Indonesia Perkuat Kerja Sama Selatan–Selatan, 12 Peserta Ikuti Program Peningkatan Kapasitas Layanan Iklim

 
bagikan berita ke :

Selasa, 05 Mei 2026
Di baca 40 kali

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Colombo Plan Secretariat kembali menyelenggarakan Capacity Building Program on Applied Climate Services Operations for Colombo Plan Member Countries (CBP ACSO) 2026 di Jakarta pada 3–13 Mei 2026.

Tahun ini, program diikuti oleh 12 peserta dari delapan negara anggota Colombo Plan, yaitu Bhutan, Lao PDR, Maladewa, Sri Lanka, Mongolia, Vietnam, Filipina, serta Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Indonesia dalam memperkuat kontribusi di bidang perubahan iklim, yang menjadi salah satu prioritas nasional dalam kerja sama pembangunan internasional.

Dalam sambutannya, Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kemensetneg, Noviyanti, menegaskan bahwa Indonesia secara konsisten menjadikan Kerja Sama Selatan–Selatan dan Triangular (KSST) sebagai instrumen strategis diplomasi pembangunan.

"Melalui pendekatan peer learning, program ini tidak hanya memfasilitasi transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong pertukaran pengalaman untuk menghasilkan solusi inovatif yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara," ujar Noviyanti, Minggu (03/05/2026).

Lebih lanjut, Noviyanti menyampaikan bahwa kolaborasi dengan BMKG mencerminkan sinergi antarlembaga dalam mendukung prioritas nasional di bidang perubahan iklim. Kemitraan dengan Colombo Plan, yang telah terjalin sejak 2015, juga menunjukkan keberlanjutan kerja sama triangular Indonesia dengan berbagai mitra pembangunan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, yang secara resmi membuka program menekankan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan nyata yang berdampak luas terhadap berbagai sektor, termasuk ketahanan pangan, sumber daya air, kesehatan, dan pengurangan risiko bencana. Oleh karena itu, layanan iklim menjadi elemen penting dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data serta meningkatkan ketahanan pembangunan. 

"Program peningkatan kapasitas seperti ini menjadi sangat penting untuk memperkuat kemampuan sumber daya manusia dalam memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi iklim secara efektif," kata Kepala BMKG

Kepala BMKG juga menegaskan komitmennya dalam mengembangkan sistem observasi, pemodelan, dan layanan peringatan dini berbasis kebutuhan pengguna, serta berbagi pengalaman tersebut dengan negara-negara mitra melalui platform KSST. Upaya ini sejalan dengan inisiatif global Early Warnings for All dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Melalui program ini, Indonesia berharap tidak hanya terjadi peningkatan kapasitas teknis peserta, tetapi juga terbentuk jejaring kerja sama yang berkelanjutan. Para peserta didorong untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang konkret serta mengembangkan kolaborasi lanjutan, seperti penelitian bersama, proyek percontohan, dan platform berbagi pengetahuan.

Selama sepuluh hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti sesi kelas, diskusi, praktik teknis, serta kunjungan lapangan. Peserta juga diperkenalkan dengan kekayaan budaya Indonesia sebagai bagian dari diplomasi dan penguatan people-to-people contact. (Biro KTLN/DND-Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
1           0           0           0           0