Disruption, Inovasi yang Menggantikan Sistem Lama dengan Cara Baru

 
bagikan berita ke :

Rabu, 15 November 2017
Di baca 1794 kali

Disruption, mungkin kata itu masih terdengar asing di beberapa kalangan masyarakat. Dalam buku Disruption yang ditulis oleh Rhenald Kasali, Disruption adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Oleh karena itu, Rabu (15/11), Biro Tata Usaha Kementerian Sekretariat Negara menyelenggarakan bedah buku Disruption yang ditulis oleh Rhenald Kasali bertempat di Aula Serbaguna Kemensetneg, Jakarta.

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, beserta Pejabat dan Pegawai di lingkungan Kemensetneg turut hadir dalam acara beda buku ini. “Kita beruntung bisa mencuri waktu Pak Rhenald Kasali, beliau orang yang legitimate untuk membahas ini, disruption ini mungkin terasa di sektor swasta karena swasta ada ketakutan bangkrut, kalau lembaga pemerintahan tidak ada cerita bangkrut. Karena tidak pernah bangkrut maka tidak ada tantangan bagi banyak pejabat, birokrat untuk berfikir menghadapi kebangkrutan,” ujar Pratikno.

Lanjut, Pratikno menjelaskan resiko bangkrut dalam pemerintahan kecil karena disruption. “Resiko pemerintah kecil gara-gara disruption karena tidak pernah bangkrut, beda dengan disruption bagi swasta, tetapi pemerintah menjadi kurang relevan atau bahkan tidak relevan menurut saya itu besar, jadi poin saya kita lembaga Pemerintah dibilang bangkrut tidak, tapi dibilang tidak relevan itu iya. Jadi itulah saya ingin mengajak Saudara sekalian untuk menyadari ini, oleh karena itu kita harus tahu disruption,” kata Pratikno mengakhiri sambutannya.

Rhenald Kasali menjelaskan disruption mengajarkan bahwa sebuah tren baru sudah muncul dan tren lama itu telah terputus. Di dalam bukunya, Disruption digambarkan menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. “Makanya disruption disebut platformnya telah berbeda sama sekali,” jelas Rhenald.

Rhenald menerangkan disruption ditulis pada tahun 1997 oleh dua orang tapi beda paham. “Dua orang yang menulis disruption ini menjelaskan disruption dikaitkan studi tentang bisnis, dan satu lagi tentang society. Tentang society ditulis oleh Francis Fukuyama dan yang tentang bisnis oleh Clayton Christensen,” terangnya.  

Founder Rumah Perubahan ini memberikan gambaran dari disruption yang telah ada saat ini. “Contohnya modem, di tahun 1990an modem merupakan gelombang pertama teknologi informasi dalam hal connectivity. Menjelang tahun 2000 muncul e-commerce perlahan-lahan, disusul sosial media seperti facebook, tahun 2000-2012 itu adalah era yang disebut sebagai sosial media dan dunia komersial di dalam dunia online," terang Rhenald.

Tak berhenti sampai di situ, Rhenald juga menjelaskan disruption terlihat dari tahun ke tahun melalui internet yang berkembang semakin cepat bahkan produk pun dapat disebar ke dalam produk yang bentuknya digital. “Ekonomi saat ini digambarkan dari rumah tangga ke rumah tangga. Anda di sini mau makan martabak, tinggal masuk saja ke Gojek, Gofood, martabaknya langsung datang sendiri tanpa harus antri,” jelas Rhenald.

Rhenald menambahkan bahwa inovasi membuat cara pandang ekonomi dunia berubah. “Tidak banyak orang yang paham semakin tahun akan memasuki era baru bahkan pertumbahan ekonomi dunia akan declining, Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 7-8% tapi saat ini harus puas di 5%,” tambahnya.

Di penghujung acara, Rhenald menyampaikan disruption terjadi ketika tidak bisa invent the future atau escape from the past. “Problem terbesar kita adalah ketidakmampuan kita untuk keluar dari cara-cara lama, itulah yang berbahaya Bapak Ibu sekalian, karena cara-cara lama ini sebagian besar tidak relevan, mengikuti perkembangan itu penting sekali, celakanya sebagian besar kita itu selalu terperangkap dalam masa lalu, “ tutupnya. (ART-Humas Kemensetneg)

Kategori :
Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           2           0           0           0