Tingkatkan Keberlanjutan Perpustakaan dalam Mewujudkan Ekosistem Digital, Kemensetneg Adakan Webinar

 
bagikan berita ke :

Selasa, 13 September 2022
Di baca 353 kali

Berlangsung secara virtual, Selasa (13/9), Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melanjutkan rangkaian kegiatan Setneg Library Festival 2022 dengan menyelenggarakan Webinar Perpustakaan bertema “Meningkatkan Kebermanfaatan dan Keberlanjutan Perpustakaan dalam Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional”. Webinar kali ini mengundang dua narasumber yaitu Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya UI, Luki Wijayanti dan Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan UNDIP, Heryanto.

Kegiatan yang digelar sepekan ini, dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca. Merupakan Gudang informasi sekaligus ilmu pengetahuan, perpustakaan memiliki peran guna memperluas wawasan serta menambah pengetahuan.

Menyikapi berbagai disrupsi yang datang, pustakawan harus mampu terus belajar, bekerja, dan berinteraksi di perpustakaan baik sebagai suatu ruang fisik maupun ruang maya bahkan menjadikan perpustakaan sebagai simbol inovasi dalam pengembangan ide-ide baru para ASN Kemensetneg.

“Melalui webinar hari ini diharapkan dapat dihasilkan strategi dan program aksi Unit Perpustakaan mengembangakan layanan digital bagi para Pemustaka baik pegawai instansi, pelajar di dunia Pendidikan maupun masyarakat luas,” ujar Adyawarman selaku Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN).


Webinar yang berjalan selama dua jam ini dipandu oleh Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), Faril Elnumeri. Kesadaran akan pentingnya data informasi dan pengetahuan dalam ekosistem digital, melibatkan perpustakaan secara utuh karena Perpustakaan merupakan cerminan dari perkembangan atau karya intelektual suatu instansi/organisasi.

Bagaimana Perpustakaan berperan aktif dalam mewujudkan ekosistem digital nasional, Luki Wijayanti menjelaskan beberapa kemampuan yang diperlukan oleh Pengelola Perpustakaan antara lain, kemampuan memahami perilaku dan kebutuhan  informasi para komunitas yang dilayani. Selain itu, Pengelola Perpustakaan juga harus memiliki kemampuan teknologi informasi dengan komputer berbasis internet yang dibutuhkan dalam menyikapi era digital agar unit pengelola informasi dapat berpartisipasi dan terlibat langsung dalam ekosistem digital.

Untuk mewujudkan ekosistem digital nasional, perpustakaan harus lebih memahami peran dan manfaatnya bagi masyarakat luas. “Perpustakaan adalah unit informasi yang dinamis mengikuti dinamika lingkungan kerjanya, perpustakaan juga harus mampu memfasilitasi Pemustaka untuk mencapai tujuannya. Perpustakaan pun mengelola seluruh karya yang pernah dihasilkan penggunanya (repositori institusi) termasuk melakukan preservasi dan konservasi digital. Selanjutnya, pustakawan menjadi mitra pemustaka dalam mengelola pengetahuannya. Pustakawan juga menjadi pendamping pengguna guna meraih kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan,” kata Luki.

Perpustakaan sejatinya ikut terlibat dalam dunia digital dan lebih kritis serta bertanggung jawab terhadap segala kontribusi didalamnya. Heryanto menyampaikan adanya perspektif baru sejak masa pandemi, misalnya pembelajaran jarak jauh. Hal tersebut mengharuskan perpustakaan memanfaatkan tools untuk menawarkan informasi atau data yang dimiliki kepada pemustaka dengan literasi digital.


Sementara, untuk keberlanjutan perpustakaan dalam mewujudkan ekosistem digital nasional, Heryanto menerangkan tiga hal yang penting diperhatikan yaitu pustakawan harus berinteraksi lebih intens dengan pengguna perpustakaan melalui berbagai layanan informasi dan kegiatan pendidikan pemakai. Kemudian, menyadari adanya culture of convenience. Kebanyakan orang berharap mendapatkan informasi secara instan dan perpustakaan dapat berkontribusi melalui online dan offline site yang engaging, appealing, dan convenient. Selain itu, konten yang menjadi koleksi dan layanan perpustakaan harus lebih terlihat (visible) dan diasosiasikan dengan perpustakaan.

“Harapannya, ketika ketiganya dilakukan maka akan dapat memberikan kepuasan (user satisfaction with content). Pustakawan juga bisa melibatkan pengguna dalam mendesain layanan dan pengembangan koleksi, supaya lebih tepat sasaran,” pungkas Heryanto. (DEW/YLI-Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
3           0           0           0           0