Puasa sebagai Candradimuka dalam Membentuk Karakter Bangsa

 
bagikan berita ke :

Rabu, 20 April 2022
Di baca 92 kali

Di minggu ketiga puasa Ramadan 1443 H, Rabu (20/4), Biro Sumber Daya Manusia menyelenggarakan Ceramah Keagamaan Islam dengan tema "Puasa sebagai Candradimuka dalam Membentuk Karakter Bangsa", yang disampaikan oleh  K.H. Ali M. Abdillah.

Bertempat di Musala Al-Ikhlas, Gedung SPAM Lantai 3 Kementerian Sekretariat Negara, Ceramah Keagamaan Islam ini disiarkan secara luar jaringan (luring) dan dalam jaringan (daring).

Kepala Biro Sumber Daya Manusia, Agussalim dalam sambutannya menyampaikan bahwa ceramah agama Islam pada minggu ketiga di bulan Ramadhan ini merupakan ceramah terakhir pada rangakaian ceramah yang diselenggrakan pada bulan Ramadan tahun ini dan mudah mudahan dapat menambah pengetahuan dan keimanan pejabat dan pegawai di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara.


Sebagai pembuka, Ustaz Ali menganalisa Surat Al Baqarah ayat 183.  “Firman Allah dalam Al quran Surat Al Baqarah ayat 183 tentang puasa jika dianalisa cukup menarik. Dalam ayat ini ada sedikit yg perlu diulas, supaya kita paham makna dan tujuan dari ayat ini. Ya Ayyuhalladzii na aamanu, hit top dari ayat ini adalah alladzii na amanu,  jadi yang mendapatkan perintah untuk puasa itu adalah orang-orang yang beriman, artinya ini sebuah kehormatan bagi kita semua. Ketika kita sebagai seorang hamba diberikan kemudahan melakukan puasa dan kegiatan-kegiatan Ramadan lainnya berarti kualitas keimanan kita ini yang di hit top oleh Allah SWT,” ujar Ustaz Ali dalam pembukanya.

Puasa Ramadan ini adalah sebuah sistem yang udah teruji, Sistem yang dimaksud dalam hal ini adalah puasa menjadi sebuah pembentukan karakter manusia untuk menjadi lebih baik. “Puasa ini sudah teruji dari para nabi-nabi terdahulu. Bahkan kalau kita lihat agama-agama lain, seperti Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi juga ada puasa, maka puasa Ramadan ini disyariatkan menjadi bagian salah satu rukun islam,” jelas Ustaz Ali.

Masih di Surat dengan ayat yang sama, Ustaz Ali menyampaikan inti dari Puasa di bulan Ramadan adalah pada bagian la ‘allakum tattaquun. “Ada apa di balik puasa? Jawaban pada bagian terakhir yaitu  la’ allakum tattaquun yang artinya harapan yang optimis, kalau puasa benar-benar dilaksanakan pasti akan menambah kualitas ketakwaan, kalau puasa ini dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan terbentuk karakter akhlakul karimah, kalau puasa ini dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan menjadi pribadi yang mudah menolong, saling menghormati perbedaan dan saling menyanyangi sesama umat manusia. Ini karakter dasar dari nilai nilai puasa,” ujar Ustad Ali.


Ustaz Ali menjelaskan juga bahwa puasa juga artinya menahan nafsu. Nafsu menurut Al Quran terdiri dari tiga, yaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah dan nafsu muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah. Nafsu amarah selalu mendorong manusia kepada perbuatan tercela,  nafsu Lawwamah selalu mengingatkan, menggugah, mengoreksi, dan menyalahkan perbuatan buruk. Terakhir, nafsu muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah. Nafsu ini senantiasa menyuruh pemiliknya untuk berbuat kebaikan dan taat kepada Allah Swt.

“Jika seorang hamba merasa kangen untuk beribadah, artinya nafsu-nafsu yang tercela sudah mulai menurun potensinya lalu munculah dominasi nafsu yang terpuji sehingga ketika Idul Fitri kita menjadi pribadi yang suci karena proses perjuangan 30 hari menjalankan puasa sebagai kawah candradimuka ini benar-benar akan membentuk karakter seorang hamba menjadi lebih baik, akan menjadi karakter bangsa yang mencintai bangsa dan negara,” ucap Ustaz Ali seraya menutup ceramah keagamaan ini. (ART/YLI, Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0