Jejak Pengabdian di Balik Tugas Kenegaraan

 
bagikan berita ke :

Jumat, 21 Agustus 2026
Di baca 1 kali

Setiap masa pengabdian memiliki cerita. Ada perjalanan panjang yang dilalui dalam rutinitas pekerjaan, pengalaman yang datang tanpa diduga, serta kebersamaan dengan rekan kerja yang kemudian menjadi bagian dari kenangan.

Bagi Ridha Sorayawati dan Imam Sudrajat, perjalanan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Ridha menghabiskan 32 tahun masa kerjanya di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Sementara Imam menuntaskan 40 tahun perjalanan sebagai aparatur sipil negara, dengan sekitar 20 tahun terakhir bertugas di Sekretariat Wakil Presiden.

Kini, keduanya memasuki masa purnabakti. Namun, berakhirnya masa tugas tidak serta-merta mengakhiri cerita tentang perjalanan yang telah mereka lalui.

Bagi Ridha, Istana Yogyakarta bukan sekadar tempat bekerja. Sejak bergabung sebagai tenaga honorer pada 1991 dan kemudian diangkat sebagai PNS pada 1994, berbagai pengalaman di lingkungan Istana menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Selama bertugas, Ridha pernah menangani berbagai pekerjaan, mulai dari urusan rumah tangga, protokol, pelayanan, tata usaha, perencanaan, hingga keuangan. Beragam tugas tersebut memberinya kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.

“Kementerian Sekretariat Negara memberikan kesempatan untuk pegawainya untuk terus belajar, menggali keterampilan, dan menjadi pribadi yang kompeten,” ujar Ridha.

Tujuh Hari Tujuh Malam di Astaga Giribangun
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Ridha terjadi ketika ia mendapat tugas saat wafatnya Ibu Tien Soeharto pada bulan April 1996.

Saat itu, setelah melaksanakan salat Iduladha, Ridha menerima telepon dari kantor untuk segera berangkat ke Astana Giribangun, yang merupakan kompleks pemakaman keluarga Presiden Soeharto, bersama sejumlah rekan dari Istana Yogyakarta. Ia mengira tugas tersebut hanya akan berlangsung satu atau dua hari. Karena itu, ia berangkat dengan membawa pakaian seadanya.

Namun, situasi yang dihadapi ternyata berbeda. Banyaknya tamu yang datang membuat tugas pelayanan berlangsung selama beberapa hari.

Sepanjang hari mereka melayani para tamu di Astana Giribangun, termasuk tamu VVIP, hingga menginap di sana. Pagi harinya, mereka kembali ke kediaman keluarga Presiden Soeharto di Kalitan untuk menyiapkan berbagai kebutuhan. Setelah itu, mereka kembali ke Astana Giribangun hingga malam. Siklus tersebut berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.

“Dan itu pelayanan yang sungguh melelahkan. Tapi saya bangga bisa membantu dalam kegiatan itu,” kenang Ridha.

Tugas tersebut berlangsung pada momentum Iduladha, saat banyak orang tengah berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi Ridha, ketika tugas telah diberikan, tanggung jawab harus tetap dijalankan.

“Capek tidak jadi ukuran buat saya untuk mengabdikan diri,” katanya.

Pengalaman itu menjadi salah satu kenangan yang terus dibawanya hingga masa purnabakti.

Belajar dari Keteladanan
Selama 32 tahun bekerja, Ridha mengaku banyak mendapatkan pelajaran dari orang-orang di sekitarnya. Salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan kariernya adalah almarhum Joko Soetono, yang pernah menjadi Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Ridha mengenang Joko Soetono sebagai sosok yang ulet, cekatan, dan mengayomi pegawai. Ia juga selalu memberikan motivasi agar pegawai terus belajar dan bekerja dengan ikhlas.

“Pak Joko Soetono selalu memberi motivasi kepada karyawan untuk terus belajar dan bekerja dengan ikhlas,” tutur Ridha.

Dari pengalaman tersebut, Ridha memahami bahwa bekerja di lingkungan Istana membutuhkan kesiapan. Agenda kenegaraan, terutama yang melibatkan VVIP, dapat berlangsung sewaktu-waktu sehingga pegawai harus siap memberikan pelayanan terbaik.

Tantangan terbesar selama perjalanan kariernya, menurut Ridha, adalah menjaga integritas dan amanah yang telah diberikan.

“Yang harus kita jaga selama ini adalah integritas. Itu yang harus kita pegang teguh,” tegasnya.

Integritas, lanjutnya, diwujudkan dengan menjaga kejujuran dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya agar hasil pekerjaan dapat maksimal.

Cerita dari Perjalanan Puluhan Tahun
Jika Ridha memiliki pengalaman panjang di Istana Kepresidenan Yogyakarta, Imam Sudrajat menjalani perjalanan yang berbeda.

Imam memulai karier sebagai ASN di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada 1986. Pada 2005, ia mendapat kesempatan bergabung dengan lingkungan Kementerian Sekretariat Negara. Saat itu, Sekretariat Wakil Presiden tengah membentuk Deputi Pengawasan.

Dengan pengalaman di bidang pengawasan internal pemerintah, Imam menjadi salah satu dari tujuh pegawai BPKP yang direkrut untuk mendukung pembentukan deputi tersebut. Ia pun mulai bertugas di Sekretariat Wakil Presiden pada 2006.

Selama sekitar dua dekade di Setwapres, Imam menjalankan tugas di bidang substansi maupun administrasi. Ia pernah menangani pengawasan, pengaduan masyarakat, perencanaan dan evaluasi anggaran, hingga berbagai tugas pelayanan terhadap Wakil Presiden.

“Dua puluh tahun di BPKP, dua puluh tahun di Setneg, khususnya hanya di Setwapres,” ujarnya mengenang perjalanan kariernya.

Salah satu pengalaman yang paling dikenang Imam adalah ketika terlibat dalam proses penguatan pengelolaan keuangan dan sistem pengendalian internal di lingkungan Setwapres.

Pada 2010, Setwapres untuk pertama kalinya memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Menurutnya, tantangan ketika itu tidak sederhana. Ia harus banyak berdiskusi dengan rekan kerja dan berkolaborasi dengan BPKP untuk memperkuat pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sesuai ketentuan.

“Karena ini hal baru buat Setwapres secara umum,” ujarnya.

Dari Rapat hingga Perjalanan ke Tanah Suci
Di luar tugas yang bersifat administratif dan substantif, Imam juga menyimpan sejumlah pengalaman personal selama menjalankan tugas. Salah satunya terjadi ketika ia baru menjabat sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga. Saat itu terdapat rapat mingguan yang biasanya diakhiri dengan makan siang bersama.

Imam mengetahui bahwa Wakil Presiden saat itu, Boediono, biasanya menginginkan hidangan sederhana. Ia kemudian meminta timnya menyiapkan makanan untuk seluruh peserta rapat. Hidangan sederhana pun disiapkan. Namun, keesokan harinya Imam justru mendapat teguran dari atasannya karena menyediakan makanan bagi para deputi dengan menu yang sangat sederhana.

Pengalaman itu kemudian berlanjut menjadi cerita yang tidak pernah ia duga. Imam justru mendapat kesempatan mendampingi Wakil Presiden Boediono dalam perjalanan ibadah haji. Karena keterbatasan personel, ia bahkan menjalankan tugas yang cukup berbeda dari pekerjaan sehari-harinya.

“Saya jadi pramusaji. Saya menyiapkan makanan, saya menyalurkan. Jadi lucu juga, ada unik juga. Seumur-umur saya baru betul-betul menyiapkan nasi, menyiapkan lauk, lalu saya serve ke Pak Wakil Presiden. Bahkan mengambil piring kotornya,” tuturnya.

Bagi Imam, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan karena membuatnya dapat berinteraksi lebih dekat dengan Wakil Presiden.

Melengkapi Perjalanan di Seluruh Provinsi di Indonesia
Selama bertugas di Setwapres, Imam juga mendapat kesempatan mengunjungi berbagai wilayah Indonesia. Hampir seluruh provinsi pernah ia datangi dalam rangka menjalankan tugas. Namun, ada satu wilayah yang belum pernah dikunjunginya hingga mendekati masa purnabakti, yakni Jayapura.

Ketika kesempatan untuk berangkat ke Jayapura datang, Imam sempat ragu. Perjalanan yang jauh dan usia yang semakin bertambah membuatnya berpikir ulang. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk berangkat. Keputusan tersebut sekaligus melengkapi perjalanan panjangnya selama bertugas. Imam menyebut telah mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia.

“Ketika ada tawaran ke Jayapura sebenarnya saya agak kurang tertarik, karena perjalanannya jauh dan saya juga semakin tua. Tapi saya pikir-pikir kapan lagi ke Jayapura? Akhirnya saya terima tawaran itu, jadi melengkapi saya berkunjung ke seluruh provinsi di Indonesia selama 20 tahun saya bertugas di Setwapres,” kata Imam.

Baginya, perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang jumlah wilayah yang telah dikunjungi, melainkan bagian dari tugas yang harus dijalankan.

Belajar Menjalani Hari Setelah pensiun
Setelah puluhan tahun bekerja, Ridha dan Imam kini menjalani kehidupan dengan ritme yang berbeda.

Ridha menikmati waktu bersama keluarga di Yogyakarta. Ia juga kembali menekuni kegiatan memasak dan mencoba mengembangkan makanan yang dibuatnya menjadi usaha kecil.

Sementara itu, Imam menikmati waktu yang lebih longgar bersama keluarga. Selama bertahun-tahun, rutinitasnya dimulai sejak pagi dan berakhir setelah pekerjaan selesai. Kini, ia dapat menikmati pagi tanpa harus terburu-buru berangkat ke kantor.

“Lega. Tiga bulan masih semacam masa transisi untuk bisa kita melepaskan segala kepenatan yang ada selama empat puluh tahun bekerja,” ujarnya.

Ia bahkan mendapat tawaran untuk kembali bekerja sebagai auditor di sektor swasta. Namun, untuk sementara, Imam memilih menikmati masa purnabaktinya.

“Mungkin karena basic saya auditor ya tawarannya jadi auditor di kantor akuntan publik. Tapi nanti dulu deh. Saya lagi menikmati “kemerdekaan” saya dulu,” katanya.

Selain menikmati waktu bersama keluarga, setelah pensiun Imam berencana kembali menekuni dan memperdalam ilmu dalam fotografi.

Pesan untuk Generasi Penerus
Puluhan tahun perjalanan kerja memberikan pengalaman yang berbeda bagi Ridha dan Imam. Namun, keduanya memiliki pesan yang sama pentingnya bagi generasi penerus: menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh dan menjaga nilai-nilai dalam bekerja. Bagi Ridha, integritas merupakan fondasi utama.

“Melaksanakan tugas ini karena ini tugas mulia dan selalu menjaga integritas dan totalitas dalam melaksanakan tugas,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar pegawai terus belajar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru.

Sementara Imam menekankan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat.

“Berikan yang terbaik. Kita mesti punya kompetensi, inovasi, kreativitas, tanggung jawab, dan integritas,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan keduanya. Sebab, selama puluhan tahun, tugas yang dijalankan mungkin berbeda, lingkungan kerja dapat berubah, dan tantangan terus berkembang. Namun, nilai dasar dalam menjalankan pengabdian tetap menjadi pegangan.

Menutup Satu Babak, Membuka Langkah Baru
Purnabakti menjadi penanda berakhirnya satu fase perjalanan sebagai aparatur negara. Namun, bagi Ridha dan Imam, pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun akan tetap menjadi bagian dari kehidupan.

Ada tugas-tugas yang pernah dijalankan, perjalanan ke berbagai daerah, pengalaman menghadapi situasi yang tidak terduga, serta kebersamaan dengan rekan-rekan kerja. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang di Kementerian Sekretariat Negara.

Kini, Ridha melanjutkan kehidupannya di Yogyakarta dengan aktivitas baru. Sedangkan Imam menikmati waktu bersama keluarga dan mulai kembali menekuni fotografi.

Sementara itu, nilai-nilai yang mereka pegang selama bertugas akan terus menjadi bagian dari cerita yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Masa pengabdian boleh berakhir, tetapi keteladanan dan pengalaman yang ditinggalkan akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Kementerian Sekretariat Negara. (GUN/DND/MAN - Humas Kemensetneg)



Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0