Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu.
Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Para Menteri Koordinator, para Menteri, Kepala Badan beserta Wakil yang hadir, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, para Penasehat Khusus Presiden dan Utusan Khusus Presiden, Jaksa Agung, Kepala BIN, Kapolri, Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan Darat, Laut, dan Udara yang saya hormati;
Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia yang saya hormati;
Gubernur Bank Indonesia dan Ketua OJK;
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati dan saya banggakan.
Pertama-tama, sebagai insan yang bertakwa, Marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa, bagi umat Islam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang memiliki sekalian alam atas segala karunia, kebaikan dan kedamaian yang masih diberikan kepada bangsa kita, atas napas dan kesehatan yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul pada siang hari ini dalam acara Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih untuk memaknai dua tahun pertama pemerintah yang kita jalankan.
Saudara-saudara sekalian,
Dua tahun telah kita lalui bersama, dua tahun telah kita bekerja bersama, dua tahun telah kita mengemban amanah dari rakyat kita, kita telah menghadapi berbagai tantangan. Saudara-saudara, lingkungan global pada saat kita menjalankan pemerintahan cukup menantang. Lingkungan global yang kita hadapi sekarang penuh dengan krisis, penuh dengan konflik, bahkan peperangan. Hampir di semua wilayah dunia kita terjadi perang, perang fisik, perang terbuka, tapi lebih dari itu terjadi juga perang dagang, perang ekonomi, perang tarif.
Saudara-saudara,
Kita berada dalam kondisi global yang ditandai oleh persaingan hegemoni dunia antara kekuatan-kekuatan besar. Saudara-saudara sekalian, kondisi global ini mau tidak mau akan memengaruhi semua negara, karena dunia kita sudah saking terintegrasinya, kita saling bergantung satu sama lain.
Saudara-saudara sekalian,
Di samping itu, di samping situasi global yang ditandai oleh persaingan hegemoni yang keras di bidang geopolitik, kita juga menghadapi akibat dari perubahan cuaca, sudah menjadi pengetahuan ilmiah bahwa perubahan cuaca ini mengakibatkan berbagai gejolak. Kita juga tidak bisa lepas bahwa kenyataannya kita berada dalam apa yang disebut the ring of fire. Kita menempati gugusan kepulauan yang merupakan bagian dari lingkaran api, terdiri dari gunung-gunung berapi, lempengan-lempengan kontinental yang secara teratur akan bergerak, yang mengakibatkan berbagai fenomena dan terus terang saja memberi tantangan kepada kita menghadapi bencana alam. Saudara-saudara, tantangan juga disertai oleh peluang. Walaupun kita berada di lingkaran api, lingkaran api ini juga menghasilkan tanah yang relatif subur, kemudian mineral-mineral yang sangat berharga. Inilah yang juga merupakan kekuatan nasional kita.
Saudara-saudara,
Inti daripada rapat paripurna ini adalah, sesungguhnya saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan saya kepada seluruh jajaran Kabinet Merah Putih. Saya sebagai pemimpin Saudara-saudara, saya sebagai yang diberi mandat oleh rakyat, saya merasa bahwa Saudara-saudara sebagai pembantu-pembantu inti saya dalam menjalankan tugas untuk bangsa dan rakyat, saya merasa bahwa Saudara-saudara telah bekerja dengan sangat keras. Saudara-saudara telah memberi apa yang Saudara bisa memberi dengan semangat. Saudara-saudara telah menghasilkan suatu kinerja yang menurut penilaian saya cukup membanggakan. Saya ingin ucapkan terima kasih atas kekompakan teamwork yang Saudara-saudara tunjukkan selama dua tahun ini.
Saudara-saudara,
Berhasilnya suatu organisasi sangat ditentukan oleh kerja sama tim, teamwork, kemampuan kerja sama itu yang menentukan. Daripada banyak orang cemerlang dan brilian tapi tidak bisa kerja sama, lebih baik orang yang biasa-biasa saja tapi bisa bekerja sama dengan baik. Itu pelajaran ribuan tahun peradaban manusia. Tapi, tentunya negara sebesar kita, negara yang hampir 300 juta, tentunya menghasilkan putra-putri yang terbaik. Saudara-saudara sekalian, melalui suatu dinamika alamiah, Saudara-saudara terpilih oleh dinamika, terpilih oleh alam, sehingga Saudara-saudara yang berada di hadapan saya sesungguhnya adalah putra-putri terbaik bangsa Indonesia.
Saudara-saudara sekalian,
Kita sebagai wujud nyata dari demokrasi Indonesia yang telah kita jalankan beberapa dekade, kita berasal dari latar belakang yang berbeda, dari partai-partai politik yang berbeda, dari ormas-ormas yang berbeda. Mereka yang tidak dari partai politik juga berasal dari sektor-sektor yang berbeda. Ada yang dari dunia akademisi, profesi yang berbeda-beda, tapi kita telah berjumpa dalam satu panggilan sejarah. Saudara-saudara bergabung di sini adalah panggilan sejarah. Saudara terpanggil untuk berbakti kepada negara dan bangsa dan rakyat Indonesia. Saudara-saudara sudah mengerti dan sudah paham bahwa mengabdi di bidang pemerintahan adalah sesungguhnya pengorbanan. Kehidupan pribadimu, kepentingan pribadimu, kau korbankan. Sedikit gerakan Saudara diawasi. Seluruh harta kekayaanmu diawasi. Setiap ucapanmu diawasi. Itulah risiko berbakti dalam bidang pemerintahan. Apalagi di zaman sekarang, di zaman teknologi digital yang begitu canggih. Teknologi yang sangat canggih, tapi juga bisa sering disalahgunakan. Dalam keadaan sekarang banyak teknologi dipakai sebagai senjata untuk membuat kekacauan, untuk membuat perpecahan.
Saudara-saudara sekalian,
Dalam kondisi ini, saya sekali lagi menggunakan kesempatan ini menyampaikan terima kasih saya sedalam-dalamnya. Dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, prestasi yang telah kita capai dalam dua tahun ini perlu kita banggakan, bukan kita sombong. Kita tidak boleh sombong, tapi kita tidak boleh rendah diri.
Saudara-saudara sekalian,
Ada ciri-ciri khas bangsa Indonesia. Mungkin karena kita terlalu lama dijajah, sering kita tidak bangga dengan prestasi kita sendiri, bahkan sering kita lebih hormat kepada prestasi orang asing daripada prestasi kita sendiri. Saudara-saudara sekalian, saya sekarang bangga menjadi pemimpinmu, saya bangga menjadi presidenmu, saya bangga telah memimpin pemerintah ini, karena dalam dua tahun kita telah bekerja dengan hasil yang nyata.
Saudara-saudara,
Kita diserang. Bangsa Indonesia selalu kalau bangkit, bangsa Indonesia diserang dengan keras, karena bangsa Indonesia sesungguhnya, sangat tidak berkenan berdirinya bangsa Indonesia bagi bangsa-bangsa tertentu di dunia ini. Dari sejak kita lahir, kita diganggu. Kenapa? Karena Indonesia ini, karena Nusantara ini sangat sangat kaya. Kekayaan kita telah dirampok bertahun-tahun, ratusan tahun. Saya sudah buktikan kepada Saudara-saudara dan bukan sekarang saya tidak perlu lagi ulangi, tapi data-data sejarah membenarkan bahwa Nusantara kita ini selalu menjadi sasaran, sasaran kekuatan-kekuatan negara-negara yang ingin mengambil kekayaan kita.
Saudara-saudara sekalian,
Kita menerima mandat dari rakyat dalam situasi dan waktu yang memaksa kita untuk menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan dengan berani. Kita tidak bisa lagi menghadapinya dengan terlalu naif atau terlalu berusaha untuk menyenangkan orang lain. Kita dipaksa sekarang untuk memilih menghadapi kesulitan, menghadapi kenyataan, yang intinya adalah menyelamatkan kekayaan bangsa dan rakyat Indonesia. Atau, kita meneruskan sistem yang mengakibatkan kekayaan Indonesia diambil ke luar negeri tahun demi tahun melalui segala praktik-praktik yang saya anggap penipuan. Bangsa kita ditipu, rakyat kita ditipu, pemerintah kita ditipu, para ahli hukum, para ahli pidana akan membenarkan. Coba, apakah ada pemimpin politik atau ahli hukum yang akan berdiri dan mengatakan bahwa penyelundupan itu bukan pelanggaran? Penyelundupan adalah ibarat menikam bangsa kita, menikam badan kita. Penyeludupan adalah usaha untuk membunuh ekonomi kita, membunuh ekonomi kita artinya membunuh bangsa kita. Penyelundupan ke dalam, apakah berupa penyelundupan narkotika, apakah berupa penyelundupan barang-barang yang akan membuat pabrik-pabrik kita tutup, atau penyelundupan keluar. Harta kekayaan kita diselundupkan, timah kita diselundupkan, emas kita diselundupkan, batu bara kita diselundupkan, kayu kita diselundupkan, BBM kita yang kita subsidi diselundupkan, pupuk kita yang disubsidi diselundupkan. Bagaimana bisa ada yang mengatakan bahwa sistem yang mengizinkan penyelundupan jalan terus, boleh kita pertahankan.
Saudara-saudara,
Inti yang ingin saya sampaikan, yang sudah berkali-kali saya sampaikan kepada Saudara-saudara, kita sekarang berada dalam kondisi harus survival. Kita harus bertahan, kita harus menyelamatkan kekayaan kita, kekayaan kita, sumber alam kita, itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat.
Saudara-saudara sekalian,
Kita berada dalam kondisi harus survive dan ini tidak hanya kita, banyak negara di dunia sekarang mengalami seperti kita. Dalam keadaan survival, yang utama adalah kepentingan nasional dan kepentingan rakyat. Karena itu, Saudara, sudah berkali-kali saya juga sampaikan di hadapan umum dan juga intern bahwa garis politik yang saya jalankan, garis politik luar negeri yang kita jalankan adalah tradisi yang kita waris, yang kita dapat warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, yaitu kita ingin menghormati semua negara dan semua kekuatan besar.
Saya sudah sampaikan garis politik luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Saya ingin menjadi the good neighbor, yang saya ingin jalankan adalah the good neighbor policy. Dari sejak awal bahkan sebelum saya resmi dilantik sebagai Presiden, saya masih jadi Menteri Pertahanan dalam kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo, saya mengikuti juga garis politik Pak Joko Widodo pada saat itu, kita ingin punya hubungan baik dengan semua tetangga kita. Saya keliling, saya mau kerja sama dengan mereka. Apa yang mereka minta, sebagian besar saya ikuti dan itu yang kita berusaha kita pegang teguh. Lebih luas dari region kita, wilayah kita, kita juga menjaga, sehingga kita bisa diterima. Kita tidak mau ikut blok manapun, kita tidak mau ikut pakta-pakta militer manapun. Kita hormati, kita tidak mau terlibat, tapi kita sesuai dengan Undang-Undang Dasar kita, kita anti imperialisme, kita anti penjajahan.
Demikian juga dalam garis politik saya dalam negeri, saya mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan kelompok. Karena itu, saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan. Saya, karena kesadaran saya bahwa kondisi global sekarang penuh kerawanan, karena kesadaran saya melalui pengalaman saya yang cukup lama di bidang keamanan, di bidang politik, di mana politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Kita harus koreksi diri, terutama dunia akademis kita, terutama profesor-profesor kita yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Salah satu kelemahan dari bangsa Indonesia adalah bahwa elite kita, elite kita terkotak-kotak dalam silo-silo sektoral, ini mungkin bersumber dari pendidikan kita. Politik, ekonomi, sosial, pertahanan tidak bisa dipisah-pisahkan. Sekarang mata uang jadi senjata, sekarang ekspor-impor jadi senjata, sekarang pangan menjadi senjata, beras menjadi senjata. Jadi, bisnis tidak bisa kita pandang hanya murni bisnis, tidak bisa. Nah, ini saya kira dalam jangka panjang saya berharap kita akan nanti perbaiki bahwa di ujungnya, pendidikan kita harus benar-benar integralistik, tidak bisa sektoral. Saya kira sektoral itu mungkin sampai di S1, [pendidikan] S2, S3 sudah harus lebih multidimensional.
Saudara-saudara sekalian,
Kenapa saya bicara seperti ini? Karena dunia sekarang, ya, di mana kita lihat hampir bisa dikatakan bahwa hampir tidak ada suatu international order lagi. Sekarang adalah politik berdasarkan kekuatan. Siapa yang kuat, dia akan survive. Yang tidak kuat, kita lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, dimana-mana, yang tidak kuat akan punah.
Jadi, Saudara-saudara, politik kita yang saya yakini haruslah politik persatuan nasional. Saudara-saudara, apa yang dicanangkan oleh Presiden pertama kita Bung Karno dulu dicemoohkan, tapi saya kira ada satu benang merah, yaitu keyakinan beliau, usaha beliau untuk selalu menjaga persatuan nasional. National unity, Saudara-saudara. Demokrasi kita menurut keyakinan saya sekarang semakin urgent untuk kita memelihara national unity, persatuan nasional. Perbedaan bagus, kompetisi perlu, saling kritik, saling koreksi sangat perlu, tapi di ujungnya kita harus menjaga persatuan. Kalau kita ikut demokrasi ala barat sekarang kita lihat, lihatlah televisi, lihatlah berita tiap hari, apa yang terjadi di Prancis, apa yang terjadi di Italia, apa yang terjadi di Eropa, tempat lahirnya demokrasi, yang mengajarkan kita HAM, kita lihat. Ini perlu kita sadari. Karena itu, inilah akibat dari politik yang saya jalankan. Koalisi kita besar, benar. Karena, saya ingin sebanyak mungkin kekuatan bersatu untuk menjalankan perbaikan kehidupan rakyat kita.
Saya tidak mau mengulang-ulangi, mengutak-atik yang sudah lewat. Negara sebesar kita, dinamika politik sebesar kita, pasti persaingannya keras, kursi terbatas. Kok ada yang senyum? Ini pemimpin partai ini sadar kursi terbatas, presiden hanya satu. Kita dituduh kabinet gemuk, iya kan, tidak efisien. Tapi, Saudara-saudara, saya ingatkan, negara kita hampir 300 juta. Negara kita fisiknya sebesar Eropa. Eropa itu 30 negara, ada 30 kabinet, ada 30 menteri keuangan, ada 30 panglima TNI, ada 30 jaksa agung, ada 30 kapolri. Indonesia satu kabinet, Saudara-saudara. Mana yang tidak efisien? Mana yang tidak efisien? Dan, kita mampu mengendalikan ada bencana alam, kita hadapi. Sumatra bagian utara kemarin habis-habisan kita turun. Gempa bumi, apa itu Krakatau, karhutla, kita kompak, kita hadapi. Kita tidak puas, kita belajar.
Tapi, Saudara-saudara, ternyata hasil penyelidikan kita di lapangan bahwa fenomena karhutla tidak semata-mata alamiah. Ada campur tangan manusia dan menurut saya harus kita sikapi dengan hati-hati, dengan teliti. Saya minta Kepolisian, Kejaksaan, Kementerian Kehutanan, dibantu TNI, dibantu intelijen untuk selidiki, karena ternyata banyak korporasi-korporasi ikut bertanggung jawab. Rakyat juga menangkap berbagai oknum yang sengaja membakar yang bisa kita anggap ini adalah terorisme lingkungan. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, karena apa yang mereka lakukan membahayakan kesehatan jutaan rakyat kita. Kita tidak boleh menganggap ini remeh. Kita akan sekarang masif menangani itu, tapi kita juga akan mengusut sampai tuntas. Dan, kali ini maaf, kita tidak bisa lagi bertindak dengan biasa-biasa saja. Kalau bukti sudah jelas kita akan bertindak, kita akan cabut semua izin perusahaan-perusahaan yang melanggar. Dan, bagi negara-negara tertentu yang suka menghina bangsa Indonesia, pada saatnya kita akan buka perusahaan-perusahaan.
Saudara-saudara,
Bangsa Indonesia bangsa yang santun, bangsa Indonesia bangsa yang sabar, bangsa Indonesia sering dihina, tapi bangsa Indonesia, percayalah, tidak mau diganggu terus menerus. Dan, bangsa Indonesia tidak bisa dihentikan, tidak bisa dihentikan. Berpuluh tahun sejak kita merdeka, bangsa-bangsa besar selalu intervensi, selalu ganggu kita, selalu menghasut perpecahan, selalu membiayai pemberontakan, kerusuhan, adu domba, divide et impera. DI/TII kah, Angkatan Perang Ratu Adil kah, RMS kah, PRRI Permesta kah, Pemberontakan 48? Indonesia kuat, Indonesia tahan. Kita sadar tahun ‘97, ‘98, banyak yang meramalkan dan banyak yang berharap dan banyak yang berulah. Sekarang, kita sudah tahu semakin yakin banyak yang terlibat. Mereka yakin Indonesia pecah tahun ‘99, tahun 2000, ternyata kita punya ketahanan nasional yang cukup kuat, Saudara-saudara sekalian.
Rakyat kita semakin pandai, pemimpin-pemimpin kita di ujungnya akan menjaga persatuan. Dan, itulah yang sekarang saya jalankan, politik saya adalah politik persatuan nasional. Saya ingin merangkul semua kekuatan, marilah kita tanamkan perbedaan-perbedaan kita. Marilah kita bersatu untuk kepentingan yang besar, kepentingan rakyat Indonesia hidup sejahtera, rakyat Indonesia hidup damai, rakyat Indonesia hidup dalam suasana Pancasila, suasana saling menghormati, saling mendukung, saling mengasihi. Kita berbeda agama, mari kita jaga semua agama. Kita berbeda suku, mari kita menjaga semua suku, kita hormati semua suku. Berbeda bahasa daerah, kita jaga semua adat, semua budaya daerah. Perbedaan adalah kekayaan, menghormati adalah mulia.
Saudara-saudara sekalian,
Kita jaga semua agama, kita jaga semua ras, karena sesungguhnya kita pun semua ini sudah campuran. Enggak ada satu suku yang murni satu suku. Saya kira lebih banyak orang Minang di Jakarta dari di Sumatra Barat. Saya percaya lebih banyak orang Batak di Bandung mungkin daripada di Danau Toba. Di Madura pun, sudah tidak hanya orang Madura di situ. Saudara-saudara, kita sudah menjelma yang melting pot sekarang ya Indonesia, melting pot. Di ruangan ini saya lihat campuran ini semua, iya kan? Betul, kan? Ada Pak Bahlil sudah jadi menko, mungkin menko pertama dari Fakfak. Betul? Menko pertama dari Fakfak. Menteri ESDM pertama dari Fakfak. Baik.
Jadi, Saudara-saudara, ini pembukaan agak panjang lebar, tapi perlu saya sampaikan. Di tengah kita lihat dunia penuh tantangan, kita masih bersyukur, masih bersyukur bahwa kita relatif dalam keadaan baik. Pangan kita terkendali, prestasi kita yang paling utama, antara lain kita swasembada pangan dalam waktu cepat. Saudara-saudara, pangan itu menentukan, karena sekarang pangan bisa menjadi senjata. Dalam keadaan krisis, kita punya uang pun mungkin kita tidak bisa beli beras dari negara lain. Kita bersyukur, kita sudah swasembada pangan di musim yang sangat sulit, ‘25-’26 kekeringan cukup panjang kita bisa swasembada. El Nino kita hadapi, nanti ada La Nina kita hadapi, kita sudah punya kontingensi-kontingensi.
Saudara-saudara,
Dengan swasembada pangan, relatif kita punya daya tahan. Harga minyak dunia naik dan akan naik. Kita bersyukur kita punya sumber-sumber energi lain yang cukup banyak, batu bara kita masih banyak, geotermal kita banyak. Yang terutama, kita bisa buat diesel solar dari tanaman. Biodiesel kita nanti akan sangat membantu kita. Kita sudah mencapai B-50 dan kita sekarang akan berjuang untuk etanol menjadi etanol E-50. Mungkin tahun ini kita baru bisa mencapai E-10. Mungkin dua tahun lagi kita akan berharap mencapai E-20, dan dua tahun sesudah itu kita berharap kita akan mencapai E-50. Pada saat kita E-50 dan B-50, kita insyaallah tidak perlu impor BBM lagi dari luar.
Saudara-saudara sekalian,
Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Sesudah ini, kita break sebentar dan kita persilakan kawan-kawan kita dari media untuk minum kopi dan saya berharap kopinya kopi dalam negeri. Sehingga, nanti rapat kabinet paripurna tersebut kita lanjutkan secara internal.
Intinya, Saudara-saudara, dalam pembukaan ini saya terima kasih dengan kerja keras Saudara-saudara sekalian. Sebagaimana saya sampaikan dari awal pemerintahan kita, tidak semua pemain akan kita mainkan di awal. Ada yang cadangan, ada yang pendukung, ada yang striker. Yang cadangan jangan frustasi, pada saatnya Saudara akan kita mainkan. Ibarat ini pertandingan sepak bola, kita sesungguhnya belum sampai ke half time. Apa itu half time? Kita belum selesai satu babak kan, kita ini lima tahun, jadi dua setengah tahun baru yang babak pertama, habis itu kita akan ke babak kedua. Jadi, ini masih babak pertama. Jadi, tenang-tenang aja para pemain cadangan yang saya sudah lihat gelisah. Kapan saya dimainkan?
Tapi, Saudara-saudara, saya sudah prihatin, di babak pertama sudah ada yang masuk rumah sakit. Nah, ini yang kita waspadai, saya minta Menteri Kesehatan, coba Menteri-Menteri, Wakil Menteri, Kepala Badan mungkin diundang check up yang lebih teliti lagi. Cari vitamin-vitamin yang bagus. Kalau Menteri Kesehatan tidak tahu, nanti dari saya daftar vitaminnya.
Saudara-saudara sekalian,
Kita telah bekerja dengan baik, tapi kita tahu tantangan masih sangat besar, rakyat kita berharap lebih banyak, kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak. Kita terus dihadang, ya kan. Ada apa itu, macam-macam lah MSCI, dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar.
Saudara-saudara sekalian,
Kita tidak takut, kita punya kekuatan, kita punya keberanian dan kita rela berkorban, dan kita tidak mengenal menyerah. Saudara-saudara sekalian, kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran, kita lebih hemat lagi nanti.
Terima kasih untuk pembukaan selesai, kita jeda 10 menit. Kawan-kawan media, terima kasih.