
“Kita sepakat bahwa dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional akan merumuskan bersama dan juga secepat-cepatnya mengimplementasikan arahan Bapak Presiden untuk mengatasi persoalan bersama dan juga untuk mempercepat Indonesia menjadi negara yang maju,” ujar Menteri PPN.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya peran lembaga riset dalam memproyeksikan arah industrialisasi nasional berbasis sains dan teknologi sebagai penjabaran RPJPN dan RPJMN, sehingga dapat menghasilkan solusi dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan.
“Ini salah satu fungsi lembaga riset, baik ada di perguruan tinggi maupun ada di BRIN, dan kebetulan kami dengan Pak Mendiktisaintek selalu berkoordinasi, selalu bersinergi dan berkolaborasi dalam satu, untuk menyiapkan peta jalan riset dan inovasi nasional secara bersama-sama,” kata Arif.
Senada, Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan diluncurkan konsorsium riset yang akan mendorong kolaborasi, termasuk dari segi pendanaan maupun infrastruktur, antara BRIN, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya,
“Infrastruktur riset nanti kita akan jadikan sebagai sesuatu yang single saja di Indonesia, bisa diakses bersama oleh BRIN maupun perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Termasuk juga nanti kita akan membentuk kelompok-kelompok riset khusus terkait untuk menjawab konsorsium riset bersama antara BRIN dengan perguruan tinggi. Termasuk tadi untuk menjawab tugas-tugas dari Bapak Presiden terkait riset yang harus segera dilakukan dan implementatif,” kata Brian.
Turut hadir dalam rakor, antara lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, serta Wakil Menteri PPB/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard. (FID/UN – Humas Kemensetneg)