Cerita Kehidupan Manusia dalam Menu Songgo Buwono

 
bagikan berita ke :

Jumat, 18 Mei 2018
Di baca 505 kali

Indonesia adalah gudang sejuta kuliner. Beragam macam pilihan cita rasa tradisional mewarnai setiap daerah. Masing-masing tempat pun memiliki ciri khas tersendiri.

Berupaya melestarikan kuliner tradisional di Indonesia, Istana Kepresidenan Yogyakarta pun mengadakan kegiatan workshop memasak pada Rabu (16/5). Menu songgo buwono menjadi makanan yang dipelajari bersama. Kegiatan ini berlangsung di Wisma Bumiretawu, Istana Kepresidenan Yogyakarta. Sebanyak 20 peserta yang mengikuti workshop ini merupakan pegawai di Istana Kepresidenan Yogyakarta.

“Dalam tata boga, Songo Buwono masuk ke dalam kategori, yaitu soes. Nama boga soes adalah choux paste,” buka Rizal Nurman Wijaya dan Paulina Yolaningrum sebagai pemandu pada kegiatan demo memasak ini. “Komponen dasar Songgo Buwono merupakan soes. Jenis ini bisa dipadupadankan dengan segala macam isian dan rasa. Jadi, ibu-ibu dapat berkreasi dengan soes,” tambah Rizal dan Yola.

Para peserta pun terlihat antusias mendengarkan penjelasan dari pemandu lokakarya ini. Tidak hanya mendengarkan, mereka pun turut memperagakan tahapan pembuatan Songgo Buwono. Peserta yang mayoritas merupakan  ibu-ibu ini pun juga tampak ceria dengan beberapa candaan. Suasana akrab terbangun dalam acara ini.

Saat sesi penyajian Songgo Buwono, banyak peserta yang memuji rasa makanan ini. “Enak ya! Tekstur soes nya lembut,” ujar Boti Kasmah. Tidak ketinggalan, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta pun turut memuji rasa dan penampilan makanan ini. “Bagus dan enak,” kata Saipulloh, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta. Tampaknya, Songgo Buwono merupakan salah satu menu yang cukup disukai oleh peserta workshop.

Songgo Buwono adalah makanan tradisional khas Kota Yogyakarta. Songgo berarti menyangga, buwono artinya langit atau kehidupan. Jadi, songgo buwono memiliki makna penyangga kehidupan.

Kudapan ini menjadi spesial karena Songgo Buwono termasuk makanan kelas atas. Mengapa? Karena makanan pembuka ini lahir di Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono VIII-lah yang menginspirasi pembuatan makanan ini sehingga, makanan ini dapat juga disebut sebagai makanan priyayi. Pada zaman Kesultanan Yogyakarta dahulu, kue ini disajikan pada hajat tertentu, misalnya perayaan pernikahan keraton. Tidak hanya itu, makanan ini pun memiliki banyak filosofi yang menggambarkan kehidupan manusia. Diyakini pula, sajian Songgo Buwono dalam pesta pernikahan menggambarkan kesiapan kedua mempelai untuk mengarungi kehidupan secara mandiri.

Di dalam komponen makanan ini terdapat simbol dan makna. Pada bagian terbawah Songgo Buwono terdapat daun selada. Daun selada menggambarkan hamparan pepohonan dan tumbuhan hijau yang asri dan lestari. Di atas selada terdapat kue soes yang menyiratkan bentuk bumi, dimana semua makhluk hidup lahir dan mati. Isian di dalam kue soes adalah ragut. Ragut - campuran dari daging, wortel, bawang bombay, dan bumbu-bumbu penyedap - menceritakan tentang keberagaman masyarakat di dunia yang mampu berpadu dalam sebuah keselarasan. Setelah ragut yang menceritakan keselarasan masyarakat, terdapat simbol pegunungan yang dilukiskan oleh telur ayam, dan mayonaise yang menyiratkan langit. Terakhir, sebagai pendukung, Songgo Buwono memiliki simbol bintang dari acar.

Dikutip dari akun instagram @kuliner_priyayi, Songgo Buwono konon juga menjadi penunjuk keadaan politik masa itu di Yogyakarta. Pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII kondisi kesultanan di Yogyakarta sedikit banyak dipengaruhi oleh keberadaan Belanda. Oleh sebab itu, kuliner yang disajikan pun tentu bernuansa western atau cenderung kebarat-baratan. Songgo Buwono sebagai salah satu menu yang diinisiasi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pun menjadi menu hasil akulturasi budaya Jawa dan Barat.

Apabila diamati lebih dalam lagi, rupanya Songgo Buwono tidak hanya hasil akulturasi dari gaya Jawa dan Belanda, namun ada beberapa style dari negara-negara lain. Misalnya, kue soes sendiri yang berasal dari Belanda;  saus mayonais dari Perancis; serta acar ala Tiongkok juga turut menghias makanan kecil ini.

Jadi, apakah anda tertarik untuk mencicipi makanan dengan filosofi yang tinggi ini? (Karisma Widya - Istana Kepresidenan Yogyakarta).