Sambutan Presiden pada Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII

 
bagikan berita ke :

Rabu, 24 Juni 2026
Di baca 3 kali

di Sport Center Limboto, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati dan yang saya banggakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman;
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Saudara Yadi Sofyan Noor sebagai tuan rumah;
Menteri Koordinator Pangan, Saudara Zulkifli Hasan; 
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang sekaligus adalah Wakil Menteri Pertanian, Saudara Sudaryono; 
Gubernur Gorontalo sebagai yang punya wilayah, yang punya daerah, Saudara Gusnar Ismail beserta seluruh gubernur, bupati, wali kota yang hadir;
Gubernur [dan] wakil gubernur yang hadir, Gubernur Sulawesi Selatan Saudara Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sulawesi Utara Mayor Jenderal TNI (Purn.) Yulius Selvanus, Gubernur Maluku Saudara Hendrik Lewerissa, Gubernur Maluku Utara Saudari Sherly Tjoanda, Wakil Gubernur Gorontalo Saudari Idah Syahidah, Wakil Gubernur Sulawesi Utara Saudara Victor Mailangkay, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Saudara Hugua;
Saudara-saudara, ini adalah menteri-menteri dan pejabat setingkat yang hadir, ini sekalian absen. Menteri Kelautan dan Perikanan Saudara Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (Purn.) Tito Karnavian, Menteri Luar Negeri Saudara Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Pekerjaan Umum Saudara Dody Hanggodo, ini yang irigasi-irigasi ini, beliau yang bangun ini. Menteri Transmigrasi, Saudara Iftitah Suryanagara, Menteri Perhubungan Saudara Dudy Purwagandhi, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Tony Harjono, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arief Satria, Kepala Badan Pusat Statistik Saudari Amalia Widyasanti, Kepala Badan Karantina Indonesia Saudara Abdul Kadir Karding, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Laksamana TNI (Purn.) Didit Ashaf Herdiawan, Wakil Menteri Kehutanan, Saudara Rohmat Marzuki, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Letkol. Teddy Indra Wijaya;
Wali kota dan bupati yang hadir; Wali Kota Subulussalam Saudara Rasyid Bancin, hadir?  Wali Kota Tarakan Saudara Khairul, Wakil Wali Kota Makassar Saudari Aliyah Mustika Ilham, Wakil Wali Kota Kotamobagu Saudara Rendy Virgiawan M, Wakil Wali Kota Tual Saudara Amir Rumra, para bupati dan wakil bupati yang hadir lewat virtual, yang saya hormati, tidak saya sebut satu-satu, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Saudara-saudara. 

Saudara-saudara sekalian,
Pertama-tama, sebagai insan yang bertakwa, marilah kita selalu memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa, Tuhan Yang Mahabesar, bagi umat Islam, Allah Swt., yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah, kita berdoa, dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, atas kesehatan, atas napas yang masih diberikan kepada kita, atas berkah kedamaian yang diberikan kepada negara kita, sehingga kita dapat berkumpul di siang hari ini, di tempat yang baik ini.

Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar diberikan kepada saya. Saya diundang, sehingga saya bisa hadir di tengah-tengah Saudara-saudara, di acara yang sangat mulia ini, sangat penting, yaitu Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan Andalan XVII Tahun 2026. Dan, ini juga kebetulan pertama kali saya hadir sebagai Presiden Republik Indonesia. Saya sudah hadir banyak sekali penas (pekan nasional) karena saya cukup lama, saya menjadi Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) yang selalu berjuang bersama KTNA, yang selalu berjuang untuk kepentingan tani dan nelayan di seluruh Indonesia.

Saudara-saudara sekalian, 
Ini juga, selain kehormatan, ini juga kebanggaan saya karena sudah cukup lama saya berjuang bersama para petani dan nelayan di seluruh Indonesia. Dan, orang bertanya, ada apa Prabowo Subianto selalu bersama petani dan nelayan? Saya jelaskan, saya jelaskan, sangat sederhana. Karena saya mantan prajurit, saya mantan tentara, saya mantan prajurit Indonesia. Dan, prajurit Indonesia, dari lahirnya tentara Indonesia, prajurit Indonesia, tentara Indonesia, selalu didukung oleh petani dan nelayan, selalu dibantu oleh petani dan nelayan. 

Saudara-saudara sekalian, 
Waktu kita mendeklarasikan, kita proklamasikan kemerdekaan kita, belum ada negara, belum ada anggaran, belum ada APBN, belum ada gaji. Mereka yang memilih Republik Indonesia, memilih karena hati, karena cinta bangsa Indonesia, bukan karena gaji. Tapi tentara waktu itu ditopang, didukung, makanan diberi oleh petani-petani dan nelayan-nelayan kita di seluruh Indonesia. TNI, semua pasukan Indonesia, para pejuang termasuk kepolisian, didukung oleh rakyat, didukung oleh petani dan nelayan.

Tadi disebut oleh Menteri Pertanian, kalau dihitung, tadi berapa? Seratus enam puluh juta petani dan keluarganya, tambah 14 juta nelayan. Saya mau cek MKP (Menteri Kelautan Perikanan). Menteri, berapa juta nelayan? Betul. Jadi kalau demikian, 160 (juta) plus 14 (juta), 14 (juta) mungkin dengan keluarganya, Saudara-saudara, ya, bangsa Indonesia, nanti ditambah para buruh, para ojol, dan sebagainya, ya inilah rakyat Indonesia. 

Saudara-saudara sekalian, 
Karena itu, ini kebanggaan bagi saya. Saya waktu prajurit muda, waktu saya di desa-desa, saya di gunung-gunung, saya juga merasa dibantu oleh para petani. Mereka hidupnya susah. Untuk masak, harus cari kayu, jalan berkilo-kilo. Untuk ambil air, susah, harus jalan berkilo-kilo, tetapi mereka tetap masak untuk prajurit-prajurit TNI. Berarti begitu besar cintanya mereka terhadap negara dan bangsa Indonesia. Karena itu, Saudara-saudara, saya kira setiap prajurit, setiap jenderal, harus selalu ingat dan harus selalu dalam hatinya ingat peran yang begitu penting dari para petani dan nelayan di Indonesia. 

Saudara-saudara sekalian, 
Para petani dan nelayan adalah penghasil makanan, penghasil pangan. Tidak ada negara bisa berdiri, tidak ada negara bisa bertahan, bahkan tidak ada peradaban yang bisa bertahan tanpa pangan.

Saudara-saudara, karena itulah, sewaktu saya pensiun, usia saya masih relatif muda waktu itu. Sekarang masih muda juga, muda dalam semangat. Yang muda-muda, benar-benar yang muda usia, jangan senyum-senyum, belum tentu, lo, kalau urusan itu, bukan antrean, bukan, tapi kita siap setiap saat. Kalau dipanggil Yang Mahakuasa, kita siap setiap saat. Yang penting, apakah kita sudah berbuat yang terbaik untuk bangsa, rakyat, dan saudara-saudara kita. 

Saya kira itu yang terpenting, tapi saya ingin mengatakan di sini. Saya berjuang di politik selama sekian puluh tahun. Saya ikut pemilihan umum, pemilihan politik, saya ikut lima kali. Empat kali kalah. Ketawa lagi, kalian. Enggak enak, kalah itu, lo. Empat kali kalah, yang terakhir menang, Saudara-saudara. Kenapa saya masih terus? Kenapa saya masih terus? Karena saya waktu itu melihat, saya lihat arah, arah pembangunan ekonomi kita, menurut saya waktu itu, berada di arah yang keliru. Waktu itu, yang dianut adalah paham neoliberal. Neoliberal mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh membantu orang-orang miskin. Orang lemah dikatakan memang lemah, karena tidak bisa bersaing. Yang diutamakan adalah mereka yang kuat, mereka yang katanya mampu bersaing.

Waktu itu saya Ketua Umum HKTI. Saya menghadap Menko Perekonomian, waktu itu namanya adalah Aburizal Bakrie. Waktu itu pemerintah mau impor beras. Saya sebagai Ketua Umum HKTI, saya menghadap dan saya mengimbau, janganlah mengimpor beras, apalagi impor beras pada saat petani mau panen. Hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal. 

Waktu itu, banyak pakar-pakar yang pintar-pintar, sampai sekarang masih menganggap dirinya pintar, mengatakan, “untuk apa kita membela petani Indonesia, kalau petani Indonesia,” ini kata-kata beliau, bukan Pak Aburizal Bakrie tapi salah satu penasihatnya, “kalau petani Indonesia tidak efisien.” Itu kata-kata beliau. Kalau petani Vietnam lebih efisien, lebih baik kita beli beras dari Vietnam, itu pandangan orang-orang pintar itu, Saudara-saudara. Saya kaget, saya kaget dan saya sedih. Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara. Tidak mengerti apa arti bernegara. Tidak mengerti kenapa kita mau merdeka.

Kita berjuang ratusan tahun untuk mendirikan negara merdeka agar rakyat kita sejahtera, agar petani, nelayan, buruh, seluruh rakyat Indonesia sejahtera. Agar mereka hidup dengan baik. Agar anak-anak bisa sekolah dengan baik. Agar mereka punya rumah yang layak. Agar mereka punya, kalau sakit bisa ke rumah sakit, bisa ke poliklinik, bisa ke puskesmas, bisa dapat obat yang terjangkau harganya. Itu tujuan kita merdeka. Kita bukan merdeka hanya sekadar untuk merdeka. Untuk apa kita punya DPR, untuk apa kita punya DPD, untuk apa kita nyanyi lagu kebangsaan, kalau rakyat kita tidak sejahtera, Saudara-saudara sekalian.

Karena itulah, saya bertekad, saya berjuang, saya terus di politik. Kalah, saya maju lagi. Kalah, maju lagi. Karena saya melihat, belum ada usaha besar dari elite Indonesia untuk memperkuat rakyat Indonesia dari bawah. Karena itu saya maju dan alhamdulillah, Saudara-saudara, saya yakin HKTI dan KTNA, kunci dari kemenangan saya, kemarin itu. 

Saudara-saudara sekalian, 
Dalam satu tahun delapan bulan mungkin, sampai sekarang, telah banyak kita capai, telah banyak, yang paling besar kita capai dan saya merasa bersyukur adalah kita swasembada pangan. Kita produksi pangan beras, jagung, hampir semua komoditas pangan kita produksi, dan produksi beras dan jagung kita tertinggi sepanjang negara kita berdiri. Dan ini, ini adalah akibat kerja keras Saudara-saudara sekalian. Ini adalah prestasi tim, yang sekarang menggerakkan pertanian Indonesia.

Untuk itu, saya menyampaikan penghargaan di hadapan seluruh keluarga besar tani dan nelayan Andalan, juga hadir ormas-ormas petani yang di sini, saya menyampaikan penghargaan saya, rasa hormat saya, kepada tim yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang ada di belakang saya. Menko Pangan, Menteri Pertanian Pak Amran Sulaiman, Menteri Kelautan [dan] Perikanan, wakil-wakilnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Laksamana Didit, tapi juga sangat besar dibantu oleh menteri-menteri lain, dan juga sangat dibantu oleh Panglima TNI, oleh Kapolri, oleh Kepala-Kepala Staf Angkatan. 

Hanya di Indonesia, polisi ngurus pertanian. Hanya di, mungkin di Indonesia, tentaranya sering ada di sawah. Hanya di Indonesia, Angkatan Laut tanam kedelai. Hanya di Indonesia, Angkatan Udara tanam tebu. Tapi ini adalah strategis, ini adalah kenapa Indonesia akan bangkit dengan hebat, Saudara-saudara sekalian. Kita akan bangkit menjadi negara yang hebat. Ada yang selalu tidak ingin kita bangkit, ada. Kita sudah tahu mereka-mereka itu. Iya, kan? Ini karena banyak wartawan, aku, pidato aku harus aku atur. Nanti yang dikutip, yang apa, tuh, yang agak, agak keras-keras sedikit. Tapi kalo sama petani-nelayan, bicaranya harus keras. Betul, enggak? Kalau bicara kalem-kalem, kalian enggak akan dengar. Benar, ya? Ya. 

Sudah hari gini, kita bicara apa adanya, deh. Kalian lebih senang tahu hati saya, benar, enggak? Daripada ngomong-ngomong, sopan-sopan, sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi. Sok kaya, sok banyak duit, malah duitnya nyolong dari rakyat. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, gue kenal itu, semua itu, Saudara-saudara. Mereka enggak suka sama Prabowo, karena Prabowo ngerti

Saudara-saudara sekalian, 
Hati-hati, lo, saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu. Siapa yang bayar-bayar demo, gue tahu itu. Ditanya, ditanya anak-anak demo, enggak ngerti. Mau demo apa, ya? Kami dibayar Rp200 ribu. Tapi ada. Saya enggak mengerti.

Saudara-saudara, kita ini, kalau merasa, apa ya, kalau kita di dalam pertandingan, gitu, ya, kita jadi suporter, kan? Kita dukung satu tim, ayo maju, maju, maju. Negara kita ini lagi bersaing sama banyak negara. Harusnya bangsa ini kompak. Kalau ada yang kurang, temannya kurang, tim kita lagi main, ya, mainnya kurang bagus, ya, tetap di-suporter, ya. Nanti, begitu sudah selesai pertandingan, baru dikoreksi. Jangan lagi main, bawa bola. Lagi main di tengah lapangan, di-sorak-sorak-in. Teman sendiri, kesebelasan sendiri, jadi kayaknya kita tuh, tidak bangga dengan apa yang dihasilkan oleh bangsa sendiri. Kita swasembada pangan, tidak ringan. Dalam sejarah Indonesia, baru sekali, kita swasembada pangan. Kalau enggak salah [tahun] ’84, satu tahun. Kita yakin, kita swasembada pangan, tidak hanya untuk satu tahun, untuk seterusnya kita akan swasembada pangan. 

Saudara-saudara,
Tadi saya sebut, terima kasih ke pejabat-pejabat tadi itu, saya juga ucapkan terima kasih gubernur-gubernur, bupati-bupati, yang dukung ini semua. Saudara-saudara, saya ucapkan terima kasih bukan hanya kata-kata manis dalam acara ini, benar-benar saya hormat sama mereka. Merekalah yang membuat Indonesia swasembada pangan.

Saya, bisa dikatakan, kalau di sepak bola, apa aku, ya? Aku ini manajer, ya, kan? Aku yang manajer. Aku di luar lapangan, kasih instruksi. Tapi, ada, kapten kesebelasan, ada coach (pelatih), ya, kan? Ya, mereka inilah coach (pelatih), ada yang striker. Saya memberi arah. Kalau mereka enggak berjuang, kalau Saudara tidak berjuang, kita tidak swasembada pangan. Tapi, ini keberhasilan kita. Ini keberhasilan menteri-menteri ini semua. Kalau Menteri PU maling, kalau dia koruptor, enggak ada irigasi, enggak jadi. Enggak ada jalan-jalan ke desa jadi, Saudara-saudara sekalian. Tuh, aku lihat tampang-tampang ini, bukan tampang-tampang koruptor ini yang di sini. Saya lama jadi orang Indonesia, jadi saya sudah, saya ini dapat, apa ya, saya bisa, koruptor itu matanya itu, dan biasa koruptor itu pintar, orang-orang pintar. Dia pintar, saking pintarnya, dia tahu cara, cara nyuri

Saudara-saudara, 
Kita bekerja keras, pekerjaan tidak ringan, kita tidak mau ungkit-ungkit, tidak mau cari kesalahan, tapi kita harus berani melihat kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kita harus berani memperbaiki kekurangan-kekurangan kita. Jangan kita selalu, selalu tidak mau mengerti kekurangan dan kesalahan kita. Saudara-saudara sekalian, kekayaan kita banyak dirampok, banyak dicuri, dan ini akan kita hentikan, Saudara-saudara sekalian. Saya bertekad bersama tim saya untuk menghentikan kekayaan Indonesia dicuri.

Saudara-saudara sekalian, mungkin hal ini tidak segera memperlihatkan hasil. Saya selalu katakan, Presiden Republik Indonesia tidak punya tongkat ajaib, saya tidak punya tongkat Nabi Musa atau Nabi Sulaiman. Tidak bisa, saudara petani, saudara nelayan, kau tanam, tanam beras, tanam padi, kan tiga bulan baru ada hasil. Tanam kelapa sawit, lima tahun baru ada hasil. Tanam singkong, sepuluh bulan baru ada hasil. Upaya kita tidak segera, tapi sekarang sudah mulai kelihatan. Usaha kita yang sudah kelihatan di depan mata, bukan di depan mata, nyata, yaitu swasembada pangan.

Saudara-saudara sekalian, 
Ada yang kemarin saya sebut, tadi saya sebut, berapa tahun yang lalu, profesor-profesor banyak yang pintar ekonomi itu, saya enggak mengerti, sampai ada yang mengatakan, “untuk apa melindungi petani Indonesia, kalau petani Vietnam lebih efisien, kalau petani Vietnam lebih produktif”, saya kira ini pemikiran yang sesat. Dan, saya tetap berpendirian seperti itu, dan sekarang sejarah membuktikan bahwa pendirian saya itu yang benar, Saudara-saudara sekalian. Bayangkan dalam keadaan krisis, bayangkan dalam keadaan krisis. Waktu Covid-19, kita mau impor, negara yang punya beras, tidak mau izinkan berasnya keluar dari negaranya. Bayangkan. Saya sudah katakan, kalau terjadi perang, bagaimana?

Ya, ya terima kasih. Sabar dulu, ya. Aku itu harus, aku harus selesaikan sambutan saya ini. Anak-anak itu, ya, oke. Ada juga yang enggak setuju MBG (Makan Bergizi Gratis). Harusnya, mereka yang enggak setuju MBG, datang ke sini, ya. Tanya itu petani-nelayan, MBG perlu atau tidak? Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak? Katanya, ada orang-orang pintar yang mengatakan, ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira enggak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau enggak segera diisi, ya dia mati. Dan, PBB sudah meramalkan, tahun ini kelaparan di dunia akan masif.

Dua tahun yang lalu, sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia. Diperkirakan sekarang sudah meningkat jadi, jadi 500 juta, 700 juta, FAO (Food and Agriculture Organization) memberi warning.

Dan, Saudara-saudara, alhamdulillah kita sekarang sudah mulai ekspor. Kita sekarang bantu negara-negara lain, Saudara-saudara sekalian. Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau terima kasih Indonesia punya surplus pupuk, dan mereka minta, apakah boleh kita jual ke mereka. Saya bilang, jual, kirim ke mereka. Negara-negara banyak yang minta pupuk dari kita. Negara-negara lain banyak minta beras dari kita. Jagung dari kita. Silakan, asal harganya benar. Ya, Menteri Pertanian? Petani jangan rugi. Betul? Bagaimana sekarang? Petani sudah cukup untung? Sudah, belum? Sudah? Mau untung lagi? Ya, pasti. 

Saudara-saudara sekalian, 
Saya katakan, karena kita swasembada pangan, kita percaya diri. Terjadi perang di mana-mana, terjadi Selat Hormuz ditutup, kita percaya diri. Kita akan mampu mengatasi, Saudara-saudara sekalian.

Dan, kita akan menuju swasembada BBM, swasembada energi, Saudara-saudara sekalian. Bulan Juli ini, berapa hari lagi? Kita akan launching B50. B50, solar, akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, Saudara-saudara, dan kita akan menghemat banyak sekali. Saya perkirakan, tiga tahun lagi, maksimal empat tahun lagi, kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apapun untuk BBM kita, untuk energi kita, Saudara-saudara. 

Saya kira, Saudara-saudara sekalian, hal-hal itu yang ingin saya sampaikan. Terima kasih, seluruh masyarakat tani dan nelayan Indonesia. Terima kasih kerja keras, Saudara-saudara. Perjalanan masih jauh, Saudara-saudara telah membuktikan, Saudara terus semangat. Sebagai produsen pangan, Saudara-saudara sesungguhnya adalah tulang punggung Republik ini. Karena itu, pemerintah yang saya pimpin, kami kerja keras, tidak ada hari libur. Kita terus kerja siang, malam, mencari jalan yang terbaik supaya uang rakyat bisa kita jaga, supaya tidak dicuri, supaya tidak diambil bangsa-bangsa lain, supaya kita menjadi tuan di rumah kita sendiri, Saudara-saudara sekalian.

Dan, saya ucapkan terima kasih juga atas kesetiaanmu, atas dukunganmu, Saudara-saudara tani, nelayan, buruh, bersama ulama, bersama santri, bersama tentara, prajurit, polisi, bersama semua ASN. Kalau kita bersatu, Indonesia tidak akan goyah, Indonesia tidak akan gagal. Mereka yang ingin Indonesia gagal, kita beri hadiah untuk mereka. Biar mereka terkejut, apa yang akan terjadi dengan bangsa ini. Kita akan jadi bangsa yang hebat, bangsa yang besar. 

Terima kasih. 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih. Semoga Allah Swt. Tuhan Maha Besar, Tuhan Mahakuasa selalu melindungi petani dan nelayan kita, di manapun Saudara lagi berjuang. Terima kasih dan saya mohon doa restu. Saya minta doa restu. Percayalah kepada pemimpinmu, percayalah kepada pemerintahmu. Tidak ada niat lain. Kami ingin lihat rakyat kita senyum. Kami ingin lihat rakyat kita sejahtera. Tidak ada niat lain, Saudara-saudara. Terima kasih. Sampai berjumpa kembali di tempat yang lain. Terima kasih KTNA.

Merdeka! Kalau saya teriak “Tani!”, Saudara-saudara jawab, “Makmur!”. Kalau saya teriak “Nelayan!”, kau balas “Makmur!”, ya.
Tani! 
Nelayan! 

Kalau saya teriak “Indonesia!”, kau jawab “Bangkit!”
Indonesia!
Indonesia!

Terima kasih. Terima kasih semuanya.