Pengantar Presiden pada Rapat Terbatas di Lokasi Pembangunan Rumah Hunian Danantara
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu.
Hari ini saya hadir di sini, saya diminta meninjau kondisi pembangunan rumah hunian yang dibangun oleh Danantara, sebagai inisiatif Danantara untuk membantu mempercepat pemulihan kondisi bencana di tiga provinsi. Saya kemarin sempat ke Tapanuli Selatan, dan hari ini saya kembali ke Tamiang yang merupakan salah satu kabupaten yang paling besar dampak bencana tersebut.
Dan, saya tahu, bahwa saya dapat laporan dari beberapa pihak, dari Mendagri, dari Gubernur, bahwa banyak kabupaten lain bertanya kok Presiden belum sampai. Saya minta maaf, saya belum bisa ke semua titik, tapi saya pilih atau saya disarankan hadir di tempat-tempat yang sedang ada kegiatan penting dan walaupun semua daerah pasti mengalami kesulitan yang sangat besar. Tetapi, saya sudah sampaikan ke Gubernur, Mendagri, nanti insyaallah saya coba tetap daerah-daerah yang dampaknya besar akan saya datangi, itu pertama.
Yang kedua, tentunya selamat tahun baru, tahun baru kita di daerah bencana. Saya kira inilah memang kewajiban kita, saya terima kasih semua unsur saya lihat turun ke lapangan. Saya juga terima kasih sebagian besar, kalau tidak hampir semua pejabat-pejabat dari semua K/L berinisiatif semuanya turun dan kita berbagi, berbagi daerah, berbagai titik untuk saling mengecek, memeriksa, mencari masalah. Kita datang sekali lagi bukan untuk kita ingin, kita ingin katakanlah sekedar untuk melihat, tapi kita datang melihat untuk mengetahui masalah, ya.
Kadang-kadang saya monitor ada suatu kecenderungan yang menurut saya kurang sehat dari beberapa pribadi-pribadi, komentator dan sebagainya, yang selalu melihat kegiatan bangsa Indonesia, kegiatan pemerintah dari sudut yang negatif. Jadi, kalau ada, saya pernah dengar ada kritik begini, untuk apa menteri datang ke tempat bencana hanya datang melihat. Saudara-saudara, serba susah. Menteri tidak datang dibilang tidak peduli, menteri datang ya masa menteri ikut macul, bukan itu. Pejabat datang, pemimpin datang, datang melihat apa kekurangan, apa masalah, apa yang bisa kita bantu, mana yang kita bisa percepat, kan begitu.
Saya datang ketemu Gubernur, Gubernur sampaikan kita butuh ini, kita itu. Pak, ada usul ini, ada saya tahu langsung saya bisa cek kan begitu ceritanya, ya. Jadi, ini ada tapi ya mudah-mudahan saudara saya, saya percaya dengan bukti. Jadi, saya sampaikan ke Saudara-saudara para pimpinan, para Menteri, para Kepala Badan, Gubernur semua, salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah siap untuk di…, tapi tidak boleh kita apa, tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat. Semua itu kita terima sebagai ya sebagai koreksi juga, enggak apa-apa. Walaupun itu fitnah, itu kalau kita tahu di hati kita bahwa itu tidak benar tapi itu jadi waspada bagi kita, ya.
Jadi, saudara-saudara saya percaya dengan bukti, evidence-based itu cara bekerja saya. Kalau Saudara perhatikan saya jarang kasih wawancara dengan pers, bukan saya tidak hormati pers, karena saya mengerti psikologi rakyat Indonesia, rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti, bukti. Kita sekarang dalam rangka membuktikan. Jadi, kalau ada menteri-menteri pejabat turun itu dia tidak turun untuk wisata. Dia datang, dia melihat, mencatat, mengerti mengambil keputusan, kan demikian.
Jadi, hari ini umpamanya Danantara membuktikan dalam delapan hari bisa membangun 600 hunian yang menurut saya ya cukup baik, saya koreksi sedikit. Saya tanya, bagaimana ini ya kan seng panas. Coba dipikirkan, kalau bisa kita kasih apa solusi, mungkin solusinya tidak usah mahal-mahal. Solusinya mungkin dari bahan-bahan lokal apa itu anyaman atau apa ya kan, dari ijuk atau dari apa dilapisi di bawahnya seng, tidak perlu barang bahan mahal atau hal-hal yang sangat sederhana. Mungkin ya cukup dengan bahan-bahan tekstil ditutup di bawahnya seng itu. Jadi, hal-hal semacam itu, itu nanti kreativitas daripada orang-orang lapangan. Tapi, yang fokus kita adalah bagaimana kita bisa mengurangi meringankan penderitaan rakyat kita, itu pikiran kita sebagai pejabat dan pemimpin.
Jadi, hal-hal yang apa itu nyinyir-nyinyir itu kita anggap sebagai katakanlah sebagai peringatan bagi kita, tapi kita tidak boleh terpengaruh ya. Sekali lagi, tidak datang, salah. Datang, dicari kesalahan juga, ya enggak apa-apa. Jadi, tugas kita, saya walaupun tidak sehari-hari sama saudara ya saya di pusat ya, saya berpikir bagaimana saya atasi ini, membantu Saudara di lapangan. Tetapi, sementara nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus kita urus secara nasional.
Jadi, Saudara-saudara, masih ada yang mempersoalkan kenapa tidak bencana nasional. Ya masalahnya adalah kita punya 38 provinsi, masalah ini berdampak di tiga provinsi, masih ada 35 provinsi lain. Jadi, kalau sementara kita tiga provinsi ini kita sebagai bangsa sebagai negara kita mampu menghadapi, ya kita tidak perlu menyatakan bencana nasional.
Tetapi, tidak berarti kita tidak memandang ini sebagai hal yang sangat serius. Nyatanya dari seluruh kabinet hari ini ada berapa menteri di sini ya kan, dua sedang di Aceh Utara, 10 menteri sedang di Aceh sekarang. Ada beberapa menteri lagi yang sedang di tempat lain coba dan juga kita masih hadapi beberapa lagi kabupaten di beberapa provinsi lain yang juga ada masalah.
Jadi, Saudara-saudara, kita memandang sangat serius dan kita akan habis-habisan untuk membantu ya. Kita sudah siapkan anggaran cukup besar untuk mengatasi ini. Tetapi, juga saya sudah dilaporkan oleh Pak Gubernur dan nanti saya akan bicarakan dengan beberapa pejabat lain mekanismenya, kalau ada pihak yang tulus ikhlas mau membantu ya kita jelas sebagai manusia, kita masa menolak bantuan, asal bantuannya itu jelas ya.
Jadi, tadi saya sampaikan kepada pihak yang memberi sumbangan silakan, monggo. Bikin surat, saya ingin menyumbang ini. Nanti kita dilaporkan ke pemerintah pusat, nanti kita yang akan salurkan. Kalau memang dia mau bantu, umpamanya ada diaspora Aceh di mana merasa terpanggil membantu di Aceh ya monggo, silakan, ya kan. Nanti kita salurkan. Ada diaspora Minang membantu apa itu ranah Minang, karena mungkin lebih banyak orang Minang ada di Jakarta mungkin ya daripada di Padang mungkin ya. Pak Doni juga orang Minang ini, enggak apa-apa nanti ya kan silakan nanti bantu. Mungkin ada juga di Sumatera Utara ada komunitas orang Batak di Jawa juga besar juga banyak silakan, dari luar negeri.
Kita kalau bantuan ikhlas dan tulus, nanti kita serahkan, nanti mekanisme kita serahkan mungkin apakah nanti Gubernur Provinsi Aceh, Sumatera Barat Sumatera Utara mungkin membuka rekening apa gitu kan, mungkin dana bantuan pascabencana dibuka. Yang mau kirim langsung silakan, dari dalam negeri memberi sumbangan silakan, ya kan.
Kita tidak menolak bantuan hanya mekanisme dan prosedurnya harus jelas ya kan dan harus ikhlas, karena kita mengalami pernah dibantu-dibantu akhirnya ujungnya ada juga ya kan yang menagih. Tapi, kita harus berpikir positif yang penting kita secepatnya bekerja untuk meringankan penderitaan rakyat kita, dimanapun itu tujuan kita.
Jadi, Saudara-saudara, saya terima kasih sama Danantara yang telah melakukan suatu pekerjaan yang saya lihat baik ya, ini membangun 600 hunian dalam waktu singkat itu suatu prestasi. Nanti kita tentunya, saya minta Danantara koordinasi dekat dengan BNPB dan pemerintah daerah, dengan Gubernur dan Bupati masing-masing supaya tidak tumpang tindih di mana ya. Nanti koordinasinya ada yang mau di titik ini jelas siapa yang bangun dan yang tadi mau titik terpencar siapa itu, silakan. Yang penting, nanti koordinasi yang ketat ya, tanya pemda, tanya gubernur. Gubernur menilai di mana yang lebih penting, tanya Bupati bagaimana BNPB supaya resources kita benar-benar bermanfaat, tidak tumpang tindih, tidak mubazir semuanya harus diarahkan, segera untuk membantu rakyat kita.
Walaupun menurut saya, saya juga sangat terkesan bahwa semua pihak telah bekerja dengan gemilang, dengan cepat ya. Jembatan yang biasanya kontraktor mengatakan dia butuh satu bulan kita bisa selesaikan 10 hari, ini kan suatu yang harus kita hormati juga ya, petugas-petugas kita di lapangan, prajurit-prajurit kita di mana-mana saya sampaikan apresiasi. Semua K/L harus tolong dinilai anak buahnya yang berbuat baik harus segera dicatat untuk kita nanti memberi penghormatan, memberi yang masih muda nanti dipercepat sekolah-sekolahnya, kariernya ya, yang sudah senior mungkin harus dikasih prioritas-prioritas di bidang lain.
Jadi, saya kira Saudara-saudara, itu ya. Saya terima kasih sekali lagi. Saya nanti minta koordinasi yang ketat karena tadi dilaporkan ke saya bahwa kebutuhan rumah seluruh tiga provinsi adalah sekitar 90 ribu ya kan, tiga provinsi yang rusak berat. Apakah yang 15 rbu nanti bagian dari 90 ribu itu, itu yang harus dibicarakan ya. Kemudian yang rusak ringan dan rusak menengah itu juga nanti penanganannya bagaimana, ya.
Saya kira demikian. Ya, saya juga minta perhatian bahwa kalau bisa sekolah-sekolah juga diperhatikan, sama puskesmas dengan rumah sakit-rumah sakit supaya bisa berfungsi secepatnya kembali.
Saya kira itu yang ingin saya sampaikan.