Taklimat Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna

 
bagikan berita ke :

Senin, 20 Juli 2026
Di baca 75 kali

di Istana Negara, Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Para Menteri Koordinator, para Menteri, para Kepala Badan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, para Penasihat dan Staf Khusus Presiden, Jaksa Agung, Kepala Badan Intelijen Negara, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan Darat, Laut, dan Udara, para Wakil Menteri, Wakil Kepala Badan, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang saya hormati dan saya cintai.

Pertama-tama sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahakuasa, Tuhan Mahabesar, Allah subhanahu wa ta’ala bagi umat Islam, yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala kebaikan, karunia, kesehatan, napas yang masih diberikan kepada kita, dan terutama atas perdamaian dan kedamaian yang masih kita rasakan sebagai bangsa dan negara, di tengah dunia yang penuh pertikaian, perang, dan konflik. 

Hari ini, saya sengaja melaksanakan Sidang Kabinet Paripurna pertengahan tahun 2026, menjelang 17 Agustus 2026, di mana sudah secara tradisi Presiden Republik Indonesia menyampaikan sambutan beberapa hari sebelum 17 Agustus, untuk menyampaikan kepada seluruh bangsa dan negara apa yang sudah dikerjakan selama satu tahun kerja itu. Ini juga adalah kurang tiga bulan kita menjalankan mandat dari rakyat di tahap tahun kedua, tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat. 

Saudara-saudara,
Tentunya kita laksanakan [Sidang] Kabinet Paripurna ini untuk kita evaluasi apa yang sudah kita kerjakan. Dan, Saudara-saudara, saya kira tidak hanya Saudara-saudara tapi saya sendiri, di tahun-tahun ini, menjelang kita dua tahun kita telah bekerja dengan sangat keras, dan sangat padat, dan sangat cepat. Kadang-kadang, dengan kita bekerja sangat keras, dengan kita bekerja sangat padat, kita sendiri tidak terlalu menyadari berapa banyak yang telah kita capai dalam dua tahun pertama kita. Karena kita menghadapi masalah yang sangat besar, kita menghadapi dunia yang penuh pergolakan, dan juga kita menghadapi kenyataan-kenyataan pahit yang harus kita akui merupakan tantangan kita bersama.

Kita tidak bermaksud untuk mencari kesalahan, kita tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan. Tiap masa ada pemerintahnya, tiap pemerintah ada masanya. Tiap masa ada pemimpinnya, tiap pemimpin punya masanya. Kita tidak bermaksud, tapi kita sebagai anak bangsa, kita sebagai unsur pimpinan, dan kita semua di sini adalah unsur pimpinan. Kita di sini pemimpin politik, pemimpin teknokrat, pemimpin budaya, pemimpin masyarakat, dan kita diberi mandat oleh rakyat untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Jadi, kita tidak boleh takut dengan masalah, kita tidak boleh takut dengan kesulitan, kita tidak boleh takut dengan kekurangan.

Kita paham, seluruh bangsa paham, bahwa gaji guru-guru kita kurang. Kita paham bahwa lapangan kerja kita kurang. Kita paham masih banyak kemiskinan ekstrem. Kita paham. Ini semua masalah kita paham. Kita mengerti. Justru ini yang kita dipilih, diberi mandat untuk kita selesaikan. Kita paham ada ketimpangan di masyarakat kita.

Tapi terus terang saja saya katakan di mana-mana, saya sendiri sebagai Presiden, sebagai yang diberi mandat bersama Saudara Wakil Presiden, kita disumpah, saya sendiri tidak menduga sesungguhnya betapa beberapa masalah itu sangat di luar perkiraan kita. Terjadi suatu distorsi terhadap perekonomian kita. Telah terjadi mengalir ke luar kekayaan kita secara signifikan, ribuan triliun, ratusan miliar dolar tiap tahun dengan praktik-praktik under-invoicing, pemalsuan laporan. Under-invoicing adalah pemalsuan laporan perdagangan. Praktik-praktik transfer pricing, praktik-praktik penyelundupan. Hal-hal yang sesungguhnya sungguh tidak masuk akal, dan sesungguhnya tidak adil bagi bangsa kita. Dan, ini bukan data dari kita, ini data internasional, ini data dari lembaga-lembaga internasional, ini data dari PBB, di antaranya.

Tapi, seluruh bangsa sudah merasakan, semua pelaku ekonomi sudah mengerti hal ini di dalam negeri dan di luar negeri, semua tahu. Negara penghasil kelapa sawit di dunia sempat berminggu-minggu hilang minyak goreng, sesuatu yang tidak masuk di akal, Saudara-saudara.

Jadi, Saudara-saudara, kita dihadapi dengan masalah yang sangat besar, dengan masalah yang vital. Kalau ini kita biarkan, kalau kebocoran ratusan miliar dolar kekayaan Indonesia dibiarkan terus ke luar, kita bisa bayangkan nasib bangsa kita seperti apa.

Karena itu, saya ingatkan kita diberi mandat untuk menyelesaikan masalah dan seharusnya kita bangga bahwa ternyata dalam kurun waktu ini telah banyak masalah dan kesulitan yang telah kita selesaikan. Mungkin hitungan kita terakhir lebih dari 108 masalah, 110 masalah yang kita selesaikan dalam satu tahun lebih, 18 bulan pemerintahan kita. Ini prestasi yang bukan kecil. Kita rendah hati, kita tidak mau, kita tidak mau menepuk-nepuk dada. Kita tidak mau dan kita tidak boleh besar kepala, tidak boleh sombong. Itu watak kita sebenarnya, watak bangsa kita. Ojo dumeh.

Tetapi, kalau kita berprestasi kita harus akui bahwa kita berprestasi. Tidak ada bangsa lain yang akan menghormati kita, kalau kita tidak menghormati bangsa kita kita sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghormati dan menghargai pahlawan-pahlawannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memahami kesulitan dan tantangan yang dihadapinya, tapi juga bisa menghormati dan menghargai prestasi yang dia capai. Saudara-saudara, tanpa kita sadar karena kita sibuk dengan bekerja, kita ternyata dalam tahap ini ada hal-hal yang sangat membanggakan.

Saudara-saudara,
Setiap negara, setiap perekonomian, itu pasti diukur. Dan kita punya ukuran. Kita bertanya, apakah bangsa itu bisa memberi pangan, memberi makan untuk rakyatnya? Itu yang paling mendasar. Untuk apa kita merdeka, untuk apa kita punya NKRI, kalau kita tidak bisa memberi yang paling dasar dari sebuah peradaban? Yang paling dasar adalah makan, pangan. Kalau ada orang-orang pintar mengatakan bahwa ada yang lebih penting dari perut yang lapar, ya, saya persilakan, Saudara-saudara. Yang saya tahu, dari sejarah ribuan tahun peradaban manusia, tidak ada masyarakat yang bertahan tanpa pangan. Punah. Peradaban punah kalau tidak ada makan.

Untuk menjamin pangan perlu air, perlu lingkungan yang dilestarikan, perlu lahan yang subur, perlu kebijakan yang benar.

Kita bertanya sekarang, apakah harga pangan terkendali? Apakah pupuk tersedia untuk rakyat, untuk petani dengan harga yang terjangkau? Kita bertanya, apakah anak-anak sekolah memperoleh makanan bergizi di sekolah?

Saudara-saudara,
Saya diserang karena ingin memberi makan bergizi untuk anak-anak Indonesia. Memberi makan untuk anak-anak Indonesia, untuk ibu-ibu hamil, untuk orang-orang lansia, dianggap pemborosan. Tapi, ribuan triliun yang menguap, yang pergi dari bumi Indonesia, tiap tahun selama 34 tahun, tidak ada komentar, tidak ada pakar yang protes, tidak ada investigasi.

Kita mau beri makan kepada anak-anak, yang jelas-jelas minimal seperempat anak-anak kita stunting. Sebagian besar juga banyak yang tidak makan, menurut sekolah. Kita dituduh pemborosan, kita dibilang ekonomi mau kolaps. Harga saham akan ambruk, mata uang akan melemah. Alasannya, karena boros.

Saudara-saudara,
Saya punya keyakinan bahwa fundamental pemikiran ekonomi dan politik bernegara yang disusun oleh pendiri-pendiri bangsa kita, saya punya keyakinan bahwa itu masuk akal, benar. Undang-Undang Dasar 1945 lahir dari perjuangan lama, lahir dari pengalaman penjajahan, lahir dari imperialisme. Apa arti imperialisme? Imperialisme artinya adalah diambilnya kekayaan sebuah bangsa oleh bangsa lain., dan masalah inilah yang membuat kita lemah dan tidak berdaya. Sehingga pendiri-pendiri bangsa kita, melalui perjuangan berat, dan lama, dan berujung di suatu perjuangan fisik, mereka memiliki filosofi. Mereka telah merumuskan suatu filosofi. Filosofi adalah pancasila. Dan, pancasila ini adalah suatu filosofi yang utuh, yang integralistik. Di situ ada pemahaman ekonomi. Ekonomi pancasila harus ekonomi yang juga berkeadilan. Dan, itu jelas-jelas tertera, tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang sedang kita jalankan.

Kita sedang menjalankan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kita sedang menjalankan Pasal 33, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Ini jangan dianggap suatu slogan atau suatu retorika yang indah.

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan,” berarti seluruh anak bangsa ini bagian dari keluarga besar NKRI. Tidak boleh ada satu elemen, satu pihak yang menindas pihak lain. Tidak boleh ada satu elemen yang memborong kekayaan bangsa, sehingga yang lain tidak bisa nikmati. Ini arti daripada ekonomi berdasar atas asas kekeluargaan.

“Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.” Jadi, ini bukan sesuatu yang perlu ditafsirkan.

“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Harus digunakan, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Saudara-saudara,
Juga, kita juga melihat Pasal 34. Ini perintah Undang-Undang.

“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.” Ini sedang kita jalankan, Pasal 33 untuk mengamankan sumber daya ekonomi supaya kita dapat uang. Dari Pasal 33, kita menjalankan Pasal 34. Jadi, itulah, kita tidak boleh membiarkan anak-anak orang miskin terus miskin. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak tidak ada harapan sekolah. Ini sudah kita jalankan.

“Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah." Memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu, sesuai dengan martabat kemanusiaan.

“Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.” Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak.

Saudara-saudara,
Karena itulah kita menjalankan pemerintahan dengan bekerja dengan sangat keras. Saya terima kasih kepada seluruh anggota kabinet. Sebagian dari Saudara-saudara bekerja tanpa diawasi, karena saya konsentrasi kepada hal-hal penting dalam dua tahun ini. Tapi, saya lihat Saudara-saudara berinisiatif. Saudara-saudara masing-masing bekerja dan bersama kita telah mencapai prestasi-prestasi yang menurut saya cukup membanggakan. Mungkin sedikit pemerintahan di dunia mencapai apa yang kita capai.

Masalahnya masih lebih banyak. Cita-cita kita lebih besar. Pekerjaan kita masih banyak. Perjalanan, perjuangan kita masih jauh. Tapi, kita sudah melihat sekarang apa yang kita sudah capai.

Bulan ini akan kolaps, bulan ini akan kolaps, bulan ini akan kolaps. Ternyata, semakin hari makin kuat. Makin hari, makin kuat. Dunia sedang perang. Banyak negara termasuk risau dan panik masalah pangan. Kita sudah duluan swasembada pangan. Masalah energi pun, kita menghadapi kesulitan, tapi kita lebih siap dari yang lain. Ini bukan untuk membuat kita lengah, ini bukan untuk membuat kita cepat puas. Tidak.

Tapi, Saudara-saudara, capaian Kabinet Merah Putih yang 110, 112 masalah itu saya minta dibagikan ke Saudara-saudara sekalian. Mudah-mudahan ada, ya. Bukunya sudah dibagikan? Sudah dibagikan? Ya, dibagikan bukan disiapkan. Saya minta dibagikan. Jadi ada di depan para Menteri dan Wakil Menteri. Bagikan sekarang, kalau ada. 

Saudara-saudara,
Prestasi kita cukup besar. Prestasi kita nanti sejarah akan mencatat. Tadi saya sudah sebut, kita sudah swasembada pangan delapan komoditas pangan. Cadangan beras kita tertinggi selama sejarah NKRI. Nilai tukar petani kita tertinggi selama sejarah NKRI.

Kita sudah mencetak atau menghasilkan B50. Solar dari kelapa sawit, 50 persen. Kita tidak impor lagi solar. Yang waktu itu banyak juga perlawanan. Ada yang bilang pabrik-pabrik mesin tidak akan dukung kita dan sebagainya. Menakut-nakuti kita. Kita bangsa Indonesia yang 287 juta ini, pemimpinnya selalu ditakut-takuti, supaya kita memimpin dengan ketakutan. Takut dengan pasar, takut dengan ini, takut dengan rating agency, takut dengan itu. Kita percaya kepada kekuatan kita sendiri, kita percaya kepada hal-hal yang asasi, yang basic. Basic bukan menurut selera kita. Basic menurut pakar-pakar dunia. Basic menurut PBB. Sustainable Development Goals (SDGs), Saudara-saudara. 

PBB sudah meramalkan bahaya kelaparan. Food, energy, water. Bahaya kelaparan. Mereka canangkan SDG pertama untuk semua bangsa di dunia. SDG pertama adalah No Poverty. Tidak ada kemiskinan. Kalau kita mau bantu rakyat kita yang miskin, dibilang pemborosan. Kalau kecurangan, penyelundupan, diam. Orang besar kasih kredit terus, triliunan. Orang kecil enggak boleh terima apa-apa.

Zero Hunger. Zero Hunger, tidak boleh ada orang Indonesia yang lapar. Saya minta, belajar. Kita belajar dari negara-negara lain. Jangan malu belajar. Kirim tim ke India, kirim tim ke Brasil, kirim tim ke Tiongkok, kirim tim ke negara-negara Vietnam, belajar bagaimana mereka hilangkan kelaparan. Tidak boleh anggota G20 Indonesia ada rakyat yang lapar.

SDG ketiga, Good Health and Wellbeing.
Nomor empat, Quality Education.
Lima, Gender Equality.
Enam, Clean Water.
Tujuh, Affordable and Clean Energy.
[Delapan], Decent Work and Economic Growth.
[Sembilan], Industry, Innovation, Infrastructure.
[Sepuluh], Reduced Inequalities.

Saudara-saudara,
Ini yang kita sedang kerjakan. Ini yang sedang kita kerjakan, Saudara-saudara, ya. Jadi jangan ragu-ragu. Kita berada di jalan yang benar, kita berada di jalan yang rasional. Yang tidak rasional adalah tadi, illegal mining, illegal kebun, illegal logging, penyelundupan, under-invoicing, transfer pricing. Itu adalah fraud. Itu adalah pidana. Itu adalah, itu yang tidak rasional. Jangan dibalik. Yang sudah diramalkan zaman edan, yang benar disalahkan, ya, kan. Yang salah dibenarkan. Ini tidak. Kita yakin kita di atas jalan yang benar.

Jadi, Saudara-saudara, salah satu prestasi kita yang nanti akan dikenang oleh sejarah, saya percaya, untuk pertama kali dalam sejarah bangsa Indonesia, kita telah berhasil membangun satu dana kedaulatan yang kita sebut Danantara. Dana kedaulatan. Danantara singkatan Daya Anagata Nusantara. Daya, energi. Anagata, masa depan. Nusantara, tanah air kita.

Jadi, Danantara adalah suatu dana kedaulatan di mana tabungan-tabungan, kekayaan aset-aset negara disatukan, dikonsolidasi, di-manage dengan rapi dan ini menjadi cadangan. Ini menjadi energi untuk masa depan Indonesia, untuk anak, cucu, dan cicit kita. Dan, alhamdulillah, kita untuk pertama kali dalam sejarah kita punya dana kedaulatan ini, danantara ini yang nilai asetnya bernilai lebih dari seribu miliar dolar. Yang selama ini sering tidak bisa kita pantau, sering kita tidak mengerti kekayaan kita di mana.

Saudara-saudara,
Saya masuk kabinet sebelum ini, kabinetnya Presiden Joko Widodo. Saya mengikuti, tapi saya belum menguasai angka-angka. Saya sendiri anggota kabinet, saya mengira bahwa jumlah BUMN itu berkisar di antara 300 sampai 350. Saya kaget. Waktu saya jadi Presiden saya diberi laporan, BUMN itu jumlahnya 1.077. Dan, ini harus kita cek lagi. Ada BUMN yang bikin anak perusahaan, dia bikin lagi cucu perusahaan, dia bikin lagi cicit perusahaan.

Dan, saya terima kasih. Saya bangga pimpinan daripada Danantara dalam tahun pertama, 18 bulan pertama, sudah berhasil mengurangi jumlah tersebut. Dari 1.077, di akhir bulan ini, di akhir 31 Juli, mereka sudah menutup, mengonsolidasikan, memerger, sehingga dari 1.077 berkurang 250 BUMN. Sudah berkurang 250, nah ini boleh tepuk tangan, dong. Tepuk tangan.

Saya kira. Maaf, ya. Mungkin ketua DEN, Pak Luhut, bisa dicek di dunia, mana ada negara yang menutup state owned enterprise 250 dalam satu tahun. Dan, mereka menyanggupi. Laporan ke saya, “Pak, Desember 31 tahun 2021, jumlah BUMN kita, dari 1.077 akan maksimal 350.” Berarti, di akhir 2026 mungkin 700 BUMN yang akan kita tutup, kita merger, kita konsolidasi. Berkurang dari 1.077 akan menjadi maksimal 350.

Dan mereka laporan, dengan ditutupnya 250, 250 BUMN, overhead, biaya rutin yang bisa diselamatkan adalah 50 triliun, 50 triliun. Gaji direksi, gaji komisaris, sewa gedung, bayar listrik, bayar transport, bayar ini, rapat kerja, 50 triliun. Desember 31, saya kira ini mungkin angka penghematan bisa naik. Bisa-bisa, bisa mendekati 70-80 triliun. Saya terima kasih dari pimpinan Danantara.

Kemudian, untuk menghadapi fenomena tadi. Ini prestasi yang lain. Saya kira, Proyek Abadi, Gas Abadi Masela, 28 tahun mangkrak. Saya berangkat ke Tokyo. Saya ketemu pimpinannya perusahaan-perusahaan Jepang itu. INPEX, ya. INPEX. Saya sampaikan dengan baik dan sopan, “Saudara masih berminat enggak? Kalau Saudara tidak berminat, saya akan alokasi, saya akan tunjuk perusahaan lain.” Sopan, tapi tegas. Ya sebagai bangsa Indonesia yang ramah enggak mungkin kita kasih ultimatum, kan. Bukan ultimatum itu, imbauan. Benar itu, saya, “Yang Mulia, apakah Jepang masih berminat? Masalahnya, bangsa Indonesia sangat butuh energi, sangat butuh devisa.”

Habis itu, pulang-pulang, ya, kalau Menteri ESDM boleh saya tekan-tekan, ya. Enggak apa-apa. Saya bilang, “Menteri ESDM, enam bulan tidak ada kegiatan, cabut.” Sekarang kita tidak toleransi. HGU, HGB, SIUP, izin. Kita beri. Dua tahun tidak kegiatan, dua tahun tidak ada kegiatan, cabut.

Untuk mengatasi segala praktik, under-invoicing, etc, etc, laporan palsu, saya kumpulkan KKSK, ya, Menteri Keuangan, Bank Indonesia, dengan OJK, dan tim ekonomi kita, kita telah kumpul di Istana Merdeka. Ketua DEN hadir dengan beberapa penasihat-penasihat bidang ekonomi. Waktu itu saya gambarkan, saya minta pendapat mereka semua, apa kita mau teruskan ini? Aliran uang ratusan miliar Dolar ke luar negeri, kekayaan kita, dari sumber daya kita, mau kita teruskan? Mereka semua bilang, “Tidak bisa, Pak. Jangan kita teruskan.”

Bagaimana caranya kita tidak teruskan? Akhirnya diusulkan lah sistem ekspor satu pintu untuk komoditas-komoditas milik bangsa dan negara. Dan, saya ingatkan, semua komoditas adalah milik bangsa Indonesia. Bumi, air, dan semua kekayaan yang terkandung di dalamnya itu milik bangsa Indonesia. Nikel, karet, semuanya, kelapa sawit, batu bara, emas. Sehingga, kita terapkan ekspor satu pintu, dan kita dirikan PT DSI, Danantara Sumberdaya Indonesia. Iya, kan? Danantara Sumberdaya Indonesia. Di depan DPR waktu itu, kita umumkan 20 Mei 2026, 20 Mei, hari yang signifikan, hari kebangkitan, ya, Hari Kebangkitan Nasional kita. Kita dirikan PT DSI mulai beroperasi penuh pada 1 Juli, sebagai instrumen negara untuk memperkuat tata kelola dan konsolidasi ekspor komoditas strategis.

Saudara-saudara,
Kita bangun sistem ekspor satu pintu agar negara mengetahui berapa yang diekspor, kepada siapa yang dijual, berapa harga sebenarnya, berapa devisa yang seharusnya kembali ke Indonesia. Itu tujuannya. Ya, biasa, pertama banyak yang nyinyir, yang ini, dan sebagainya. Tapi ternyata, ternyata dunia luar mengakui bahwa ini adalah langkah Indonesia yang benar, Saudara-saudara.

Ada kekuatan-kekuatan, kelompok-kelompok tertentu yang selalu ingin Indonesia kolaps. Saya tidak mengerti. Dia itu anak bangsa mana, saya tidak, tidak paham. Saya tidak paham benar-benar, ya, kan. Selalu meramalkan kolaps, yang enggak bagus, gitu, lo. Ya, kan. Jadi, sebetulnya itu bukan ramalan, menurut saya itu doa dia. Doa dia bahwa Indonesia kolaps, doa dia bahwa Indonesia terus miskin. Sehingga, saya benar-benar meragukan, di mana patriotisme dia, di mana cinta tanah air dia?

Saudara-saudara,
Dengan ekspor sumber daya alam satu pintu, ya, kita mengadakan tahap transisi, dan kita harapkan nanti 1 September 2026, implementasi penuh. Kemudian, proses ini semua akan membuat kita benar-benar paham benar ke mana uang kita.

Sebagai contoh, kelapa sawit selama ini banyak dijual dari Indonesia, resmi kontrak harganya Rp17.000, CPO, ya.  Rp17.000, ya. Ya, benar Menteri Pertanian? Rp15.000 per kilo. Padahal harga, harga di internasional, harga di Eropa, di Rotterdam itu Rp27.000, kita Rp14.000-Rp15.000, harga sebenarnya Rp27.000. Siapa yang menikmati [selisih] Rp13.000? Hampir 50 persen.

Jadi, permainan seperti inilah yang menusuk hati kita, ya. Jadi perusahaan dari Indonesia diekspor, begitu di sini dia jual Rp14.000, dalam perjalanan ke Eropa, konon kabarnya berubah-ubah lagi deal-nya, kontraknya, sehingga di sana Rp27.000. Jadi kita hilang 50 persen kekayaan kita. Satu kali perjalanan kita hilang 50 persen kekayaan kita.

Jadi, kita sekarang tegakkan dan saya terima kasih, saya dapat laporan dari Saudara Rosan, CEO dari Danantara, bahwa baru satu bulan dua minggu bekerja, PT DSI beroperasi, PT DSI sudah mengelola devisa sebesar lebih 10,5 miliar dolar. Dalam satu bulan dua minggu, Saudara-saudara.

Dan, ternyata dari, dari angka yang masuk, sebelum ada PT DSI, gap [atau] perbedaan antara harga di jual Indonesia dan harga dijual internasional itu kurang lebih beda minimal 30 persen, mendekati 40-45 persen. Begitu ada PT DSI, sudah hampir menyatu, saya lihat grafiknya. Jadi, karena kita tegas. Meneruskan praktik ini, ini praktik penipuan. Meneruskan, semua izin kita cabut. Saya tidak pandang bulu. Kita cabut semua izin, mereka yang tidak mau patuh kepada hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saudara-saudara,
Tentunya kita tidak boleh cepat puas, ya. Tapi, kita sudah melihat langkah-langkah kita sekarang, bahwa tadinya kita ditakuti-takuti, ada rating agency, global rating agency. Nanti akan kasih rapor jelek Indonesia. Kita akan diturunkan, supaya nanti enggak ada yang mau invest di Indonesia.

Saudara-saudara, bukan kita takut, tapi ternyata Standard & Poor’s (S&P), mereka sendiri sudah umumkan, bahwa mereka menilai, bahwa pembentukan PT DSI adalah tepat. Mereka yang mengatakan bahwa itu langkah tepat bagi bangsa Indonesia, Saudara-saudara,  dan itu bisa meningkatkan penghasilan kita, revenue kita. Kemudian, mereka tetap tidak menurunkan outlook, kita tetap outlook stable. Kita tetap punya rating investment grade, emerging market, bukan kita selalu harus puas dengan rating bangsa lain.

Sekali lagi, Saudara-saudara, percaya kepada kekuatan kita sendiri. Kita hidup di dunia global, tapi kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri, kita percaya kepada fundamental kita sendiri, ya. Apapun terjadi, kita sekarang pangan aman, energi cukup kuat, air kita berlimpah-limpah, tinggal management-nya, ada daerah yang kurang. Jadi, fundamental kita kuat, lahan kita cukup. Kita sudah buktikan rawa kita ubah jadi sawah, rawa yang tidak bermanfaat kita ubah jadi produktif, Saudara-saudara.

Kita sudah mulai dipandang dan kita akan buktikan. Saya yakin dan percaya kita akan jadi lumbung pangan dunia, saya percaya itu. Saya tidak tahu di zaman siapa nanti, tapi saya percaya itu, Saudara-saudara. Semua orang sudah meramalkan, kok, kalau kita akan jadi negara kelima, keempat, semua. Hanya kita sendiri kadang-kadang, bukan rendah hati, mengarah ke rendah diri, ya, kan.

Saudara-saudara,
Kita yakin bahwa kita berada di arah yang benar, tapi kita juga waspada. Kita koreksi diri, kita tahu bahwa efisiensi kita masih kurang, regulasi kita terlalu banyak, peraturan kita terlalu banyak. Saya tegaskan di sini, kita harus sederhanakan pemerintahan. Kita akan mulai melaksanakan, atau sudah merintis ke arah digitalisasi pemerintahan dengan GovTech dan program-program lainnya. Saya berharap nanti single national identity card bisa dieksekusi, bisa diimplementasi dengan sebaik-baiknya. Kita terus sederhanakan peraturan-peraturan menteri dan sebagainya, harus juga sinkron dengan napas penyederhanaan deregulasi dan efisiensi.

Saudara-saudara,
Kita, juga salah satu prestasi kita adalah kita sekarang memiliki sistem perlindungan sosial, menurut saya, salah satu terkuat di dunia, salah satu. Kalau kita ikuti semua program-program ini, dan program-program ini adalah hasil dari pemerintah-pemerintah sebelum kita.

Saya selalu mengakui, tidak ada pembangunan bangsa, tidak ada transformasi bangsa yang sepotong-sepotong. Ini adalah long march. Semua yang kita miliki dari Bung Karno, dari Pak Harto, dari Pak Habibie, dari Gus Dur, dari Megawati, dari Presiden SBY, dari Pak Jokowi, semua yang kita miliki sekarang hasil dari kerja keras mereka, hasil dari kerja keras pemerintah mereka.

Tugas kita, apa yang sudah dicapai, kita lestarikan, kita bangun, kita perbaiki. Kalau ada kesulitan dan kekurangan, dan kesalahan bangsa, bukan orang, bukan rezim, tapi bangsa. Kekeliruan, kadang-kadang kekeliruan kita sebagai bangsa.

Dulu berbondong-bondong, semua pakar, semua intelektual, hampir 99 persen, semua berbondong-bondong mengelu-elukan neolib, kapitalisme. Ya tidak salah mungkin Presiden Soeharto dikelilingi penasihat-penasihat yang menyarankan, ya, kan. Kemudian habis itu Pak Habibie dan selanjut-selanjutnya. Ya enggak ada masalah. Tapi kita sekarang melihat pengalamannya itu, kita lihat di Amerika saja sudah ditinggalkan, kok, di Eropa saja sudah meninggalkan neolib. Masa kita mau teruskan?

Jadi ini saya tegaskan, ternyata kita punya sistem perlindungan sosial, negara kesejahteraan, welfare state, salah satu terkuat di dunia. Kalau kita lihat program satu-satu, dan sebagian program-program ini dilaksanakan oleh presiden-presiden sebelum kita, pemerintah sebelum kita. Jadi itu yang saya mengajak, jangan kita, apa, ya, punya budaya enggak tahu dari mana. Itu ada selalu mencari kekurangan dan kesalahan, habis itu mencaci maki pemimpin. Walaupun pemimpin sudah, sudah sepuh, pemimpin sudah enggak ada, pemimpin sudah turun, dan sebagainya, masih [dicaci maki], ini bukan budaya yang baik.

Saudara-saudara,
Kalau kita lihat, upaya untuk mengurangi dan menghadapi orang miskin sangat besar. Kita punya program Keluarga Harapan, 10.000 keluarga desil 1, 2, 3, dan 4. Eh, 10 juta? 10 juta keluarga. Berarti kurang lebih 40 juta rakyat Indonesia menerima antara Rp75.000 sampai Rp250.000 per bulan.

Sekolah Rakyat, anak-anak dari desil yang paling miskin, total yang diterima itu Rp4 juta per bulan. Kartu Indonesia Pintar, ya, 1,2 juta mahasiswa dibantu biaya hidup Rp800.000 sampai Rp1,4 juta per bulan, bebas UKT, Uang Kuliah Tunggal, dibantu, langsung dibayar ke PT. Program Indonesia Pintar, 22.100.000 siswa, 22.100.000 dari desil 1, 2, 3, 4 yang paling bawah. Jadi keberpihakan kita kepada orang miskin luar biasa.

Kartu Sembako, Rp200.000 per bulan, yang menerima adalah 18.250.000 keluarga, 18.250.000 keluarga kalau dikali empat ini berapa ini? Kembali, mendekati 40 juta. Bansos ATENSI, 83.000 orang menerima bansos.

Jaminan Kesehatan Nasional, Jaminan Kesehatan Nasional 96.800.000 orang, nyaris 100 juta, 20 kali lebih besar dari Singapura, 3,5 kali lebih besar dari Malaysia, kita beri jaminan.

Bantuan Pemberdayaan Sosial Ekonomi, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, Rp20 juta per rumah, 400.000 penerima manfaat. Nanti saya minta Menteri Perumahan, Menteri Sosial dikaji kembali. Apakah ditambah penerima manfaat, sehingga indeksnya bisa dikurangi, ya. Mungkin dengan kita tidak kasih uang tapi kasih bahan, ya. Kasih semen, kasih genting, kasih kayu, atau kasih baja ringan dan sebagainya, supaya lebih banyak bisa menerima. Fasilitas Likuiditas Pemberdayaan Perumahan (FLPP) Rp727.000 per bulan untuk 1.877.747 rumah tangga.

Bantuan Bencana, Saudara-saudara, ya, cukup besar bantuan bencana kita adalah Rp30 triliun per tahun. Subsidi LPG, Rp66.400.000 rumah tangga menerima subsidi LPG, Rp66.400.000 rumah tangga. Dua kali Malaysia, dua belas kali Singapura. Boleh juga, ya, pemerintah Republik Indonesia, Saudara-saudara. Saudara bangga jadi menteri, bangga jadi pemerintah Indonesia, ya.

Saudara-saudara,
Tanpa kita sadari sebetulnya, what we have achieved. Dan selalu saya katakan, Saudara-saudara, marilah kita sadar ini prestasi kita bersama dari zaman Bung Karno sampai sekarang.

Subsidi dan Kompensasi Solar, ada 484.000 rumah tangga. Kompensasi Pertalite, nah, ini, Rp89.000 per bulan, 33 juta orang, eh, 33 juta rumah tangga, hampir 34 [juta], 33.787.364 rumah tangga. Subsidi dan Kompensasi Listrik, Rp130.000 sampai Rp150.000 per bulan, 87 juta rumah tangga, 87 juta rumah tangga, hampir seluruh rakyat Indonesia itu.

Diskon Tarif Kereta Api, 1,3 juta penumpang. Diskon Angkutan Laut, hampir 500 ribu [penerima]. Bantuan Pangan, 10 kilogram beras, 2 liter minyak goreng untuk tiga bulan, 33.24 juta keluarga di desil 1, 2, 3, 4.

Tunjukkan negara mana seperti kita. Pasti ada yang lebih hebat, pasti. Tapi untuk bangsa Indonesia, not bad, lah, ya. Jangan anggap enteng kita terus. We are strong. We are strong, we are rich, and we will be richer. Kita akan lebih kaya, Saudara-saudara sekalian. Karena, kita tidak mau jadi lugu lagi. Kita terlalu lugu, lugu, terlalu naif, ya, terlalu baik. Wartawan masih ada, ya? Masih ada?

Makan Bergizi Gratis (MBG), ya, 74.560.000 siswa, ibu hamil/menyusui, balita, dan lanjut usia, Saudara-saudara. Cek Kesehatan Gratis, 130.800.000 orang. Pertama kali, kalau ini pertama kali cek kesehatan gratis itu, ya. Kita cek, tahu kondisi, tahu masalah, tahu apa yang harus kita kerjakan sekarang. Ternyata rakyat kita banyak sekali yang sakit gigi, giginya rusak. Artinya, dokter gigi kurang. Tapi, kalau kita enggak tahu bagaimana?

Program Afirmatif, 150.000 sarjana S1, fresh graduate magang enam bulan. Dan saya dapat laporan, ya, Menteri Tenaga Kerja, kurang lebih 60 persen yang langsung dapat pekerjaan di tempat dia magang. Sekolah Unggul Garuda, Rp9.500.000 per bulan. Ini adalah anak-anak yang terpintar walaupun dari keluarga tidak mampu, masuk ke Sekolah Unggul Garuda. Niatnya adalah mereka ini akan nanti masuk ke program-program yang paling berkualitas di seluruh dunia. Rencana kita baru empat Sekolah Unggulan Garuda yang terbangun. Prof. Brian, berapa rencananya? Total SMA Garuda? Beasiswa LPDP, 23.289 mahasiswa untuk dalam negeri dan luar negeri, beasiswa S1 Garuda, Beasiswa S1 Unhan, Beasiswa Sekolah Taruna Nusantara.

Subsidi Pupuk, subsidi pupuk Rp334.166 per bulan, penerimaan manfaat 14.205.757 petani dan pembudi daya ikan menerima subsidi pupuk. Subsidi Bunga KUR Rp500.000 per bulan, 6.084.205 debitur yang menerima. Sertifikat [Halal] Gratis, 1.350.000 UMK. Saudara-saudara, ini adalah program saya sebutkan rinci supaya kita mengerti apa yang sudah kita lakukan.

Saudara-saudara,
Kita paham dan mengerti bahwa masa depan kita akan ditentukan oleh kualitas manusia kita, kualitas anak-anak kita, kualitas fisik, kesehatan, karena itu gizi sangat penting, tapi juga kualitas pendidikan. Kita paham bahwa pendidikan kita banyak ketertinggalan. Negara kita sangat besar, luas. Kita memiliki lebih dari 288.000 sekolah, banyak di tempat terpencil. Salah satu upaya kita adalah digitalisasi pendidikan. Kita sudah membagi interactive flat panel, layar pintar di seluruh sekolah Indonesia. Satu per sekolah, tahun lalu sudah kita bagikan. Tahun ini kita akan tambah, tiga kelas per sekolah. Saya harapkan di akhir 2026 akan sudah tersampaikan, terkirim kurang lebih tambahan 700.000 panel pintar atau smart digital panel di seluruh sekolah Indonesia akhir Desember 2026 atau semester pertama 2027.

Apa artinya ini? Artinya, bahwa anak-anak kita dan guru-guru kita di seluruh Indonesia punya akses untuk materi pembelajaran terbaik. Baru saja kita dapat berita bagus dari PBB, ya, International Telecommunication Union memberi penghargaan tertinggi kepada kita, Indonesia, dari 122 negara, ya, dalam kategori e-government dan kategori digitalisasi pendidikan, bahwa kita punya apps yang dilaksanakan oleh Menteri Dikdasmen, ya, Kementerian Dikdasmen, Rumah Pendidikan, portal interintegrasi dengan interactive flat panel yang kita bagikan, telah digunakan oleh lebih dari 6,9 juta pengguna, menyediakan 4.843 sumber belajar gratis, dan membantu ratusan ribu guru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Penghargaan dari PBB ini membuktikan digitalisasi pendidikan kita diakui dunia. Kita melompat. Kita melompat, Saudara-saudara. Kita tidak cepat puas, perjalanan masih jauh. Tapi, kita ingin memperbaiki semua sekolah kita. Tahun ini kita akan selesai 77 ribu sekolah renovasi, tahun depan target kita 100 ribu, tahun 2028 100 ribu. Kita berharap di 2029, seluruh sekolah Indonesia sudah direnovasi. Seluruh sekolah di Indonesia sudah direnovasi. Dan, uangnya, uangnya kita akan kirim langsung ke kepala sekolah, diawasi oleh komite orang tua, komite guru, dan sebagainya. Dan, ternyata hasilnya sangat baik. Kalau tidak salah, ya, Menteri Mendikdasmen, ada di sini? Ya. Umpan balik yang Saudara terima cukup bagus? Baik. Terima kasih.

Saudara-saudara,
Digitalisasi pemerintahan mutlak harus kita lakukan. Kita tidak boleh mempunyai puluhan aplikasi yang tidak saling berbicara. Kita tidak boleh meminta rakyat berkali-kali memasukkan data yang sama. Kita tidak boleh membiarkan rakyat mengeluarkan uang hanya untuk membuktikan bahwa dirinya miskin. Saat ini dari laporan Dewan Ekonomi Nasional, digitalisasi program bantuan sosial telah dijalankan di 43 kabupaten dan kota pada 26 provinsi. Sudah sekitar 1 juta keluarga terdaftar dari target 12,5 juta keluarga. Sebelumnya untuk mengurus berbagai dokumen dan mendaftar bantuan, sebuah keluarga dapat mengeluarkan biaya sekitar Rp150.000. Sekarang, proses itu dapat dilakukan secara gratis. Ini manfaat langsung dari digitalisasi. Tapi tentunya kita harus melangkah lebih jauh. 

Data sosial, data kependudukan, data pendidikan, data kesehatan, data pekerjaan, data perumahan, data penerima bantuan harus terintegrasi dengan perlindungan keamanan yang kuat. Jangan sampai ada orang mampu menerima bantuan karena datanya tidak diperbaharui. Jangan sampai ada keluarga miskin tidak menerima bantuan hanya karena tidak mengenal pejabat atau tidak memahami birokrasi. Kalau sistem kita akurat, target nol persen kemiskinan ekstrem menjadi jauh lebih mungkin kita capai.

Kita juga telah menghadirkan mal pelayanan publik di 313 kabupaten dan kota. Dalam satu tempat, masyarakat dapat mengakses sampai dengan 150 jenis pelayanan. Ini kemajuan. Tapi, seluruh pelayanan yang memungkinkan harus tersedia secara digital. Rakyat tidak perlu mengantre berjam-jam. Rakyat tidak perlu berpindah dari kantor ke kantor. Pemerintah harus datang kepada rakyat melalui teknologi. Saya ingin Indonesia memiliki pemerintahan digital kelas dunia.

Saudara-saudara sekalian,
Dalam buku yang sudah dibagi kepada Saudara-saudara, ya, telah dicatat 108 masalah kronis bangsa yang kita pecahkan melalui berbagai keputusan pada 18 bulan pertama pemerintahan. Sekarang pemerintahan kita telah berjalan 20 bulan, tentu sudah lebih banyak lagi persoalan yang kita selesaikan. Kita telah mencapai prestasi-prestasi yang sudah saya singgung tadi.

Saudara-saudara,
Salah satu juga yang kita telah berhasil adalah mendirikan bank emas. Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Indonesia punya bank emas (bullion), yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas, sudah mengelola. Dan 153 ton emas ini nilainya berapa, Pak Rosan? 20 miliar Dolar. Jadi, dalam satu tahun, bank yang kita dirikan satu tahun yang lalu, sekarang sudah mengelola emas senilai 20 miliar Dolar. Ini juga kekuatan ekonomi yang dilihat oleh dunia juga, dan saya percaya di tahun-tahun mendatang ini akan juga meningkat. Jadi, kita ternyata diam-diam, kita telah mencapai prestasi-prestasi yang berskala dunia. Saya kira boleh dicek bank mana, bank emas mana yang memiliki 153, yang mengelola 153 ton emas dalam satu tahun.

Saudara-saudara,
Gaji hakim yang telah 12 tahun tidak naik, kita telah naikkan. Untuk beberapa jenjang, naiknya hampir 300 persen, 280 persen. Sudah saya umumkan kemarin, Ketua Mahkamah Agung melapor ke saya, bahwa Ketua Mahkamah Agung Singapura cerita kepada dia, Ketua Mahkamah Agung Indonesia, bahwa gaji, apa, penerimaan Ketua Mahkamah Agung Indonesia sudah di atas Ketua Mahkamah Agung Singapura. Dan juga, gaji rata-rata hakim Indonesia yang paling junior, sudah di atas gaji rata-rata hakim junior Malaysia. Lumayan, kan. Kita ingin hakim-hakim kita hidup baik. Saya juga perintahkan, ya, Menteri Perumahan, prioritaskan rumah-rumah untuk hakim di seluruh Indonesia. Hakim, panitera, dan petugas mahkamah saya kira tidak sampai sembilan ribu orang. Jadi bisa diprioritaskan, ya, perumahan untuk mereka. Kita tidak mau hakim kita hidupnya tidak bagus. Kita tidak mau hakim kita tidak punya harga diri. Kita tidak mau hakim kita tidak punya kehormatan. Kita tidak mau hakim kita bisa disogok.

Saudara-saudara,
Kredit macet UMKM yang selama belasan tahun telah menghambat para pengusaha kecil kita untuk meneruskan pekerjaan dan usaha mereka, kita telah selesaikan sejak November 2024. Kita telah beri pengampunan ke mereka. Juga mulai dari sampai dengan Juli 2026, dari lima ribu jembatan desa yang sangat diminta oleh rakyat desa, lima ribu, kita sudah selesaikan seribu. Seribu [jembatan] sudah dibangun dan sisanya bisa selesai dalam waktu dekat. Akhir tahun 2026, kira-kira berapa, Kepala Staf Angkatan Darat sebagai Ketua Satgas? Lima ribu akan selesai 2026. Bagus. Terima kasih.

Saudara-saudara,
Kita sudah membangun 100 Kampung Nelayan Merah Putih. Target kita akhir tahun, lebih dari seribu Kampung Nelayan Merah Putih harus beroperasi.

Saudara-saudara,
Kita sudah mulai beroperasi lebih dari seribu Koperasi Desa Merah Putih. Tentunya, baru satu setengah bulan beroperasi, banyak kekurangan. Ada yang listriknya belum baik, ada yang airnya belum baik, ada yang belum dapat internet, dan sebagainya. Tapi, dalam waktu dekat, saya mendapat laporan, akhir tahun ini kita bisa selesaikan 30 ribu Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, 30 ribu. Saya kira ini juga jarang ada negara yang berhasil membuat 30 ribu koperasi dalam satu setengah tahun, karena koperasi ini adalah koperasi operasional, bukan koperasi di atas kertas. Setiap koperasi punya gudang, setiap koperasi punya kamar pendingin, sehingga panen dari rakyat, petani di desa itu tidak akan hangus, tidak akan puso, bisa disimpan. Tiap koperasi akan punya dua truk, sekarang mungkin baru satu dan akan datang secara bertahap. Tiap koperasi akan punya gerai-gerai, Tiap koperasi akan menjual obat generik murah. Tiap koperasi akan punya bengkel untuk memperbaiki alsintan (alat dan mesin pertanian). Tiap koperasi akan menyalurkan semua barang-barang subsidi. Barang subsidi adalah milik rakyat, tidak boleh diperdagangkan.

Saudara-saudara,
Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, pemerintah akan punya, jalur akan punya suatu pegangan rantai pasok, supply chain, retail chain dari pusat sampai ke desa. Pertama kali dalam sejarah. Kita sekarang tidak bisa kita di-blackmail, tidak bisa nanti ada barang langka, tidak bisa nanti ada menimbun barang di saat kritis. Mau Idulfitri, barang langka. Mau tahun baru, barang langka. Tidak bisa, karena kita akan mengerti di mana langka, di mana lebih. Satu desa kelebihan telur, di desa lain kurang, kita akan paham dan mengerti. Dan, kita akhirnya akan lebih baik dan lebih cepat untuk mengendalikan inflasi.

Saudara-saudara,
Khusus untuk Koperasi Desa Merah Putih ini, saya ingin jelaskan sedikit. Niatnya tadi adalah untuk menghilangkan rentenir. Rentenir itu hidupnya adalah dengan menghisap darahnya petani kita. Dengan bunga satu persen sehari, tidak mungkin petani, produsen kita bangkit. Tadinya tujuannya itu. Ternyata, kita menemukan bahwa nanti pasok ini bisa memicu, menghemat ratusan triliun Rupiah.

Saya minta dipasang slide itu. Ya, rantai pasok perdagangan bahan pokok. Kalau kita lihat selama ini, petani jual ke pedagang pengumpul, pedagang pengumpul ke distributor, distributor ke sub distributor, sub distributor ke pedagang grosir, pedagang grosir ke pedagang retail. Satu, dua, tiga, empat, lima. Lima pihak baru ke konsumen. Ternyata setelah diriset oleh Menteri Pertanian, keuntungannya yang diambil oleh pihak penengah ini adalah 30-40 persen. Jadi, diperhitungan 313 triliun. Jadi, yang dinikmati oleh petani hanya 30 persen, sepertiga, ya, yang dinikmati oleh konsumen 30 persen, yang 40 persen dinikmati oleh middleman. Ya, sulit untuk ada kemakmuran.

Dengan Koperasi Merah Putih (KDMP), marginnya kurang lebih 5-10 persen. Saya kira koperasi ambil 5 persen sudah cukup, berarti sisanya bisa dinikmati petani dan konsumen. Ini adalah keamanan ekonomi jangka panjang. Sehingga, Saudara-saudara, bisa kita bayangkan, kalau 250 triliun beredar di rakyat, itu ada istilah para ekonom ajarkan kepada saya, ya. Saya bukan ekonom, saya hanya dapat pelajaran dari ekonom-ekonom, itu ada namanya philosophy of money. Jadi kalau satu Rupiah beredar di masyarakat, kegiatan ekonomi yang ditimbulkan bisa dua, tiga, sampai empat kali lipat. Kalau minimal dua kali, berarti 600 triliun atau 500 triliun minimal akan beredar di rakyat kita di bawah. Kalau sampai tiga kali, empat kali itu kita bisa bayangkan.

Saudara-saudara,
Jadi, ini saya kira sangat strategis, tentunya usaha besar ini pasti banyak kekurangan. Sama dengan MBG, ada kekurangan, ada penyelewengan, ada penyimpangan, tapi kita segera bertindak, kita segera memperbaiki, ya, kan. Kita sedih ada oknum-oknum, ada pribadi-pribadi yang ingin cari kekayaan dari sesuatu pekerjaan atau suatu usaha yang begitu besar, begitu mulia untuk rakyat. Tapi apa boleh buat, kalau itu memang penyakit harus kita hadapi. Dengan sedih kita tindak, ya, dan kita terus akan tindak.

Sekali lagi, berkali-kali saya bilang bahwa percayalah kita tidak akan, kita tidak akan pilih kasih, kita tidak akan tebang pilih, kita tidak akan tidak bertindak terhadap penyelewengan. Tentunya, kita butuh kearifan kadang-kadang, waktunya kapan, bilamana, di mana, bagaimana, ya, karena kita ingin menyehatkan badan Indonesia. Kalau ada orang, umpamanya, kena kanker, jalan pintas bisa, potong saja tangannya, kita potong saja kakinya, kan, begitu. Tapi, mungkin dengan ketepatan, dengan terapi, dengan teknologi, dengan kita bisa tanpa terlalu merusak badan. Sama. 

Saya dapat pelajaran bahwa ekonomi satu negara sama dengan badan kita. Kalau kita memelihara badan kita dengan baik, ekonomi badan kita akan sehat. Sama. Badan ekonomi kalau dipelihara dengan baik akan sehat. Tapi, kalau diracuni dengan markup, dengan korupsi, dengan penipuan, dengan under-invoicing, dengan transfer pricing, dengan patgulipat, permainan antara birokrat sama pengusaha, antara bank, kasih kredit ke itu-itu saja, ya, rusak, sakit. Nah, ini kita sedang perbaiki.

Saya kira, Saudara-saudara, begitu banyak keputusan besar yang telah kita ambil, ya. Jadi, saya rinci ini dalam sidang paripurna ini sebagai satu tonggak evaluasi. What we have done, what we still have to do. Kita sudah mencapai ke sini. Ini untuk mendorong semangat kita. Ternyata benar. Ternyata kalau kebijakannya benar, niatnya benar, arahnya benar, sesuai dengan filosofi bangsa, sesuai dengan akal sehat, sesuai dengan itikad untuk, apa, untuk mengabdi kepada rakyat, ternyata hasilnya real, hasilnya real. Dunia sudah mulai mengakui, Saudara-saudara sekalian.

Saya kira itu dari saya sebagai pengantar, ya. Dan, sekarang saya persilakan kawan-kawan media untuk menikmati minum kopi di luar ruangan.