Sambutan Presiden pada “Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition”

 
bagikan berita ke :

Rabu, 03 Juni 2026
Di baca 20 kali

Di Sentul International Convention Center, Kabupaten Sentul, Provinsi Jawa Barat



Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu.

Yang saya hormati para pimpinan Badan Gizi Nasional;
Para Menteri Kabinet Merah Putih yang hadir di sini Menko Pangan, Menko Profesor Pratik, ya, Menko PMK, ya, PMK apa singkatannya? Terlalu banyak singkatan, ya, Indonesia ini;
Para, tadi para Menteri, Menko, oh, ada juga Pak Profesor Yusril, ya, kalau tidak salah, ya? Profesor Yusril ada, Menko Polkam ada, sorry sorry. Ini Menko-Menko semua;
Juga Kepala Lembaga Tinggi Negara, Ketua KPU yang hadir, ya, kemudian Wakil Ketua, ya, terima kasih;
Kepala Dewan Ekonomi Nasional Pak Luhut, Panglima TNI, Kapolri; 
Yang sekarang agak diwaspadai, Jaksa Agung, enggak kerja sampai pagi, ya, rupanya, ya;
Kepala Staf Kepresidenan, Kepala Badan Komunikasi, ya, para pejabat semua yang saya hormati;
Kepala Badan Gizi Nasional sebagai penyelenggara Saudari Nanik Sudaryati Deyang; Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Saudari Agustina Arumsari; Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Mayor Jenderal TNI Trenggono;
Para Kepala SPPG, para Ahli Gizi, para Akuntan, para Pengawas, para Relawan, para Mitra Yayasan, para Pengemudi, para Juru Masak yang saya hormati dan saya cintai. 

Saudara-saudara,
Terima kasih. Hari ini saya memang mengundang seorang motivator, seorang tokoh, tokoh pengusaha yang sukses dari Amerika Serikat, yang sudah menjadi sahabat saya. Saya minta beliau untuk bisa sedikit memberi mungkin pandangan beliau dan pendapat-pendapat beliau tentang kepemimpinan, tentang menghadapi kesulitan, menghadapi tantangan. Banyak pandangan-pandangan beliau sama dengan pandangan saya. Beliau berasal dari keluarga yang sangat miskin, dari kecil beliau menghadapi tantangan, berasal dari keluarga yang sangat miskin, kalau tidak salah orang tua beliau tukang parkir di Amerika Serikat. Tapi, beliau sekarang menjadi salah satu orang yang mungkin terkaya di dunia. Tapi bukan soal kaya materi atau uang, beliau juga salah satu yang memelopori pemberian makan kepada orang-orang yang kelaparan di seluruh dunia, tidak hanya di negaranya sendiri. Saya jumpa beliau karena beliau dengar tentang program kita.

Saudara-saudara,
Beliau pernah cerita, karena waktu beliau masih anak-anak, suatu, suatu malam, malam yang apa, malam perayaan bagi bangsa Amerika, ya, Thanksgiving, beliau, sekeluarga beliau itu tidak punya makan sama sekali di mejanya. Tiba-tiba ada orang yang datang, mungkin mendengar dari tetangga-tetangga bahwa keluarga ini tidak punya makan. Orang itu memberi makan, dan bapaknya waktu itu marah, mungkin malu, tidak mau terima makanan, tapi dipaksa untuk terima. Dari situlah beliau berkembang sampai pada saat beliau jadi orang, beliau selalu mikir orang-orang yang tidak makan. Jadi, di situ mungkin ada berjumpanya nilai, berjumpanya, berjumpanya pandangan, dan berjumpanya filosofi. Jadi, beliau akan saya minta bicara, saya tidak mau panjang lebar, karena Saudara-saudara saya kira sudah sering dengar pidato-pidato saya.

Saya kira benar, kan, kalian sudah sering dengar pidato saya? Kenapa? Sudah? Belum? Sudah. Ngarang kalian. Kenapa? Apa? Kalian mau saya bicara panjang atau pendek? Panjang? Kalau panjang, saya minum kopi dulu, ya. Ini ada kopi pakai susu, ada kopi hitam. Hati-hati kalau kopi hitam, lama sekali saya. Ini kopi hitam ini. Tapi tidak, saya tidak akan panjang lebar.

Saya hanya, satu, pertama, terima kasih Saudara-saudara bisa sampai di sini. Yang kedua, terima kasih lagi atas pengabdian Saudara-saudara selama ini di tempat-tempat yang jauh, di tempat-tempat yang susah. Terima kasih atas dedikasi kalian. Terima kasih atas kesetiaan kalian.

Saudara-saudara,
Konsep Makan Bergizi Gratis ini konsepnya adalah sangat sederhana. Bahwa kenyataan, kita menemukan bahwa sebagian dari anak-anak kita tiap pagi berangkat ke sekolah tidak makan pagi. Bahkan, di rumahnya jarang makan yang bergizi. Dan, hal ini telah menimbulkan sesuatu keadaan di mana hampir seperlima,  bahkan sebetulnya kalau perasaan saya mendekati seperempat, 25 persen. Dan,  ada bagian-bagian negara kita yang lebih dari 20 persen, mendekati 30 persen anak-anak kita kurang gizi. Yang terjadi adalah apa yang disebut stunting, sel otak kurang berkembang, sel otot kurang berkembang. Sel otak, otot, dan tulang kurang berkembang. Artinya, satu, dia tidak akan berkembang sesuai potensi dia sebagai manusia normal. Berarti, kemampuan dia di bawah normal. Berarti, yang kita menemukan dia kadang-kadang untuk lulus SD saja susah. Bahkan, mungkin dia tidak bisa mengganti pekerjaan bapaknya sebagai petani, sebagai buruh harian,  atau sebagai nelayan. Karena nelayan, buruh, petani butuh kekuatan fisik. Bagaimana dia mau punya kekuatan fisik kalau dia gizinya kurang?  Dan, ini saya temukan langsung pada saat saya keliling kampung-kampung waktu saya kampanye untuk jadi presiden.

Alhamdulillah, saya pernah kampanye lima kali. Lo, kenapa? Belum apa-apa kalian sudah ketawa. Lima kali, saya kalah empat kali. Kalian ketawa, ini orang Indonesia ini. Kalah itu sedih, tahu enggak. Sedih. Kalah, sedih, tapi bukan kalahnya. Kalah, tapi karena tugas suci untuk bangsa dan negara belum selesai, kita tidak menyerah kepada kekalahan. Jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Kita yang penting bangkit lagi dan meneruskan bekerja. Inilah, saya tadi katakan ada kesamaan dengan Saudara Tony Robbins ini, ya, kan.

Jadi, Saudara-saudara, saya ucapkan terima kasih. Tapi, saya juga sebetulnya hari ini, saat ini, sebetulnya saya sedih. Saya tidak bisa tutupi bahwa saya dalam keadaan sedih, karena saya terpaksa mengganti orang-orang yang saya sebenarnya saya sayangi, orang yang saya percaya, orang yang saya berikan tugas untuk negara yang sangat berat. Saya tidak mau banyak komentar, karena mereka-mereka ini menghadapi masalah penyelidikan hukum. Karena itu, saya tidak boleh banyak komentar, nanti seolah saya mempengaruhi. Tapi, yang jelas, mengganti mereka itu tidak ringan bagi saya. Tapi, saya ingat kata-kata almarhum ayahanda saya, Profesor Soemitro, pernah mengatakan kepada saya, “Prabowo, kalau suatu saat kau dalam keadaan bingung atau keadaan ragu-ragu, ingat, berpihaklah selalu kepada rakyatmu.”

Jadi, memang sudah beberapa saat, saya mendapat laporan. Ada kekurangan-kekurangan, ada kejanggalan-kejanggalan, ada indikasi-indikasi penyelewengan-penyelewengan. Dari pimpinan. Dalam setiap organisasi, selalu pengaruh pimpinan sangat, sangat besar. Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak benar, tidak kompeten, atau tidak jujur.

Jadi, Saudara-saudara, waktu saya mendapat laporan-laporan itu, saya panggil Kepala BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah) dan juga Kepala PPATK, dan saya panggil beberapa pejabat lain, saya tanya, “Tolong saya mendapat laporan tentang BGN.” BGN ini suatu program yang sangat-sangat penting bagi bangsa dan negara, menyangkut rakyat kita yang sedang perlu bantuan affirmative, bantuan berpihak. Dan, semua negara yang maju, yang saya lihat, negara-negara yang maju menggunakan makan untuk anak-anak sekolah, untuk mengurangi kemiskinan, untuk memperbaiki fisik dan kecerdasan generasi-generasi yang penerus. Jadi, program ini adalah sangat penting. Dan, program ini kalau berhasil akan menimbulkan suatu kemajuan yang sangat besar untuk ekonomi kita.

Saudara-saudara,
Kalau dapur-dapur berhasil, kalau program-program ini berjalan dengan benar, berarti ekonomi di desa akan hidup. Petani-petani akan meningkat penghasilannya. Dia tidak akan diganggu oleh tengkulak. Dia bisa mendapat suatu jaminan, produknya, hasil keringatnya bisa diserap, bisa dibeli, dan dia bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik.

Saudara-saudara,
Kalau nanti program ini berjalan di puncaknya, kita bisa memberi makan 80 sekian juta, 83-85 juta, 30 ribu dapur berjalan dengan benar dan baik, kita bisa menghasilkan 1,5 juta pekerjaan formal dan mungkin 1,5 juta lagi pekerjaan yang nyata di ekonomi pedesaan. Tiga juta lapangan kerja. Uang yang beredar di desa akan sangat besar.

Jadi, Saudara-saudara, saya yakin dan saya percaya program ini akan berhasil. Dan, Saudara-saudara adalah salah satu unsur utama dari keberhasilan program ini. Saudara-saudara yang telah kita rekrut, Saudara-saudara yang kita telah didik SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia), kita telah mendidik Saudara, merekrut Saudara, menggembleng Saudara, menanam nilai-nilai cinta tanah air, nilai-nilai pengabdian kepada negara dan bangsa, dan diberi tugas untuk memimpin dan me-manage dapur-dapur tersebut. Juga di sini, tadi dilaporkan ke saya, lima ribu mitra.

Coba angkat tangan, Mitra-mitra. Angkat tangan, Mitra-mitra. Biar saya lihat tampang-tampang kalian. Angkat tangan mitra yang yakin dia mitra yang baik, angkat tangan. Turun, Mitra yang baik. Turun, Mitra yang baik. Mitra yang berengsek angkat tangan, angkat tangan. Mitra yang berengsek, angkat tangan. Enggak ngaku, ya?

Saudara-saudara,
Kalaupun Saudara mitra yang berengsek tapi tidak mau ngaku, saya beri kesempatan. Kembalilah ke jalan yang benar. Kembalilah ke jalan yang benar dan kalau Saudara yang cepat-cepat lapor, ngakuinsyaallah selamat. Kalau Saudara merasa Saudara bisa lebih pintar dari NKRI, ya, coba saja, ya.

Kepala BPKP, apa yang kau butuh? Kalau kau perlu tambahan personel, berapa saja kau butuh, saya penuhi. Ketua KPK, berapa saja yang kau perlu, lapor, saya penuhi. Jaksa Agung, berapa saja yang kau perlu, saya penuhi. Kalau perlu yang sekian T [triliun] kau mau setor ke saya, kau pakai untuk memperkuat Jaksa Agung, ya. BPKP, KPK, semua penegak hukum harus kita perkuat. Karena, saya tidak mau NKRI dilecehkan. Saya tidak mau bahwa pemerintah Republik Indonesia tidak dihormati. Saya tidak mau uang rakyat dicuri. Saya tidak mau uang rakyat dicuri. Dan, tidak ada, tidak ada pengecualian. Saya katakan, berat bagi saya. Waktu saya tanda tangan, berat. Ini orang yang saya angkat. Ini orang saya kasih bintang, saya kasih pangkat.

Jadi, Saudara-saudara, soalnya waktu saya minta mitra yang berengsek, enggak ada yang angkat tangan. Sudah, ya, gue, gue sudah warning lo, ya. 

Saya kira cukup sekian, ya. Wassalamualaikum warahmatullahi. Apalagi yang harus saya bicara?

Saudara-saudara,
Masalah makan ini masalah sakral. Makan bagi orang susah, tidak boleh jadi sarana memperkaya oknum-oknum. Makan paling gampang dikorupsi. Makan paling gampang dikorupsi, ya. Dan, kemarin saya dan Pak Tony Robbins ini, kita ikut makan di salah satu sekolah dan ini dapur yang salah satu terbaik. Aku makan, saya akui karena ini, apa itu, dapurnya Polri yang agak baik, lah, saya, saya, saya… Kenapa kalian ketawa? Kenapa kalian ketawa? Kenapa? Ya bagus, dong, agak baik itu bagus. Daripada agak jelek. Agak baik, ya, nasinya enak. Nasinya enak. Pulen, pulen. Saya curiga ini khusus untuk, karena sudah dapat info Presiden mau datang. Coba, Kepala BIN adakan penyelidikan. Lain kali, ya, kalau saya datang, awas, jangan beri tahu saya mau datang. Ini nasinya enak. Saya akui, pulen. Enggak kalah sama restoran Jepang. Kemudian, apa itu? Tempe, apa itu kemarin itu? Orek, orek tempe. Orek tempe, enak sekali. Hanya, hanya, hanya kurang banyak. Tapi oke, ini anak-anak SMP. Kalau aku, kan, makannya lebih banyak. Kemudian, sayurnya juga enak. Sayur labu campur jagung, oke. Walaupun, ya, porsinya agak sedikit juga, ya. Pak Tony sama saya makan. Dia gede orangnya, kan, dia dalam hati, aduh kasihan anak Indonesia, ya. 

Nah, masalah ayam. Ayamnya bawa ke atas. Mana, ada ayam? Bawa sini. Bawa sini, taruh di depan situ. 

Saya minta perwakilan mitra, 10 orang ke sini, 10 orang. Berdiri di situ, berdiri di situ. Situ, situ, situ, situ. Satu baris situ. Situ, situ. Cukup, cukup. Cukup, cukup, cukup. Cukup, nanti enggak kelihatan. Kamera ada ke sini, enggak? Kamera. Kamera bisa enggak ditayangkan di atas? Ada kamera bisa tayang di atas. Mundur, mundur, mundur. Kameramu bisa? Iya. Bisa lihat? Eh, turun, turun, turun. Bisa tayang? Iya, iya, iya, eh. Iya, iya, cukup, cukup. Sebentar, sebentar. Sebentar. Iya, iya, iya.

Turun, ini saya mau kasih pelajaran. Turun dulu. Mundur dulu, mundur dulu. Yang disiplin, dong. Malu. Ada orang asing ini, lihat. Gimana sih emak-emak ini? Kamera. Kamera. Eh, kamera. Kamu. Bisa kelihatan di atas? Ini, ini. 

Coba lihat. Ayamnya, ayamnya, ayamnya kasih lihat. Yang kiri… Yang kiri… Kelihatan? Enggak kelihatan di atas? Enggak kelihatan? Yang kiri adalah ayam dipotong 14. Iya. Ayam dipotong 14. Yang ini… Yang ini berapa? Yang ini delapan, yang kanan delapan. Jadi, yang 14 saja sebesar ini. Kalau kecil begini, ya, berapa? Jangan-jangan 18 atau 22. Hah?

Kalau… Kalau potong lebih dari 14, dosa! Dosa! Berapa juta anak-anak Indonesia akan kecewa? Betul? Benar, ya? Nanti saya minta, ya, Menteri Pendidikan, Mendiksasmen, minta kepala-kepala sekolah, guru-guru, anak-anaknya suruh lapor. Ayamnya kecil atau besar? Kalau perlu secara random difoto dan ditimbang, ya. Ya, oke?

Mitra-mitra, 
Yang kedua, telur jangan bikin dadar. Sekarang, sekarang, ini ada emak di belakang, “Enggak, Pak. Sekarang enggak.” Berarti kemarin, iya, ya? Kalau telur dadar, kalau telur dadar, saya sudah lama jadi orang Indonesia, kalau telur dadar, nanti dicampur macam-macam itu, iya, kan? Tepungnya lebih banyak dari telurnya. Jadi, telur harus utuh, ceplok, atau rebus. Betul, ya? Mendikdasmen, kepala sekolah, guru, yakinkan tidak ada lagi telur dadar atau telur apa itu? Orek-orek, iya? Apa? Ya. Oke? Ya? Baik, kita lihat. Benar, ya? Sanggup? Awas, loh. Aku, nanti aku, aku doakan kualat. Oke? Terima kasih, kembali ke tempat.

Kepala Dapur SPPI,
Kalian bertanggung jawab untuk mengawasi. Jangan kau larut ikut main-main juga enggak benar. Benar, jangan anggap enteng. Mata dan telinga saya ada di mana-mana.

Saya kira itu dari saya, ya. Enggak usah panjang lebar. Makan, ini pekerjaan yang mulia bagi kita dan ini harus berhasil, akan berhasil. Kalian bagian penting. Tapi, kalau kalian tidak mau bekerja dengan baik, kalian harus minggir, kita cari anak-anak muda yang baru. Kalau kalian tidak bekerja dengan baik, kalau kalian tidak sungguh-sungguh, kalau kalian tidak setia dan tidak loyal, silakan minggir. Yang penting, kepentingan rakyat di atas semua kepentingan.

Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita sekalian,
Syalom,
Salve, 
Om santi santi santi om.

Merdeka! Kurang semangat.
Merdeka! Merdeka!

Begitu. 
Terima kasih.