Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Maju

 
bagikan berita ke :

Selasa, 29 Oktober 2019
Di baca 870 kali

Oleh:

Eddy Cahyono Sugiarto

(Asdep Humas Kemensetneg)

 

“Kita harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern, yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

(Pidato Presiden RI pada Sidang Paripurna MPR: Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2019-2024, 20 Oktober 2019)

 

Proyeksi Indonesia maju telah menjadi diskursus intelektual yang hangat dibicarakan di forum-forum internasional, setidaknya dapat kita cermati dari publikasi PwC dalam terbitan berkala, The Long View: How will the global economic order change by 2050? yang memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara keempat terbesar dunia setelah China, India dan Amerika Serikat pada tahun 2050. 

Hal senada juga pernah disampaikan McKinsey Global Institute (MGI) pada September 2012 dalam laporannya yang berjudul The Archipelago Economy: unleashing Indonesia’s potential, yang isinya antara lain memprediksi hal yang sama, yaitu peningkatan perekonomian Indonesia, dari peringkat ke-17 pada 2012 menjadi peringkat ke-7 pada 2030. Dua laporan ini mewakili begitu banyak analisis yang optimistis terhadap masa depan perekonomian Indonesia.

Beragam pemikiran tentang optimisme perekonomian Indonesia pada masa mendatang, tentunya membutuhkan prakondisi yang harus segera diwujudkan sebagai pilar pendukung transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju. Peta jalan yang diimplementasikan secara konsisten, dalam meningkatkan produktivitas yang salah satunya ditandai dengan adanya peningkatan produktivitas tenaga kerja yang bertambah sekitar 60 persen pada periode 2010 hingga 2030 nanti.


Peningkatan produktivitas tenaga kerja tersebut harus tumbuh didalam ekosistem yang dirancang kondusif untuk tumbuhkembangnya basis perekonomian yang produktif dan berdaya saing, yang ditandai dengan peningkatan penerimaan dari sektor manufaktur berorientasi ekspor.

Diperlukan membangun basis produksi yang kondusif terhadap peningkatan produktivitas, yang mampu menghasilkan keluaran (output perekonomian) dari sumber daya (faktor produksi) yang kita miliki agar mendorong bergeraknya perekonomian produktif domestik, dengan berkembangnya sektor industri manufaktur yang menghasilkan produk berorientasi ekspor.

Defisit neraca transaksi berjalan pada 2018 yang nilainya sangat besar, yaitu sekitar US$ 31 miliar seyogyanya dijadikan early warning dalam membangun perekonomian domestik. Defisit transaksi berjalan menunjukkan ketergantungan kita pada sumber daya eksternal dalam mendorong perekonomian kita. Dengan kata lain, jika ingin tumbuh lebih tinggi, maka diperlukan transformasi perekonomian agar sumber daya domestik lebih kuat.

Merujuk pendapat Rosenstein-Rodan (1943), menjadi jelaslah diperlukan suatu   kebijakan yang memiliki daya dorong yang besar sebagai a necessary condition untuk mengatasi ketertinggalan dengan meman­faatkan jaringan kerja melalui skala kehematan dan cakupan (economies of scale and scope), sebagai acuan dalam mentrans­formasi ekonomi Indonesia.

Transformasi ekonomi Indonesia, antara lain dapat dimulai dari strategi indutrialisasi pengolahan, dimana Ta­bel Input-Output menunjukkan indeks daya penyebaran indus­tri pengolahan sebesar 1,09. Artinya, kenaikan permintaan akhir satu persen akan mening­katkan pertumbuhan industri penghasil input penyokongnya sebesar 1,09 persen.

Dengan kata lain langkah krusial dalam jangka pendek ada­lah bagaimana mengembangkan industry pengolahan yang berbasis sumber daya alam secara massif di seluruh sentra produksi seperti pertambangan, perikanan, perkebunan, pertanian dan lainnya. Indus­tri pengolahan harus mampu memberi nilai tambah (value added) pada produk-produk sektor primer. Sejalan dengan itu, hilirisasi subsektor indus­tri manufaktur yang memiliki keterkaitan kuat ke depan (for­ward linkage) patut dijadikan prioritas.

Lesson learn dari sukses transformasi ekonomi pada beberapa negara maju, membuktikan peranan sektor industri yang lebih dominan dibandingkan dengan sektor lainnya, sektor industri memegang peran kunci sebagai mesin pembangunan ekonominya.

Peran strategis sektor industri sebagai mesin pembangunan ekonomi, bukan tanpa alasan, karena sektor industri akan membawa dampak turunan, yakni meningkatnya nilai kapitalisasi modal, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, serta kemampuan menciptakan nilai tambah (value added creation) dari setiap input atau bahan dasar yang diolah.

Kemajuan ekonomi China dan Korea Selatan yang menjadikan industrialisasi sebagai salah satu pilarnya, terbukti efektif berkonstribusi memacu tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto China yang mencapai 10 persen setiap tahunnya dengan pertumbuhan industrinya mencapai 17 persen.  

Kehebatan ekonomi China sejatinya merupakan buah dari program reformasi ekonomi yang dimulai pada 1979 oleh Deng Xiaoping, yang meletakkan dasar bagi sistem ekonomi yang memungkinkan pasar bebas dan industri kecil di pedesaan berkembang pesat di seluruh negeri.

Jauh sebelumnya, Mao Zedong dan Zhou Enlai telah membangun fondasinya, melalui pencanangan program The Great Leap Forward (Lompatan Besar ke Depan) pada 1958. Mereka berharap China menjadi negara industri maju dalam waktu singkat.  Titik beratnya adalah pembangunan ekonomi yang berfokus pada industri mesin dan baja, juga produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus ekspor.

Momentum Indonesia Maju

Kita patut bersyukur bonus demografi ("demographic window") tengah dialami oleh bangsa Indonesia, dimana proporsi populasi kelompok usia pekerja mengungguli populasi kelompok non-usia pekerja. Merujuk data BKKBN, diperkirakan Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2030, kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar (70 persen dari total penduduk atau sekitar 180 juta penduduk), dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan di atas usia 65 tahun) yang hanya berjumlah sekitar 60 juta jiwa.

Momentum ini harus dapat dioptimalkan nilai tambahnya dengan menciptakan ekosistem yang kondusif untuk berkonstribusi pada kemajuan Indonesia, agar dapat keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah, khususnya dalam mengkapitalisasi bonus demografi melalui transformasi ekonomi agar menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berkualitas.

Transformasi ekonomi merupakan suatu keniscayaan ditengah kondisi global yang yang tengah mengalami ketidakpastian akibat kompetisi yang semakin tajam, geostrategis ekonomi global berubah cepat akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Selain itu penurunan harga komoditas dan volume perdagangan dunia, serta pelonggaran kebijakan moneter yang diambil sejumlah negara rentan terhadap negara lainnya. 

Kita patut mengapresiasi berbagai langkah strategis kebijakan ekonomi Indonesia yang telah diambil pemerintah yang mampu menciptakan kemajuan berarti ditengah ketidakpastian ekonomi global, indikasinya terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya masih berada pada tren positif, bila dibandingkan negara besar lainnya.

Pada kuartal II-2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,05% (year on year/yoy), inflasi pun terjaga dalam rentang target. Sejumlah indikator sosial membaik, tingkat kemiskinan yang tetap pada level 1 (satu) digit, rasio gini dan tingkat pengangguran juga semakin menurun. Artinya, ekonomi kita sehat dan berkualitas.

Untuk memperkokoh hal tersebut menjadi nyatalah pentingnya transformasi ekonomi, untuk menjaga momentum positif guna dapat terus meningkatkan kemakmuran warga negara. Transformasi ekonomi merupakan prasyarat dari peningkatan dan kesinambungan pertumbuhan serta penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi keberlanjutan pembangunan.


Transformasi ekonomi yang terjadi diharapkan dapat menggeser struktur ekonomi yang semula berbasis komoditas, menjadi ekonomi berbasis investasi, produksi, dan pelayanan yang memiliki nilai tambah tinggi. Hal ini dapat meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia dan kualitas hidup masyarakat.

Transformasi ekonomi yang digagas seyogyanya berfokus pada pemanfaatan potensi desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi daerah, yang nantinya akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan transformasi ekonomi berbasis industry pertanian, petani lebih efisien memanfaatkan infrastruktur yang memadai dan teknologi pertanian yang maju, serta kepastian adanya offtaker yang akan membeli produk pertaniannya dengan harga yang baik.

Diperlukan upaya mengoptimalkan manfaat yang diperoleh dari pembangunan infrastruktur yang telah dan akan terus secara massif dilakukan pemerintahan saat ini, sambil memperkuat implementasi Kebijakan Pemerataan Ekonomi. Kebijakan ini diarahkan untuk mengatasi faktor-faktor ketimpangan melalui pilar kebijakan ekonomi yang berkeadilan, melalui Reforma Agraria yang terdiri dari Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), Perhutanan Sosial, dan moratorium serta peremajaan perkebunan kelapa sawit.

Di samping itu, efisiensi pasar tenaga kerja dan peningkatan kualitas SDM menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan, utamanya dalam menciptakan regulasi yang mampu menyiapkan SDM berkualitas, serta memastikan pekerja mendapat pekerjaan yang layak melalui peningkatan keterampilan yang berkelanjutan.


Terakhir yang tak kalah penting adalah konfigurasi investasi untuk mendukung pertumbuhan, karena saat ini ICOR Indonesia tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara peers seperti Vietnam dan India. Hal ini menandakan bahwa investasi di Indonesia secara makro kurang efisien.

Oleh karena diperlukan strategi konfigurasi investasi yang diarahkan untuk dapat menurunkan ICOR melalui penurunan suku bunga riil, optimalisasi investasi yang memberikan return lebih cepat dan berorientasi ekspor, efisiensi produksi melalui pengembangan sumber energi murah, pengembangan SDM dan reformasi pasar ketenagakerjaan, dan juga digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi serta optimalisasi underutilized assets dan resources.

Bercermin dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia, menjadi jelaslah betapa pentingnya sinergi dan dukungan dari seluruh sektor maupun stakeholder di bidang ekonomi langkah strategis dalam mengefektifkan penguatan koordinasi dan dukungan kebijakan dari seluruh sektor di bidang ekonomi, mulai dari kebijakan fiskal, moneter dan keuangan, serta kebijakan dari kementerian teknis sangat diperlukan.

Kerja keras dan fokus perlu terus diupayakan agar target pertumbuhan dan peningkatan transformasi ekonomi sebagaimana yang telah digariskan, dapat dicapai dengan memberi perhatian khusus terhadap peningkatan kualitas SDM melalui peran aktif menyukseskan program pendidikan formal mapun non-formal seperti balai latihan kerja (BLK) dan alih teknologi yang menjadi kata kunci suksesnya industrialisasi.

Sikap optimistis perlu terus ditumbuhkan, pondasi ekonomi yang telah dibangun, agar dapat menjadi pijakan dalam transformasi ekonomi, sehingga mampu meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia merebut peluang pasar.


Kita tentunya  berharap dengan semangat gotong royong dan  sinergitas dari  segenap komponen bangsa, utamanya dalam  membangun optimisme  kemajuan Indonesia melalui transformasi ekonomi,  mimpi Indonesia  menjadi negara maju dengan pendapatan Rp 320 juta per kapita per tahun atau Rp 27 juta per kapita per bulan, Produk Domestik Bruto Indonesia  7 triliun dollar AS dan menjadi 5 besar ekonomi dunia, dengan kemiskinan mendekati nol persen pada  tahun 2045, akan segera terwujud. Semoga.

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
1           1           0           0           0